NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUANG PENELITIAN: BIMBINGAN KHUSUS DAN PERDEBATAN KECIL

Ana berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang sengaja ia buat tenang, perasaan Ana campur aduk, ada rasa kesal, sedikit marah karena merasa dibaikan, namun ada juga rasa penasaran. Karena suasana koridor sudah sepi, bahkan bunyi pantulan sepatunya di lantai gedung Fakultas itu seolah menghitung mundur detak jantungnya sendiri.

Pintu ruang penelitian itu berada di ujung lorong yang sepi. Ana membukanya perlahan, aroma buku-buku tua dan wangi khas kesukaan Adi yaitu wangi kopi pahit yang tajam langsung menyapa indranya. Ruangan itu kosong, hanya ada barisan rak buku yang tinggi dan sebuah meja besar di tengahnya.

Belum sempat Ana meletakkan map biru itu di meja, terdengar suara pintu ditutup dengan klik yang halus namun tegas. Bunyi kunci yang diputar membuat bahu Ana berjingkat.

Adi berdiri di sana. Ia melepaskan jas abu-abunya, menyampirkannya di sandaran kursi, lalu perlahan mulai menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Tatapannya masih tajam, tatapan khas 'Pak Adi sang Dosen Killer', tapi ada kilatan predator di balik kacamatanya yang tidak pernah ia tunjukkan di ruang dosen tadi.

"Kenapa diam di situ, Ana? Katanya mau diskusi teknis beasiswa?" Adi melangkah mendekat. Suaranya yang rendah bergema di ruangan yang kedap suara itu.

"Tadi... tadi kata Ibu Kajur bapak akan menjelaskan prosedurnya," jawab Ana, mencoba mempertahankan benteng profesionalitasnya yang mulai retak. "Dan saya bukan mahasiswa 'penurut', Pak. Kalimat Bapak tadi di depan Ibu Kajur sangat... tidak pantas."

Adi berhenti tepat di depan Ana. Ia begitu tinggi, begitu dominan, hingga Ana harus mendongak untuk menatap matanya. Adi mengambil map biru dari tangan Ana, meletakkannya di meja tanpa sekali pun memutus kontak mata.

"Masa? Padahal menurut data observasi Saya semalam sebelumnya, kamu sangat patuh pada setiap instruksi saya. Apakah variabelnya berubah saat kita berada di gedung universitas?" Adi menyeringai, sebuah ekspresi yang sangat langka dan berbahaya.

Ia menyudutkan Ana hingga pinggang wanita itu tertahan di tepian meja kayu yang keras. Kedua tangan Adi mengurung Ana, bertumpu pada meja di kiri dan kanan tubuhnya.

"Kamu kenapa, Ana? Kok wajahnya jutek gitu, kaya lagi kesal sama saya? kamu gak kangen sama saya?." Pertanyaan itu meluncur begitu santai dari bibir Adi, seolah-olah seharian ini mereka baik-baik saja.

Mendengarnya, tawa hambar nyaris meledak dari tenggorokan Ana. Gengsinya memberontak hebat. Kangen? Kata itu terasa seperti ejekan di telinga Ana. Bagaimana mungkin pria yang menghilang tanpa kabar, tidak mengirim satu pun pesan WhatsApp setelah malam penyatuan mereka yang begitu intens, bisa bertanya soal 'kangen' dengan wajah tanpa dosa seperti itu?

Ingin rasanya Ana berteriak tepat di depan wajah pria angkuh itu.

Kamu pikir saya cewek apaan? Habis manis sepah dibuang? Kamu pikir setelah kamu menghancurkan pertahanan saya, kamu bisa memperlakukan saya seperti dokumen skripsi yang hanya kamu sentuh saat butuh? Kalimat "Kita ini apa?" sudah berada di ujung lidahnya, namun Ana menelannya kembali dengan pahit. Ia terlalu cerdas untuk terlihat menyedihkan. Ia terlalu gengsi untuk menjadi gadis yang mengemis kejelasan status.

Melihat Ana yang hanya diam dengan mata yang berkilat marah, Adi melanjutkan dengan nada yang lebih tenang, hampir provokatif. "Revisimu sudah Saya tanda tangani. Kariermu setelah selesai S1 juga sudah di depan mata. Kenapa wajahmu terlihat seperti ingin membedah Saya hidup-hidup?"

Ana menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali logika-nya untuk menutupi harga dirinya yang terluka.

"Saya cuma sedang berpikir secara objektif, Pak. Sepertinya saya perlu merevisi bab kontrol sosial di skripsi saya. Ternyata, beberapa subjek penelitian memiliki kecenderungan untuk melakukan manipulasi emosional setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan."

Adi menaikkan sebelah alisnya, sedikit terhibur dengan cara Ana menyerang balik menggunakan istilah akademik.

"Manipulasi emosional? Itu kesimpulan yang terlalu dini, Ana. Apakah mungkin untuk seorang mahasiswa berprestasi seperti kamu, akan mudah dimanipulasi?"

"Benarkah?" Ana memberanikan diri menatap mata di balik kacamata itu. "Lalu bagaimana Bapak menjelaskan perilaku seorang dosen yang menghilang total selama 24 jam setelah... kejadian.... itu?. Tidak ada pesan, tidak ada kabar, hanya instruksi kaku melalui WhatsApp seolah-olah saya ini robot. Apakah itu bagian dari metode pendidikan Bapak?"

Adi terdiam sejenak. Ia melepaskan kacamata-nya, meletakkannya di atas meja, lalu memajukan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Aroma parfum Adi tercium, mengusai indra penciuman Ana sepenuhnya.

"Ana.." bisik Adi, suaranya kini melunak, kehilangan nada angkuh-nya namun tetap dominan. "Saya nggak menghubungi kamu seharian karena Saya ingin kamu menyelesaikan revisi skripsi kamu. Saya nggak mau kehadiran Saya mengganggu konsentrasi kamu untuk mencapai nilai sempurna. Saya mau kamu bangga bahwa gelar sarjana ini kamu raih karena otakmu, bukan karena afeksi Saya."

Adi meraih dagu Ana, memaksa wanita itu menatap matanya yang kini memancarkan kejujuran yang gelap. "Kamu pikir Saya bisa melupakan gimana rasanya memilikimu kemarin malam, Hmmm?. Kamu salah besar, Ana. Justru sebaliknya, Saya pengen menyekap kamu sampai tiba hari senin ini kalau bisa."

Hening sejnak.

"Diamnya Saya bukan berarti Saya nggak peduli. Justru karena Saya peduli sama kamu, Saya mencoba menjaga jarak, supaya saya nggak menyeret dan menyekap kamu di kamar saya lebih lama."

Tangan Adi merayap ke pinggang Ana, menariknya lebih dekat hingga tidak ada lagi ruang udara di antara mereka. Ana bisa merasakan detak jantung Adi yang stabil namun kuat, kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar.

Adi mendekatkan bibirnya ke telinga Ana, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduk Ana meremang. "Tapi Saya senang kamu bahas soal ini, Artinya hubungan kita juga penting buatmu." Adi terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar sangat seksi sekaligus mengintimidasi.

Mendengar semua pernyataan sang dosen Killer sexy-nya Ana merasa pertahanannya runtuh. Gengsi yang ia bangun setinggi gunung sejak pagi tadi luruh seketika hanya dengan sentuhan tangan Adi di punggungnya. Rasa kesal itu masih ada, namun tertutup oleh gelombang keinginan yang lebih besar.

"Mas... Mas jahat," bisik Ana lirih, akhirnya menyerah dan memanggilnya dengan sebutan yang lebih pribadi. "Mas bikin aku ngerasa nggak berharga seharian kemaren."

"Maaf, sayang...," ujar Adi, jemarinya kini mengelus bibir bawah Ana dengan lembut.

Akkkkkhhhh. Jantung Ana berdegup kencang hingga rasanya ingin berteriak kegirangan. Akhirnya, ia mendapat kepastian bahwa bukan hanya dirinya yang menganggap hubungan ini nyata. Dan panggilan itu—sayang—rasanya begitu memabukkan.

Sangat sulit dipercaya bahwa kata-kata manis itu keluar dari mulut seorang dosen killer yang biasanya hanya melontarkan kritik pedas. Ana tak pernah menyangka hubungannya dengan pria menyebalkan ini bisa melangkah sejauh ini. Tangan yang biasanya sibuk menulis rumus rumit di papan tulis, kini justru sibuk menjelajahi lekuk tubuhnya, memberikan sensasi yang membuatnya mengerang tanpa daya. Mereka telah melampaui batas profesionalisme, tenggelam dalam penyatuan yang begitu intens.

Adi tidak menunggu jawaban lagi. Ia membungkam bibir Ana dengan ciuman yang menuntut, menghancurkan sisa-sisa argumen yang tersisa di kepala wanita itu. Ciuman itu adalah jawaban atas semua kegelisahan Ana, sebuah validasi yang jauh lebih kuat daripada sekadar status tertulis.

Di antara tumpukan buku dan cahaya sore yang menerobos celah jendela ruang penelitian, Ana menyadari satu hal: Hubungannya dengan Adi tidak akan pernah menjadi hubungan yang 'biasa' atau 'normal'. Ini adalah pertempuran ego, gairah, sekaligus kecerdasan. Meskipun pertanyaan "Kita ini apa?" belum terjawab. Namun untuk saat ini, Ana memilih untuk menikmati kekalahannya di tangan sang Dosen Killer.

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!