NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24.Ketenangan Yang Perlahan Mulai Terusik

Pagi kembali menyapa Kota Kuoh dengan kabut tipis yang menyelimuti atap-atap gedung sekolah. Cahaya matahari yang pucat menembus dedaunan pohon ek, menciptakan pola bayangan yang bergetar di koridor kelas 2-B. Suasana di dalam kelas terasa lebih tenang dari biasanya, namun bagi indera tajam seorang Ren, ada frekuensi baru yang berdenyut di udara—sebuah aroma kematian yang dipaksakan untuk hidup kembali.

Ren duduk bersandar di kursinya, jemarinya perlahan membalik halaman buku tanpa benar-benar membacanya. Di sampingnya, Bibi Dong sedang menyesap teh melati dari botol termos kecil yang ia bawa. Gerakannya sangat anggun, setiap tegukan mencerminkan martabat seorang permaisuri yang tidak terganggu oleh kebisingan dunia fana.

"Dia sudah datang," bisik Bibi Dong. Matanya yang indah melirik ke arah pintu kelas yang tertutup. "Baunya berubah. Bukan lagi sekadar darah manusia yang manis, tapi ada jejak belerang dan api neraka yang melekat di jiwanya."

Ren menutup bukunya dengan suara ketukan pelan. "Itu adalah bau ketaatan, Dong'er. Rias Gremory telah memberikan 'kehidupan kedua' yang sangat mahal harganya."

Pintu kelas bergeser terbuka. Issei Hyodo melangkah masuk dengan langkah yang tampak berat dan ragu-ragu. Wajahnya pucat, matanya terlihat linglung, seolah-olah dia baru saja bangun dari mimpi buruk yang tidak bisa dia lupakan. Namun, yang paling mencolok bagi mereka yang bisa 'melihat' adalah delapan bidak Pawn yang berdenyut di dalam inti energinya, memancarkan cahaya merah samar yang hanya tertangkap oleh Six Eyes.

Issei berjalan melewati meja teman-temannya tanpa menyapa. Ia duduk di kursinya sendiri, tepat dua baris di belakang Ren. Begitu ia duduk, Issei mendongak dan tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan punggung Ren. Seketika, Issei merasakan sebuah getaran hebat di tangan kirinya—denyutan yang panas dan penuh peringatan.

[SISTEM: Resonansi terdeteksi. 'Boosted Gear' di dalam tubuh Issei Hyodo mencoba melakukan kalibrasi ulang terhadap kehadiran Anda.]

[SISTEM: Ddraig memberikan peringatan darurat kepada penggunanya. Tingkat ancaman: Tak Terukur.]

Ren tidak menoleh, namun ia memutar kursinya sedikit sehingga posisinya menjadi setengah menghadap ke arah Issei. Di balik kacamata hitamnya, ia bisa melihat ketakutan yang murni di mata pemuda itu.

"Selamat pagi, Issei-kun," ucap Ren, suaranya bariton dan sangat tenang, seolah-olah kejadian berdarah semalam di taman kota hanyalah imajinasi belaka. "Kau tampak sedikit... berbeda pagi ini. Apakah kau menemukan 'sesuatu' yang berharga dalam kencanmu kemarin?"

Issei tersentak. Suaranya seolah tersangkut di tenggorokan. Ia teringat akan sosok wanita cantik yang berdiri di atas Raynare semalam, sosok yang wajahnya sangat mirip dengan wanita yang kini duduk di samping Ren. Namun, ingatannya terasa sedikit kabur, seolah-olah ada kabut yang menutupi detail kejadian itu.

"A-aku... aku tidak ingat banyak, Saiba-kun," gagap Issei sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. "Hanya... ada banyak darah, dan kemudian Rias-senpai..."

Bibi Dong meletakkan botol termosnya di atas meja dengan denting kecil yang cukup untuk membuat Issei merinding. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Issei dengan tatapan yang sangat dewasa dan penuh selidik. Keanggunannya pagi ini terasa menekan, membuat Issei merasa seolah-olah ia sedang diadili oleh seorang dewi.

"Kadang-kadang, ketidaktahuan adalah sebuah berkah, Nak," ucap Bibi Dong dengan nada yang sangat jernih. "Tapi ingatlah, sekali kau melangkah ke dalam bayangan, kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia yang utuh. Kau sekarang adalah milik seseorang, bukan lagi milik dirimu sendiri."

Issei menelan ludah dengan susah payah. Kata-kata Bibi Dong menusuk tepat ke bagian terdalam dari ketakutannya yang baru lahir. Ia bisa merasakan sesuatu yang dingin bersemayam di dalam dadanya—sebuah kontrak yang tidak bisa ia batalkan.

"Bibi Dong-san... apakah Anda ada di sana semalam?" tanya Issei dengan suara berbisik, hampir tidak terdengar oleh siswa lain.

Bibi Dong hanya memberikan senyum tipis yang mematikan, sebuah senyum yang tidak memberikan jawaban namun menegaskan segalanya. "Aku ada di mana-mana dan tidak di mana-mana. Fokuslah pada peran barumu sebagai pelayan, Issei. Mungkin itu adalah satu-satunya cara agar kau tetap bisa bernapas di sekolah ini."

Ren menepuk meja Issei dengan lembut sebelum berbalik kembali ke arah depan kelas. "Jangan terlalu banyak berpikir, Issei-kun. Masuklah ke kelas dengan tenang. Rias Gremory pasti akan segera memanggilmu ke gedung tua itu untuk memberikan 'pelatihan' yang kau butuhkan."

Issei hanya bisa mengangguk kaku, seperti boneka yang tali-talinya ditarik secara paksa. Sepanjang pelajaran pagi itu, ia hanya menatap punggung Ren dan Bibi Dong dengan rasa hormat yang bercampur dengan teror. Ia mulai menyadari bahwa meskipun Rias Gremory adalah majikannya yang baru, pasangan di depannya ini adalah entitas yang berada di luar jangkauan hirarki iblis mana pun.

[SISTEM: Hubungan terjalin—Issei Hyodo (Bidak Iblis). Status: Pengikut potensial yang terintimidasi.]

[SISTEM: Analisis selesai. Benih yang Anda tanam di dalam jiwa Issei melalui ramuan perak mulai menyatu dengan energi naga, memperkuat fondasi kekuatannya secara tersembunyi.]

[REN: Bagus. Biarkan naga itu tumbuh di bawah bayang-bayangku. Saat waktunya tiba, dia akan menjadi tameng yang sangat berguna bagi kepentinganku.]

Di bawah meja, Bibi Dong menggenggam tangan Ren, jari-jari mereka saling bertautan dengan erat. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Ren saat guru di depan kelas sedang menulis di papan tulis.

"Kau sangat licik, Suamiku," bisik Bibi Dong di telinga Ren, napasnya yang hangat membuat Ren sedikit tersenyum. "Kau memberinya kehidupan, namun kau juga menanamkan rasa takut yang abadi."

"Itu namanya pendidikan, Dong'er," jawab Ren lembut. "Dunia ini kejam, dan aku hanya sedang mempersiapkannya agar dia bisa bertahan hidup sedikit lebih lama—untuk kita."

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!