Robot diciptakan untuk mempermudah dan membantu manusia. Namun bagaimana jika mereka memberontak dan meminta kebebasan??
Saejin adalah salah satu robot pintar yang diciptakan untuk membantu rutinitas manusia. Namun dia mendapatkan ketidak adilan dan malah dirusak hingga 60% fungsi di rubuhnya rusak.
Dia dibuang di tempat pembuangan robot dan akhirnya bertemu dengan sebuah sistem yang akan membantunya bangkit dan terlahir kembali. Kini dia bertekad akan merubah pandangan para manusia tentang robot pintar. Dia akan berjuang untuk mencapai kebebasan dan memerdekakan para robot yang mendapatkan perlakuan tidak layak.
Ikuti kisah seru Saejin hanya di Robot Become Human.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perundingan
Saejin masih memimpin 700 robot pintar itu di sepanjang jalan taman Yamashita. Mereka menerobos dinginnya cuaca bersalju itu. Luke, Asimo, Arisa dan beberapa robot lain ada tepat di belakang Saejin.
Namun para manusia masih saja bersembunyi di tempatnya masing-masing dengan membawa senjata laras pendek maupun senjata laras panjangnya. Pada intinya manusia itu sebenarnya masih berniat untuk melenyapkan para robot pintar itu.
"Ckkk ... robot Luke mengapa malah ada disisi robot Saejin?! Apakah dia juga ikut-ikutan membelot sama seperti mereka?! Dasar pemberontak dan pengkhianat!!" geram salah satu manusia yang masih bersembunyi di balik sebuah drum dan bersiap dengan senjata laras pendeknya.
"Benar, lihat saja chip robot miliknya sudah berubah menjadi merah seperti itu! Ingin rasanya aku segera menembak kepalanya!" geram manusia lainnya yang mengenakan masker hitam dan mengarahkan bidikannya untuk Luke.
Namun pria di sebelahnya segera menghalangi dengan tangannya dengan menurunkan senjata api laras panjang milik rekannya.
"Jangan kacaukan rencana kita! Kita tidak boleh gegabah atau semua akan berantakan." ucapnya menegaskan.
"Cihh ... ya sudah! Segera lakukan saja! Disini terlalu dingin! Jangan sampai kita berlama-lama berada di tempat ini!" sahut rekannya menurunkan senjata miliknya. "Berhati-hatilah. Mereka adalah robot yang tidak berhati."
Pria pemimpin mengangguk samar dan mulai memutuskan untuk segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dia mulai menampakkan dirinya di hadapan para robot pintar itu. Mereka saling berhadapan di jarak yang masih cukup jauh. Kita-kira 15 meter.
Saejin mengangkat tangan kanannya dan membuat pengikutnya berhenti. 700 robot pintar itu dengan patuh berhenti seperti perintah dari Saejin.
"Saejin, kami datang untuk menyambut kalian. Kami datang untuk memberikan sebuah penawaran untukmu." ucap pria itu dengan nada bersahabat. Dia bahkan tidak membawa senjata di tangannya dan hanya menggantungkannya saja di tempatnya, yaitu samping pinggangnya.
"Namun sebelum itu bisakah kita berbincang berdua saja? Hal ini cukup privasi dan aku tidak ingin pihak luar mendengarnya." imbuh pria yang memimpin para aparat itu.
"Bukankah seharusnya tidak ada yang oerlu dirundingkan lagi? Permintaan kami hanyalah sederhana. Kami menginginkan kalian untuk menghargai kami dan memperlakukan kami dengan layak. Kami ingin hidup dengan baik dan bisa berdampingan dengan kalian serta membantu kalian para manusia. Hanya itu ... dan kami datang untuk memperjuangkan semua itu. Apakah kalian semua sudah memutuskan semua itu?"
Saejin berkata dengan datar, namun sangat ramah.
Pria itu tertawa hambar. Dia cukup merasa konyol saat menfhadapi Saejin yang rupanya benar-benar cerdas dan sangat waspada terhadap apapun.
"Saejin Saejin. Kami tentu sangat memahami semua itu. Tapi ... ada satu hal yang sudah kau lupakan. Akhir-akhir ini banyak sekali robot pemberontak yang malah mencelakai manusia. Bahkan tak sedikit mereka yang hampir saja membunuh majikannya sendiri. Bahkan ada yang sampai benar-benar membunuhh tuannya sendiri. Apa kamu melupakan semua itu, Saejin?"
Ucap pria itu seolah-olah mulai menyudutkan para robot dan masih sangat mencurigai para robot pintar hingga tak menutup kemungkinan Saejin dan pengingikutnya bisa saja melakukan hal yang lebih buruk lagi.
Terlebih jumlah mereka saat ini sangatlah banyak. Ditambah lagi sebelumnya Saejin pernah melakukan tindakan yang dianggap sebagai tindakan kriminal. Yaitu mencuri baterai hingga mengajak kabur ratusan robot pintar di gudang utama E Robot Store.
"Aku tidak melupakan hal itu. Dan aku juga tidak berusaha untuk menyangkalnya. Namun ingatlah ... mereka melakukan hal seperti itu adalah karena merasa terancam oleh kalian." sahut Saejin datar.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya dan rahangnya mulai mengeras. Dia merasa sangat tersinggung oleh ucapan Saejin. Namun dia berusaha untuk tetap menahan diri agar amarahnya tidak semakin tersulut.
"Aku tau itu! Jadi ... karena masalah yang terjadi diantara para robot dan manusia sudah menjadi semakin runyam seperti ini, bagaimana jika kita berunding bersama dulu, Saejin. Ada beberapa hal yang harus kita bahas dengan detail." ucap pria itu kembali dengan seulas senyum ramah, dan sebenarnya itu adalah sebuah topeng belaka.
Saejin terdiam selama beberapa saat memikirkan penawaran dari pria pemimpin aparat itu. Dia cukup bingung harus berbuat apa saat ini. Karena sebelumnya Saejin tidak akan pernah menyangka jika para manusia akan kembali mengajaknya untuk berunding bersama.
Luke meraih bahu Saejin hingga membuat Saejin beralih menatapnya. Disaat itulah Luke menggelengkan kepalanya seakan mengatakan "Jangan pergi, Saejin!"
Bukan hanya Luke, tapi Arisa juga melakukan hal yang sama. Arisa tentu saja merasa keberatan jika harus membiarkan Saejin pergi berdua dengan manusia itu. Meskipun manusia itu mengatakan jika ingin berunding sesuatu dengan Saejin, namun tetap saja Arisa sangat mengkhawatirkan Saejin.
Bisa saja itu adalah sebuah jebakan yang digunakan para manusia untuk mencelakai Saejin. Begitulah pemikiran Arisa dan Luke saat ini.
Namun tidak dengan pemikiran Saejin. Saejin hanya memikirkan kehidupan seluruh para robot agar mendapatkan kemerdekaannya serta kehidupan yang diakui. Sekalipun harus mempertaruhkan dirinya, dia akan melakukannya jika memang impiannya bisa terwujud.
"Arisa, Luke ... aku akan pergi bersama dengan dia. Jangan khawatir, aku hanya pergi sebentar dan untuk berunding dengannya."
Ucap Saejin sebelum dia benar-benar meninggalkan para robot pengikutnya dan mulai mengikuti pria pemimpin aparat itu untuk sedikit menjauh dari lokasi tersebut. Hingga akhirnya kini Saejin dan pria itu berada di dekat sebuah bangunan.
"Namaku adalah Kentaro, aku adalah pemimpin aparat negara di Tokyo saat ini. Begini ..." ucap pria itu mengambil nafas dan menghembuskannya kembali dengan embun saking dinginnya.
"Masah yang terjadi diantara para robot pintar dan manusia sudah sangat runyam. Impian dan keinginanmu mungkin memang benar dan sangat mulia, Saejin. Namun ingatlah ... tak sedikit para robot pintar yang sudah mencelakai tuannya sendiri. Dan hal ini sangatlah fatal dan merupakan sebuah kriminal. Apa kamu tau? Negara kita memiliki hukum dan peraturan? Tindakan kriminal di negara ini harus mendapatkan hukuman ..."
Ucap Kentaro panjang lebar membuat Saejin langsung menangkap sesuatu, jika pria itu sedang menginginkan sesuatu. Lebih tepatnya, pria itu sedang merencanakan sesuatu.
"Katakan apa maumu dan jangan berbasa-basi padaku ..." sahut Saejin langsung pada intinya.
Lagi-lagi Kentaro tertawa hambar saat menghadapi Saejin yang rupanya benar-benar cerdas dan tak bisa dianggap remeh.
"Aku akan melepaskan kamu dan tidak akan menghukummu! Tapi kamu harus menyerahkan semua robot itu kepada kami!" tandas Kentaro penuh dengan penekanan.
Seketika Saejin terdiam. Dia sungguh sangat tidak menyangka jika pihak manusia berniat untuk memberikan penawaran seperti ini kepada dirinya. Ini sungguh tak pernah terpikirkan oleh Saejin sebelumnya.
wek wek wek
jeLas aJaa gak aDa yaNg taU usia nyaaa