NovelToon NovelToon
Suamiku Guru Dingin

Suamiku Guru Dingin

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:455.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Miss. Arogan

Salsa seorang remaja SMA yang dijodohkan dengan gurunya yang dingin Mario. Namun, hubungan kedua begitu kaku karena Mario menginginkan wanita dewasa bukan remaja labil seperti Salsa.

***

Salsabila cukup mengerti tentang hal dewasa. Namun, ia hanya punya materi tanpa teori. Ketika Mario sang suami menginginkan wanita dewasa yang lebih berpengalaman. Salsa bertekad membuktikan hingga ia berhasil. Akan tetapi, hubungan yang dingin mulai menghangat, tiba-tiba diguyur badai karena kesalahpahaman yang datang dari orang terdekatnya. Di tengah kekacauan yang terjadi, Eva guru tercantik di SMA tempat Salsa belajar, semakin menambah suasan genting. Bagaimana keduanya bertahan pada kesalahpahaman yang membuat benang merah diujung tanduk?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss. Arogan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SGD-24

#Suamiku_Guru_Dingin

#SGD_24

Ketika kutemukan jawaban atas apa yang kubutuhkan dalam hidupku.

.

Salsa POV

Sorenya kami ke kebun stroberi milik Nenek. Dalam perjalanan banyak sekali yang ditunjukkan Gia. Pemandangan memanjakan indra oenglihatanku.

Jangan tanya berapa hektar luas kebun Nenek karena aku sama sekali tidak bisa memberikan tafsiran. Namun, ini luas sekali.

“Belum panen, buahnya masih campur-campur mudah dan tua,” papar Pak Mario.

“Sama, dong, seperti kita. Bercampur begitu. Aku muda dan Kak Mario tua,” ujarku dan berlari saat melihat dia kesal.

Aish, aku lari tanpa alasan. Dia sama sekali tidak mengejarku. Kurang romantisnya. Dasar pria dingin. Harusnya dia mengejarku dan berlari-lari kek di TV.

Aku mulai memetik buah stroberi. Buahnya lumayan besar dan terlihat segar sekali. Yogya menggodaku untuk menetap di sini.

Namun, aku harus kembali ke Bandung. Setelah liburan selesai, aku harus mencari sekolah baru. Padahal akan penaikan kelas. Kira-kira bagaiamana nasibku?

Apakah aku akan mengulang kelas dua atau Pak Reno membiarkan nilaiku keluar. Mengingat sekolah, aku menjadi sedih kembali. Tidak rela meninggalkan sekolah karena ada Sakina dan Afiah di sana.

“Salsa!”

“Gia!” Aku melambaikan tangan dan Gia berlari menghampiriku. Keranjangnya hampir penuh.

“Kamu sudah kelas berapa, Sa?’ tanyanya.

“Kelas 2. Kalau kamu kelas berapa?” Kami memetik buah sambil mengobrol.

“Kelas 2 juga. Semoga saja aku naik kelas. Kita seumuran, dong. Aku tadi ragu kalau kita beda umur, jadinya aku bertanya,” ujarnya. Gia orangnya ramah dan mudah bergaul.

“Enak gak satu sekolah dengan Kak Mario? Biasa ketemu setiap hari,” tanyanya kembali.

Aku bingung. Ada hal menyenangkannya dan menyakitkannya. Senang saat tiap hari bisa bersama, tetapi sakitnya saat aku harus mendapat bullyian hingga keluar. Naasnya guruku sendiri ingin menyingkirkanku.

Aku hanya menyunggingkan senyum dan mengajak Gia untuk pergi. Langit mulai memancarkan warna jingga. Sang mentarai telah melambai untuk pergi.

“Kak Mario, sudah sore sekali. Jadi, gak bisa keluar beli mata pancingan. Yahhhh ... padahal besok aku mau mancing lagi bareng Gia,” keluhku.

“Kita bisa keluar selepas isya,” ujarnya.

Aku memberikan keranjangku agar disatukan di dalam keranjang besar buah stroberi. Tidak sabar sampai di rumah. Akan kubuat jus stroberi. Nenek juga mau buah kue stroberi.

***

Krengggg ... krenggg ....

Aku menyalakan mixer. Nenek dan aku membuat kue. Sementara Gia, Anggi, dan Feli menyiapkan bahan lainnya.

“Nah, sudah jadi. Aku mau buat jus stroberi dulu.” Aku mematikan mixer dan mencari blender. Memasukkan buah stroberi yang sudah dicuci bersih.

***

Mario POV

Aku bersiap-siap pergi setelah salat isya. Tinggal menunggu Salsa selesai. Dia menghampiriku.

“Buruan, yuk. Aku mau mampir jajan juga.” Ia kembali antusiasi.

“Hm.”

Kami memasuki toko tempat menjual peralatan pancing. Salsa meminta dibelikan pancing juga buat dibawa pulang. Ke mana dia mau memancing?

Dia kubawa keliling untuk jajan. Betapa senangnya Salsa, saat di pinggir jalan berjejer pangkalan batagor dan juga tukang somay.

“Kak, makan dulu, yuk,” ajaknya. Aku membelikannya beberapa gorengan.

Mobil kami jauh tertinggal. Sasak ingin jalan kaki. Di bawah langit, kami menyusuri trotoar.

Aku menikmati saat bersamanya. Walau ia sibuk menikmati makanannya, tetapi aku senang karena dia di sampingku.

Pikiranku menerawang jauh tentang masa depan Salsa. Ia harus keluar dari sekolah. Aku akan mencari sekolah yang mau menerimanya. Semoga saja Pak Reno membiarkan nilainya keluar hingga ia tidak perlu mengulang semesternya.

“Yah, Pak Mario gerimis,” ujarnya.

Aku membuka telapak tanganku. Merasakan tetesan gerimis. Kenapa juga hujan datang saat kami mau jalan-jalan.

“Lari, Sa,” ajakku. Aku menggenggam tangannya dan menariknya untuk lari.

Jalan menuju ke mobil terasa sepi. Gerimis sudah berganti menjadi hujan lebat. Langkahku tertahan karena tarikan tangan Salsa.

Kelopak mataku berkedip-kedip karena hujan. Walau bayangannya samar, tetapi kulihat ia tersenyum lebar.

“Aku suka hujan!” teriaknya, “kita main-main hujan saja, Kak!”

“Kita bisa sakit. Jangan main hujan, Sa. Bagaimana kalau kamu sakit?” tanyaku khawatir.

Ia mendekat dengan tatapan senang. Ia mengusap tanganku. Hingga tiba di depan mobil. Tidak akan ada yang menyangka kalau ada orang yang berada di bawah guyuran hujan lebat ini.

“Aku suka hujan. Aromanya juga sangat aku rindukan. Apakah Pak Mario tahu, bahwa hujan adalah melodi yang menenangkan. Dia bisa melindungi kita. Menyembunyikan tangis, luka dan kesedihan kita. Tidak akan ada yang bisa melihat kita di sini,” ujarnya. Ia naik ke atas depan mobilku.

“Benarkah hujan bisa menyembunyikan kesedihan kita?” tanyaku mencari jawaban di kedua atensinya.

Ia mengangguk.

Aku ikut naik ke depan mobil. Barbaring membiarkan tetesan hujan menyentuh wajahku. Memejamkan mata mencoba mencari makna di balik perkataan Salsa.

“Moment ini tidak akan pernah aku lupakan, Sa. Aku menyadari, bukan wanita dewasa dan berpengalaman kubutuhkan dalam hidupku. Melainkan, wanita yang mampu berbagai kebahagiaan, kesedihan dan cintanya untuku,” batinku.

Walau mataku terpejam, rasanya aku melihat senyum Salsa terbit. Hal gila yang tidak masuk akal aku lakukan. Bermain hujan dengan Salsa.

Benda kenyal menubrukku. Bisa kalian tebak apa itu. Rasa dingin itu hilang berganti menjadi kehangatan.

“Aku mencintaimu,” bisik Salsa.

“Aku lebih mencintaimu,” balasku.

Kami sama-sama larut dalam memadu kasih di bawah hujan.

***

Bersambung ....

1
Rkivelya
thor tanggung jawab,mata ku bengkak😭😭😭
Yunita aristya
kurang panjang kak cerita nya seru soalnya
Erina Situmeang
ceritanya bagus semangat buat outhor 💪
Erina Situmeang
😭😭😭😭😭
Dafila Nurul
ceritanya menyedihkan banyak bawang nya
Erina Situmeang
mampir
bobo
ceritay bguz thor.tpi pembacay hrus pintar2 mghyati dialogy biar fhm.
daddy namjoon💜
Luar biasa
Yuyun Rohimah
next
Bunbun Sandi
good
Pipit Sopiah
ceritanya menarik. dan bisa selesai sampai akhir bacanya
Pipit Sopiah
emang ya anak SMA sekarang agresif agresif 🤦‍♀️
Pipit Sopiah
masih nyimak
Pipit Sopiah
hadir
Maliqa Effendy
males ah sm Salsa..cengeng,lemah....maaf ya..saya lewatin ..🙏🙏🙏
Maliqa Effendy
nah..sadar klo bodoh..
Maliqa Effendy
Salsa itu udah ukuran remaja dewasa,tapi bodoh ya..ini zaman now..bukan zaman baheula.
Ryunita
ceritanya oke,gak bertele2..thx thor utk ceritanya
Aminah Aqhifa
suka banget sama cerita nya gak🥰
Tuti Hastuti
Up lagi thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!