Laras adalah gadis yang di besarkan di panti asuhan, dia anak yatim piatu dan sejak masih kecil sampai dewasa di asuh oleh ibu Ramona. Ibu pemilik panti asuhan di mana dia bernaung.
Hingga dewasa, dia di paksa untuk menikah dengan anaknya bernama Danu yang bekerja di sebuah bank ternama. Itu permintaan terakhir ibu asuhnya. Karena pernikahan terpaksa itu, Laras harus menerima kesepakatan dengan Danu kalau pernikahan mereka hanya satu tahun saja, karena Danu sudah punya kekasih seorang gadis SMA. Danu meminta pada Laras, kalau di luar rumah mereka tidak saling mengenal, apa lagi mengaku sebagai suami istri.
Bagaimana Laras menghadapi pernikahan dengan Danu? Apakah Danu akan mencintai Laras?
Simak ya kisahnya...😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kesibukan Laras
Laras dan ibu Rima kin saling bercerita, mengenai panti asuhan. Dia tidak tahu harus bagaimana mengelola panti asuhan, dia akan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab panti asuhan pada ibu Rima.
"Ras, jika kamu punya masalah. Kamu bisa cerita sama ibu, sekuat-kuatnya kamu pasti akan lelah juga menghadapi suamimu itu." kata ibu Rima.
"Iya bu, maaf kalau Laras tidak memberitahu ibu sebelumnya. Laras hanya tidak mau mas Danu marah waktu itu, jadi Laras diam aja." kata Laras.
Dia tidak cerita dulu pernah di usir dari rumah Danu dan kembali lagi setelah mendapatkan warisan dari ibu Ramona. Itu tidak Laras ceritakan, yang penting baginya ibu Rima tidak boleh memikirkan keadaannya. Banyak anak-anak panti asuhan yang butuh perhatiannya dan juga kehadirannya.
Jika ibu Rima sakit gara-gara memikirkan keadaannya, maka dia paling merasa bersalah. Suatu saat nanti dia akan membantu ibu Rima mengelola panti asuhan.
"Laras pulang dulu ya bu. Aku ngga enak kalau pulang malam tapi mas Danu sudah pulang lebih dulu." kata Laras.
"Iya, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu Laras." kata ibu Rima mendoakan Laras.
Laras tersenyum, dia menyalami tangan ibu Rima lalu menaiki ojek online yang sudah dia pesan lebih dulu. Setelah Laras pergi, ibu Rima pun masuk kembali ke dalam panti.
Sedangkan Laras masih memikirkan apa yang di katakan ibu Rima. Kebahagiaan, dia harus bahagia. Tapi mungkin kebahagiaan belum menghampirinya, Tuhan mungkin sedang menguji kesabarannya. Sampai di mana Laras bertahan untuk bisa mempertahankan pernikahannya.
Dia masih belum tahu caranya mempertahankan pernikahan. Ya, dia ingin mempertahankan pernikahannya. Tapi apakah bisa? Mengingat Danu yang begitu keras kepala dan tidak bisa di bantah atau pun di debat.
"Entah terbuat dari apa hati mas Danu itu." gumam Laras mengingat suaminya itu.
"Sudah sampai mbak." kata abang ojolnya.
"Oh ya bang, terima kasih ya." kata Laras memberikan uang dari dalam dompetnya.
"Sama-sama mbak."
Abang ojol itu pun pergi, Laras melihat halaman rumah Danu masih sepi. Jadi mungkin suaminya itu belum pulang. Dia melangkah masuk ke dalam, tak lama mobil Danu pun memasuki halaman rumahnya dan berhenti di depan.
Laras melihat suaminya turun dari dalam mobil, dia menunggu dan berniat menyalami tangan Danu. Danu melirik sekilas Laras, tapi kemudian dia terus melangkah masuk tanpa peduli Laras berdiri di depan pintu.
"Kamu baru pulang mas?" tanya Laras.
"Kalau mobilku masuk, ya aku sudah pulang. Kamu buta apa?!" kata Danu ketus.
"Ya kan aku tanya aja mas, masa tanya ngga boleh." kata Laras.
"Jangan ganggu aku, aku mau langsung istirahat." kata Danu langsung masuk ke dalam kamarnya.
Laras diam saja, menatap punggung Danu sampai menghilang di tutup pintu kamarnya. Dia menarik nafas panjang, selalu seperti itu. Tidak ada kalimat yang baik dan lembut dari mulut Danu untuknya.
Laras pun masuk ke dapur, dia mengecek pesanan tadi siang. Ada berapa pesanan kue buatannya itu, setelah di cek ternyata meningkat. Dia pun tersenyum, kemudian dia menyiapkan bahan-bahannya untuk di buat adonan sekarang.
Mengeksekusinya besok pagi setelah Danu berangkat ke kantor. Satu jam menyiapkan bahan dan membuat adonan, setelah selesai dia merapikan dan membersihkan alat yang dia gunakan. Baru setelah itu dia pun masuk ke dalam kamarnya karena sudah sangat lelah sekali dan ingin istirahat.
_
Kesibukan Laras kini semakin bertambah, setiap hari pesanannya semakin banyak. Agak kerepotan juga dia melakukan semuanya sendiri. Dia ingin merekrut satu orang untuk membantunya. Tapi dia bingung, karena dia tidak mau membawa orang ke dalam rumah suaminya.
Akhirnya Laras pun berpikir, bagaimana caranya agar bisa membawa orang untuk membantunya. Tapi Danu tidak tahu akan kesibukannya dan juga orang yang membantu bisnis kuenya.
"Aku harus cari orang untuk membantuku, pesanan semakin banyak. Kalau semuanya aku kerjakan sendiri, mana bisa selesai sampai sore hari." ucap Laras.
Dia masih berpikir, siapa yang akan dia rekrut untuk jadi karyawannya di dapur. Terbersit Lili, gadis remaja yang berusia dua belas tahun itu. Tapi dia masih sekolah, dan akhirnya dia berpikir lagi siapa orang yang bisa membantunya di pagi hari itu sampai jam tiga sore saja.
"Siaa ya kira-kira?" gumam Laras.
Tuuut
Telepon dari ponsel Laras berbunyi, dia mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon. Ibu Rima.
"Assalamu alaikum bu."
"Wa alaikum salam. Kamu sibuk ya Ras?" tanya ibu Rima.
"Iya bu, tapi ngga sibuk banget sih. Ada apa ya bu?" tanya Laras lagi.
"Emm, begini. Si Dian tidak mau sekolah, dia tidak mau meneruskan sekolahnya. Padahal sebentar lagi lulus dia, ibu jadi bingung. Katanya mau kerja saja. Anak putus sekolah mau kerja apa? Apa kamu bisa membantu Dian, Laras cari pekerjaan untuknya?" tanya ibu Rima.
Laras tampak berpikir, apa sebaiknya dia Dian saja yang dia ambil untuk membantunya di dapur membuat kue?
"Boleh bu, tapi Dian mau ngga kerja sama Laras? Membantu Laras membuat kue. Soalnya pesanan setiap hari meningkat, Laras kesulitan kalau di tangani sendiri. Kalau Dian mau, kerja sama aku dulu. Baru setelah nanti dia dapat pengalaman, bisa Laras rekomendasikan di tempat kerja teman Laras bu. Bagaimana?" tanya Laras.
"Waah, itu ide bagus. Ya sudah, kapan Dian mulai kerja Laras?"
"Besok pagi bu. Suruh aja pergi ke rumah pak Danu."
"Oke, nanti ibu sampaikan sama Dian ya. Semoga dia mau, dan seharusnya dia mau membantumu." kata ibu Rima lagi.
"Baiklah bu, Laras terima karyawan satu orang. Heheh."
"Ya, ya. Semoga usahamu berkembang ya."
"Iya bu, terima kasih."
Klik!
Laras meletakkan ponselnya, dia berpikir bagaimana nanti Dian tidak boleh tahu Danu memperlakukannya tidak baik. Jadi, sebaiknya hari Minggu Dian tidak boleh datang. Atau di liburkan saja.
"Baiklah, ini resikonya. Aku harus bekerja dengan baik. Sebelum nanti mas Danu mengusirku karena membawa orang ke rumahnya, jadi aku harus hati-hati." ucap Laras.
Kini dia sedang mengepak pesanan yang harus di antar, banyak juga yang memintanya. Jadi sebelum dia mengantarnya, semuanya harus rapi. Tidak ada yang berserakan apa pun di dapur.
Dia juga sudah membeli beberapa alat sesuai kebutuhan, lalu di simpan di dalam lemari dapur. Karena Danu tidak pernah menyentuh dapur sekalipun, jadi dapur adalah daerah teraman tempat barang-barang perakatan miliknya dan juga di kamarnya. Meski dia harus repot menyimpan dan mengeluarkannya jika butuh.
_
_
*******************