Kisah cinta Dokter cantik dan seorang Pengacara tampan yang dingin. Dipersatukan oleh perjodohan. Dipertemukan oleh takdir cinta keduanya.
Akankah mereka berdua pada akhirnya bersenyawa? 💕💕💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RieyruNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Pagi-pagi sekali Ayesh menghubungi Doni untuk segera ke Apartemen. Hari ini weekend, namun Ayesh ingin agar Doni datang untuk membicarakan sesuatu yang cukup penting.
Sekitar jam Delapan pagi Doni tiba di Apartemen.
"Hai Bro, kenapa pagi-pagi gini manggil gue sih. Gue lagi enak-enakan molor malah loe gangguin." Kesal Doni kepada Ayesh begitu dia masuk ke dalam Apartemen.
"Tidur aja loe, kapan loe bakalan dapat jodoh kalau begitu." Jawab Ayesh sambil melempar bantal sofa ke arah Doni.
Doni yang terkena serangan Ayesh hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian duduk di sofa dan menyalakan televisi.
"Loe itu kemari bukan buat nonton televisi."
"Weekend juga, emangnya kita mau ngapain sih."
"Gue mau membicarakan sesuatu tentang cowok yang waktu itu gue kasih fotonya ke loe."
"Gue belum dapat informasi apa-apa tentang cowok itu Yesh."
"Semalam gue lihat cowok itu bersama Silvia Don."
"Dimana loe lihat mereka Yesh?"
"Di depan rumah Hyorin."
"Berarti Silvia mengenal dekat cowok itu?"
"Tepat sekali Don, tapi yang gue merasa semakin janggal sebab Orin bilang kalau cowok itu bahkan mengungkapkan perasaannya ke Orin sudah Dua kali sejak mereka bekerja bersama, bahkan kemarin sore dia mengantarkan Orin pulang tapi malamnya gue lihat cowok itu bersama Silvia."
"Hahhh...Orin bilang seperti itu ke loe?"
"Iya Don."
"Lalu apa kabar dengan hati loe Yesh? hahahaaaaa."
"Apaan sih loe, malah ketawa. Hati gue baik-baik saja!"
"Tapi mata loe nggak bisa bohong Yesh."
Ayesh bergegas mengangkat ponselnya dan melihat pantulan dirinya disana.
"Yesh...Ayesh...loe sepertinya memang sedang jatuh cinta akut." Doni geleng-geleng kepala sambil tertawa melihat tingkah Ayesh yang menggelikan menurutnya.
"Kita kembali ke topik!"
Doni menghentikan tawanya melihat wajah Ayesh yang berubah serius.
"Biasa aja kali, loe sensi amat Bro."
"Don jika dugaan gue benar, mungkin ini ada hubungannya dengan kasus Lima tahun lalu yang sedang kita selidiki."
"Tapi kita belum punya bukti apapun terkait hal itu, kasus itu begitu abu-abu."
"Kalau begitu apa tindakan tercepat yang bisa kita lakukan Don?"
"Loe harus secepatnya masuk ke dalam keluarga Mahardika Yesh."
"Maksud loe?"
"Loe harus segera menikahi Orin! Bukankah malam itu loe pernah bilang ke Om Mahardika akan segera mempersiapkan pernikahan kalian?"
"Iya loe benar Don."
Ayesh dan Doni masih sibuk mempersiapkan rencana untuk persiapan pernikahan, tiba-tiba terdengar suara bel pintu depan dipencet dari luar.
****
Hyorin menghampiri Nita di rumahnya, Mereka sudah berjanji akan keluar bersama saat weekend, kebetuan hari ini tidak ada shift di rumah sakit.
"Selamat pagi Om dan Tante." Sapa Hyorin begitu masuk ke dalam rumah Nita.
"Pagi Nak...ya ampun ini apakah Orin?" Ibu Nita memeluk Orin dengan erat.
"Orin kangen sama Tante." Hyorin membalas pelukan Ibu sahabatnya itu.
"Tante juga Nak, sudah lama sekali kamu tidak pernah main kesini. Kata Nita kamu sudah pulang dari Jerman."
"Kamu tambah cantik saja Nak dan terlihat semakin dewasa." Ayah Nita memuji Hyorin.
"Ah Om bisa saja, Orin masih sama seperti dulu Om. Maafkan Orin baru sempat kemari Om dan Tante, karena Orin langsung diserahi tugas di rumah sakit sama Ayah."
"Tidak apa-apa Nak, Tante bisa maklum. Ayo duduk dulu Nak sambil nunggu Nita yang kalau dandan suka lama, padahal keluar juga tetap sama saja." Ibu Nita berbicara kemudian tertawa.
Nita yang ternyata sudah berdiri di belakang Ibunya kemudian menyahut dengan nada memprotes.
"Ibu mentang-mentang ada Orin ngejelek-jelekin anak sendiri ya." Nita sengaja memanyunkan bibirnya sebagai ungkapan marah, Nita pura-pura merajuk kepada Ibunya.
"Iya anak Ibu sayang, kamu tetap putri nomor satu di rumah ini." Ibu Nita menoel hidung putrinya kemudian hendak masuk ke dalam membuatkan minum untuk Hyorin.
Hyorin yang melihat pemandangan Ibu dan anak itu merasa hatinya ngilu, bukan merasa iri namun merasa hal yang sama pernah ia rasakan di dalam rumahnya.
"Tante tidak usah repot-repot, kami mau pamit pergi keluar."
"Loh kok cepat sekali mainnya Nak?"
"Iya Tante aku mau ajak Nita jalan-jalan di luar."
"Oh baiklah Nak, hati-hati di jalan ya. Lain kali main kesini lagi tidak usah sungkan."
Hyorin memeluk Ibu Nita dan menyalami kedua orang tua Nita sebelum pergi.
"Rin kita naik motor?" Tanya Nita keheranan melihat Hyorin yang bahkan tidak membawa Mobil Ayahnya.
"Iya Nit, kamu keberatan naik motor?"
"Tidak kok Rin aku malah senang naik motor. Tapi aku heran sama kamu Rin bukankah Mobil Ayah kamu banyak ya?"
"Aku sedang tidak ingin naik Mobil Nit, bosan." Jawab Hyorin berbohong demi menutupi kenyataan yang sesungguhnya.
"Baiklah kita lets go." Ucap Nita semangat.
Hyorin mengajak Nita ke supermarket untuk berbelanja bahan-bahan yang ingin mereka masak bersama.
"Rin kita mau masak dimana sih? Aku kira kita bakalan nge Mall eh malah nyasar kemari."
"Nanti kamu juga akan tahu Nit, jadi kita belanja saja ya."
"Baik Kakak." Nita pun tertawa.
Nita memang gadis yang sangat asyik, perangainya yang ceria dan tidak mudah tersinggung membuat Hyorin bahagia bisa mengenal Nita dan menjadi sahabat karibnya.
Selesai berbelanja dan membayar semua belanjaan di Kasir. Motor Hyorin yang sudah penuh dengan belanjaan kembali melaju di jalanan, tangan Nita juga menenteng belanjaan di sisi kanan dan kirinya.
Mereka tiba di depan gedung Apartemen. Nita nampak sumringah melihat Apartemen di depannya, semangatnya kembali terpompa sebab dia paham Apartemen siapa yang akan mereka tuju. Namun, Nita merasa tidak paham dengan Hyorin sebab temannya itu justru melewati nomor 104 yang tidak lain adalah tempat tinggal Hyoshan, Kakak kandung Hyorin yang kini tinggal terpisah dengannya.
"Loh Rin kita mau kemana, itu Apartemen Kakak kamu sudah terlewat?" Nita mengacungkan jari telunjuknya sambil membalikkan badannya ke arah belakang.
"Siapa bilang kita mau ke rumah Kak Oshan, Idih ngarep ya? Hahahaaa."
Nita sedikit merasa malu, sebab Hyorin sudah pasti paham dengan arah pembicaraannya.
"Ayo Nit cepat, nanti kamu nyasar loh." Hyorin menghentikkan langkahnya begitu melihat Nita yang masih tertinggal di belakang.
"Eh..iya Rin, tunggu aku!"
"Makanya jangan berdiri saja disitu. Kak Oshan masih di Luar Kota belum kembali."
Nita kemudian mengejar Hyorin yang sedang berdiri menunggunya. Meskipun dia sebenarnya sedikit kecewa mengetahui bahwa Hyoshan sedang berada di Luar Kota.
Mereka tiba di depan sebuah Apartemen. Hyorin kemudian memencet bel dan menunggu si empunya membukakan pintu.
****
Ayesh beranjak dari tempat duduknya, melihat siapa yang datang pagi-pagi. Hatinya dibuat kesal sebab dia sedang membicarakan hal penting bersama Doni, dia sebenarnya sedang tidak ingin diganggu pagi ini.
Siapa sih pagi-pagi begini ganggu orang saja. Ayesh mengomel dalam hati.
Wajah Ayesh yang tadi ditekuk tiba-tiba berubah ceria begitu melihat siapa yang datang.
Senyum Ayesh langsung mengembang di depan pintu.
"Surprise....bolehkah kami masuk?"
Ayesh masih tidak percaya jika Hyorin pagi-pagi begini sudah mengunjunginya, bahkan Ayesh masih ingat beberapa hari yang lalu gadis itu justru mengabaikan pesan yang ia kirimkan.
Ayesh tersadar dari lamunannya.
"Iya mari silahkan masuk Rin."
"Ayo Nit kita masuk!"
Nita ikut masuk bersama Hyorin dengan pikiran bingung, sebab Hyorin membawanya ke Apartemen seorang Laki-laki yang bahkan dia tidak mengenalnya.
Kamu hutang penjelasan kepadaku Rin....
"Hei Nit kenapa kamu bengong, ayuk taruh ini dulu di dapur."
Nita mengangguk dan mengikuti Hyorin tanpa banyak protes.
Ayesh mengikuti mereka berdua ke dapur.
"Rin kenapa kamu bawa belanjaan begitu banyak?"
"Aku mau masak disini Mas sama Nita, kenalin ini sahabat aku Mas."
Nita mengulurkan tangan kepada Laki-laki tampan di hadapannya, Nita merasa terpukau dengan ketampanan Ayesh.
"Nita..."
Ayesh menyambut uluran tangan Nita.
"Ayesh....calon Suami Orin." Ucap Ayesh memperkenalkan diri.
Nita dibuat melongo dengan ucapan Ayesh.
"Baru calon ya, belum tentu jadi." Hyorin menimpali sesi perkenalan antara Nita dan Ayesh.
"Eitts...siapa bilang tidak jadi?"
"Tergantung...."
"Apanya yang tergantung, sudah pasti kok."
Hyorin nyelonong pergi dari dapur menuju ruang depan yang diikuti oleh Nita tanpa menjawab pertanyaan Ayesh terlebih dahulu.
tetap semangat thorr
klau jovvanka menyakiti Orin?