Rindu menerima tawaran Azahra bos di kantornya untuk menjadi surrogate mother. Walaupun pamannya melarangnya, Rindu tetap nekad menjadi surrogate mother. Karena ia ingin menebus sertifikat rumah pamannya yang digadaikan ke bank.
Namun rencana tidak seindah yang dibayangkan. Ketika Rindu sedang hamil empat bulan, Azahra meninggal dunia karena penyakit jantung. Sedangkan suami Azahra yang bernama Nizam sulit untuk dihubungi.
Bagaimanakah dengan nasib Rindu dan bayi di dalam kandungannya?
Follow ig Deche @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Memasak
Pagi-pagi sekali seperti biasa Rindu sudah bangun. Biasanya setelah sholat subuh Rindu mencari makanan untuk mengisi perutnya yang lapar, namun kali ini tidak. Hari ini Nizam pergi ke kantor, Rindu hendak menyiapakan sarapan untuk suaminya.
Ketika Nizam sedang sholat subuh, Rindu keluar dari kamar menuju ke dapur. Sesampainya di dapur masih belum ada pembantu yang bekerja di dapur. Rindu membuka kulkas mencari bahan makanan yang bisa dimasak.
“Neng Rindu lagi cari apa?” tanya Bui Ijah tiba-tiba.
Rindu kaget langsung menoleh ke belakang.
“Eh, Bi Ijah. Saya kirain siapa,” kata Rindu.
“Neng Rindu lagi cari apa?’ tanya Bi Ijah sekali lagi.
“Saya mau masak, Bi,” jawab Rindu.
“Masak? Neng mau masak apa?” tanya Bi Ijah.
“Saya bingung, Bi. Mau masak apa,” jawab Rindu.
“Ada ayam, buncis, jagung dan telur. Mau dimasak apa sama Neng?” tanya Bi Ijah.
“Bikin ayam kecap, tumis buncis dan perkedel jagung,” kata Rindu.
“Bibi bantu ya, Neng. Biar ceoat masaknya,” kata Bi Ijah.
“Iya, Bi,” jawab Rindu. Rindu pun berkutat di dapur memasak untuk keluarga barunya.
Ibu Neri berjalan menuju ke dapur. Ia hendak mengecek pembantunya yang sedang memasak untuk sarapan. Ia kaget melihat menantunya sedang berkutat di dapur.
“Rindu, kamu sedang apa?” tanya Ibu Neri.
Rindu menoleh ke Ibu Neri.
“Eh, Mamah,” kata Rindu. Ia takut dimarahi oleh mertuanya.
“Kan Mamah sudah melarangmu untuk masak, nanti kau kecapean,” kata Ibu Neri.
“Neng Rindu membuatkan sarapan untuk Pak Nizam, Bu,” kata Bi Ijah.
“Jadi kamu masak untuk Nizam?” tanya Ibu Neri.
“Iya, Mah. Semuanya tidak Rindu kerjakan sendiri. Rindu di bantu Bi Ijah,” jawab Rindu.
“Ya, sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah selesai kamu langsung istirahat, ya!” kata Ibu Neri.
“Iya, Mah,” jawab Rindu. Ibu Neri meninggalkan dapur.
Sejam kemudian Rindu sudah selesai masak. Rindu kembali ke kamarnya. Ketika Rindu membuka kamar Nizam sedang menonton televisi di kamar. Rindu menuju ke walking closet untuk mengambil baju, ia hendak mandi.
“Kamu dari mana?” tanya Nizam ketika Rindu keluar dari walking closet.
“Dari dapur, Pak,” jawab Rindu.
“Kamu habis masak, ya?” tanya Nizam.
“Kok Bapak tau?” tanya Rindu.
“Tau lah. Waktu kamu masuk ke dalam kamar tercium bau bawang,” jawab Nizam.
“Saya mandi dulu, Pak,” kata Rindu.
Rindu masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit kemudian Rindu keluar dari kamar mandi.
“Pak Nizam sudah mandi?” tanya Rindu.
“Belum,” jawab Nizam.
“Mandi dulu, Pak. Lalu kita sarapan. Nanti makanannya tidak enak kalau sudah dingin,” kata Rindu.
Nizam baeranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sambil menunggu suaminya mandi, Rindu membereskan tempat tidur.
Lima belas menit kemudian Nizam keluar dari kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk yang menutupi tunbuh bagian bawah. Rindu kaget melihatnya, ia langsung memalingkan wajahnya. Nizam masuk ke dalam walking closet. Rindu langsung bernafas lega. Ia melanjutkan membereskan kamar.
Sepuluh menit kemudian Nizam keluar dari walking closet. Ia memakai setelan suit berwarna abu-abu lengkap dengan dasi. Nizam memakai jam tangan mewahnya.
“Kamu punya uang?” tanya Nizam.
“Ada, Pak,” jawab Rindu.
“Uang hasil dari bayi tabung?” tanya Nizam.
“Iya, Pak,” jawab Rindu.
Nizam mengambil dompetnya yang di berada di atas nakas, ia membuka dompetnya dan mengambil salah satu kartu kredit.
“Pakai ini untuk semua keperluanmu dan keperluan bayi, termasuk untuk ke dokter. Jangan pakai uang mamah lagi!” Nizam memberikan kartu kredit ke Rindu.
Rindu ragu untuk mengambil kartu kredit itu.
“Ambil!” perintah Nizam.
Akhirnya Rindu mengambil kartu kredit itu.
“Nomor pinnya xxxxxxxxxx,” kata Nizam, “catat jangan sampai lupa!”
“Baik, Pak,” jawab Rindu.
“Saya mau sarapan, saya sudah lapar,” kata Nizam.
Nizam dan Rindu keluar dari kamar, mereka menuju ke ruang makan. Di ruang makan sudah ada Pak Haidar, Ibu Neri dan Nazriel yang sedang sarapan. Nizam dan Rindu duduk di kursi makan.
“Rindu, masakamu enak,” puji Nazriel sambil mengacungkan jempol. Rindu menanggapinya dengan tersenyum.
Rindu mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk Nizam. Ketika Nizam memakan masakan Rindu ia tidak berkomentar apa-apa.
“Bang, butik sekarang siapa yang pegang?” tanya Nazriel. Ternyata butik tempat Rindu bekerja bukan milik Zahra, tapi milik Nizam. Zahra hanya mengelola saja.
“Dipegang sama Bayu,” jawab Nizam.
“Bayu asisten Abang?” tanya Nazriel.
“Iya,” jawab Nizam.
“Dia mana mengerti tentang butik? Dia cuma mengerti tentang perusahaan,” ujar Nazriel.
“Sama saja, kan. Sama-sama tempat usaha,” jawab Nizam.
“Bedalah, Bang. Kalau butik harus ada yang mengerti design pakaian dan padu padannya. Serta ia juga harus tau perkembangan mode,” ujar Nazriel.
“Lalu abang mesti bagaimana?” tanya Nizam.
“Cari manager yang mengerti dunia mode,” jawab Nazriel.
“Iya, nantilah Abang suruh Bayu cari,” kata Nizam.
“Bagaimana kalau Rindu yang pegang butik? Dia kan sarjana design,” usul Nazriel.
Nizam menoleh ke Rindu. Rindu hanya diam sambil mengunyah makanannya.
“Mana bisa dia kerja di butik? Dia hamil saja report, apalagi harus memegang butik,” jawab Nizam.
“Dia kan hanya memantau saja, Bang. Tidak harus setiap hari datang ke butik,” kata Nazriel.
“Jangan ah! Nanti kalau dia sudah melahirkan dia harus mengurus anak-anak,” kata Nizam.
“Nizam benar, Zriel. Kasihan Rindu kalau harus mengurus anak-anak sambil mengelola butik. Nanti dia kecapean. Lebih baik cari orang lain yang bisa dipercaya untuk mengelola butik,” kata Ibu Neri.
“Kan sekali-sekali ke butiknya. Tidak harus setiap hari. Kasihan dia kalau harus diam di rumah terus,” ujar Nazriel.
“Nantilah Abang pikirkan lagi bagaimana baiknya,” jawab Nizam.
Nizam melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam delapan lewat lima belas menit.
“Sudah siang. Abang ada rapat jam setengah sepuluh.” Nizam beranjak dari kursinya lalu menghampiri Pak Haidar dan Ibu Neri.
“Mah Pah, Nizam berangkat kerja dulu,” kata Nizam.
Nizam mencium tangan kedua orang tuanya.
“Kamu nanti pulang ke sini atau pulang ke rumahmu?” tanya Ibu Neri.
“Nggak tau, Mah, lihat nanti saja,” jawab Nizam.
“Abang berangkat dulu.” Nizam menepuk punggung Nazriel.
“Iya, Bang,” jawab Nazriel.
“Assalamualaikum,” ucap Nizam sambil berjalan menuju ke garasi.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.
Nizam tidak pamit kepada Rindu, ia pergi begitu saja. Rindu langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Rindu, kamu mau kemana?” tanya Ibu Neri.
“Mau antar Pak Nizam ke depan,” jawab Rindu.
“Sudahlah, Mah. Biarkan saja dia kan istri Nizam,” kata Pak Haidar.
Rindu menyusul Nizam ke depan rumah. Ternyata Nizam sudah masuk ke dalam mobil. Rindu menghampiri mobil Nizam, ia mengetuk kaca jendela mobil. Nizam membuka kaca.
“Apa lagi?” tanya Nizam.
“Belum salam,” jawab Rindu.
Nizam mengulurkan tangannya lalu Rindu mencium tangan Nizam.
“Assalamualaikum,” ucap Nizam.
“Waalaikumsalam,” jawab Rindu.
Mobil Nizam meluncur meninggalkan kediaman orang tuanya. Rindu memandangi mobil suaminya.
Ya Allah. Lindungilah suamiku, mudahkanlah semua urusannya dan lancarkan rejekinya. Aamiin ya rabbal alamin