NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Di kantor banknya, Mikayla baru saja menerima konfirmasi bahwa dana dolar dan emasnya sudah terparkir aman di rekening luar negeri yang tidak bisa dilacak oleh sistem perbankan domestik Indonesia. Namun, ada satu hal yang mengusik batinnya.

Proses pemindahan dana itu terasa terlalu lancar. Seolah-olah ada tangan raksasa yang membukakan jalan dan menyingkirkan semua hambatan birokrasi bawah tanah yang biasanya rumit.

"Kenapa rasanya ada seseorang yang sedang mengawasiku?" gumam Mikayla sambil menatap pantulan dirinya di layar komputer.

Ia teringat kembali pada tatapan Ethan Aviel Leon di lift pagi tadi. Tatapan yang seolah berkata, 'Aku tahu apa yang kamu lakukan'.

Mikayla menyesap kopinya yang sudah mendingin, mencoba menenangkan debaran aneh di dadanya. Bayangan tatapan Ethan di lift tadi benar-benar mengusik kewarasannya. Tatapan yang begitu tajam, seolah pria itu bisa menelanjangi seluruh rencana busuk yang ia susun rapi di balik setelan kerjanya yang mahal.

"Kalau benar pria dingin itu yang membantuku... apa harganya?" bisik Mikayla pelan. Ia tahu betul hukum rimba di dunia bisnis maupun dunia bawah: tidak ada makan siang yang gratis. Setiap bantuan adalah hutang, dan setiap hutang pada pria seperti Ethan Aviel Leon pasti memiliki bunga yang sangat mahal

Logika yang Kembali Berpijak

Namun, Mikayla segera menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran konyol itu. Ia menarik napas panjang dan kembali menatap layar monitornya yang menampilkan grafik transaksi terenkripsi.

"Tidak mungkin. Kenapa aku jadi melantur?" gumamnya sambil memijat pelipis. "Ethan itu rival Elang, dia tidak punya alasan untuk membantuku secara cuma-cuma."

Ia teringat jalur komunikasi rahasia yang ia gunakan selama ini. "Pasti ini semua karena bantuan Kak Gerald," lanjut Mikayla dengan nada yang lebih yakin.

"Dia yang memberiku kunci untuk mengakses jaringan dunia bawah. Dia yang mengatur agar penukaran 1 juta dolar dan 7 kg emas itu berjalan tanpa hambatan birokrasi. Gerald adalah satu-satunya orang yang punya kepentingan agar aset Elang segera habis sebelum audit fisik dilakukan.”

Mikayla tidak tahu bahwa dunia bawah memiliki hukumnya sendiri. Meski Gerald memberikan akses, namun Ethan Aviel Leon adalah penguasa gerbang di sektor tersebut. Gerald mungkin membuka pintunya, tapi Ethan-lah yang menahan para "penjaga" agar tidak menerkam transaksi Mikayla.

Di ruangannya, Ethan menatap layar yang menampilkan status clearance untuk rekening Mikayla.

"Biarkan dia berpikir ini semua berkat kakaknya," gumam Ethan sambil menyalakan pemantik api peraknya. Api kecil itu menari di matanya yang dingin. "Lebih baik begitu. Biarkan dia merasa aman di bawah perlindungan Gerald, sementara aku akan terus mematikan setiap duri yang mencoba melukainya dari kegelapan.”

Mikayla merapikan riasannya di cermin kecil. Sore ini, ia akan bertemu Gerald untuk menandatangani berkas krusial.

"Mas Elang mungkin sedang asyik dengan Naura sekarang," ucap Mikayla sinis sambil memakai lipstik merah gelapnya. "Dia tidak tahu bahwa saat dia menikmati 'kemenangan' kecilnya di ruang istirahat kantor, istrinya sedang memindahkan fondasi istananya ke luar negeri."

Ia melangkah keluar ruangan dengan penuh percaya diri. Baginya, Ethan hanyalah gangguan sesaat, seorang rival suaminya yang kebetulan lewat. Ia belum menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam radar predator yang jauh lebih berbahaya dan jauh lebih terobsesi padanya daripada Elang Abimanyu.

Ponsel Mikayla berdenting di atas meja kerja kayu mahoninya. Sebuah pesan singkat muncul di layar kunci, memecah keheningan ruang kantornya yang mulai sepi karena jam pulang kantor sudah lewat.

Pesan Elang: "Sayang, malam ini aku tidak pulang ke rumah. Papah menyuruhku menginap di rumah utama karena ada beberapa urusan keluarga dan persiapan audit besok pagi yang harus dibahas sampai larut. Istirahatlah, jangan menungguku.”

Mikayla menatap pesan itu dengan tatapan datar, lalu sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. Ia tahu Elang tidak sedang berbohong soal keberadaannya, tapi suaminya itu terlalu gengsi untuk mengakui alasan sebenarnya.

"Menginap untuk urusan keluarga?" Mikayla bergumam sinis sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Katakan saja kamu sedang diseret ke 'ruang penghakiman' oleh Papah, Elang.”

Di saat yang sama, suasana di kediaman besar Abimanyu terasa mencekam. Rajendra Abimanyu berdiri di tengah perpustakaan pribadinya yang luas, menggenggam sebuah tongkat kayu cendana yang berat—simbol otoritasnya yang tak terbantahkan.

Elang berlutut di atas lantai marmer yang dingin, kepalanya tertunduk dalam. Di sudut ruangan, Lisa—ibunya—menangis tersedu-sedu namun tidak berani mengeluarkan suara, apalagi membela putra kesayangannya.

Plakkk!

Suara hantaman tongkat di bahu Elang bergema di ruangan yang sunyi itu. Elang mengerang tertahan, tubuhnya tersungkur sedikit namun ia segera kembali ke posisi berlututnya.

"Tujuh ratus miliar, Elang! Tujuh ratus miliar kamu hamburkan untuk wanita yang bahkan tidak punya nama di kota ini!" suara Rajendra menggelegar, urat-urat di lehernya menonjol. "Kamu mempermalukan nama Abimanyu! Kamu mengkhianati istri yang sudah menjaga martabatmu!"

Plakkk! Satu hantaman lagi mendarat di punggungnya.

"Hukuman fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kerugian yang kamu buat," desis Rajendra. "Malam ini kamu tidak boleh keluar dari ruangan ini. Renungkan setiap sen yang kamu curi dari perusahaan. Dan besok pagi, kamu akan menandatangani surat pengalihan seluruh otoritas cabangmu kepada Gerald.”

Mikayla melangkah keluar dari gedung kantornya, menghirup udara malam Jakarta yang lembap. Ia sudah bisa membayangkan betapa hancurnya harga diri Elang malam ini. Pria yang biasanya sombong dan merasa paling berkuasa di rumah, kini sedang meringkuk seperti pecundang di bawah kaki ayahnya sendiri.

Mikayla tidak langsung pulang. Ia masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggunya di lobi. Di dalam sana, Gerald Abimanyu sudah duduk menunggunya dengan tumpukan berkas baru.

"Elang sedang 'dibereskan' oleh Papah malam ini," ucap Gerald tanpa basa-basi saat Mikayla duduk di sampingnya. "Dia benar-benar hancur secara fisik dan mental."

"Bagus," jawab Mikayla dingin. "Sekarang beri aku berkas pengalihan aset luar negeri milik Ibu Lisa yang kamu janjikan. Aku ingin semuanya selesai malam ini juga, selagi Elang tidak bisa mengganggu kita."

"Kamu benar-benar tidak punya belas kasihan, ya?" Gerald menatap adik iparnya itu dengan rasa kagum yang aneh.

"Belas kasihan itu sudah mati lima tahun lalu, Kak," sahut Mikayla sambil meraih pulpennya.

Suasana di dalam mobil mewah itu mendadak menjadi sedingin es. Gerald terdiam, tangannya yang memegang map dokumen sempat kaku sejenak. Ia menatap Mikayla dari samping—wanita itu tetap terlihat anggun dengan setelan kerjanya, namun kata-katanya barusan memiliki daya ledak yang sanggup meruntuhkan tembok kehormatan keluarga Abimanyu.

Mikayla menoleh, menatap langsung ke netra Gerald dengan sorot mata yang penuh luka namun mengeras seperti berlian.

"Aku tega ya, Kak?" Mikayla mengulang pertanyaan itu dengan nada meremehkan, senyum sinisnya tidak pernah luntur. "Bukankah kalian lebih jahat? Terutama ibumu, yang dengan tangannya sendiri memastikan aku tidak akan pernah bisa menimang anak dari rahimku sendiri.”

Gerald menghela napas berat, ia membuang muka ke arah jendela yang menampilkan kemacetan Jakarta. Ia tahu rahasia gelap itu—bagaimana Lisa, ibunya, memberikan ramuan "jamu kesehatan" yang sebenarnya adalah penekan kesuburan dosis tinggi selama bertahun-tahun kepada Mikayla.

"Uang ini hanya sedikit kompensasi, Kak," lanjut Mikayla, suaranya kini rendah namun tajam seperti sembilu. "Atas apa yang ibumu dan adikmu lakukan padaku. Tujuh ratus miliar? Dua triliun? Bahkan seluruh aset Abimanyu pun tidak akan pernah bisa membeli kembali kesempatan yang mereka rampas dariku.”

Gerald akhirnya menoleh kembali, menatap adik iparnya dengan rasa hormat yang bercampur ngeri. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini bukan lagi korban yang lemah. Mikayla adalah manifestasi dari dendam yang telah matang sempurna.

"Aku tidak akan membela Ibu, Mika," ucap Gerald pelan, suaranya tulus untuk pertama kalinya. "Apa yang mereka lakukan padamu memang tidak termaafkan. Itulah sebabnya aku membantumu. Ambillah apa yang seharusnya menjadi milikmu. Sisakan sedikit saja untuk Papah agar perusahaan tidak benar-benar gulung tikar.”

Mikayla menutup map itu dan menyerahkannya kembali pada Gerald. "Jangan khawatir, Kak. Aku tidak berniat menghancurkan Papah. Papah orang yang baik, Beliau hanya orang tua yang malang karena memiliki istri dan anak seperti mereka. Targetku hanya dua: Elang dan Naura."

Mikayla membuka pintu mobil, bersiap untuk turun di lobi apartemen rahasianya.

"Oh, satu lagi," Mikayla menoleh sebelum keluar. "Katakan pada Elang, luka fisik dari tongkat Papah malam ini hanya pemanasan. Luka yang akan aku berikan padanya... tidak akan pernah bisa sembuh meski ia menangis darah sekalipun.”

Mikayla melangkah keluar dengan anggun, membiarkan aroma parfum manisnya tertinggal di dalam mobil, sementara Gerald hanya bisa terpaku melihat bayangan punggung wanita itu menghilang di balik pintu kaca.

Lampu strobe berwarna neon ungu dan biru menyambar-nyambar di dalam klub malam eksklusif di pusat Jakarta itu. Dentuman musik techno yang memekak telinga seolah menjadi pelarian bagi Mikayla. Di meja VIP paling pojok, botol-botol vodka dan whiskey mahal berserakan.

Mikayla tertawa getir, menuangkan gelas kelimanya. "Kompensasi... rahimku... murah sekali harga diriku," racun itu mulai bekerja, membuat kesadarannya mengabur namun luka di hatinya tetap terasa tajam.

Hanya dalam hitungan menit sejak ia memesan botol ketiga, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Ethan Aviel Leon.

"Tuan, Nona Mikayla berada di Dragonfly. Dia sudah menghabiskan tiga botol sendirian. Kondisinya mabuk berat dan beberapa pria mulai mendekat ke mejanya.”

Pintu besar klub terbuka. Suasana yang tadinya liar mendadak terasa lebih berat saat Ethan melangkah masuk. Aura dominannya seolah membelah kerumunan. Ia tidak memakai jas formalnya, hanya kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka, memperlihatkan tato samar di pangkal lehernya—sisi gelap yang jarang ia tunjukkan di dunia bisnis.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!