Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Yang Panjang
Suara tapak kuda menyertai keberangkatan kami menuju kediaman bibi Luis. Kali ini, bukanlah untuk pertama kalinya aku dan Aurora menaiki kereta kuda bersama. Kala itu Aurora duduk di depanku dan kami berdua saling duduk berhadap - hadapan.
"Sebenarnya, kita akan pergi kemana, Yang Mulia?" tanya Aurora berusaha mencairkan suasana dalam kereta.
"Ke rumah Bibiku," jawabku singkat.
"Bibi?, Anda mempunyai seorang Bibi?" tanya Aurora lagi.
"Mmmhhh," sautku sambil memandang ke luar cendela.
"Kenapa, beliau tidak tinggal di istana bersama Anda?" Aurora terus bertanya.
"Kenapa kau banyak tanya?" cetusku membuat Aurora sedikit enggan merespon.
"Bu..bukan begitu maksud saya," ujarnya sedikit ketakutan.
"Kau boleh tidur jika merasa lelah, karena perjalanan ini cukup panjang," tuturku yang ingin mulai memejamkan mata.
"Bagaimana bisa tidur dalam suasana seperti ini?" gumam Aurora dengan suara sangat lirih
"Apa katamu?" tanyaku yang kala itu terdengar suara lirih Aurora.
"Bukan apa-apa, Yang Mulia," jawab Aurora yang mulai resah.
Kami pun melalui perjalanan yang cukup lama, sehingga aku mulai mengantuk dan memejamkan mata. Akan tetapi aku sedikit terganggu dengan pandangan Aurora yang mulai tadi menatapku.
"Benar-benar tampan, kenapa ada garis wajah seindah itu? dan sekarang wajah itu ada di depanku," terlintas dalam hati Aurora sambil menatapi wajahku yang kala itu terpejam di depannya.
"Tapi, sikapnya sangat jauh berbeda dengan penampilannya, andai saja dia raja yang ramah dan baik hati," gumamnya lagi.
"Kenapa dengan wajahku?" tanyaku yang tiba-tiba membuka mata.
"Tidak ada Yang Mulia," seru Aurora karena terkejut melihatku terbangun.
"Lalu, kenapa dari tadi kau menatapku?" tanyaku sontak membuat Aurora salah tingkah.
"Saya? menatap Anda?, kenapa Anda terlalu percaya diri?" cetusnya membuatku sedikit malu.
"Sudahlah," kataku meneruskan tidurku.
Tapi, entah mengapa aku merasa Aurora terus memandang wajahku. Ketika kumencoba membuka mata, terlihat Aurora yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah cendela setelah kutemui dia memandang wajahku kembali.
"Kali ini, kau benar-benar tidak memandang wajahku lagi?, jelas- jelas aku melihatnya," tuturku membuat Aurora sedikit kesal.
Karena pernyataanku barusan, Aurora tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan pindah ke sampingku.
"Jadi, jika saya duduk di sini, apa Anda masih akan menuduh saya memandangi wajah Anda, Yang Mulia?" ketus Aurora padaku.
"Berani- beraninya kau duduk di samping ku?" kata ku tak percaya Aurora akan bertindak seperti ini.
"Lalu,,,," suara Aurora terguncang ketika roda kereta yang melewati jalan terjal membuat tubuh Aurora sedikit terpental ke arahku.
"Aah ! " Aurora terkaget dengan guncangan itu dan tak sengaja bersandar pada tubuhku.
"Maafkan saya, Yang Mulia" saut Aurora merenggangkan tubuhnya dariku.
"Kau baik-baik saja?" tany ku sedikit khawatir
"Iya, Yang Mulia," jawab Aurora dengan wajah memerah.
"Tolong sedikit pelankan kereta kudanya" perintahku pada kusir kereta.
"Lebih baik saya kembali ke tempat duduk saya," kata Aurora hendak berdiri.
"Jangan, duduklah kembali, area ini memang memiliki jalan yang sedikit terjal, lebih baik kau berada di sampingku, untuk mengurangi guncangan," jelasku dengan menarik lengan Aurora untuk kembali duduk.
Aurora pun menuruti perkataanku. Dia hanya terdiam selama perjalanan setelah kejadian guncangan itu. Tak lama kemudian Aurora menyandarkan kepalanya ke dinding kereta karena merasa ngantuk.
"Dia bisa tidur?, bahkan dengan keadaan seperti ini?" sautku sambil mengubah posisi kepala Aurora dan menyandarkannya di atas bahuku.
Tak terasa aku pun tertidur dalam perjalanan itu. Tak lama kemudian, setelah aku terbangun, kudapati kereta telah berhenti dan Aurora menghilang dari tempat duduknya. Aku pun mulai mendengar suara gaduh dari luar kereta.
"Kai ... Ken ..., apa yang terjadi? kenapa, kita berhenti?" tanyaku sambil keluar dari kereta kuda.
"Maaf, Yang Mulia, Putri Aurora meminta kami untuk menghentikan kereta, karena beliau ingin mampir dan melihat-lihat pasar tradisional ini," terang Ken.
"Di mana Aurora sekarang?" tanyaku karena tak melihat Aurora di sekitar kereta.
Selama aku tertidur, Aurora terbangun dan ingin berhenti ketika kereta melewati pasar tradisional yang masih dalam lingkup kerajaanku.
Akan tetapi hilangnya Aurora dari pandanganku membuat aku khawatir kepadanya.
* * *
Di dalam pasar tradisional itu, terlihat jajaran kue yang sangat lezat. Aurora sangat ingin membelinya untuk mengganjal perutnya yang saat itu sedang lapar.
"Mia, aku ingin membeli kue-kue itu, sepertinya lezat sekali," tutur Aurora sambil menelan air liurnya karena tak tahan melihat kue yang berjajar rapi di depannya.
"Wah, benar Tuan Putri, " saut Mia ikut menelan air liurnya.
Tetapi, suasana menjadi berubah ketika para pemuda pasar melihat sosok Aurora yang sangat cantik jelita. Mereka mencoba mendekati Aurora yang sedang sibuk memilih kue yang akan ia beli.
"Hai gadis cantik, sepertinya kamu bukan penduduk lokal sini, bisa kami bantu?" Para pemuda itu mulai mengerumuni Aurora.
"Maaf yah Tuan-tuan, tolong jangan ganggu kami," tegas Mia ingin melindungi Aurora.
"Kau siapa? kami hanya ingin menyapa Nona cantik ini," tutur pemuda yang memakai topi bundar di kepalanya
"Dia sangat cantik sekali," saut pemuda lain kepada temannya.
"Apa mau kalian?" tanya Aurora berusaha tenang.
"Siapa namamu?, dan di mana tempat asalmu?, apa kami boleh tahu nona cantik?" goda para pemuda itu sambil meletakkan tangannya melingkar ke bahu Aurora.
Tiba-tiba..
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Suaraku membuat para pemuda itu terkejut.
"Waah, tampan sekali....lihat lelaki itu," suara desas-desus para wanita pasar yang membicarakanku.
"Siapa kau?" tanya pemuda yang berparas tinggi itu sambil mendekatiku.
"Yang Mulia, hentikan, sebaiknya kita kembali ke kereta," saut Aurora mendekatiku.
"Yang Mulia??" kata para pemuda itu mulai ketakutan.
"Bukankah, kalian tadi ingin menanyakan namanya?" tanyaku mendekati mereka.
Para pemuda pun melangkah mundur karena melihat para prajurit yang datang dari belakangku.
"Apakah, Anda seorang raja?" tanya salah satu pemuda itu.
"Iya, dan nona yang kalian ganggu tadi adalah istrinya," cetus Mia dengan hati yang sangat lega.
"Apa?? ..., maaf kan kami Yang Mulia, Ayo pergi teman-teman," seru pemuda bertopi itu kepada teman-temannya.
Semua pemuda itu pun meninggalkan kami, akan tetapi suasana pasar menjadi ramai ketika para penjual dan pengunjung pasar mengetahui identitas kami.
"Wah..Yang Mulia Raja ada di sini," kata-kata yang keluar dari mulut para pedagang.
Kami pun segera keluar dari pasar itu dan melanjutkan perjalanan.
"Siapa yang menyuruhmu untuk pergi ke pasar tanpa pengawalan?" tanyaku sedikit menahan emosi.
"Maaf, Yang Mulia" jawab Aurora sambil memegang sebuah roti di tangannya.
"Jika kau lapar, kau tinggal bilang padaku, aku akan memberikan apa yang kamu inginkan," tuturku sedikit menyesal karena kejadian tadi.
"Tapi, Anda masih tidur, lalu saya memutuskan untuk membeli beberapa kue ke pasar itu," terang Aurora membela diri.
"Kau harus sadar, jika penampilanmu sangat mencolok dan menarik perhatian banyak orang," jelasku pada Aurora yang sedang memakan roti dalam genggamannya.
"Maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi," janji Aurora pada ku.
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan