Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebat
Mendapat telepon dari Ari sahabatnya, David pun langsung menuju cafe malam itu seusai makan malam. Ari sudah beberapa hari ini tidak ada kabar karena ada urusan bisnis di luar negri, setelah sampai di cafe yang di tuju David langsung masuk ia melihat dua sahabatnya sudah duduk menunggu dirinya di sebuah meja bulat.
"Hei Vid lama banget sih," sapa Ari ketika ia melihat David sudah datang menghampiri.
"Sorry agak macet tadi," kata David sambil duduk di samping sebelah kiri Ari, sedangkan Juna duduk di sebelah kanan Ari.
"Ada di sini juga lo!" tanya David sedikit sinis pada Juna ketika ia tau kehadirannya.
"Lah memang kenapa tidak boleh gw di sini, kita kan sudah damai," kata Juna tenang sambil menggoda.
"Wow...wow...wow...tunggu kenapa sih lo berdua, gw baru tinggal beberapa hari juga sudah kacau," kata Ari heran.
"Tidak kenapa-kenapa ko, David lagi sensitif sama gw," jelas Juna meledek.
"Sensitif! Sensitif kenapa? Tidak biasanya lo berdua berantem, ada apa sih, sepertinya gw tidak ada sudah banyak tertinggal berita," kata Ari penasaran.
"Bukan banyak lagi, tapi over load," ledek Juna.
"Berisik lo," semprot David ketus kepada Juna.
Melihat sikap David kepada Juna, Ari sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi selama ia pergi.
"Lo berdua sedang marahan ya," tebak Ari.
"Dih...kaya bocah marahan, tau tuh dia lagi sensitif sama gw, apa salah gw coba," kata Juna.
"Kenapa sih Vid, apa yang terjadi selama gw tidak ada," tanya Ari heran kepada David.
"Mau gw yang cerita atau lo yang cerita nih," kata Juna memotong pembicaraan.
David hanya terdiam dan Ari semakin kebingungan dengan apa yang di ucapkan oleh Juna.
"Cerita apa sih, gw benar-benar bingung dengan lo berdua. Gw tidak tau apa yang terjadi antara lo berdua, masalah apa di antara lo berdua yang jelas gw harap lo berdua cepat akur lagi," lanjut Ari bingung.
"Ya sudah kalau begitu kita ganti topik saja, sekarang lo cerita tentang perjodohan lo Vid," kata Ari kepada David.
Spontan mimik wajah David menjadi makin kesal, lain halnya dengan Juna yang tersenyum menahan tawa. Lagi-lagi Ari di buat bingung oleh kedua sahabatnya itu, entah apa yang sebenarnya terjadi dan mereka berdua sembunyikan.
"Lo berdua kenapa lagi sih, gw jadi semakin bingung deh, ada yang bisa jelasin ke gw tidak," kata Ari mendadak menjadi kesal.
"Lo Vid! Lebih baik lo yang cerita deh bagaimana tentang perjodohan lo, dan lo belum cerita," lanjut Ari lagi.
"Ok gw cerita dan lo diam," kata David menunjuk ke arah Juna yang sedang diam dengan nada tegas dan jutek.
"Tenang bro, santai saja gw bakalan diem ko," balas Juna.
"Ok gw cerita sama lo, jadi cewek yang di jodohkan sama gw itu adalah cewek yang pernah kita lihat di resto waktu itu," papar David memulai pembicaraan.
"Di resto! Resto mana, kapan! Dimana," Ari mencoba mengingat.
"Di resto yang terakhir kali kita bertemu," jelas David terus mengingatkan.
Ari terus berusaha mengingatnya, sambil sesekali melirik ke arah Juna.
"Jangan-jangan cewek yang lo bilang itu," kata ari melirik ke arah Juna.
"Bingo...betul," balas Juna.
"What! Serius lo," kata Ari kaget menatap tajam ke arah David dan David hanya terdiam sejenak.
"Iya benar dia orangnya," ucap David mengiyakan.
"Kok bisa! Sebentar..sebentar, bukannya dia sudah punya pacar," kata Ari tidak percaya.
"Iya dia tidak di izinkan sama orangtuanya," kata David lagi.
"Oh my good, kasian banget terus dia mau sama lo," tanya Ari penasaran.
"Ya gak lah, mana mau dia sama David," potong Juna santai spontan keceplosan.
David dan Ari pun kaget mendengarnya, apa lagi Juna yang tiba-tiba menjawab. David dan Ari pun menoleh ke arah Juna.
"*S**ial...kenapa harus keceplosan sih gw*," kata Juna dalam hati.
"What! Apa lo bilang!" kata Ari kaget menatap Juna.
Tidak lama Ari pun tersenyum dan tertawa kecil, ia tau bahwa tidak ada perempuan yang akan tahan dengan sikap David.
"Siapa namanya?" lanjut Ari terus bertanya.
"Gladis Putri Dwi Hadinata putri dari Harianto Dwi Hadinata," ucap David dengan nada sedikit malas.
"Hadinata grup!" tebak Ari.
"Yup....betul sekali," kata David mengiyakan ucapan Ari.
"Beruntung banget dong lo, bukannya itu perusahaan yang sedang berkembang," tebak Ari.
"Iya, lo tau juga jika perjodohan ini karena bisnis, jadi keluarganya membutuhkan bantuan perusahaan orang tua gw untuk berdiri di Internasional dengan cara menjual anak gadisnya," ucap David dengan nada sinis.
Ari dan Juna kaget bukan main mendengar perkataan David yang tidak seharusnya begitu kepada perempuan.
"Apa lo bilang menjual! Menjual ke siapa," tanya Ari bingung menatap David.
"Ya ke keluarga gw lah, demi mendapatkan bisnisnya dia menjual anaknya," kata David tegas.
"Jangan bicara seperti itu tidak baik," ucap Ari.
"Tau lo Vid," sambung Juna tapi David hanya tersenyum sinis.
"Gw bicara kenyataan kan," ucap David menatap Ari dan Juna.
"Lama-lama lo bisa menerima dia jadi istri lo Vid, secara yang gw tau keluarga Dwi Hadinata itu keluarga baik-baik tidak ada yang cacat moralnya, semua keluarga dan anak-anaknya mandiri dan sukses. Gw lihat Gladis cantik, dia perempuan baik-baik," ucap Ari membela Gladis.
"Tau apa lo tentang dia! So tau lo sama seperti Juna," kata David sinis.
"Tau lah, maka dari itu lo jangan menyuruh pak Rony untuk mengurus bisnis lo. Sesekali lo handel sendiri apa gunanya lo jika masih bergantung sama dia," jelas Ari menyinggung David.
"Terus kapan rencana pernikahan lo," lanjut Ari lagi.
"Secepatnya, mungkin tiga bulan lagi."
"Kapan bertemu gw, lo telepon dia sekarang ajak kesini," lanjut Ari, mendengar ucapan Ari lagi-lagi Juna tersenyum.
"Dia tidak ada sedang liburan," ucap David dengan nada kecewa.
"Sayang banget, liburan dengan siapa," kata Ari lagi.
"Mantan pacarnya," kata David singkat.
Seketika mimik wajah Ari kaget bukan main mendengarnya dengan cepat Ari menatap David.
"What! Apa lo bilang, liburan dengan mantan pacarnya! Becanda lo," kata Ari kaget menatap David.
"Lo pikir mimik wajah gw becanda," jawab David jutek.
"Ko bisa, kenapa lo beri dia izin," kata Ari lagi tidak percaya..
"Tuh kuya yang menyuruhnya," kata David ketus menunjuk ke arah Juna.
Seketika Ari menoleh ke arah Juna, dan juna hanya menatap kaget ke arah David dan Ari.
"Lah ko salah gw sih, gw hanya menjalankan prosedur saja ko," kata Juna membela diri.
"Prosedur apa yang lo maksud!" balas David ketus.
David dan Juna pun terlibat perdebatan sengit, sedangkan Ari hanya menatap heran ke arah kedua sahabatnya itu.
"Gw hanya tidak mau jika dia itu semakin down, makanya gw izinin dia untuk refreshing agar dia tidak stress. Lo tidak melihat bagaimana dia down. Gw yang melihatnya saja ingin menangis," terang Juna ketus tidak mau kalah dengan nada sedikit meninggi.
Lagi-lagi David hanya terdiam dan Ari semakin bingung.
"Terus gw harus bagaimana! Gw harus isolasi dia di kamar agar dia makin stress dan semakin down gitu! Dan lo hanya bisa marah-marah sama gw, padahal ini semua salah lo," lanjut Juna dengan emosi meluap.
"Stop!" kata Ari melerai kedua sahabatnya itu, Juna dan David pun terdiam saling menatap.
"Gw tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi bisa tidak lo berdua jangan rusuh seperti ini. Ini tempat umum malu di lihat orang," bentak Ari.
"Dia yang mulai, sudah gw bilang gw tidak tau jika Gladis itu liburan dengan laki-laki itu. Kenapa juga lo harus marah, bukan lo Tidak peduli dengan dia," kata Juna lagi.
"Iya gw memang tidak peduli sama dia, tapi jika dia sampai hamil apa lo mau tanggung jawab," ucap David mulai meluap amarahnya.
Ari dan Juna kaget bukan main, sepertinya malam ini banyak kejutan bagi Ari.
"Hah hamil! Ini sebenernya ada apa sih, gw makin tidak mengerti dengan obrolan lo berdua. Coba deh jelasin ke gw apa yang terjadi sebenernya, bagaimana bisa Juna tanggung jawab jika Gladis hamil! Memangnya lo sudah tidur dengan Gladis Jun," kata Ari bingung menatap Juna.
"Enak saja bukan gw yang meniduri Gladis tapi David tuh secara paksa," kata Juna keceplosan bicara lagi.
"What!" teriak Ari kaget bukan main menatap Juna.
Orang yang ada di sekita mereka pun menoleh ke arah meja yang mereka duduki.
"Lo yakin Jun apa yang lo bilang!" tambah Ari penasaran.
"Lo tanya saja sama dia, apa yang sudah dia perbuat," kata Juna kepada Ari sambil menatap David.
Akhirnya David pun tidak ada pilihan lagi selain jujur kepada Ari, dia menceritakan semua kejadiannya kepada Ari.
MALAM HARI DI RUMAH SAKIT
Malam ini, Fadli sudah kembali dari Bandung ia sangat senang sekali akhirnya bisa cepat kembali dan segera mungkin bisa bertemu dengan Gladis seusai pulang liburannya nanti.
"Di," panggil seseorang di lobi rumah sakit ketika malam itu Fadli memutuskan untuk mampir ke rumah sakit dulu untuk mengambil sesuatu.
Fadli pun menoleh ternyata itu sahabat baiknya Ando.
"Baru balik lo," kata Ando menghampiri Fadli.
"Iya gw mau mengambil sesuatu yang tertinggal, lo sendiri jam segini belum balik," kata Ando balik tanya.
"Habis ada operasi 3 orang, ini baru mau balik."
"Ngopi dulu yuk," ajak Fadli dan Ando pun setuju dengan ajakan Fadli.
Ando dan Fadli pun memutuskan untuk pergi minum kopi di kantin rumah sakit sambil melepas penat sejenak karena perjalanan dari Bandung yang menyita waktu dan tenaga, begitu pun dengan Ando yang ada operasi 3 orang sekaligus membuatnya kelelahan.
"Bagaimana lo sudah dapat kabar dari Gladis," Ando memulai pembicaraan.
"Sudah kemarin dia sakit jadi tidak bisa menghubungi gw," ucap David.
"Sakit apa dia, parah tidak."
"Tidak hanya kecapean aja."
"Terus kenapa lo tidak langsung menemui dia."
"Dia sedang liburan bersama kakaknya," kata David singkat.
"Dia bukannya sedang sakit."
"Katanya ingin refreshing selagi ada kakaknya."
"Terus bagaimana, lo jadi melamar Gladis," tanya Ando ke pokok pembicaraan.
Fadli terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu, memikirkan bagaimana caranya bicara kepada orangtuanya Gladis. Ia takut jika orangtuanya Gladis kembali menolak Fadli.
"Jadi. Mungkin setelah Gladis pulang dari liburan gw akan bicara kepada Gladis, tapi gw ingin bicara kepada mama dan papa terlebih dahulu," ucap Fadli.
"Gw hanya bisa berdoa semoga lancar dan semoga orangtuanya Gladis bisa menerima lo."
"Amin terimakasih."
"Lo harus banyak sabar, gw yakin jika lo dan Gladis akan bersatu."
"Gw harap juga begitu, mudah-mudahan orangtuanya Gladis bisa menerima gw," kata Fadli berharap.
Memang itu yang tersulit bagi Fadli, sikap kedua orangtuanya terhadap Fadli. Tetapi Fadli harus berusaha agar ia bisa menikah dengan Gladis.
CAFE
Ari kaget bukan main mendengan cerita David, serta di tambah keterangan dari Juna. Ternyata ini masalahnya yang membuat mereka berdebat.
"Gila lo Vid, sampai melakukan seperti itu, pantas saja Gladis depresi. Terus jika orang tua lo dan Gladis tau bagaimana," kata Ari dengan mimik wajah panik.
"Nanti juga gw akan menikahi dia," kata David santai.
"Biasanya jika melakukan hal seperti ini atas suka sama suka, bukan secara paksa," kata Ari menceramahi David.
"Gw tidak sengaja," kata David singkat.
"Vid...Vid...ada-ada aja lo, terus kenapa lo tidak mencegah Gladis liburan dengan pacarnya," tanya Ari heran menatap David.
"Mana gw tau dia mau liburan, tuh kuya satu juga tidak bilang sama gw," tunjuk David pada Juna kesal.
"Lah ko gw lagi sih yang di salahkan, gw tidak tau dan gw bilang lo susul dia sana bawa balik lagi ke sini minta maaf sama dia, bukan hanya lo intip dia di status media sosialnya saja," saran Juna dengan emosi yang mulai meluap.
"Bener tuh Vid, gw setuju sama sarannya juna, lo susul dia ke sana," sambung Ari.
"Untuk apa! Tidak ada kerjaan saja, mungkin mereka sedang happy," tebak David.
"Lo tidak cemburu," tanya Ari menatap David dengan lekat.
"Gw cemburu! Untuk apa, biarkan saja suka-suka dia ko mau berbuat apa, yang terpenting gw orang pertama yang mendapatkan sesuatu yang berharga untuknya."
Mendengar ucapan David kedua sahabatnya itu hanya menggeleng kepalanya keheranan.
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham