NovelToon NovelToon
Takdir Membawamu Kembali

Takdir Membawamu Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:56.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Yuyun Rohyy

Kathryn tak pernah mencintai Daniel saat pernikahan itu terjadi. Ia dijodohkan, dipaksa menerima laki-laki yang asing baginya, di negeri yang baru pula. Namun perlahan, di tengah luka, rindu akan rumah, dan dinding perbedaan, cinta itu tumbuh—diam-diam dan dalam.
Namun cinta mereka tak dibiarkan abadi. Kathryn meninggal terlalu cepat, meninggalkan seorang putri kecil dan hati Daniel yang remuk redam. Dunia runtuh, dan waktu berjalan tanpa warna.
Tahun-tahun kemudian, takdir datang membawa sosok yang tak asing. Sandra—seorang wanita yang tak hanya menyerupai Kathryn secara fisik, tapi juga membawa getaran yang pernah Daniel rasakan dulu. Apakah ini sekadar kebetulan? Atau... Kathryn benar-benar kembali dalam cara yang tak pernah dipahami?
Dalam kisah cinta yang dipenuhi pertemuan, kehilangan, dan teka-teki hati, Daniel harus memilih:
tetap hidup dalam bayangan masa lalu, atau memberi kesempatan baru untuk cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuyun Rohyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah untuk Nilka, Luka untuk Sandra

"Rh-null?"

“Iya, Mas... Saya memiliki golongan darah itu.”

Suara Sandra terdengar pelan, namun cukup jelas di telinga Daniel. Mendengar jawaban itu, wajah dingin pria itu berubah seketika. Matanya berbinar. Sekilas, senyum yang begitu langka muncul di sudut bibirnya. Ia menatap Sandra, seolah baru menemukan seberkas cahaya dalam lorong panjang yang gelap.

“Saya akan bayar berapa pun yang kamu mau, asalkan bersedia mendonorkan darah untuk putri saya.”

Ucapan itu begitu mendesak. Terlontar tanpa ragu dan tanpa basa-basi. Sandra membelalakkan mata, terhenyak. Nafasnya tercekat sejenak. Ia tahu, ia memang sedang butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. Tapi, saat nama Nilka disebut—gadis kecil yang mampu menyentuh relung hatinya hanya dengan senyuman—hatinya tersentuh.

Ia menggeleng pelan. "Saya ikhlas melakukannya untuk Nilka, jadi Mas tidak perlu membayar saya."

Namun Daniel tak menggubris ketulusan itu. Nada suaranya tetap dingin, matanya tajam. "Saya akan tetap membayarnya. Tulis berapa pun yang kamu mau. Saya tidak ingin berhutang budi pada siapa pun."

Pria itu lalu mengambil selembar cek dari dalam jasnya, menuliskannya tanpa pikir panjang, dan meletakkannya di telapak tangan Sandra. Lalu pergi, meninggalkan Sandra yang masih berdiri membeku—dengan telapak tangan terbuka dan tatapan penuh amarah.

Mentang-mentang beruang, seenaknya membuang-buang uang. Dasar pria kejam! gerutunya dalam hati. Cek di tangannya hanya ia genggam sekilas sebelum kemudian ia lipat dan masukkan ke dalam saku rok seragamnya dengan malas.

Ia melangkah keluar menyusul Daniel. Di parkiran rumah sakit, langkahnya mulai pincang. Rasa perih dari telapak kakinya menjalar naik. Ia baru menyadari—ia belum mengobati lukanya sejak menginjak pecahan gelas di ruang UKS tadi. Luka itu ternyata cukup dalam.

Melihat Sandra tertatih, Daniel—yang semula hendak masuk ke mobil—berbalik dan memberi instruksi kepada Arman, sekretaris pribadinya. Tak lama, seorang pria paruh baya dengan jas putih datang tergesa. Dokter Fitra—dokter keluarga Daniel.

Tanpa basa-basi, sang dokter mulai membersihkan luka di kaki Sandra. Pecahan kaca masih tertancap dan harus segera dikeluarkan. Ketika ujung pinset mencengkeram pecahan dan menariknya keluar, Sandra memekik pelan menahan sakit. Tanpa sadar, tangannya meraih dan menggenggam lengan Daniel erat.

Daniel menatapnya sekilas. Namun ia tidak menarik diri. Ia membiarkan gadis itu memegang lengannya. Bahkan diam-diam, genggaman itu membuatnya merasa... hidup.

“Maaf, Mas...” Sandra buru-buru melepaskan tangannya begitu sadar akan posisinya.

“Jangan ceroboh lagi. Kamu tidak boleh mengeluarkan darah. Nilka membutuhkannya.”

Nada Daniel datar, namun entah kenapa, justru terdengar seperti bentuk perhatian paling tulus.

Es batupun masih lebih bagus dari sikapnya, batin Sandra.

Usai diobati, ia berusaha berdiri dan berjalan, tapi rasa nyeri di kakinya kembali menjerat langkahnya. Sementara Daniel sudah menghilang entah ke mana.

"Huftt... pria nggak bertanggung jawab," gumamnya kesal, berusaha menopang diri dengan berpegangan pada dinding tembok. Kakinya seolah tak lagi kuat menopang tubuhnya. Dan ketika tubuhnya hampir tumbang, sepasang tangan kuat menahan pinggangnya—seolah memeluknya.

Tak perlu melihat, Sandra tahu siapa pemilik tangan itu.

Daniel.

“Bodoh! Aku menyuruhmu menunggu, tapi kau malah jalan sendiri seakan kau sehat saja,” semprotnya sambil menopang Sandra. Tatapan dinginnya seperti angin musim dingin yang menghantam pipi.

“Saya pikir... Mas Daniel...”

“Sok kuat.” Daniel mengangkat jarinya dan mengetuk pelipis Sandra pelan. “Jangan banyak alasan.”

Sandra memicingkan mata kesal. Tapi melihat tatapan Daniel yang seolah tak kenal kompromi, ia malah gugup dan tertunduk. Suster datang dengan kursi roda. Daniel dengan sabar membantu Sandra duduk, mengatur letak kakinya agar tidak menyentuh bagian yang terluka.

Terbuat dari apa hati pria aneh ini? pikir Sandra. Dingin, kasar, tapi kadang bisa berubah selembut kapas.

Prosedur pendonoran darah pun dijadwalkan keesokan harinya. Karena ini kasus langka, semua prosedur dijalankan dengan sangat hati-hati. Daniel mengurus semua perizinan—Sandra diberi cuti sekolah selama tiga hari. Dengan nama besar Daniel, segalanya berjalan lancar.

Hari pendonoran pun tiba. Walau sempat ada kendala medis, tim Dokter Hartono berhasil melaksanakan prosedurnya dengan baik. Begitu usai, Sandra dan Nilka dipindahkan ke ruang rawat. Hanya tinggal menunggu mereka sadar.

Daniel mondar-mandir di depan ruang rawat. Wajahnya tegang, matanya memandangi jam dinding berkali-kali. Di pikirannya hanya ada Nilka. Ia ingin putri kecilnya bangun. Tertawa. Menyanyi. Memeluknya seperti dulu.

Sejak Kathryn meninggal, dunia Daniel seakan berhenti. Dan sekarang, jika sampai Nilka juga... Ia tak bisa membayangkan hidup tanpanya.

“Papa... Mama...” suara kecil itu terdengar lirih dari ranjang.

“Nilka!” Daniel segera mendekat, mencium putrinya, memeluknya erat.

“Ayah... Nilka nggak bisa nafas...” ujarnya polos. “Ayah bau...”

Daniel terkekeh. “Maaf, Ayah lupa mandi.”

Nilka menoleh ke samping, melihat Sandra masih terbaring. “Ayah Boss, Mama kok tidur terus?”

Baru saat itu Daniel sadar, Sandra belum juga sadar setelah lebih dari tiga jam.

“Cepat panggil dokter!” teriaknya panik.

Tak lama, Dokter Hartono masuk.

“Biasanya pasien hanya tidur karena kelelahan, tapi…”

“Tapi apa?!” potong Daniel, matanya menyala. “Kenapa dia belum sadar? Apa kau ingin membunuhnya?!”

Tangannya mencengkeram kerah dokter. Tangan kirinya sudah siap melayang, namun...

“Uhuk... uhuk...” Sandra terbatuk lemah.

“Sand—Sandra!” Daniel melepaskan dokter dan segera menghampiri. Ia membantu Sandra duduk, menyanggah punggungnya.

“Bagaimana keadaan Nilka, Mas?” tanyanya lirih.

“Mama...” suara kecil itu kembali terdengar.

“Ayah, Nilka mau peluk Mama...”

Daniel mengerutkan kening, “Nanti saja, kalau Nilka sudah sembuh!”

Sandra mendengus dalam hati. Baru saja khawatir, sekarang kembali jadi es batu.

Tiga hari berlalu. Sandra mulai pulih. Ia kembali ke sekolah meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Kepalanya masih sering pusing, dan tubuhnya lemas. Untungnya, Chio dan Kiki—dua sahabatnya—selalu setia menemani.

Hari itu, sekolah pulang lebih awal. Para guru ada rapat membahas ujian nasional. Sandra berjalan pelan di antara sahabat-sahabatnya, tak banyak bicara, matanya sayu. Setiba di rumah, suasana berubah drastis.

Barang-barang berserakan di lantai. Lemari terbuka. Pecahan kaca berserakan. Hati Sandra mencelos.

“Ibu... IBU!”

Ia berlari ke kamar ibunya. Dan hatinya runtuh seketika. Ibunya tergeletak di lantai, tak sadarkan diri.

“Ibu! Bangun, Bu! Ibu jangan tinggalin Sandra!” jeritnya panik. Ia mengguncang tubuh ibunya, namun tak ada respon.

Dengan sisa tenaga, ia berusaha mengangkat tubuh sang ibu. Napasnya tercekat, tubuhnya gemetar. Ia tak peduli luka di kakinya yang terasa perih lagi. Dengan kekuatan cinta dan panik, ia menyeret ibunya menuju pintu. Chio dan Kiki yang baru saja kembali, segera membantu.

Mereka naik taksi ke rumah sakit terdekat. Sandra memeluk ibunya sepanjang jalan, mengusap pipinya yang dingin. Di matanya, ibu adalah alasan ia terus berdiri.

Setiba di UGD, dokter dan perawat segera menangani sang ibu. Sementara itu, Sandra terduduk di kursi tunggu. Matanya sembab. Hatinya remuk.

Ia baru saja mendonorkan darahnya demi menyelamatkan Nilka. Tapi kini, ia takut kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa.

Dunia seakan ingin menariknya jatuh lagi dan lagi.

BERSAMBUNG......

1
juan 🍫
up jgan" lama dng kak
Yuyun Rohyy: besok up say
total 1 replies
Ira Ara
next
Tinhy
kok gk pernah up lagu thor?
please lanjud dong thor😭
Ruth
aku suka😍
Ana Johana
sampai du sini dulu ya say.. Emak perlu merantau lagi ke lapak lain..

jumpa lagi sayng.... semangat ya😘😘😘😘
kathy °𝐍𝐍᭄ ♛⃟⃝𓆊
jangan lupa feedback novelku ya kak 💗
kathy °𝐍𝐍᭄ ♛⃟⃝𓆊
semangat terus kak 💗
Nazwatalita
semangat terus kk....😘😘
Nazwatalita
AQ datang kk...semangat!
Tri Rahayyu Sulastri
lanjut kk
🌷 ‘only_@g’🌷
aku mampir baru sampai disini 😁🤭 nanti dilanjut lagi say 😍
Lenian Wadu
kira2 Daniel mau apa yah??
Rans Ahmad
lanjut kak 😍😍😍😍😘😘😘😘
Ifa Andriyah
lanjut
Thania
aku mampir ka ceritanya bagus
feed back ya ka k pengantin kecilku
buku
😭saking meresapinya nangis😭
Ema Rachmawati
yah ko kaya gini sih😭😭😭
Yuyun Rohyy: di tunggu part berikutnya say
total 1 replies
buku
sedih sedih hancur hatiku😭sumpah ini mewek beneran thor😭😭
Desak Made Ega Yuliastari
bagus ceritanya 😍
buku
kapan next?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!