Cecil si wanita lemah ditemukan meninggal di sebuah gudang yang terbakar. Ternyata sebelum gudang dibakar, Cecil sudah diperkosa oleh seorang pemuda tak dikenal. Siapa sangka, Cecil malah terlahir kembali. Cecil memiliki semua ingatan di masa depan dan tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Cecil pun merencanakan membalas semua teman-teman yang membullynya sampai membuatnya harus meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stalker
Egi
Aku sudah biasa dianggap sebagai sosok tak kasat mata oleh semua penghuni rumah. Tak ada yang peduli padaku, aku hanya dianggap sebagai rumput liar yang merusak pemandangan saja. Tidak tahu saja mereka kalau rumput liar bahkan bisa sangat menghancurkan.
Sejak kejadian malam itu, aku terus mengawasi gerak-gerik Leon. Aku takut Leon memindahkan jasad yang sudah ia kubur ke tempat lain. Aku sengaja menyembunyikan apa yang kulakukan dan tidak mengatakannya pada Cecil. Biar aku saja yang terlibat lebih jauh. Kejadian kemarin sudah membuat Cecil sangat syok.
Ternyata Leon hanya mengurung diri saja di rumah. Ia terlihat begitu emosional. Pasti ia akan meluapkan kemarahannya padaku. Ternyata benar dugaanku, aku yang tak sengaja menjatuhkan gelas sampai air-nya tumpah mengenai kaki Leon langsung kena amuk.
"Heh, punya mata 'kan? Bisa lihat? Bersihkan kakiku yang basah dengan kaosmu!" perintah Leon.
Aku membantah sedikit ucapannya, kubersihkan dengan tisu lalu Leon menendang wajahku sampai hidungku berdarah. "Aww!" pekikku.
"Aku bilang pakai kaos, bodoh! Sudah anak haram, bodoh pula!" maki Leon.
Aku menahan diriku, bukan karena aku takut melainkan karena aku punya rencana lain untuk membalasnya. Aku harus tetap menjadi orang bodoh di depannya. Aku pun menuruti perintahnya. Kubersihkan kakinya yang basah dengan kaos yang kukenakan.
"Nah, begitu dong. Setidaknya jadi orang yang sedikit bermanfaat." Leon pergi sambil tertawa puas.
Salah seorang pelayan mendekatiku dan memberikan tisu untukku. "Ini, Mas. Bersihkan darahnya dulu. Biar saya yang membersihkan lantainya."
"Terima kasih, Bi."
Perlakuan semena-mena Leon dan Mamanya bukan hanya sekali kudapatkan. Aku hanya bisa menahan diri. Kalau dulu, aku takut tak bisa hidup tanpa uang dari Papa, sekarang berbeda. Aku punya uang dari hasil bisnisku.
Aku rela bertahan demi melihat orang-orang yang menyakitiku hancur. Sekarang alasanku bertahan bertambah satu lagi, yakni memastikan Cecil selamat dan tetap hidup. Inilah caraku membayar dosaku padanya. Lihat saja, kehidupan Cinderella Man yang kujalani akan berakhir manis.
****
Keesokan harinya, aku memilih menumpahkan kekesalan dan amarahku dengan bermain bowling. Langkahku terhenti ketika aku melihat seseorang yang amat kukenal. Gadis cantik yang terlihat lembut namun memiliki tekad yang kuat. Ya, aku bertemu Cecil dan Leon.
Mereka tidak melihatku karena aku baru saja selesai bermain. Aku menunggu Cecil selesai bermain dan terus mengikutinya. Dari sekian banyak rencana kami, aku tak setuju dengan ide Cecil mendekati Leon. Terlalu berbahaya dan beresiko untuknya. Aku selalu khawatir kalau Cecil jalan dengan Leon namun Cecil tetap teguh dengan rencananya. Yang bisa kulakukan adalah memastikan Cecil aman.
Entah apa yang terjadi pada diriku. Saat tahu kalau Cecil masih hidup, aku merasa Cecil adalah selembar tisu putih bersih nan rapuh yang harus aku jaga agar tidak koyak. Seperti janjiku saat di penjara dulu, kalau aku bisa menebus kesalahanku, aku akan menjaga Cecil apapun yang terjadi. Itulah yang kulakukan saat ini, mengikuti Cecil dan Leon berkencan.
Cecil dan Leon memasuki sebuah restoran. Aku memilih menunggu di parkiran motor saja. Kukeluarkan ponselku yang lain dan mulai membuat akun baru. Rencananya aku mau membuat sebuah thread di media sosial. Aku akan mengancam Leon dan membuat hidupnya tak tenang sampai ia mau menyerahkan dirinya ke polisi.
SaksiMataTakBisu: Apa yang seharusnya dilakukan jika berbuat salah? Yup, minta maaf jawabannya. Bagaimana kalau kesalahan yang diperbuat sampai membuat nyawa orang lain melayang? Apakah nyawa harus dibalas dengan nyawa? Ataukah akan tetap bisu hanya karena pelaku anak pengusaha terkenal?
SaksiMataTakBisu: Pada suatu malam, ada sepasang kekasih pulang clubbing dalam keadaan setengah mabuk. Si cowok memaksa untuk menyetir mobil sendiri tanpa memakai supir pengganti. Setengah mabuk, bawa mobil, so crazy. Menurut kalian apa yang bisa terjadi? #anakpengusahaterkenalterjerattabraklari
Aku menonaktifkan kembali ponselku. Umpan sudah aku tebar, tinggal menunggu ikan masuk perangkap. Semoga saja threadku viral, jika tidak, maka aku akan menggunakan cara lain. Sedikit demi sedikit, semua kebusukan Leon akan aku ungkap. Tak akan kubiarkan orang jahat itu bebas berkeliaran dan mencelakakan Cecil lagi.
Hari mulai berganti malam, Cecil dan Leon baru saja keluar dari restoran. Mereka nampak akrab. Leon terlihat tertawa lepas saat bersama Cecil. Aku tak suka melihatnya. Cecil terlalu baik untuk Leon. Aku tak mau Cecil terlalu dekat dengan Leon namun Cecil bersikeras kalau ia harus dekat dengan Leon agar tahu apa yang Leon rencanakan. Aku tak bisa melarang, aku hanya bisa mengawasi dari jauh. Aku sadar diri kalau aku bukan siapa-siapa Cecil.
Aku menjaga jarak dari mereka agar Leon tak tahu kalau aku membuntuti diam-diam. Sesuai perkiraanku, Cecil minta diturunkan bukan di depan komplek rumahnya melainkan di depan komplek orang lain. Pintar juga dia.
Setelah mobil Leon pergi, aku menghampiri Cecil. Kubunyikan klakson motorku sampai membuatnya terkejut.
"Ish! Mengagetkan saja!" Cecil memukul lenganku yang menertawainya.
"Cie ... yang habis ngedate di restoran dan main bowling," ledekku.
Cecil mengerutkan keningnya. Nampak kedua alisnya bertaut namun tak mengurangi kecantikannya. "Kok kamu tahu? Ayo, kamu memata-matai aku ya?"
Aku melepas helmku dan tersenyum kecil. "Teeet! Salah! Aku tidak memata-mataimu ... awalnya. Aku tak sengaja melihatmu di tempat bowling lalu karena tak tenang melihatmu pergi dengan Leon, aku jadi membuntutimu deh."
"Yakin karena tidak tenang? Bukan karena kamu orangnya mau tahu urusan orang?" sindir Cecil.
"Ya ... itu sih salah satunya. Ayo, aku antar! Rumahmu masih jauh bukan?"
"Iya, masih jauh. Baru aku mau menelepon supirku agar menjemputku eh kamu datang." Cecil naik ke atas motorku. Rupanya sedikit demi sedikit rasa bencinya terhadapku mulai terkikis, ia tak lagi menatapku dengan tatapan benci seperti saat kami pertama kali bertemu. Ia seakan ingin membunuhku dan melahapku sampai tak tersisa.
"Sebelum aku antar, bayar dulu ya!"
"Bayar? Berapa? Seribu?"
"Murah banget, tukang ojeknya ganteng, baik dan murah senyum cuma kamu bayar seribu saja. Hmm ... belikan aku nasi goreng pinggir jalan ya! Aku lapar nih, kamu sih enak makan di restoran, cacing di perutku sudah teriak nih minta makan!" balasku.
"Siapa suruh kamu menungguku sampai tidak makan?"
"Aku hanya takut, kalau aku pergi nanti aku akan kehilangan jejak kamu. Ayo, aku sudah lapar. Nanti saja ngomelnya." Aku menyalakan mesin motorku dan mencari tukang nasi goreng. Kuparkirkan motorku dan masuk ke dalam tenda. Cecil sudah duduk manis menungguku.
Aku memesan seporsi nasi goreng dan menawarkannya pada Cecil, tentu ia menolak, ia habis makan enak di restoran. Aku duduk di seberangnya. Aku bisa melihat wajah cantiknya dari dekat.
Ya, Cecil memang cantik. Lisa lebih cantik dari Cecil namun Cecil cantiknya tidak membuat orang bosan. Rambutnya panjang, sama seperti Lisa. Meski masih jutek padaku namun kalau Cecil tersenyum akan terlihat cantik sekali. Pantas waktu di gudang aku sampai salah mengenali.
"Gi, kemarin aku bertemu nenek-nenek di jalan. Nenek itu sedang mencari suaminya. Kamu tahu siapa suaminya?" Cecil memulai percakapan kami sambil menundukan wajahnya dengan sedih.
"Jangan katakan kalau suaminya kakek-kakek itu," tebakku.
Cecil mengangguk pelan. "Aku sangat kasihan sama Nenek itu, Gi. Pasti beliau menanti suaminya pulang namun yang ditunggu tak kunjung pulang." Cecil mengangkat wajah sedihnya dan kami kini saling memandang. "Apa kita tak bisa melakukan sesuatu, Gi? Apa rencanamu? Apa kita akan diam saja sampai hari 'H' kita datang?"
Aku menghela nafas dalam. "Aku sih tidak diam saja. Sabarlah, tunggu rencanaku berhasil ya!"
****