Reno yang berniat meneruskan kuliah S2 di kota harus terpaksa menikahi anak saudara jauh dari ayahnya.
Reno terpaksa menikah karena wasiat ayahnya yang sudah meninggal.Rianti yang anak yatim piatu harus menuruti kemauan ibu Ningrum untuk menikahkannya dengan anaknya Reno.
Reno yang merasa tidak menginginkan pernikahan itu,selalu mengabaikan Rianti,dan tak pernah pulang ke rumahnya.
Ibu Ningrum yang mengetahui kelakuan anaknya sampai marah hingga membuat siasat agar Reno bisa tidur dengan Rianti.
Apakah yang di lakukan ibu Ningrum?
Bagaimana setelah Rianti mempunyai anak,apakah Reno berubah?
Yuk,kepoin ceritanya yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.Cerita
Semenjak Panji mengajak Rianti ngobrol sambil makan di warung pecel kemarin,Rianti semakin banyak diam.
Tak ada yang bisa di lakukan temannya di toko roti selain tidak banyak bertanya pada Rianti.Susan yang sejak Panji menanyakan Rianti penasaran ingin bertanya padanya,jadi tidak berani karena Rianti jadi sosok yang pendiam.
Udin yang dekat dengan Rianti saja jadi bingung dengan perubahan sikap Rianti yang drastis itu.
"Rianti,nanti siang mau ikut ngga anter roti ke pelanggan?"tanya Udin mencairkan suasana hati Rianti yang semakin dingin.
"Kemana?Kalau ke toserba punya pak Panji,saya ngga ikut."jawab Rianti sambil merapikan peralatan memanggang serta loyang-loyang di rak penyimpanan.
"Kenapa?"tanya Udin heran.
"Ngga apa-apa.Lagi males keluar bang.Ngga enak juga sering keluar,hampir tiap hari saya ikut bang Udin ngirim pesanan.Tugas saya kan nyuci alat-alat."Rianti beralasan.
"Kan sudah di bilangin ngga apa-apa.Bu Sri juga ngga keberatan kamu sering ikut,lagi pula tugas nyucinya kan bisa nunggu pulang dari antar pesanan.Yang penting pagi kamu tetap kerja."kata Udin.
"Ngga bang,lagi males aja."ucap Rianti seperti ogah-ogahan dengan ajakan Udin.
"Ck,biasanya juga semangat kalau di ajak jalan."
"Udahlah bang,saya ngga mau berdebat."lalu Rianti pergi meninggalkan Udin yang diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Udin mendesah,lalu dia keluar untuk menyiapkan roti yang siap untuk di kirim.
"Din,gimana?Rianti mau di ajak jalan?"tanya Susan penasaran.Udin menggeleng,dia masih merapikan roti-roti di kotaknya.
"Kenapa ya semenjak kemarin dia diam terus.Apa ada yang mengganggu pikirannya ya."gumam Susan yang terdengar oleh Udin.
"Kamu tanyain aja,dia kenapa.Kan kamu dekat dengan Rianti,mungkin dia mau cerita."
"Justru itu,saya ngga berani nanya-nanya.Pasti jawabnya ngga apa-apa.Saya jadi kasihan kalau lihat dia bengong di dapur kalau anaknya tidur dan ngga ada kerjaan."ucap Susan.
"Ya udah,diamin aja dulu.Mungkin dia butuh sendiri.Udah saya berangkat dulu."lalu Udin menjalankan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
_
*****
_
Sampai di toserba,Udin langsung memarkirkan mobilnya di pintu belakang.Seperti biasa dia di sambut karyawan Panji yang bertugas menerima barang yang masuk.
Lalu Udin menurunkan keranjang berisi roti sesuai pesanan.
"Mas,kata pak Panji langsung ke ruangannya aja untuk pembayarannya."begitu kata karyawan Panji.
"Iya."
Lalu Udin menuju ruangan Panji yang biasa dia masuki.
"Selamat siang pak Panji."sapa Udin sopan sambil menyerahkan nota.
"Siang,silakan duduk.Tunggu saya sebentar,saya menyeleaaikan ini dulu."ujar Panji menerima nota yang di sodorkan Udin.Panji masih mengetik di laptop miliknya.Setelah selesai mengetik dia mengambil nota yang tadi di sodorkan Udin lalu menghitung jumlahnya,kemudian mengambil uang yang harus di bayarkan sesuai nota.
"Ini uang pembayarannya sesuai nota.Silakan di hitung."menyerahkan lembaran uang pada Udin.
Udin menghitung uang yang di terima dari Panji.Pas.
"Oya,kenapa kamu sendirian?Biasanya ada temannya."tanya Panji basa basi.
"Orangnya lagi uring-uringan."ucap Udin.
"Kenapa?"tanya Panji makin penasaran.
Udin hanya mengedikkan bahunya,tak mau terlalu jauh mengurusi urusan orang lain.
"Mm,apa Rianti sudah lama kerja di toko roti?"Udin menoleh ke arah Panji,dia menatap Panji penuh selidik.
"Belum lama,baru sekitar tiga mingguan."jawab Udin lugas.
"Owh.."
"Kalau begitu saya permisi dulu.Terima kasih pak Panji."Udin bangkit dari duduknya dan hendak keluar.
Tapi Panji bertanya lagi sebelum dia jauh dari hadapannya.
"Eh,tunggu sebentar,apakah Rianti pernah cerita tentang dirinya?"tanya Panji ragu.
Udin kembali menatap Panji,dia heran kenapa Panji begitu peduli pada Rianti dan terlalu penasaran pada gadis itu.
"Pak Panji terlalu jauh mencampuri masalah orang."ucap Udin acuh.
"Bukan begitu,mm...Rianti itu kan pembantu oh maaf,.."Panji meralat ucapannya.
Belum selesai ucapan Panji,Udin sudah menyambar lebih dulu karena dia merasa kesal dengan Panji yang terlalu ingin tahu tentang gadis itu.Sudah jelas dari kemarin karena ulah Panji,Rianti jadi pendiam.
"Dia bukan pembantu pak Panji,dia istrinya pak Reno.Istri yang di tinggalkan tanpa di beri uang sepeserpun untuk kebutuhan hidupnya.Tanpa mau tahu keadaan anaknya,tanpa mau tahu keadaan istrinya bagaimana.Tidak bertanya sudah makan apa belum.Saya jadi heran,ada ya seorang laki-laki seperti itu.Di anggap pembantu oleh suaminya dan juga tidak bertanggung jawab."rasa jengkel pada teman Panji itu,begitu meluap di pikiran Udin.
Dia benar-benar kesal,tapi dia juga tidak bisa ikut campur dan tidak bisa membantu karena dia bukan siapa-siapa.
Panji terkejut,dia tidak menyangka kehidupan Rianti menikah dengan Reno begitu menderita.Ada apa dengan Reno sehingga benci dengan Rianti.
"Maaf,saya baru tahu cerita hidup Rianti yang begitu menderita.Memang bukan urusan saya.Ya sudah,lain kali saya tidak akan mencampuri urusan dia lagi."
"Memang seharusnya begitu dari awal,pak Panji tidak perlu banyak ingin tahu tentang gadis itu."
Lalu Udin yang sejak tadi kesal karena Panji terlalu jauh mencampuri urusan Rianti,dia pun pergi.Dan sebelum meninggalkan ruangan,Udin berucap.
"Anda boleh simpati pada Rianti,tapi tidak usah banyak tanya pada Rianti.Karena dia bekerja bukan hanya untuk mencari uang,tapi mencari kebahagiannya sendiri bisa berteman dan bercanda dengan kami di toko.Kami di sana sangat peduli dengan Rianti tapi bukan berarti mau tau apa yang dia alami."lalu Udin benar-bebar pergi dari ruangan Panji.
Panji yang sejak tadi kaget dengan kenyataan rumah tangga Rianti dan Reno,jadi merasa bersalah serta kasihan pada Rianti.
Memang awalnya dia tertarik pada Rianti yang dia kira gadis itu benar pembantu Reno.Jika seandainya Rianti memang pembantu Reno dan belum punya anak,dia ingin mengejar Rianti.
Tapi kenyataannya,jauh dari dugaannya.Ternyata Rianti adalah istri sahabatnya.Panji mendesah,dia sedikit pusing tentang masalah ini.Yang nyatanya itu bukan kapasitasnya dalam berpikir.
Tapi...
Apa dia harus menanyakan semua pada Reno?Pantaskah dia ikut campur dalam masalah Reno,sahabatnya.Sebagai sahabat,Panji perlu mengingatkan Reno.Reno memejamkan matanya,tiba-tiba dia merasa pusing kepalanya.
Mungkin rasa kecewa dan putus asa,karena apa yang dia harapkan tidak sesuai kenyataan.Mendesah lagi.
Baiklah untuk saat ini,dia harus diam dan tidak akan mengungkit masalah mereka jika Reno sudah kembali dari Kalimantan.
_
*****
_
Pagi ini Rianti tidak seperti kemarin,dia tampak ceria lagi.Susan,Rina dan Udin merasa senang dengan perubahan positif Rianti hari ini.
"Hai Raka,ceria banget ya hari ini.Tante jadi seneng lihatnya."ucap Susan pada anak Rianti yang secara tidak langsung menyinggung Rianti.
Rianti tersenyum.
"Iya tante Cucan,Raka hali ini lagi ceneng."ucap Rianti meniru gaya bicara anak kecil yang cadel.
Susan tertawa,dia merasa lucu mendengar ucapan Rianti seperti anak cadel.
"Hahaha...Rianti is back."ucap Susan.Rianti pun ikut tertawa.
"Sudah enakan bu?"ucap Udin menngoda yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Mood lagi baik bang Udin."
"Kalau begitu,siang nanti siap kan anterin pesanan lagi?"
"Siap,tapi Raka di bawa ya."
"Eh,jangan.Biar Raka sama saya aja.Kenapa harus di bawa?"
"Takut rewel mba Susan."
"Raka ngga pernah rewel,tanyain aja sama Rina.Udah pokoknya Raka jangan ikut."protes Susan.Rianti cemberut,yang ibunya siapa kenapa yang kekeh sama Raka malah mba Susan,gumam Rianti.
"Udah sih Rianti,biarin aja Raka sama Susan.Itung-itung latihan punya anak,biar ngga kaget nanti kalau udah punya anak."Udin menimpali.
"Mba Susan ngga kerepotan kan jagain Raka?"
"Ngga,malah seneng ada yang buat mainan."
"Eh mba Susan,anak saya bukan boneka ya.Jangan buat mainan."protes Rianti.
Susan merasa lucu dengan mimik wajah Rianti yang cemberut,dia malah pergi meninggalkan Rianti sambil melambaikan tangannya.Rianti makin cemberut,dia tidak terima dengan ucapan Susan anaknya buat mainan.
_
_
_
*****(@@***@@)*****