Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #24
Keesokan harinya ...
Viola membuka matanya setelah semalaman tidur nyenyak di pelukan Zehan.
Cuaca cukup cerah pagi itu setelah melewati hujan badai, suara burung-burung berkicau kembali menyapa kuping Viola dengan nyanyian merdu mereka.
"Tadi malam, apa yang aku lakukan? Kepala ku?" ucap Viola yang saat ini memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit bekas jatuh itu.
Sudah ada hanspalst yang tertempel di sana, di meja dekat nakas juga terlihat sebuah nampan yang berisikan sarapan pagi dan juga segelas susu.
Viola menatap kursi roda nya dan kemudian berusaha mengingat-ingat kembali kejadian tadi malam, dimana dia ketakutan setengah mati karena cuaca buruk, dia berusaha meraih kursi roda nya dan akhirnya terjatuh sampai kepala nya terbentur.
Setelah itu Viola pun langsung terbayang bagaimana Zehan yang masuk ke kamar nya, membantu nya dan membuat dirinya tidur dengan nyenyak selama badai terjadi.
"Aku benar-benar meminta kak Zehan untuk tetap di sisiku tadi malam? Astaga, ini sangat memalukan, aku benar-benar memalukan," ucap Viola merasa malu karena sudah meminta Zehan untuk menemani nya, namun dia melakukan hal tersebut di luar kendali nya sendiri, dia hanya sedang dalam keadaan ketakutan.
"Sudahlah, anggap saja tidak terjadi apa-apa," kata Viola berusaha menutupi rasa yang menggebu-gebu di hati nya saat membayangkan kejadian tadi malam.
Sementara itu seorang pelayan yang di tugaskan oleh Zehan untuk membantu Viola mandi masuk ke dalam kamar tersebut setelah mengetuk pintu.
"Nyonya muda," sapa nya dengan sopan.
"Eh, Astaga," kaget Viola.
Pelayan tersebut tersenyum dan kemudian menghampiri Viola.
"Apa yang sedang nyonya pikir kan? maaf sudah membuat mu kaget, tapi aku sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban, akhirnya karena khawatir aku memilih untuk masuk saja, ternyata nyonya muda sedang melamun ya," kata sang pelayan lagi.
"Astaga, maafkan aku, aku memang sedang memikirkan sesuatu," lirih Viola.
"Tidak masalah nyonya, maaf menganggu, aku hanya di suruh tuan muda untuk membantu nyonya muda mandi setelah selesai sarapan," kata nya melanjutkan ucapan.
"Oh, tapi, kak Zehan di mana?" tanya Viola karena sejak bangun dia sudah sendirian di kamar tersebut.
"Tuan muda pergi setelah menerima telpon dari asisten pribadi nya, mungkin ada urusan di kantor," jelas sang pelayan lagi.
"Begitu rupanya, baiklah," jawab Viola merasa lega karena Zehan sedang tidak ada di rumah, dia tidak perlu mengurung diri di kamar karena malu untuk bertemu dengan Zehan.
"Kalau begitu silahkan di makan sarapan nya nyonya, aku akan siapkan air hangat terlebih dahulu," sang pelayan pun pergi ke kamar mandi setelah mengatakan hal tersebut.
Sementara Viola hanya mengangguk setuju, perhatian nya kini tertuju kepada nampan yang berisi sarapan karena memang dia sangat lapar sekarang.
Sementara itu di sisi lain ...
"Jadi apa yang kau inginkan?" kata Zehan yang saat ini duduk sambil menyilang satu kali nya di atas kaki lain.
Ruangan CEO di perusahaan Wijaya Kusuma grup kini terasa sangat suram, hening dan juga mencengkam.
Zehan dengan stelan jas hitam nya terlihat sangat berkarisma, tak lupa sebat yang selalu mengisi celah di antara dua jari telunjuk dan tengah nya.
Asap rokok itu mengepul keluar dari bibir dan hidung nya.
"Tuan muda kalau sudah berhadapan dengan mereka selalu terlihat seperti boss Mafia, tetapi kalau dengan nyonya muda dia malah terlihat seperti seekor kelinci," ucap Erik yang saat ini berdiri di belakang Zehan.
"Zehan tolong berbelas kasih lah sedikit, harta keluarga Kusuma cukup banyak, bagaimana pendapat orang-orang jika mereka tau kalau kau sama sekali tidak mau menerima paman dan sepupu mu untuk bekerja di sini, mereka sangat membutuhkan pekerjaan," ucap seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapih.
Pagi ini "Maya" ya, dia adalah adik dari almarhum mama nya Zehan, bukan adik kandung, melainkan adik tiri.
Itu artinya, wanita yang bernama maya ini adalah tante nya Zehan, bukan Tante kandung melainkan Tante tirinya.
"Kau siapa? Paman dan sepupu? Siapa?" jawab Zehan sambil tersenyum miring.
"Zehan! Jangan keterlaluan, biar bagaimanapun aku ini adalah tante mu, aku adalah adik dari ibumu," ucap Maya emosi.
"Adik? Hahah, kau sadar telah mengucapkan kata-kata itu di hadapan ku? Sejak mama ku meninggal, kau dan keluarga mu sama sekali tidak ada hubungan nya dengan keluarga Kusuma kami, kekayaan keluarga Kusuma adalah hasil kerja keras mama dan papa ku, sedangkan dirimu, kau hanya adik tiri mama ku, apa kau lupa kalau kau dan mama mu juga sebelumnya merebut kebahagiaan mama dan nenek ku dengan merebut kakek ku dari mereka berdua," ucap Zehan dengan sorot mata penuh kebencian.
Ya, ini lah sisi kelam keluarga Kusuma sebelum nya.
Nenek nya Zehan sudah meninggal jauh sebelum Zehan di lahir kan, tetapi dia tau segalanya tentang hal tersebut dari almarhum mama nya.
Ibunya Maya, dia adalah seorang pelakor, dia dan mama nya sudah mengambil kakek nya Zehan dan memperlakukan mama nya Zehan dengan semena-mena.
Namun setelah kakek dari Zehan meningal dunia, keluarga Kusuma Wijaya sepenuhnya jatuh ke tangan papa nya Zehan dan saat ini semua kendali ada di tangan Zehan.
"Lancang! Begitukah caramu menghadapi orang tua? Biar bagaimanapun, aku ini masih Tante mu," ucap Maya tak terima.
"Erik," kata Zehan kepada asisten pribadi nya.
"Mengerti tuan muda," ucap Erik yang kemudian menyeret wanita itu keluar dari ruangan tersebut.
"Zehan! Zehan tunggu dulu, aku belum selesai bicara," kata Maya dengan suara keras.
"Diam atau aku akan meyumpal mulut mu, ingat lah untuk tidak datang kembali," kata Erik yang kemudian mendorong Maya keluar dari ruangan Zehan.
"Awas saja kalian, aku akan mencari cara agar dapat menguasai keluarga Kusuma, anak ku, suamiku dan ibuku juga berhak menerima harta dari keluarga Kusuma!" ucap Maya sebelum ia pergi dari tempat itu.
Sementara Erik kembali masuk ke dalam ruangan CEO.
"Tuan muda, semua sudah di tangani, oh ya tentang proyek dengan perusahaan xx, siang ini akan ada rapat," jelas Erik lagi.
"Tangani saja, aku sedang pusing," jawab Zehan sambil memijat alis nya.
"Tuan muda, sebaiknya kurangi merokok, itu mempengaruhi kesehatan, bagaimana kalau nyong muda tau ini?" ucap Erik menasehati Zehan supaya tidak terus-menerus merokok saat dia sedang dalam keadaan pusing.
"Dia? Dia peduli?" ucap Zehan singkat tampa menoleh ke arah Erik.
Setelah mendengar jawaban Zehan, Erik hanya bisa diam sambil geleng-geleng kepala, dia tau kalau ucapan nya itu sama sekali tidak berguna bagi Zehan, namun mau bagaimana lagi dia adalah seorang asisten yang tugasnya lebih dari mengingat kan Zehan.
"Tapi, sebenarnya apa yang membuat mu sampai jadi sepusing ini?" tanya Erik mulai penasaran.
Zehan menatap Erik dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Tadi malam, Viola jatuh dan kepala nya terbentur, menurut mu bagaimana jika ingatan nya kembali?" tanya Zehan kepada Erik.
Ya, ini lah yang membuat pikiran Zehan jadi kacau-balau, dia memikirkan hal yang bahkan belum dia pastikan sendiri.
"Aku rasa jika hanya sedikit terbentur tidak mungkin ingatan nyonya akan langsung kembali, apakah tuan muda sudah memeriksa nya?" kata Zehan.
"Belum, tapi semoga yang kau katakan benar," ungkap Zehan lagi.
Erik yang mendengar itu seketika lega karena Zehan tidak memerintahkan nya yang aneh-aneh lagi.
Sementara itu di sisi lain ...
"Apa? Terjadi kecelakaan malam itu?" ucap Liam seketika kaget setelah mendengar ucapan dari anak buah nya, yang dia tugaskan untuk menyelidiki kasus hilangnya Viola.
"Iya boss, malam itu, terjadi kecelakaan hebat setelah dia pergi dari kantor catatan sipil," ucap sang penyelidik lagi.
Mereka tidak menemukan apapun fakta lain tentang Viola kecuali video kecelakaan yang terkam cctv di depan kantor catatan sipil.
Entah kenapa setelah mendengar hal tersebut dada liam terasa memanas dan sakit, dia tidak menyangka kalau akan ada kejadian seperti itu setelah malam di mana dia membatalkan pernikahan mereka.
"Viola, maafkan aku," ucap nya yang merasa sangat menyesal.
Jujur saja, setelah menghilang nya Viola, Liam mulai merasakan ada hal yang kurang di dalam hidupnya, pekerjaan nya kacau balau, Dan hidup nya pun jadi hampa serta penuh kekosongan.
"Jadi, sekarang di mana dia?" ucap Liam sambil menatap anak buahnya penuh harapan.
"Aku tidak tau boss, yang ku temukan hanyalah, rekaman cctv di depan kantor catatan sipil tempat terkahir nona Viola berada," jelas orang tersebut.
"Apakah dia sudah? Tidak, tidak mungkin, dia tidak mungkin meninggalkan ku, tolong, tolong aku untuk menyelidiki nya lebih lanjut apapun caranya, aku harus menemukan Viola kembali," ucap Liam dengan kekeh.
"Tapi boss, identitas nona Viola sepertinya tidak biasa, jika dia orang biasa, mungkin sangat mudah untuk menemukan nya, namun ini begitu sulit, seolah-olah ada yang menyembunyikan nya," sambung orang tu.
"Aku tidak peduli, berapa pun bayarannya, aku sanggup, yang penting kau harus menemukan Viola secepat mungkin," kata Liam tak menerima alasan apapun.
"Baiklah kalau begitu, boss, kau juga harus bertanya kepada orang-orang terdekat nya nona Viola, dengan begitu mungkin akan ada sedikit petunjuk yang keluar," kata orang itu sambil berdiri dari duduknya.
"Aku tau," ucap Liam seketika mengingat Sekar dan Hans.
"Kalau begitu, aku permisi," anak buah Liam pun mulai kembali bergerak.
"Hans, Sekar, sepertinya kali ini aku harus memaksa kalian," kata Liam dengan tatapan tajam.
Sementara itu di sisi lain ...
"Ada apa lagi?" ucap Zehan sambil menatap Erik yang entah sudah berapa kali bolak-balik masuk ke ruangan nya.
"Ada hal penting tuan muda," ucap Erik sambil memainkan tablet nya.
"Apa?" ucap Zehan singkat.
"Sepertinya seseorang sedang berusaha mencari keberadaan nyonya muda," sampai Erik kepada Zehan.
Seketika Zehan yang awalnya sibuk dengan layar laptop nya menatap Erik dengan kening yang mengkerut.
****
kesian Zehan sih udah suami istri malah udah cinta tapi gak bisa nyentuh Viola...
duuuh nona muda,mulut nya lho
😆😆😆😆
semua perhatian mu selalu di terima lain ma Viola...
Sabar ya Zehan...tunjukan terus niat tulus mu ma Viola,lama lama ntar vio luluh juga
sama pikiran kita Zehan 😆😆😆
Dulu dengan Liam kok cupu bener sampai bolak balik di kibulin