Ashilla tidak pernah menyangka jika di hari itu ia harus merelakan masa lajangnya, menikah dengan sosok yang tidak pernah ia kenal sebelumnya hanya karena ancaman dari sang paman yang akan menghentikan pengobatan adiknya yang tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Hidupnya hancur, semakin hancur ketika ia mengetahui fakta sebenarnya mengenai alasan mengapa laki-laki itu memilih menikahinya.
Mampukah Ashilla menjalani biduk rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kata cinta didalamnya?
IG : reinata_ramadani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Sekalipun Menyakitinya
°°°~Happy Reading~°°°
"Jadi kamu belum bisa memberikan saya seorang pewaris?"
Membuat Shilla sontak mendongak, menatap pada wajah Damian yang kini tampak tak senang.
"Bukankah sama saja mas? Yang penting kan adek sehat?"
"Saya butuh pewaris Shilla!"
Wajah penuh binar itu seketika berubah mendung. Shilla sungguh tak mengira jika suaminya itu hanya menginginkan seorang pewaris. Bukan seorang bayi mungil yang tak berguna.
"Jika mas memang menolaknya, maka Shilla bisa mengurusnya sendiri. Jangan pernah menyakiti anak Shilla mas." Perempuan itu merengkuh perutnya, tak ingin bayi dalam kandungnya sampai mendengar ungkapan penolakan dari sang ayah.
"Saya tidak bilang saya menolaknya Shilla. Saya hanya bilang saya butuh pewaris." Damian ikut tersulut. Laki-laki itu bahkan menaikkan intonasinya.
"Itu sama saja mas menolak anak mas sendiri. Tidakkah kesehatan dan keselamatan adek lebih penting dari segalanya. Dari obsesi mas yang menginginkan seorang pewaris?"
"Sepertinya hati mas sudah tertinggal di jalan. Mas tidak punya hati!"
Perempuan itu langsung bangkit dan berlari menuju kamarnya. Rasa rindu itu seketika lenyap tergantikan oleh rasa kecewa yang begitu menyesakkan dada.
"Shilla--"
Tok tok tok...
Perempuan itu bahkan mengunci pintu kamarnya.
"Buka Shilla. Jangan seperti ini!"
"Shilla... ."
Tok tok tok... .
Perempuan itu tak menghiraukan ketukan juga sautan dari suaminya. Shilla hanya duduk di atas ranjangnya dengan sesekali mengusap wajahnya yang basah akan isaknya.
🍁🍁🍁
Shilla yang tak sengaja tertidur setelah puas menangis kini terbangun saat dirasakannya helai rambut itu terasa hangat. Tubuhnya bahkan terasa sesak seolah kini tengah di rengkuh erat.
Perlahan perempuan itu mengerjap, bola matanya bergerak naik menatap pada wajah lelap sang suami yang tengah tidur merengkuhnya.
Tangan yang bebas itu perlahan mengusap wajah rupawan itu. Tidakkah Tuhan sangat tidak adil karena memberikan ketampanan sesempurna ini pada laki-laki tanpa hati?
Apa Shilla telah salah jatuh cinta pada suaminya sendiri? Pada suaminya yang akan segera menceraikannya setelah anak mereka lahir nanti?
'Apa mencintaimu adalah kesalahan, mas?'
Damian terbangun saat dirasakannya benda kenyal itu dengan lancangnya menyentuh bibirnya. Bola mata itu mengerjap tepat saat Shilla melepaskan ciumannya yang begitu dalam dan lama.
"Apa yang kamu lakukan Shilla?"
Membuat Shilla sontak membeliak. Perempuan itu menjauhkan tubuhnya. "Mas sudah bangun?"
"Sudah tidak ngambek lagi?"
Ahhh, iya. Bagaimana ia melupakan acara ngambeknya hanya dengan disuguhi wajah rupawan itu?
"Shilla--masih ngambek sama mas."
Perempuan itu kemudian membalik badan--pura-pura ngambek. Enak saja laki-laki itu diberikan maaf tanpa harus berjuang meluluhkan hatinya.
Damian mendekat kemudian merengkuh Shilla dari belakang. Tangan besarnya kini menyusup di sela baju untuk mengusap secara langsung perut buncir sang istri.
"Maafkan daddy, baby. Daddy tidak bermaksud seperti itu. Daddy selalu menyayangimu."
Hening. Ungkapan penyesalan Damian, sama sekali tak ada yang menimpali, hanya deru nafas Shilla yang terdengar sesekali.
"Kata baby nya saya sudah dimaafkan. Masa kamu masih ngambek aja?"
"Mas keterlaluan!" ungkit Shilla tak mudah memberi maaf.
"Iya. Maafkan saya Shilla."
"Mas nggak boleh seperti itu lagi. Bagaimanapun anak adalah titipan Allah. Kita harus menerimanya dengan lapang dada. Menjaganya selayaknya harta paling berharga. Jangan sekalipun menyakitinya, atau Shilla nanti tidak akan mengizinkan mas membawa adek."
"Iya Shilla. Saya minta maaf."
Laki-laki itu kemudian membalik badan Ashilla perlahan. Terlihat wajahnya tampak sedikit sembab, sepertinya perempuan itu tadi menangis sebelum akhirnya terlelap dalam tidur siangnya.
"Saya menginginkan kamu, Shilla."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕