GUBRAAKK !! Suara itu menyerupai nangka berukuran 'babon' jatuh dari pohon yang tinggi. Xavier (Zac) segera berlari meloncati semak-semak untuk segera mengambil nangka yang jatuh. Sesampainya di bawah pohon nangka, Xavier tidak melihat satu pun nangka yang jatuh. Tiba-tiba...
"Siapapun di sana tolong aku, pangeran berkuda putih, pangeran kodok pun tidak apa-apa, tolong akuu ... "
Di sanalah awal pertemuan dan persahabatan mereka.
***
Xavier Barrack Dwipangga, siswa SMA yang memiliki wajah rusak karena luka bakar.
Aluna Senja Prawiranegara, siswi kelas 1 SMP bertubuh gemoy, namun memiliki wajah rupawan.
Dua orang yang selalu jadi bahan bullyan di sekolah.
Akankah persahabatan mereka abadi saat salahsatu dari mereka menjadi orang terkenal di dunia...
Yuks ikuti kisah Zac dan Senja 🩷🩷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Janji Untuk Sebastian
"Kamu kelas berapa Senja?" Wilona menyapu penampilan Senja dari atas hingga bawah.
"Ona... " tegur Zac yang tidak suka dengan sikap Wilona
"Kelas satu Ka Lona."
"SMA?" tanya Loni
"SMP" jawab Senja seraya menundukkan pandangan.
Kedua adik Zac saling pandang lalu menatap Zac menuntut penjelasan. "Ka Zac kita harus bicara." Lona menarik Zac keluar ruang makan, Loni mengekori mereka.
Kanaya datang membawa puding buah dari arah pantry, "Lho, kamu sendiri sayang. Yang lainnya kemana?"
"I-ituuu ... Tante mereka sedang ke sana." Senja duduk dengan gelisah, kursi makan yang empuk terasa menyimpan ribuan jarum pentul dibawahnya.
Kanaya duduk di depan Senja dengan wajah tersenyum, begitu lembut dan anggun. "Zac sering cerita tentang kamu, ternyata benar ya kamu itu cantik, menarik dan istimewa seperti yang Zac gambarkan."
"Memangnya Kak Zac cerita apa tante?"
"Kamu memiliki mata yang cantik, kulit yang indah, senyum yang menarik dan inner beauty kamu terpancar dari kebaikan hati Kamu," tutur Kanaya.
"Ka Zac terlalu berlebihan Tan, aku nggak seperti itu. Fisik aku nggak seindah ka Wilona dan Vilonia. Tante lihat sendiri gimana aku," Senja menundukkan pandangannya.
"Lho nggak boleh insecure, metabolisme seseorang berbeda, yang penting pola hidup dan pola makan kamu dijaga agar terus fit dan sehat ya," pesan Kanaya sambil menyentuh punggung tangan Senja.
"Duh anak-anak kemana sih, tante udah laper lho Senja. Apa kita makan duluan aja ya?"
"Aku terserah tante aja," jawab Senja menatap hidangan dengan tatapan berbinar.
"Ayo kita makan duluan, biarin aja mereka. Lona dan Loni baru pulang dari pesantren Senja, jadi masih kangen dengan kakanya."
"Owh" bibir Senja membentuk hurup O. Perasaan canggung dan malu menyelimuti hati Senja.
"Mereka baru lulus SMP terpadu, semacam sekolah asrama atau pesantren. Rencananya akan melanjutkan sekolah ke London mengikuti Zac."
"Ka Zac... Mau ke London, Tan?"
"Iya, Zac belum cerita?" tanya Kanaya. Senja menggeleng pelan dengan wajah sendu.
"Mungkin belum sempat, pasti nanti dia pamitan sama kamu. Yuk kita makan." Kanaya meletakkan nasi di atas piring untuk Senja.
Ketiga kaka beradik itu akhirnya bergabung dengan mereka. "tuh kan Mama nggak sabar nungguin kita, kamu sih kelamaan ceritanya!" protes Zac pada Lona dan Loni.
"Kapan lagi kita ketemu ka Zac, besok kita sudah sibuk," jawab Lona
"Ayo anak-anak makan... "
Zac memperhatikan wajah Senja yang murung. Ia memiringkan wajahnya di depan Senja. "Kenapa Senjaku mendung, mama apain pacar aku?!" tanya Zac
Suasana jadi hening.
"Hikkss... Ka Zac jahat, mau ninggalin aku!" isak Senja tidak bisa lagi menahan kesedihannya.
"Mama sudah cerita?" tanya Zac pada mamanya.
"Mama pikir ... "
"Belum mam, aku belum cerita." Zac menggeser kursi yang di duduki Senja lebih dekat dengannya. "Nja, makan dulu sekarang. Kita masih banyak waktu untuk ngobrol. Mau Ka Zac suapin?" tanyanya lembut.
Senja melirik ke Kanaya yang menatapnya lembut, juga ke Lona dan Loni yang sedang mengulum tawa.
"Nja makan sendiri aja, malu... " ucapnya pelan dengan pipi yang tiba-tiba merona.
"Nah gitu dong, makan yang banyak. Masakan mama aku enak-enak semuanya lho." Zac menambahkan lauk ke piring Senja. "Kita makan berdua ya," bujuk Zac.
"Zac! Makan di piringmu. Kayak di rumah ini kehabisan piring saja," tegur Kanaya.
"Biar romantis mam," ledek Loni
"Pedofil!" celetuk Lona dengan wajah sinis.
Tampaknya di antara ketiga perempuan di sana hanya Wilona yang tidak menyukai hubungan Zac dengan Senja.
"Lona, tadi kaka sudah bilang ke kamu. Jaga sikap kamu!" tegur Zac sambil mengisi nasi ke atas piringnya.
Setelah makan siang bersama, obrolan berlangsung hingga ke ruang tengah sambil bermain uno dan monopoli. Sikap Wilona mulai mencair setelah mendengar celotehan Senja yang lucu dan imut, tapi bisa nyambung dengan dunia mereka, yang sama-sama mengidolakan Jung Kook.
"Ka Zac, Senja sudah cantik begini masa Ka Zac nggak mau berbenah diri. Kapan Ka Zac mau operasi bekas luka bakar di wajah?" tanya Loni
"Jangan sampai Senja ditikung orang lho Ka!" Lona menimpali.
Zac yang sedang berbalas pesan dengan Sam langsung menoleh ke arah Senja. "Kamu keberatan wajah aku seperti ini, Nja?"
"Pake nanya, Senja dapatin spek Jungkook juga bisa ka." Lona dan Loni serempak menjawab.
"Aku suka Ka Zac apa adanya," jawab Senja.
"Tuh dia aja nggak keberatan, kok kalian yang berisik sih!"
"Zac, memperbaiki penampilan itu nggak berdosa kok, nak. Kamu tidak merubah bentuk hidung, bibir atau lain-lain. Hanya meratakan kulit kamu jadi lebih terlihat normal," bujuk Kanaya.
"Menurut kamu gimana, Nja. Yang akan menatap wajah aku sampai tua itu kan kamu, Nja. Kasih aku motivasi agar aku memutuskan apa yang mama dan adikku inginkan." Zac menggeser duduknya dan kini berhadapan dengan Senja yang duduk bersila di atas karpet.
Gadis itu mengangkat tangannya lalu meraba pipi Zac yang rusak. "Ka Zac membahagiakan mama itu sama juga berbakti, Ka. Lebih baik niatkan di hati kaka untuk menyenangkan hati mama dulu."
"Utu ... Utu ... Calon mantu!" Kanaya langsung memeluk Senja.
"Mo nangesss... " gurau Lona, sudut bibirnya ia buat menukik ke bawah.
"Sarang Heo calon ipar!" Loni mengangkat kedua tangannya di atas kepala membentuk hati.
"Ya udah kalau Senja mengijinkan Kaka operasi wajah, aku mau. Ma, Carikan dokter bedah terbaik mam. Zac hanya ingin meratakan kulit, aksesoris lain di wajah aku tidak perlu diganti." bahu Zac merosot ke bawah, sebenarnya ia takut berada di meja operasi. Tapi demi mamanya dan Senja, akhirnya ia memutuskan untuk plastic surgery.
Sesuai janji, Zac mengantarkan Senja sebelum jam lima sore. Ia diperbolehkan membawa mobil mamanya karena sudah memiliki kartu penduduk dan surat ijin mengemudi. Kedatangan mereka disambut tatapan tajam dari Sebastian yang saat itu sudah berada di rumah.
"Apa-apaan ini siapa yang mengijinkan kamu masuk! Senja kamu masuk!" hardik Sebastian.
"Papa... Jangan kasari Kak Zac, Pa."
"Masuk!" Bastian bersikap keras pada Senja.
"Om, kedatangan saya ke sini untuk mengantarkan Senja sekaligus berpamitan pada om dan tante, karena lusa saya berangkat ke London untuk melanjutkan pendidikan."
"Kamu pikir saya perduli?" Bastian memicingkan matanya seolah Zac hanya sosok yang tidak penting baginya.
"Papa!" teriak Senja.
"Seret anakku masuk!" Bastian memerintahkan bodyguard untuk membawa Senja ke dalam.
Tangan Zac mengepal erat, dia tidak rela Senja diperlakukan seperti itu. "Apa yang bisa memuaskan Om agar bisa merestui hubungan kami, jangan perlakuan Senja dengan keras, Om. Hatinya terlalu lembut." Zac berdiri tegak seakan menantang kekuasaan Bastian.
"Tunjukan dulu prestasimu, bangun satu perusahaan raksasa untuk masa depan anakku, baru akan ku restui hubungan kalian. Aku tidak mau memiliki seorang menantu pemain bola yang tidak memiliki masa depan!"
"Baik, aku akan wujudkan apa yang om inginkan, dan akan aku ingat ucapan om hari ini," tantang Zac menebas kesombongan Sebastian.
...***...
"Papih sayang, kapan aku disentuh, aku merindukan sentuhanmu seperti malam itu." Meta bergelayut manja di lengan Reno.
Reno menyingkirkan tangan lentik Meta dari tubuhnya.
"Meta jaga sikapmu! Sudah aku katakan, kejadian itu hanya kecelakaan. Saat itu aku mabuk dan kamu mengambil kesempatan itu! Tidak akan ada malam kedua kalinya di antara kita selama istriku tidak mengijinkan aku menikahi mu. Saat ini aku hanya bertanggung jawab pada anak itu, titik!"
"Lalu kapan aku dinikahi? Perempuan itu masih keras kepala saja. Lagian dia kan minta cerai dari papih, ya sudah ceraikan saja, papih hanya milikku seorang."
"Kalau Kanaya menceraikan ku, jangan memimpikan pernikahan denganku, karena itu tidak akan terjadi." Reno menutup berkas yang ada di hadapannya
"Jadi buat apa kita tinggal satu rumah, kalau kamu tidak mau menyentuhku, menikahi ku!" teriak Meta.
Reno berdiri dari kursi kerjanya, lalu menatap Meta dengan kesal. "Bukan urusanmu! Nikmati saja kemewahan yang aku berikan, selagi aku masih mengijinkan kamu tinggal di apartemen ini." Lalu ia menunjuk arah pintu, agar Meta keluar dari ruang kerjanya
Meta menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu keluar ruang kerja Reno. Ia menatap pintu kokoh itu tertutup dengan tatapan gelap dan sinis. "Lihat saja akan ku buat perhitungan penghinaan ini!"
Meta menyambar tas mahalnya lalu keluar dari apartemen. Ia menelpon seseorang sebelum masuk ke dalam lift.
"Tante, aku nggak tahan lagi tinggal bersama mantan kekasih Tante itu. Dia tidak pernah menyentuhku, Tan. Lebih baik gagalkan saja rencana tante membalas dendam dengannya. Reno terlalu cinta pada istri penyakitan itu!" ucap Meta di sambungan telepon.
"Sabar sedikit lagi, kanaya dan ketiga anaknya akan pergi meninggalkan Indonesia. Setelah mereka pergi kamu boleh pergi bersama kekasihmu yang bule itu."
"Bagaimana kalau sampai anak ini lahir, Kanaya tidak juga pergi. Kebohonganku akan terbongkar, Tan. Anak ini milik Peter," tuturnya jujur sambil mengelus perutnya yang kian menonjol.
"Itu semua karena kebodohanmu, kenapa waktu sekian lama tidak juga bisa merayunya untuk dinikahi."
"Lho kok tante nyalahin aku, kalau Tante ingin merusak rumah tangganya kerjakan sendiri, seharusnya jangan libatkan aku. Aku mengorbankan karier dan kekasihku demi rencana tante!"
Klik!
Meta mendengus kesal, tujuannya membantu Tantenya merusak rumah tangga sang mantan, malah berujung menjadi tawanan lelaki tua yang susah move on dari istrinya.
"Lebih baik aku ke apartemen Peter. Sudah lama aku tidak disentuh," gumam Meta.
*
*
jalan masih panjang, raih mimpi sampai sukses ❤🤗
,, Zac dan Sam fokus menjalin persahabatan dulu yaa, biar makin klop 😚❤
,, gk mau coba tengok k Dee 👉👈 👉👈