"Sepertinya aku jatuh cinta dengan pencuri yang masuk ke rumahku."
-Sandra Ellen-
"Sepertinya aku jatuh cinta dengan pemilik rumah yang barangnya kucuri."
-Senapati-
Suatu hari, Sandra Ellen mendapati rumahnya disusupi pencuri. Seluruh makanan di dapur, isi kulkas dan kue kering di konternya digasak.
Kali pertama, Sandra membiarkannya, ia berpikir si pencuri cukup aneh karena hanya menyasar dapurnya.
Si pencuri datang lagi sebulan kemudian, kali ini Sandra membekali dirinya dengan cctv, pentungan besi dan ponsel.
Lagi-lagi hanya dapurnya yang disasar.
Sandra mencoba memergokinya. Lalu memberikan si pencuri itu sejumlah uang dengan syarat untuk tidak kembali lagi ke rumah Sandra.
Besoknya si pencuri kembali lagi. Kali ini terang-terangan dari pintu depan, tanpa masker yang menutupi wajahnya.
Astaga, tampan sekali!!
Pikir Sandra.
Sena, si Pencuri, berniat untuk memperlihatkan rasa terima kasihnya dengan bekerja untuk Sandra, senilai uang yang kemarin diberikan Sandra padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarik Napas, Hembuskan...
"Kencan itu apa sih Tante?" tanya Mia saat Sandra mengusap kepala anak itu, membuainya agar cepat terlelap.
"Jalan berduaan." Sandra berusaha menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti anak umur 10 tahun.
"Oh." Anak itu tertegun. Ia sudah mengantuk, tapi masih belum mau terlelap.
"Mia mau dibacain cerita Tiga Babi dan Serigala lagi dong tante." pinta Mia.
"Hm... Gimana kalau tante nyanyi aja sampai Mia bobo." tawar Sandra.
"Eh, boleh tante. Nyanyi apa?"
"Mungkin Mia tidak tahu, tapi tante suka irama lagunya. Judulnya Burung Gereja."
"Oke tante."
Melayang sehelai bulu rapuhnya
Menunduk paruhnya seakan meratap
Sanggupkah diriku berkicau menyambut pagi.
Melonjak tergesa ke dahan cemara
Teringat anaknya yang belajar terbang
Melanjutkan tugasnya mewarnai bumi
Berhembuslah anginku, bawa kicauku
Bergoyanglah daunku, iringi kepakanku
Berhembuslah anginku, bawa kisahku
Bergoyanglah daunku, iringi kebebasanku.
(Burung Gereja. Nugie.1996)
Sena kini beralih menatap Sandra yang bernyanyi.
Wanita ini... unik.
Pikirnya.
Sedikit banyak, ketulusan Sandra terhadap anak-anak memotivasi Sena, menguatkan hidupnya.
Anak-anak tidak bersalah.
Sena juga merasa, Vou berada dalam banyak tekanan saat melakukan semuanya.
Apa itu sebabnya Vou mengenalkan Sena sebagai seorang kakak ke Mia?
Dan itu sebabnya semua data diri Mia ia sembunyikan? Agar nama ayah di akte kelahiran Mia tidak terlihat oleh Sena?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kalau dipikir, selama ini, Vou memang jarang sekali ada di rumah. Wanita itu kerap mengambil dua-tiga pekerjaan. Seperti sedang menghindari sesuatu yang ada di dalam rumah.
Itu juga yang membuat mereka jarang bersama.
Juga termasuk hubungan suami-istri, mereka hanya melakukannya di awal, yang menjadi permulaan segalanya. Sejak itu tidak pernah lagi.
Ingatan Mia mungkin terasa samar. Kebanyakan manusia tidak mengingat aktifitasnya saat berusia 0-3 tahun. Itu juga yang menjadikan Mia sembuh dengan cepat dari rasa trauma, karena ia tidak mengingat segalanya.
Tapi dulu, pernah sekali Mia memanggilnya 'Ayah'. Entah itu reflek atau sengaja.
Setelah itu tragedi dimulai. Baru saja Sena merasa senang...
"Aku mandi dulu." gumam Sena saat Mia sudah tertidur.
"Malam-malam begini?" tanya Sandra.
Sena mengangguk. "Kepalaku terasa panas." ujar Sena.
Sandra menghela napas.
"Sena... apa yang Putri katakan kepada kamu?"
Wanita itu tampak prihatin.
Melihat raut wajah Sena, juga perilaku Putri, pasti yang Putri katakan kepada Sena adalah kenyataan hidup yang terlihat dari visi Putri.
"Macam-macam." sahut Sena pendek. Rasanya tidak sanggup membahas semuanya sekaligus.
"Sena..." Sandra menghampirinya dan menggenggam tangan pria itu, dengan bersahabat. "Penglihatan Putri hanya satu arah. belum tentu benar. Bisikan semacam itu tidak bisa dijadikan patokan. Kita harus mencari bukti konkret. Jadi jangan kalut dulu."
"Kamu tahu apa yang dikatakan oleh Putri?" tanya Sena. Dia membalas genggaman Sandra.
Berbeda dengan di mall, tangan Sena kali ini malah dingin, seakan dia sedang gugup.
"Aku tidak tahu. Tapi saat ia meminta untuk berbicara berdua, biasanya ada hal sangat penting berkenaan dengan hidup seseorang. Karena kami pernah mengalaminya. Aku, kakakku dan Rama..."
"Hm. Tepat." Sena mengelus punggung tangan Sandra.
"Aku belum ingin membahasnya sekarang, masih banyak yang harus dikonfirmasi."
"Iya. aku mengerti. Aku dan anak-anak ada di belakang kamu."
"Aku masih merasa terkejut dengan kebaikan kamu." sahut Sena.
"Kita kan sudah jadi teman, Sena. Sebentar lagi malah satu gedung. Boss Besar kelihatannya langsung suka sama kamu tadi."
Teman...? Oh. Memang jangan terlalu berharap dulu.
Pikir Sena.
Teman. Untuk pancingan.
Pikir Sandra.
Dan Sena melepaskan pegangan tangan wanita itu, lalu masuk ke kamar mandi.
*****
Sandra sedang menimang Kenzo yang terbangun. Kini bayi mungil itu sedang meminum susunya dari botol.
Kenzo terbangun dengan terkaget seakan baru saja bermimpi buruk. Jadi Sandra harus menghiburnya sebentar.
Tampak seulas senyum terbit dari bibir Sandra yang sensual.
Wanita itu sedang menikmati menjadi seorang ibu.
Setelah hari demi hari dilaluinya seorang diri, lebih tepatnya menyendiri demi ketenangan hatinya, tiba-tiba sekaligus muncul tiga malaikat kecil yang akan menemani hari-harinya.
Ditambah satu Bidadara!
Terdengar suara shower dinyalakan.
Sandra menghembuskan napas.
Ia sedang menenangkan dirinya.
Kenapa kamar ini tiba-tiba panas?
Pikir Sandra.
Lalu wanita itu menatap ke atas.
Suhu AC 22 derajat, kok.
Lalu ia memegang pipi gempi Kenzo.
Pipi Kenzo dingin, kok... suhu ruangan.
Suara shower masih menyala.
Masa gara-gara suara shower aku kepanasan?!
Batin Sandra,
Masih menampik kalau bukan suara shower yang membuat ia kepanasan.
Tapi bayangannya akan sosok yang berdiri di bawah shower yang membuatnya kepanasan.
Dasar kegatelan! Sejak kapan aku begini, sih! Labil!
Sandra mengumpat kepada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Kenzo dengan sukses tertidur.
Duh, manis sekali...
Pipinya Kenzo kemerahan dan cempluk.
"Hihi... Ucul kamu!" gumam Sandra sambil cekikikan. Lalu ia mencium pipi anak itu dan dengan hati-hati meletakkannya di strollernya, di sebelah kembarannya.
Dan menggoyang-goyangkannya dengan lembut beberapa saat.
Berapa lama lagi aku bisa bersama anak-anak ini?
Semoga bisa dalam waktu yang lama. Pasti asik memperhatikan mereka tumbuh.
Pikir Sandra sambil mengelus pipi Kenzo.
Seingat Sandra, Sena dan mantan istrinya belum bercerai secara hukum. Hanya ucapan talak yang terlontar dari mulut Sena. Juga hal itu atas permintaan mantan istrinya.
Namun banyak hal yang mengganjal dalam hal itu.
Masa mantan istri tidak ingin bercerai secara hukum? Dan langsung pergi dengan selingkuhannya keluar negeri? Bukankah lebih baik mengurus semuanya agar 'clear' lebih dulu?
Sudah begitu, masa data-data anak-anak dia bawa? Tidak di simpan oleh Sena.
Apa yang si mantan istri sembunyikan?!
"Ehem!" terdengar deheman dari arah pintu kamar mandi.
Reflek Sandra menoleh.
"Kamu bengong." sahut Sena dengan pandangan menyelidik.
Sandra hanya sedang melamun memikirkan anak-anak.
Dan kini lebih bengong lagi saat melihat Sena keluar dari kamar mandi,
Hanya dengan berbalut handuk.
Pria itu berjalan di depannya, herannya di mata Sandra bagaikan slow motion.
Terpaku.
Seketika dia seperti kaku.
Tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya.
Di depannya ini bukan setan.
Bukan juga malaikat.
Hanya seorang Sena.
Yang tampak seperti bidadara.
Tentunya.
"Pakaianku di sana. Tadi lupa bawa." sahut Sena sambil ke arah sofa di depan jendela, tas belanja yang tadi mereka bawa ke atas bersama bubur Mia.
Sandra memejamkan matanya.
Dadanya terasa tercekat.
Oh Tuhanku.
Keluhnya.
Ia mengatur napasnya supaya lebih stabil.
"Kamu lihat sikat gigi ngga?" tanya Sena.
"Hm...?" keluh Sandra, masih mengatur napasnya sambil memegangi dahinya.
Aku bertingkah seperti abege!
Umpat Sandra.
Sementara otaknya di sisi lainnya berusaha mengingat letak sikat gigi yang memang diberikan gratis oleh rumah sakit.
"Oh iya, di nakas sini." sahut Sandra. Nakas sebelah tempat tidur Mia, yang terletak tepat di belakangku.
Kata Sandra dalam hati.
Sandra membalik badannya hendak meraih pouch toiletries di belakangnya, berbarengan dengan Sena juga menghampirinya dan ikut meraihnya.
Jantung Sandra bagaikan mencelos.
Naik ke tenggorokannya dan tercekat.
Sena begitu dekat dengannya, dengan sosok tanpa pakaian.
Sandra tidak bisa bergerak. Ia bergeming terpaku sambil menatap setiap gerakan tangan Sena yang terulur meraih beda di tangannya, entah apa itu, mungkin sikat giigi, bodo amat. Sandra hanya menatap tangan itu apapun yang ia raih.
Dan napas hangat Sena yang berhembus di lehernya, dengan bahu Sandra menyentuh sesuatu yang keras dan berundak. Otot dada Sena yang bagaikan batu-batu besar tersusun di dinding.
"Danke." (Terima kasih) gumam Sena pelan. Lalu pria itu kembali masuk ke kamar mandi dengan pakaian dan sikat gigi.
Sandra bisa melihat seulas senyum menggoda dari sudut bibir pria itu, sebelum pria itu kembali menghilang ke balik pintu.
Kita lihat berapa lama kamu bisa menganggapku 'teman'.
Batin Sena.