NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Kalisha

Takdir Cinta Kalisha

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Yani Wi

Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.

Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.


"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Jalan-jalan, rencana Papa.

Hari Sabtu aku tidak sekolah. Tak ada jadwal kuliah. Papa sengaja mengajukan izin tidak kerja sedangkan mama sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawa.

Elin membuka pintu kamarku dan kepalanya melongok ke dalam, "Cha nggak usah kelamaan di depan cermin, ntar cerminnya retak loh."

"Halaaah sendirinya tuh...," kataku.

"Semua sudah menunggu Cha."

"Oke kak, sebentar lagi kok. Bik Min ikut?"

"Nggak ikut. Katanya mau jaga rumah saja."

"Aku sudah cantik. Taraaa!" Aku putar tubuh di depan cermin.

"Huuuuh gak ada yang puji sih. Cepat Cha, ditunggu papa, mama."

"Jadi orang tuh sabar, kenapa...."

"Aku hitung, dua, empat, enam...."

"Enggak lucu. Siap berangkat."

Aku pun keluar kamar. Elin mengikuti.

"Princess Papa lama sekali," kata Papa.

"Totalitas Pa haha."

"Lihat Ma, anak kamu," kata papa kepada Mama.

"Princess Papa bukan?"

Elin menmbahkan,"Kesayangan Papa tuh."

"Hahahaha," kami tergelak bersama."

"Sudah lama ya Ma, kita tak jalan-jalan sekeluarga. Senang banget Ma." Aku berkata sembari teringat wisata terkhir ke gunung Bromo. Hampir dua tahun ini wisata bersama keluarga tak terjadi karena kesibukan papa.

"Lebih seru wisata ke Bali. Semester depan," kata papa.

"Aku mau Pa!" Seruku semangat.

"Bagaimana sanksi atas perbuatan kamu Icha? Kemarin malam."

"Apa? Icha tidak boleh ikut, begitu Pa? Yaaah Papa, sanksinya ganti yang lain saja Pa," pintaku setengah merengek.

"Ganti apa? Papa belum ada ide lain." Papa tampak berpikir.

"Iiiiih kamu Cha, berbuat kesalahan apa?" Tanya Elin.

"Nggak ada kesalahan. Papa saja sengaja menghukumku," kataku.

"Mana mungkin kamu dihukum jika tidak ada kesalahan, ya kan Pa? Kok aku ketinggalan perkembangan informasi di rumah kita Ma."

Mama bilang, "Bukan apa-apa. Papa hanya bercanda."

"Sekali lagi tak ada wisata tahun ini," tegas Papa.

Aku cemberut, " Yaaahh Papa. Maa...." Menoleh pada Mama tapi mama hanya mengangkat bahu.

"Tapi jalan-jalannya diganti sekarang kan? Ini kita mau jalan-jalan kan Ma?"

"Papamu yang lebih tahu Icha. Rencana ini inisiatif Papa."

"Mama coba tanyain sama papa."

"Tanya sendiri atuh." Elin menimpali ucapanku.

"Kalian ikut saja sebentar lagi juga kita tiba," kata Papa.

Papa membelokkan mobil ke arah kanan jalan raya. Di sebelah kiri kanannya berjejer toko-toko besar. Lalu kami tiba di suatu tempat yang rasanya aku tidak asing lagi.

"Memangnya kita harus lewat sini ya Pa?" Tanyaku heran. Papa senang sekali melalui jalan ini. Mungkinkah papa akan singgah di rumah wanita itu?

"Iya lewat jalan ini. Jika lewat jalan lain, makan waktu lebih lama untuk sampai ke tujuan," menurut Papa.

Hingga tiba di depan sebuah rumah yang sudah pernah kulihat sebelumnya. Benar Papa singgah di sini. Ada urusan apa sih. Rumah ini, tempatku mengintai Papa.

Papa keluar dari mobil dan mama juga keluar dari mobil. Netraku mengikuti gerak mereka berdua. Papa dan mama mengeluarkan barang bawaan dari bagasi. Kebanyakan persedian bahan makanan yang dibawa oleh Mama. Loh jalan-jalannya di sini?

"Elin, Icha kita sudah sampai. Ayo turun!" Perintah Papa.

Papa mengabaikan aku yang memandang penuh tanya. Mengapa jalan-jalan kemari dan bukan ke resort? Cerita ketika tertangkap di sini kemarin malam, belum lagi hilang dari ingatanku tapi sore ini sudah berada di sini lagi.

Dari halaman samping muncul Oom Yok. Ketemu lagi sama Oom ini. Waduh rasanya aku tak ingin masuk. Aku ingin pulang saja. Oom Yok mengulurkan tangan kepada Mama, Elin dan kemudian aku. Dia tersenyum padaku. Huuuh sok ramah. Dia kembali melihat papa.

"Selamat sore, anda menginap di sini?" tanya Oom Yok.

"Ya satu malam saja," kata Papa.

Mama menurut saja dengan Papa. Buatku tidak ikut rencana papa saat ini berarti siap sedia terima hukuman susulan. Papa telah merencanakan kunjungan ini. Ya ini adalah kunjungan bukan plesiran. Aku melangkah paling belakang menyusul Elin yang sudah duluan di depan diriku. Kami berada di ruangan besar. Semua mengikuti Papa dan Oom Yok. Entah apa rencana Papa. Tadi ku dengar Papa bilang menginap satu malam. Menginap di rumah asing ini.

Ku lihat mama bersikap tenang padahal pertama kalinya kami datang kemari. Papa masuk ke ruangan yang lebih dalam. Oom Yok menemani kami.

"Silakan duduk Bu," kata Oom Yok pada mama. Mama mengangguk.

"Terima kasih Yok. Bagaimana keadaan Erlita dan anak kalian?"

"Erlita dan anak-anak baik-baik saja."

"Syukurlah."

Papa datang dari ruangan dalam. Mengajak kami masuk ke ruangan yang dilalui papa, "Kita tunggu ke dalam ya. Tunggu di ruangan keluarga."

"Semua baik-baik saja?" Tanya Mama.

"Semua akan baik-baik saja. Tenanglah. Minum ini dan makanlah yang ada di meja. Keteganganmu akan hilang." Papa menggenggam tangan mama.

"Aku belum ingin makan Pa," balas mama. Papa memberikan mama senyum hangat.

"Papa, kita di rumah siapa? mengapa kita di sini?" Pertanyaan keluar dari mulut Elin namun tiada jawaban dari papa. Aku kecewa.

"Kalian berdua, makanlah cemilan ini dan anggap saja kalian berada di rumah kita."

"Mana bisa begitu Pa. Rumah orang lain, nggak boleh dianggap rumah kita sendiri. Kita ini menunggu siapa sih?" Tanyaku.

Pertanyaanku belum terjawab tapi sosok perempuan di atas kursi roda yang didorong oleh seorang perempuan berpakaian putih, muncul dari ruangan dalam di mana papa muncul tadi.

Papa tersenyum tulus. Tampaknya papa bahagia sekali dan mama kembali berdiri menyambut kedatangan wanita itu. Mama canggung. Senyuman mama hanya segaris tipis.

Kini wanita tua itu berada dekat kami. Langkah mama maju ke depan.

"Rosa kemarilah," kata wanita itu. Mama pun semakin mendekat, menyalami dan mencium tangannya kemudian memeluk tubuh yang tak lagi kuat itu.

"Ibu...hiiiks...." Netra mama mulai berlinang.

"Ibu maafkan saya," sambung mama. Duduk jongkok di depan wanita tua itu. Lebih cocok disebut oma.

"Kamu tidak bersalah Rosa. Ibu bersalah padamu. Maafkan ibu."

"Saya tidak pernah memikirkan ini lagi Bu, saya sudah ikhlas."

Suara papa memecah keharuan, "Bu jangan membuat kami menangis lagi ya. Lupakan semua yang pernah terjadi. Bukankah

Ibu menginginkan aku membawa mereka kemari?"

"Benar ris. Dari dulu Ibu minta kamu membawa mereka ke sini, tapi kamu mengabaikan ibu. Betapa ibu rindu dengan cucu-cucu ibu. Ibu tidak pernah ikut mengurus mereka sedetik pun, hiiiiiks."

"Rosa sangat sibuk mengurus mereka dan kesibukan sehari-harinya di rumah. Sekarang anak-anak sudah besar dan bisa mengurus diri mereka masing-masing. Mereka bisa ke sini sendiri. Bahkan malam itu Icha sudah menguntitku kemari."

"Oohohoho benarkah begitu? Anak berani. Oma suka."

Aku mengira ada alasan lain kenapa papa tak membawa mama tinggal di rumah besar ini. Ucapan-ucapan papa menimbulkan dugaan di kepalaku.

"Maafkan ibu, karena Ibulah kalian menderita.Tinggalah di sini Ris, biar rumah ini tidak sepi. Cici sudah mengikuti suaminya ke luar negeri." Nah kan, sesuatu telah terjadi.

"Papa....," ucapku, butuh penjelasan. Papa memandangku. Sebatas menatap tak hendak memberi penjelasan.q

"Kalian cucu-cucu Oma. Kemarilah sayang."

Papa mengangguk pada kami. Aku ragu. Elin diam saja.

Papa berkata meyakinkan kami, "Salam sama Oma kalian. Oma adalah ibu kandung papa."

Oh Tuhan jadi ini rumah orang tua papa dan papa sering kemari menjenguk ibunya.

Elin maju, aku mengikuti Elin. kami bersalaman dengan oma. Elin duluan menyalami oma.

Oma memeluk, mencium pipi Elin. air mata oma jatuh ke pipi.

"Kamu anak pertama namamu Elin Kalau tidak salah." Oma masih ingat Elin.

"Benar Oma nama saya Elin Pradita Rosalina."

"Yah... yah papamu sengaja mengambil nama ibumu. Rosa. Kamu cantik seperti ibumu."

"Terima kasih Oma."

Aku maju melakukan hal yang sama seperti Elin. bBerjabat tangan dengan Oma dan aku juga dirangkul oleh oma.

"Kamu adiknya Elin. Siapa nama kamu anak baik?"

"Oma, nama saya Khalisa azkia Putri. Panggil Icha saja Oma."

"Baiklah. Kamu pemberani seperti Papamu. Bagaimana sekolahmu sayang? sudah kelas berapa?" Oma mengelus pipi aku.

"Icha masih sekolah Oma. Sekarang kelas 11."

"Sudah gadis anakmu Ris. Carikan mereka lelaki yang benar-benar baik dan sayang sama mereka sebagai suaminya."

Tapi Oma, aku belum mau nikah. Aku masih perlu sekolah dan bermain.

"Ibu, aku juga berharap seperti itu. Mereka mendapat pendamping hidup yang baik dan sayang sama mereka. Termasuk keluarga yang baik juga."

"Benar, jangan seperti aku tidak menyayangi mantuku sendiri." Wajah Oma sendu.

"Ibu jangan berkata begitu," kata Mama.

"Sudahlah Bu, kita lupakan yang telah lalu. Ibu dari kota yang jauh pindah kemari untuk dekat dengan kami. Ibu harus bahagia ya."

Oh jadi begitu ceritanya. aku mulai menarik benang merah dari peristiwa yang belakangan terjadi.

"Kamar kalian sudah disiapkan di sebelah kanan. Suly, ART Oma akan menunjukkan nanti. Sekarang kita makan malam dulu."

Aku dan Elin mengikuti papa dan mama ke ruang makan. Semua perabotan di rumah ini bagus sekali. Foto kakek ukuran besar terpampang di dinding ruang makan.

"Itu opa kalian. Opa gagah ya seperti papa kalian."

Lebih gagah papa, Oma.

"Papa kan anaknya opa. Opa baik nggak Oma? Papa baik sekali loh. Papa sayang sama Icha," kataku bangga. Sebagai anaknya aku harus puji papa.

"Ehehee Papa kalian menurun dari Opa. Sebagai anaknya opa, tentu saja Papa kalian lebih dari Opa."

"Wah kok pada puji-puji sih, kapan makannya?"

"Tuh papa kalian sudah lapar, mari kita makan!"

Seorang asisten rumah tangga datang membawakan sup timlo. Lalu kembali ke dapur dan datang kembali membawa ayam suwir di piring saji.

"Makanlah kalian bisa pilih yang mana kalian suka. Timlo dan ayam suwir ini kesukaan Papa kalian. Makan Ris, ini masih hangat. Dibuatkan yang segar untukmu."

"Terima kasih Bu, kami merepotkan."

"Tidak ada yang merepotkan. Kamu adalah anak Ibu. Setiap saat Ibu menerima kalian di rumah ini. Sudah sepantasnya ibumu menyediakan makanan kesukaanmu tapi Ibu tidak bisa lagi masak sendiri."

"Ibu tidak perlu lakukan itu. Ibu istirahat dan katakan padaku apa yang ibu perlukan."

"Icha makanlah yang banyak kamu juga Elin. Habiskan semua ya."

"Oma, ini terlalu banyak buat kami, takkan habis," kataku.

"Kalian bisa makan lagi kalau lapar. Ris dan Rosa, Ibu mau bicara dengan kalian di kamar setelah ini."

"Baiklah Bu." Mama dan papa serentak menjawab.

Sesudah makan aku dan Elin masuk ke kamar yang telah disiapkan untuk kami. Ruangan kmar di sini besar-besar, berbeda dengan kamarku di rumah Papa.

"Kak kenapa Papa meninggalkan kemewahan ini?" Tanyaku.

Bahu Elin bergedik, "Mana aku tahu. Itu urusan Papa dan Mama. Papa dan mama tak mau cerita dengan kita jadi ya sudah kita lihat dan dengar saja," kata Elin.

"Kita tidak akan tahu jika kita tak diajak ke sini."

"Iya tapi kamu sudah menarik kesimpulan kan?

Aku menggangguk, "Ho oh. Rumah ini yang pernah aku intip kak. Ketahuan papa dan ketangkap sama Oom Yok. Dibawa masuk ke ruangan tamu tadi tapi Oma tidak ada di ruangan itu."

"Oh aku ngerti, jadi ini yang papa sebut kesalahan. Kamu melakukan kesalahan, kata Papa kan. Hukumannya kamu nggak boleh liburan kemanapun semester depan."

"Iya iiiiih papa segitunya. Bukan salah aku, kebetulan lihat papa keluar dari rumah ini waktu pertama kali. Bikin penasaran saja. Coba kamu yang lihat begitu Kak, apa yang kamu lakukan?"

"Aku tanya papa saja di rumah. Tak perlu pakai intip rumah orang."

"Weeee memangnya berani. Palingan Papa tak mau bicara."

Aku baring di atas tilam besar yang tersedia. Aku bilang pada Elin, "Enak sekali kasur ini ya kak. Di rumah kita lebih tipis kasurnya."

"He ehm. Kalau begitu kamu di sini saja biar tiap hari rasain kasur empuk. kKasur kita empuk juga kok walaupun agak tipis."

"Enak sekali ini. Oasti nih ya kak, oma sayang sama kita loh kalau kita tinggal di sini. Temani Oma."

"Kamu saja tinggal di sini. Daerah ini jauh dari kampusku. Lebih makan waktu buat ke sana."

"Oiya yaaa. Aku tak mau sendiri di sini kecuali ada kakak."

"Tak mungkin neng. Harus persetujuan papa dulu. Belum tentu papa izinkan. Menginap satu dua hari sih boleh kayaknya. Ini kan rumah oma kita."

Tanpa sadar oma telah masuk ke kamar kami. Oma duduk di kursi roda. Suster yang mendorong kursi roda keluar dari kamar.

"Oma mengganggu kalian sebentar."

"Tidak apa Oma, tidak mengganggu kok." Elin membalas ucapan Oma.

"Sayang Oma berdua, ambillah ini untuk kalian. Pakailah atau simpan dengan baik. Boleh minta mama kalian untuk menyimpan."

Oma memberikan aku dan Elin dua gelang permata yang sama bentuk dan warnanya.

"Tapi Oma...." Elin berhenti omong.

Sejenak aku dan Elin ragu untuk menerima mengingat Papa pernah berpesan jangan menerima barang apapun dari siapapun.

"Kalian takut sama orang tua kalian ya? Mereka tidak akan marah. Katakan saja gelang dari Oma atau... Oma akan beritahu papa mama kalian besok. Terimalah. Ayo ambil!"

"Oma gelang itu pasti mahal sekali. Kami takut."

"Tidak perlu takut. Gelang ini Oma yang berikan buat kalian. Kalian tidak mencuri. Kemarikan tanganmu, Caca."

Loh kok jadi Caca sih Oma.

"Icha...Oma, bukan Caca." Aku protes.

"Iya Icha. Kenakan ini. Kami juga Elin, pakai sekarang."

"Elin pakai ya Oma?"

"Ya. Jangan tanya lagi. Nah pantas sekali sama kamu Caca."

"Icha...Oma."

Senyum oma mengembang melihat gelang melingkar di pergelangan tangan Elin.

"Ini hadiah buat kalian. Jaga dengan baik ya," pesan oma.

"Bagus Oma, terima kasih Oma," puji Elin.

"Cantik Oma. Icha suka. Terima kasih Oma." Aku cium pipi Oma. Oma tertawa. Senang lihat oma bahagia.

"Oma ingin tidur sama kalian malam ini, boleh tidak?"

"Owh boleh sekali Oma. Oma tidur di kasur sama Icha. Elin di sana." Tunjuk Elin ke sebuah kursi yang bisa digunakan sebagai tempat tidur. Tak ada alasan menolak keinginan Oma. Oma adalah nenek kami. meskipun baru kali ini bertemu, oma orangnya baik.

1
Embun Kesiangan
season dua Thor 🥰🌹🌹
🌻Yani Wi💕: 😘😘😘😘😘😘🤗😇🌹🙏
total 1 replies
Embun Kesiangan
ternyata dijodohin sama Icha ya Thor 😍
Embun Kesiangan
duh jgn sampai elang dijodohkan
Embun Kesiangan
semangat Icha ☺️
TK
bunga untuk semangat ✍️
TK
semangat othor hebat 👍
R.F
semangat kk
R.F
2like dan 1mawarku hadir k
semamgat
Bening 💫~^-^
semangat kkak 🥰
TK
bunga untuk Thor 🌷👍
IndraAsya
👣👣👣 Jejak 💪💪💪😘😘😘
🌻Yani Wi💕: terima kasih.💐
total 1 replies
R.F
2 like dan satu mawarku hadir
Semangat kaka
Neyna 🎭🖌️
semangat kak 💪💕💕
lina
cakep bner itu tempatnya.. bikin ngiler
R.F
2 like hadie. semangaf kak. lije balik iya
Bening 💫~^-^
terus semangat kkak 🥰
Bening 💫~^-^
semangat kak 🥰
TK
dua bunga untuk Thor 👍✍️
Irma Kirana
Semangat 😁😁👍
🌻Yani Wi💕
Aamiin. 😃😃😄

Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!