Sequel Istri Kesayangan Tuan Muda
Patah hati yang dirasakan Sena membuatnya berpikir bahwa semua pria sama, Gadis berusia 24 tahun itu memutuskan untuk tidak mencintai lagi. Sena takut terluka untuk yang kedua kali.
Namun, kehadiran dua pria tampan Zac dan Evan yang tiba-tiba mengusik hidupnya. Membuatnya kalang kabut, ia kembali dihadapkan situasi sulit. Zac dan Evan berusaha untuk mencuri hatinya dengan segala cara.
Bagaimana sikap Sena dalam menghadapi kedua pria tampan itu? Apakah salah satu dari mereka berhasil membuat Sena jatuh cinta?
Temukan jawabannya di novel sequel Istri Kesayangan Tuan Muda ya. "Let Me Love You"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafasal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi
Sena menarik tuas gas motor maticnya dengan kencang, ucapan Zac ditelepon semalam ternyata membawa efek buruk baginya. Ia terjaga hampir semalaman karena terus kepikiran dengan perkataan pria itu dan alhasil sekarang ia bangun kesiangan, apalagi ibunya yang sudah berangkat ke pasar pagi-pagi dan lupa membangunkannya.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit perjalanan ditempuhnya, kini ia sudah berada di Coffee Shop milik Bu Indah. Ia setengah berlari dengan merapikan pakaian dan rambutnya menuju ke dalam Coffee Shop berlantai tiga itu.
Ya, Sena akhirnya menerima tawaran Bu Indah untuk bekerja di Coffee Shop milik Bu Indah dan sekarang ia dipercaya di posisi admin keuangan dengan gaji yang tentu di bawah gajinya dulu ketika di perusahaan.
Saat ini, ia sudah berdiri di depan pintu manager untuk menanda tangani lembaran kontrak kerja. Dengan menghela napas panjang ia mulai mengetuk pintu berwarna putih itu.
“Hari pertama kerja udah telat!” seru seorang pria yang berada di belakangnya.
Sena reflek memutar tubuhnya dan ia begitu terkejut ketika melihat Evan berdiri di depannya dengan tangan bersedekap dan memasang wajah tak bersahabat.
“Maaf, Mas. Saya tadi bangun kesiangan,” jujurnya dengan menundukkan kepala.
“Mas ... Mas ... Lo pikir gue Mas LO?”
Gadis itu menghela napas lagi seraya mendongak. “Maaf, Pak!” revisinya.
“Pak?! Emang gue udah setua itu? Panggil gue Bos Evan!” celetuk pria itu dengan tersenyum menyeringai.
“Baik, Bos Evan!” balasnya cepat karena sudah capek mendengar suara berisik pria di hadapannya.
Evan terlihat puas dengan panggilan yang ditujukan Sena untuknya, ia bahkan mengangguk senang dengan mengulas senyum bangga.
“O, ya. Selera lo ternyata nggak main-main, ya?!”
“Selera?! Maksud Anda?” tanya Sena dengan kening berkerut.
“Nggak usah, sok polos di depan gue. Yang kemarin datang ke rumah lo itu suruhan sugar daddymu 'kan?”
Kali ini ia benar-benar tak tahan, usia seseorang memang tidak menjamin kedewasaan sikapnya. Hal itu terbukti dengan pria di hadapannya yang masih terlihat kekanakan.
Ucapan Evan benar-benar membuatnya sangat kesal. Setelah kemarin malam sudah merendahkannya, kini menuduhnya memiliki sugar daddy.
“Siapa anda sampai berani menuduh saya memiliki sugar daddy, jangan menyimpulkan apa yang Anda lihat dan Anda dengar tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya!” ucapnya dengan suara meninggi. Matanya menyorot tajam ke arah pria itu, tak ada ketakutan sama sekali di manik cokelatnya.
Evan terdiam, pria itu benar-benar tak menyangka dengan reaksinya.
Sebuah gulungan kertas yang mendarat di kepala Evan, reflek membuat pria yang mengenakan kemeja biru lengan panjang yang digulung sampai siku itu mendelik ke arah sang pemukul.
“Hei, Tuan Evan yang arogan! Elo apakan pegawai baru kita? Jangan mencampuri urusan orang lain,” ucap wanita yang merupakan putri pertama Bu Indah—kakak Evan. Wanita yang mengenakan dress hitam dengan blazer putih itu terlihat begitu cantik sekali.
“Maaf, Sena. Ucapan Evan barusan nggak usah didengerin, ya. Dia emang sedikit songong!” ucap Ellen seraya mengulas senyum. “Kita masuk ke ruangan, yuk!” ajaknya seraya menarik pelan lengan Sena yang terlihat masih kesal dengan Evan.
“Kak El, gue belum selesai. Jangan menyela!”
“Udah nggak ada urusannya denganmu, sekarang mending kamu balik ke kantormu! Tumben-tumbenan juga kamu datang ke sini, biasanya juga malas suruh bantu kakak!” cibir wanita itu seraya masuk ke dalam ruangannya, lalu sengaja menutup pintu agar Evan segera pergi dari sana.
“Ck ... Keterlaluan kak Ellen, ini juga 'kan demi kebaikan Coffee Shop ini. Harusnya berterima kasih sama gue karena sudah membantu menyeleksi pegawai baru kesayangan mama itu!” gerutu Evan seraya pergi dari tempat itu.
...🍁🍁🍁...
Setelah mendapat pengarahan dari Ellen, Sena mulai bekerja di hari pertamanya. Semua berjalan lancar seperti yang ia harapkan, sampai akhirnya ia selesai bekerja dan akan bersiap untuk pulang.
Sena berjalan ke arah parkir khusus karyawan yang berada di belakang gedung. Suasana yang sudah mulai gelap membuatnya harus bergegas karena tempat tersebut sangat sepi.
Gadis itu merasa sedikit takut karena ia masih belum familiar dengan tempat bekerjanya saat ini. Jarak antara kafe dan tempat parkir yang lumayan jauh, membuatnya berjalan sedikit jauh. Apalagi saat itu hanya ia seorang diri yang berjalan ke arah tempat parkir itu.
Tidak seperti tempat bekerjanya dulu, yang setiap jam pulang kerja. Maka seluruh karyawan akan serentak pulang dan berjalan bersamaan ke arah parkir. Di tempat bekerjanya saat ini, semua karyawan yang merupakan pelayan kafe dan bartender bekerja secara shift dan kebetulan saat ini, ia pulang bukan di jam pergantian shift rekan kerjanya.
Alhasil, ia harus mulai membiasakan diri dengan keadaan barunya. Tidak ada yang mencurigakan hingga ia sampai di tempat parkiran, terlihat seorang pria yang sedang berdiri di sudut tempat parkir tersebut.
Penerangan yang minim, membuatnya harus memicingkan mata agar bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berdiri di sana. Sena begitu terkejut ketika pria itu memutar tubuhnya dan kini menghadap dirinya.
“Hansa!” serunya dengan masih tak percaya.
“Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyanya dengan terbata.
Namun, Hansa tak langsung menjawab pertanyaannya. Pria itu tersenyum menyeringai dengan kedua tangan yang sengaja ia taruh di saku celananya.
“Aku sangat merindukanmu, Sena. Itulah alasan kenapa aku bisa berada di sini.”
“Hubungan kita sudah berakhir, Han. Bukankah kamu sudah bahagia bersama Mei? Jadi, tak seharusnya kamu menemuiku?”
“Kenapa memangnya? Kamu bahkan menipu kami semua dengan berpura-pura menjadi sekretaris pribadi Tuan Arzachel, atau kamu memang sengaja membuatku cemburu?”
“Hah?” ia tak habis pikir dengan pola pikir mantan kekasihnya itu. Bagaimana bisa pria itu berpikir bahwa itu adalah cara untuk membuatnya cemburu, memangnya siapa dia?
“Itu hanya kesalah pahaman saja, dan lagipula aku sudah tidak ada perasaan apa-apa kepadamu. Jadi, aku tak perlu melakukan hal konyol itu.”
“Jangan berpura-pura, Na. Aku tahu kamu masih sangat mencintaiku, kebersamaan kita selama tiga tahu tentu tak dengan mudah kamu lupakan begitu saja, bukan? Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Na. Aku tahu kamu pasti masih mencintaiku, jadi kumohon kembalilah kepadaku. Aku tak bisa kehilangan dirimu,” ucap Hansa seraya berjalan mendekatinya.
“Tidak, Han. Itu tidak akan pernah terjadi!” tegasnya dengan langkah mundur karena ia begitu panik saat pria itu semakin mendekatinya.
“Kamu tak bisa melakukan ini padaku, Na. Aku masih mencintaimu, setiap hari aku begitu tersiksa. Aku tak bisa hidup tanpamu, Na,” pinta Hansa dengan wajah memohon.
Namun, Sena terus melangkah mundur dengan menggelengkan kepala. “Tidak, Han. Hubungan kita sudah berakhir!”
“Kenapa kamu begitu keras kepala, aku sebenarnya tidak menyukai cara ini. Tapi sikapmu membuatku tak punya pilihan lain, apapun yang terjadi kamu harus tetap menjadi milikku, Na!”
Hansa mengangkat salah satu tangannya, ia seolah memberi kode kepada seseorang dan benar saja dua orang pria berbadan besar tampak keluar dari persembunyiannya. Mereka berdua menghadang jalan Sena, sehingga posisi gadis itu sekarang terkunci di antara Hansa dan kedua pria berbadan besar itu.
“A-apa yang akan kamu lakukan?” ia tampak begitu ketakutan, berharap siapapun melihatnya dan menyelamatkannya.
“Melakukan yang seharusnya aku lakukan, apapun yang terjadi kamu harus menjadi milikku!” Hansa mengalihkan perhatian kepada kedua pria tersebut. “Cepat bawa dia!”
Kedua pria itu semakin mendekatinya dan mencoba untuk membopong tubuhnya. Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dan berteriak minta tolong. “Tolong! To—.”
Suaranya tak lagi terdengar karena mulutnya sudah dibekap oleh salah seorang pria tersebut.
....😘😘😘😘😘