Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi hari seorang gadis sadar dari pingsannya yang cukup begitu lama, matanya melihat ke sekeliling kamar yang begitu asing baginya, ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba untuk keluar dari kamar itu, namun pintu kamar yang terkunci membuatnya berteriak memanggil seseorang untuk membuka pintu nya.
ceklek. . .
Seseorang membuka pintu kamar itu dan menerobos masuk menyeret gadis itu.
"kau siapa? dimana aku?" tanya gadis itu setengah ketakutan melihat sosok pria di hadapannya yang bertubuh kekar.
"kamu gak perlu tau dimana kamu, telpon teman kamu sekarang!" ucap pria itu menyodorkan sebuah ponsel.
"teman? siapa yang kamu maksud?"
"jangan berpura-pura bodoh gadis kecil!"
Ayumi pun mengambil ponselnya dan menekan nomor Meira, setelah beberapa kali ia mencoba menelponnya, tidak satupun panggilan yang ia jawab.
"dia gak menjawabnya."
"baiklah, nasib kamu tergantung pada gadis itu." ucap pria tersebut dan mengunci kembali Ayumi di kamar itu.
"apa yang sebenarnya terjadi? kenapa dia menginginkan Meira?" gumam Ayumi sambil memikirkan jalan untuk melarikan diri.
*
Hotel Prima
Seorang gadis tersadar dari mimpinya, ia membuka matanya dan melihat ke sekeliling kamar hotel. "asshh.. kenapa aku malah tidur disini?" gumamnya sambil memegang pelipis yang masih terasa pusing.
"kau sudah bangun gadis kecil?" tanya seorang pria dari ambang pintu.
Meira menoleh ke arah pintu, ia melihat dari bawah hingga atas pria itu.
"kau!!"
"calon suami mu" saut Alexi mengedipkan sebelah matanya.
"sepertinya aku akan terus bermimpi buruk setiap hari." gumam gadis itu yang beranjak dari tempat tidurnya dan hendak melangkah menuju kamar mandi.
Tinggal dua langkah lagi masuk ke kamar mandi, langkahnya terhenti ketika ia teringat dengan temannya yang menunggu di rumah. "astaga Ayumi!!" ucap Meira yang terburu-buru memutar balikkan tubuhnya dan mengambil ponselnya.
Di lihatnya beberapa panggilan tak terjawab berderet di layar ponsel Meira. Ia pun segera menekan nomor Ayumi dan menelpon balik. Setelah panggilan terhubung tanpa mendengar siapa yang menjawab telpon nya Meira langsung nyerocos tanpa jeda.
"Yumi.. kamu masih di situ kan?"
"hoho.. seorang gadis yang mencemaskan temannya."
"siapa kamu?"
"datang lah ke jl.xx jika kamu masih ingin melihat teman mu selamat."
"Meira jangan.." teriak Ayumi dari belakang pria itu.
"Ayumi.. tunggulah aku akan segera kesana." ucap Meira.
Setelah menutup sambungan telponnya, Ayumi bergegas pergi meninggalkan tempat itu, namun langkahnya di hentikan oleh Alexi yang menghalanginya.
"hei.. lepaslah aku harus segera pergi."
"apa kau ingin menjadi pahlawan kesiangan hah?"
"gak ada waktu buat ribut!"
"jangan bertindak gegabah nona kecil, ikut aku." ucap Alexi yang berjalan di depan Meira.
"Nino, bawa dia ke mobil." ujar Alexi yang melihat Meira masih terdiam di tempat enggan untuk mengikutinya.
*
Sebuah perjalanan pun di mulai, terlihat perasaan yang begitu cemas terpancar dari wajah seorang gadis yang berada di dalam mobil itu. "bisa lebih cepat gak?" ucap Meira pada Nino yang melajukan mobilnya. Nino melirik pada sebuah spion melihat Alexi yang mengangguk untuk menuruti kemauan Meira.
Kurang dari satu jam mereka telah sampai di sebuah mansion yang tak asing bagi gadis itu. "loh kenapa kita malah kesini? harusnya kita pergi menyelamatkan Ayumi!" ucap Meira yang kecewa dengan pria di sampingnya. Alexi menutup kuping nya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya dan mengabaikan Meira.
Saat Meira akan keluar dari rumah itu, beberapa bawahan Alexi dengan sigap menahannya dan membawanya masuk. "menurutlah nona, sebelum tuan melakukan sesuatu." ucap Lily yang berjalan di samping Meira sambil membawanya masuk.
Sementara itu Nino dan dua orang lainnya bergegas pergi ke tempat dimana Ayumi berada. Tanpa bertanya mereka telah mengetahui keberadaan Ayumi dan tentunya mereka juga tau siapa dalang di balik semuanya.
*
"hei tuan menyebalkan! jangan mentang-mentang kamu punya segalanya kamu bisa seenaknya dengan ku! sekarang ijinkan aku pergi untuk menyelamatkan teman ku!"
"suruh para bawahan kamu untuk tidak menghalangi jalan ku!" sambung Meira dengan suara yang terus nyerocos tanpa titik dan koma.
Alexi yang sedang duduk dengan begitu santai, mengalihkan pandangan nya dan menatap Meira dengan begitu tajam hingga membuat gadis itu sedikit takut.
"glek.. tatapan macam apa itu? kenapa aku merasakan ada aura iblis di sekitarnya." batin Meira.
Seketika mulut mercon gadis itu tertutup rapat dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain sambil mengedipkan matanya berulang kali. "ahh iya aku lupa hari ini ada jadwal kelas, boleh aku ke kampus ya?" ucap Meira mencari sebuah alasan. Namun Alexi bukan tipe orang yang mudah untuk di bohongi, ia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali fokus dengan ponselnya.
"ch, benar-benar melewati batas, dia pikir dia siapa bisa mengurung ku seperti ini?" gerutu Meira.
*
Sementara itu, Nino dan kedua bawahannya telah sampai di sebuah rumah yang di jaga oleh beberapa orang, tempat itu adalah rumah lainnya yang sering di jadikan tempat transaksi gelap oleh pemiliknya.
*malam sebelumnya*
"bawa gadis itu, ke tempat lain saya gak ingin ada orang lain yang mengetahuinya." ucap seorang pria yang menjadikan Ayumi saderaan nya.
"baik tuan"
Tiga orang pria membawa Ayumi yang masih tidak sadarkan diri ke tempat yang cukup jauh dari mansion utama.
**
"lakukan apa yang perlu di lakukan, kita akan masuk lewat pintu depan dan kalian urus orang-orang itu." ucap Nino memberi sebuah instruksi.
"baik tuan."
Ketiga pria itu pun bergegas masuk, dan sempat di hadang oleh beberapa penjaganya namun dengan mudah ketiga orang itu meluluhkan musuh hanya dengan sekali tindakan. Hingga akhirnya Nino sampai di dalam rumah dan memasuki setiap ruangan untuk menemukan Ayumi.
"Siapa kamu beraninya masuk kesini?" ucap seorang pria yang bertugas menjaga Ayumi.
"dimana gadis itu?"
"aku gak akan memberitahunya sebelum gadis lainnya datang kemari!"
Dengan sekali gerakan Nino berhasil menundukkan pria bertubuh besar itu dan bertekuk lutut di hadapannya. "katakan atau anak istri mu yang menjadi sasaran?" ujar Nino mengancam pria itu.
"di ruang perpustakaan, ada pintu rahasia jalan masuk ke sebuah kamar, dia berada di sana."
"kalian urus dia" ucap Nino.
"siap!"
Nino pun bergegas menuju ruangan itu, ia masuk ke dalam ruangan perpustakaan dan membuka pintu di dalamnya yang berbentuk sebuah lemari. Setelah berhasil pintu itu terbuka, terlihatlah seorang gadis yang sedang mondar-mandir memikirkan sesuatu. mendengar sebuah pintu terbuka, Ayumi menoleh dan melihat pria berparas tampan yang berjalan ke arahnya.
"Nino?" ucap Ayumi sambil menganga dan membelalakkan matanya.
"kamu baik-baik aja?" tanya Nino tersenyum ke arah gadis itu
Ayumi mengangguk dan masih terpesona dengan paras seorang pria di hadapannya. "pangeran penyelamat." gumam Ayumi yang kemudian tumbang, dengan sigap Nino menahan dalam pelukannya.
"ehh kok malah pingsan? hei gadis bangun..." ucap Nino menepuk pipi Ayumi.
"biarkan seperti ini sebentar aja." saut Ayumi yang ternyata hanya pura-pura pingsan.
"ehh.."
***
Bersambung. . .
Mohon untuk dukungannya.. kasih like + gift makasih 🙏
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan