Warning 21+
Sekuel Virgin
Harap bijak dalam membaca..
Valerie Angelina Putri merupakan seorang gadis yang terlahir dari kalangan keluarga berada, dengan semua fasilitas yang ia miliki ia bebas melakukan apa saja sesuka hatinya. Dulu Valerie adalah gadis yang begitu lugu dan polos namun setelah mendapatkan kekecewaan yang begitu mendalam kini ia berubah menjadi sosok yang bertolak belakang dengan sebelumnya.
Sampai suatu hari ia di pertemukan kembali dengan sosok pria yang selama ini ia rindukan, namun situasi dan kondisi yang telah berubah membuat gadis itu membenci sosok yang ia rindukan itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? akankah semua nya berubah?
Sambungan dari novel Virgin (true love)
#Slow update
#banyak typo
#alur sesuai isi otak othor
salam othor kecil 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Dalam sebuah apartemen Elang menurunkan Valeri di sebuah sofa dan bergegas menuju dapur untuk mengambilkan segelas air hangat untuk gadis itu. Valeri yang masih berakting untuk mendapatkan perhatian Elang tak hentinya meringis seolah ia merasakan sakit yang begitu menyakitkan. Tak lama kemudian Elang pun kembali dengan membawa segelas air putih, ia duduk di samping Valeri dan memberikannya minum.
"Minumlah dulu." Ucap Elang sambil membantu Valeri untuk minum.
"Makasih." Sahut gadis itu setelah meneguk minumannya. "Akhh... kenapa sakit sekali." Sambung Valeri memegang perutnya.
Elang pun ikut memegang perut Vale hingga gadis itu merasakan sentuhan hangat dari tangan elang. "Apa itu benar-benar sakit? kenapa kau tidak mau pergi ke rumah sakit?" Tanya Elang yang begitu mencemaskan gadisnya.
"Aku gak butuh seorang dokter, yang aku butuhkan hanyalah kamu." Valeri perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Elang dan perlahan memejamkan matanya.
Pria itu pun mengusap lembut kepala Valerie dan mengecup keningnya sekilas.
"Aku menyukai mu El, aku mencintaimu, ku mohon jangan tinggalkan aku lagi." Gumam Valerie dengan mata yang terpejam.
Pria itu hanya tersenyum tipis mendengarkan pernyataan Vale walau sebenarnya ia tau kalau Valeri mengatakan hal itu tanpa sadar. Elang pun kembali menggendong Valeri dan menidurkan nya di sebuah kamar, ddrttt... drrtt... ponsel Elang kembali berdering dan ya, siapa lagi kalau bukan Jane yang telah menunggu Elang untuk menjemputnya. Saat hendak menerima panggilannya, dengan cepat Valeri menarik tangan pria itu hingga El jatuh tepat di sampingnya.
"Jangan tinggalkan aku sendiri." Ucap Valeri yang memeluk Elang.
"Aku disini dan gak akan pernah meninggalkanmu." El kembali mengusap pucuk kepala Vale hingga gadis itu kembali terpejam. "Langkah awal sukses, besok tinggal menjalankan langkah berikutnya kita lihat siapa yang harus pergi, aku atau kamu Jane." Batin Valeri.
*
Tok... tok... tok... Sebuah ketukan pintu terdengar begitu jelas di sebuah apartemen milik seorang gadis, ia berjalan menghampiri pintu tersebut dan melihat siapa yang bertamu ke rumah nya di malam hari. Setelah pintu terbuka terlihat sosok pria yang tak asing di matanya, pria itu menerobos masuk dan memeluk Friska dengan begitu erat seolah ia merindukan nya.
"Hey.. ada apa? kenapa tiba-tiba seperti ini?" Tanya Friska yang membalas pelukan Alan.
"Aku mencintaimu... aku begitu mencintaimu Friska, beritahu aku apa yang harus aku lakukan?" Alan mengungkapkan semua perasaan nya pada Friska tanpa melepas pelukannya.
Tentu saja hal itu membuat Friska bingung sendiri karena dengan tiba-tiba Alan berbicara seperti itu seolah ia akan meninggalkannya dan pelukan itu akan menjadi pelukan terakhirnya.
"Bicara pelan-pelan apa yang terjadi dengan mu?" Tanya Friska.
"Bolehkah aku bermalam disini?" Tanya balik Alan dan perlahan melepaskan pelukannya.
Friska mengangguk dengan senyuman bahagia nya, akhirnya momen yang ia inginkan akan segera terwujud yang tak lain adalah ingin menghabiskan malam bersama dengan pria yang di cintai nya. Friska mengambil 2 kaleng minuman dan memberikannya pada Alan yang tengah duduk di sebuah ruang tamu, ia mengambil minuman tersebut dan meneguknya. Tanpa permisi Alan merebahkan dirinya dengan menggunakan paha Friska sebagai bantalnya, sungguh hal yang langka Alan bermanja seperti itu pada gadisnya.
"On Ernan meminta aku untuk menjadi pendamping Valeri, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alan dengan tiba-tiba.
Tentu saja hal itu membuat Friska kaget, bagiamana mungkin ia melepaskan pria yang di cintai nya untuk menjadi pendamping temannya sendiri.
"Bercanda mu gak lucu." Ucap Friska seraya mengalihkan pandangannya.
Alan pun bangun dari posisinya dan kini duduk menatap gadis nya itu, tangan nya menyentuh pipi Friska dengan begitu lembut dan hangat. "Aku serius, dan aku gak tau harus berbuat apa?" Tatapan yang di keluarkan Alan kini benar-benar meyakinkan Friska.
"Kau bisa menerimanya jika kau mau." Friska beranjak dari duduknya dan melangkah ke sisi lain.
"Apa kau akan melepaskan ku begitu saja?" Ucap Alan yang berjalan menghampiri gadis itu.
"Perlu kau tau, saingan mu Elang dia pria yang selama ini Valeri cintai dan jika aku melepaskan mu untuk saat ini, aku yakin suatu saat kamu pasti kembali karena aku tau Vale gadis yang seperti apa." Sahut Friska yang menatap sebuah jendela.
Alan mendekapnya dari belakang dan menyesap aroma tubuh Friska yang begitu wangi sampai ia tak sadar telah memberikan kecupannya di leher gadis itu hingga membuatnya terpejam dan merasakan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Friska pun berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Alan, pria itu mengecup bibir Friska yang perlahan berubah menjadi sebuah lum4t4n. Gadis itu memejamkan matanya untuk menikmati lebih dalam sentuhan yang di berikan oleh alan. Kedua lidah mereka kini saling bertemu dan bertukar saliva satu sama lain, "nghhh..." suara lenguhan yang di keluarkan Friska di sela-sela ciumannya.
Cukup lama mereka berciuman akhirnya Alan melepaskan pautannya dan kembali menuju sebuah sofa tanpa sebuah kata. Hal itu tentu saja membuat Friska kecewa pasalnya ia telah menginginkan hal lebih dari itu namun Alan malah mengakhirinya begitu saja.
**
Pagi hari.. suara deringan ponsel terus berbunyi hingga membangunkan seorang gadis yang masih terlelap dalam pelukan seorang pria yang begitu di cintai nya. Perlahan ia terbangun dan meraih ponsel Elang yang tersimpan di atas nakas. Di lihatnya beberapa panggilan tak terjawab dari Jane yang dari semalam terus mengubungi nya, Valeri tersenyum miring melihat semuanya ia juga membaca beberapa pesan yang di kirimkan Jane untuk Elang.
"Kita lihat apa yang akan terjadi setelah ini." Gumam Valeri yang kembali menaruh ponselnya.
Ia mengecup bibir Elang yang masih terlelap dan kembali menaruh kepalanya di atas dada bidang pria itu. Sampai akhirnya Elang terbangun dan melihat Vale yang masih memejamkan matanya serta memeluknya. Elang pun perlahan melepaskan gadis itu dan beranjak dari ranjang nya menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit, pria itu telah menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang telah rapi namun rambut yang masih basah.
"Kau sudah bangun?" Tanya Elang menghampiri Valeri.
Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Bagaimana sekarang? apa masih sakit?" Tanya Elang kembali yang memegang perut Vale.
"Tidak, semua berkat kamu yang telah menemani aku." Sahut gadis licik itu.
"Syukurlah, aku akan buatkan sarapan untuk kamu." Ucap Elang yang kemudian keluar dari kamar Vale.
Sementara Valeri ia tersenyum yang kemudian pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk acara grand opening cafe barunya siang nanti.
***
Bersambung. . .
sukses
semangat
mksh