Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.
Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.
Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.
Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah kosong itu?
Nindi merasa sedikit lega setelah bicara dengan Sheerin, meskipun dia belum menceritakan semua yang terjadi semenjak menginjakkan kaki dirumah itu, setidaknya dia sudah memberi kabar kepada Sheerin jika ponselnya sedang disita. Agar perempuan yang mirip dengannya itu tidak terlalu berharap Nindi bisa menghubunginya.
Entah dari mana juga Nindi merasa kalau Sheerin sedang mencemaskan dirinya.
"Hiks, hiks." Nah lho, suara apa itu? Nindi celingukan kesana kemari mencari asal sumber suara.
Ditelannya saliva dengan susah payah saat tidak menemukan orang lain selain dirinya disana.
"Hiks, hiks." Suara tangisan itu kembali terdengar, Nindi semakin kalang kabut, kalau menyangkut hal berbau horor Nindi mendadak akan jadi orang paling parno. Lebih baik dihadapkan dengan 10 orang preman berotot besar dari pada harus dihadapkan dengan pocong, kuntilanak atau sejenisnya, tawar Nindi dalam hati.
"Nggak mungkin siang bolong begini ada dedemit kan?" Begitu Nindi meyakinkan dirinya sendiri, padahal dalam hati dia sudah sangat ketakutan.
Diliriknya rumah yang berada tepat disamping rumah Bima, matanya terbelalak saat menyadari jika rumah itu tidak terawat, seperti sudah lama tidak ada yang membersihkannya. Cat berwarna kelabu yang semua bagiannya telah memudar, menambah kesan angker rumah itu, apalagi pohon mangga yang berdaun rimbun itu hampir menutupi sebagian beranda, belum lagi sarang laba-laba yang bertebaran dimana-mana, Nindi bergidik ngeri membayangkan berapa banyak makhluk halus yang tinggal disana? Apa iya mulai sekarang dia harus bertetangga dengan mereka semua?
Dia baru sadar kalau keangkeran rumah sebelah sedikit banyak sudah menular kepada rumah Bima.
Ditengah kelimpungan nya itu, tiba-tiba sebuah tangan mendarat dengan sempurna diatas pundaknya. Nindi terlonjak kaget, hampir saja dia mengeluarkan jurus andalannya untuk menyerang musuh, beruntung si pemilik tangan langsung buka suara.
"Nona saya izin pulang dulu, pekerjaan saya sudah selesai semua." Ucap bi Ani. Jika Nindi tidak mau dipanggil nyonya, maka dia akan memanggilnya non, agar lebih sopan begitu.
Nindi menghembuskan nafas lega, tadinya dia sudah membayangkan wajah seram berada di hadapannya saat dia membalikan badan. Beruntung itu semua tidak terjadi, cepat-cepat dia merubah ekspresi wajahnya agar tidak lagi terlihat sebuah kepanikan disana.
"Ahh, iya bi, sudah pamitan juga sama kak Bima?" Tanya Nindi.
"Sudah nyonya, besok saya kembali lagi pukul 7. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum." Pamit bi Ani kemudian hendak berlalu. Namun Nindi menahan tangannya agar tetap tinggal.
"Ehh, bi. Tunggu!" Ucap Nindi, sontak bi Ani kembali menoleh.
"Iya, ada apa non?" Tanya bi Ani.
"Emm, rumah sebelah sana kosong ya bi?" Nindi menunjuk rumah yang hanya terhalang oleh pagar tembok setinggi badan Nindi, tapi masih bisa terlihat jika dia ber jinggit, ada banyak kawat berduri yang melekat di sekeliling tembok itu.
"Iya non, hampir 20 tahun rumah itu kosong." Jawab bi Ani.
"Apa? 20 tahun?" Nindi tidak percaya, bahkan waktu 20 tahun itu hampir seumuran dengan usianya.
"Memangnya kenapa bisa kosong selama itu? Kemana pemiliknya?" Nindi semakin kepo saja, entah kenapa dia merasa tertarik dengan cerita dibalik rumah itu, meskipun dia merasa merinding saat melihatnya. Rasa ingin taunya lebih besar 1% saja.
"Saya juga kurang tau non." Bi Ani yang mendapat pertanyaan seperti itu terlihat gelagapan saat menjawab. Jika menurut warga sekitar rumah itu bukan jadi rahasia umum lagi, tapi bagi orang awam seperti Nindi, bi Ani ragu untuk bercerita, takut kalau istri dari majikannya itu tidak akan nyaman tinggal disana nantinya.
"Oh, ya udah. Hati-hati dijalan ya bi pulangnya." Nindi memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak lagi, bi Ani juga terlihat tidak nyaman ketika Nindi melontarkan pertanyaan seperti itu.
'Biar gue tanya sama kak Bima aja ahh, lumayan buat bahan obrolan, hihi.' Begitu pikiran picik Nindi.
"Iya non, saya pulang sekarang, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Nindi melihat bi Ani berjalan sedikit tergesa meninggalkannya sendiri. Entah kenapa bi Ani itu, apa dia juga takut ya?
'Kalau begitu, kita sama dong bi. Hiii.' Nindi cepat-cepat melangkah mengikuti jejak kaki bi Ani sambil bergidik ngeri, takut kalau suara itu kembali terdengar lagi.
***
Mobil mama Anya berhenti tepat di depan gerbang rumah Bima, Luis keluar dari bangku kemudi, sedangkan pemilik mobil itu keluar dari sisi yang berbeda.
Entah mereka mampir kemana dulu tadi, mereka menghilang selama berjam-jam, tidak mungkin rasanya menyelesaikan urusan di KUA, setau author urusan dengan KUA sudah selesai bahkan sebelum pernikahan itu terjadi.
Mama Anya menghampiri Luis untuk mengambil alih posisi kemudi.
"Ingat Luis, tahan dia disini seharian, setelah rencana kita selesai, suruh Bima memperkenalkan diri sebagai suaminya Sheerin dihadapan Lukman." Mama Anya mewanti-wanti.
"Sabar Anya, malam ini juga aku akan menyingkirkan dia, jadi besok pagi mereka bisa menemui si keparat itu." Luis menekan kata keparat. Mama Anya menyunggingkan senyum sinis, senyuman yang membuat wajahnya terlihat selalu judes.
"Pulang dan istirahatlah Anya, kamu sudah terlalu bekerja keras selama ini." Luis menepuk pundak mama Anya pelan.
Nindi yang tadinya berniat masuk kedalam rumah, malah harus melihat adegan itu, dimana sepasang partner kejahatan sedang berbincang dan saling menguatkan.
Sebenarnya hubungan diantara keduanya ini apa sih? Kenapa mereka terlihat begitu sangat akrab? Lalu kenapa mereka sepakat untuk menikahkan anak-anak mereka? Mungkin Sheerin tau jawaban dari semua pertanyaan yang bersarang di kepala Nindi. Ya, Sheerin adalah kunci jawaban dari semua ini. Nindi jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengan Sheerin dan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.
Sebelum dirinya ketahuan, Nindi cepat-cepat melangkah masuk kedalam rumah.
***
Nindi membuka pintu kamar Bima perlahan, sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi yang akan membuat sang suami merasa terganggu. Dia kemudian berdiri dibelakang Bima yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya tanpa bicara sepatah katapun.
Ternyata Bima sedang bekerja, tapi Nindi sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh Bima. Nindi juga tidak tau apa sebenarnya pekerjaan suaminya itu.
Bima seperti memiliki insting yang kuat, dia merasakan kehadiran sesosok mahkluk asing dibelakangnya, hembusan nafas makhluk itu mengenai tengkuknya dan membuatnya merinding, Bima menoleh kebelakang memastikan makhluk sejenis apa yang ada dibelakangnya.
Terlihat Nindi yang sedang nyengir sembari memegang ponsel dikedua tangannya, dia sudah ketahuan. Bima mengerutkan dahinya, sejak kapan istrinya berada disana? Terlalu fokus bekerja sampai dia tidak sadar jika Sheerin palsu sudah kembali. Ya, begitulah Bima, jika sedang bekerja dia akan lupa segalanya, tapi memang pada dasarnya dia menjalani hidupnya dengan segenap keseriusan.
"Ada apa?" Tanya Bima seperti biasa, datar tanpa ekspresi.
"Ini hpnya kak Bima, aku udah selesai memakainya." Nindi menyodorkan ponsel kearah Bima.
Bima tidak langsung mengambil ponselnya.
"Simpan disana!" Menunjuk dengan dagunya kearah meja kerja.
Nindi mengerutkan keningnya, kenapa tidak diambil saja langsung? Kenapa juga harus Nindi yang meletakkannya disana? Tanpa membantah, Nindi berjalan memutari sofa dan meletakkan ponsel itu diatas meja tidak jauh dari posisi laptop Bima berada.
Setelah itu, dia bingung harus melakukan apa disana. Ini kamar asing baginya, sama seperti kamar Sheerin. Jika di kamar Sheerin dia hanya tinggal sendiri, maka dia bebas mau melakukan apapun sesuka hatinya. Sedangkan disini kan ada makhluk kaku yang notabenya adalah si pemilik kamar, jadi Nindi harus menjaga sikap agar si pemilik kamar tidak merasa ilfeel kepadanya, dan berdampak dirinya akan ditendang dari sana.
Haha, tidak usah khawatir Nindi, meskipun si Bima ini dingin dan kaku, tapi percayalah, hatinya sangat lembut selembut kain sutra. Jadi meskipun kamu melakukan kesalahan, Bima tidak akan menendang mu, dia selalu mau memaafkan kesalahan orang lain.
Akhirnya Nindi menjatuhkan diri disofa yang sama dengan Bima, yang dilakukannya hanyalah diam sambil memperhatikan Bima yang lagi-lagi mengalihkan fokusnya kepada layar laptop. Kemudian dia teringat akan rumah sebelah, seperti muncul lampu diatas kepalanya, ini adalah bahan obrolan yang sangat brilian.
"Oh ya kak, rumah yang disebelah itu kosong ya?" Tanya Nindi berharap Bima terpancing untuk mau bicara dengannya.
Tanpa diduga, Bima menutup laptop yang sedari tadi menjadi pusat fokusnya, beralih menatap Nindi dengan tatapan intens.
"Jangan kesana!" Ucapnya penuh penekanan.
"Lho, kenapa kak?" Tanya Nindi bingung mendapatkan reaksi yang tidak terduga dari Bima.
"Tempat itu sudah lama tidak ada penghuninya. Kamu jangan pergi kesana." Ucapnya memperingatkan.
Nindi juga melihat sebuah kekhawatiran dari sorot mata Bima. Kenapa? Apa Bima juga sering mendengar suara tangisan perempuan dan takut akan hal itu? Ahh, tidak mungkin pemilik tubuh tinggi besar itu memiliki rasa takut. Jika iya kak Bima takut, mungkin dia sudah meninggalkan rumah ini sedari dulu.
"Iya kak, aku nggak mungkin kesana, tempatnya sangat menyeramkan, tadi aja aku denger suara perempuan nangis." Nindi bergidik ngeri saat membayangkan bulu kuduknya berdiri semua tadi.
"Aku mau mandi, sebenar lagi waktu ashar." Bima beranjak dari duduknya, seperti ingin mengakhiri pembicaraan itu.
"Iya kak." Nindi melihat Bima yang berjalan menuju kamar mandi, kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
Dua orang yang di tanyanya tentang rumah itu sama-sama menunjukkan suatu kekhawatiran, sebenarnya apa sih penyebab rumah itu ditinggal pergi oleh penghuninya? Siapa orang yang bisa diminatinya keterangan?
Ahh, kenapa juga Nindi jadi memikirkan tentang rumah itu? Tidak ada sesuatu yang spesial dari rumah itu, malahan yang ada rumah itu terlihat sangat menyeramkan. Masalah Sheerin saja belum kelar-kelar, Nindi tidak ingin menambah lagi beban pikiran yang lain.
Oke Nindi, lupakan rumah menyeramkan itu dan kembali fokus pada masalah yang sedang kamu hadapi.
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...