Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap Menikah
BAB 23
Tetap Menikah
Daffa dan Dinda sama-sama mengembuskan napas lega setelah mendengar penuturan Sarah, ibu Dinda, yang kini terdengar ragu dengan apa yang sebenarnya ia lihat malam itu.
Ternyata, tidak ada apa pun seperti yang selama ini mereka pikirkan.
Begitu pula dengan Mayang dan Rendra. Kedua orang tua Daffa sedikit banyak merasa lega karena putra mereka ternyata tidak melakukan perbuatan bejat seperti yang sempat mereka tuduhkan.
Mayang bahkan menatap Daffa dengan perasaan campur aduk. Ia lega, tetapi juga merasa bersalah karena sempat mengira putranya telah melakukan sesuatu yang begitu buruk.
Sementara itu, Bagas hanya bisa menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ia menatap istrinya dengan tatapan pasrah. Semua kekacauan ini rupanya berawal dari Sarah yang kurang awas dalam melihat kejadian malam itu.
Namun masalah itu belum selesai. Mereka memang sudah mengetahui bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman, tetapi rencana pernikahan yang telanjur dibicarakan masih menggantung di antara kedua keluarga.
"Maafkan kami, Pak Rendra. Sepertinya, kami sudah salah paham terhadap nak Daffa dan kami..."
"Biar saja Pa, jangan di batalkan!" Kata Mayang menyela dengan lembut namun penuh penekanan.
"Loh Ma, kenapa?!" Rendra kebingungan dan bertanya kepada istrinya.
"Dari dulu Mama memang pengen Dinda jadi mantu kita Pa ." Jawab Mayang dengan santainya sambil tersenyum.
“Tapi Dinda masih sekolah, Ma.”
Dinda yang berada di dalam tubuh Daffa kembali menyela. Nada suaranya terdengar keberatan. Ia masih belum bisa menerima begitu saja kenyataan bahwa pembicaraan mengenai pernikahan tersebut ternyata bukan sekadar akibat kesalahpahaman.
Mayang justru menatapnya santai.
“Terus kenapa? Menikah bukan berarti harus sekarang juga.”
Dinda langsung terdiam. Jawaban sederhana itu malah membuatnya semakin tidak tahu harus berkata apa.
"Selesaikan dulu sekolahnya. Tinggal beberapa minggu lagi kan? Kamu juga tidak bisa lepas dari kesalahan karena masuk kamar anak gadis seenaknya."
"Bener Tante. Waktu itu Joan juga curiga mereka di dalam, kunci pintu pula."
Celetuk Joanda yang ternyata sedari tadi menyimak percakapan dalam pertemuan itu.
Dinda yang berada di tubuh Daffa membulatkan matanya mendengar saudara kembar beda 5 menitnya itu berkicau tanpa memandang situasi. Dinda ingin sekali menghampiri Joanda dan memberikan pukulan tapak naga geni ilmu orang sableng yang terkenal dulu. Namun ia terpaksa menahan diri karena sedang berada dalam tubuh Daffa.
Mayang tersenyum mendengar celetukan Joanda.
"Nih, dari pada mereka diam buat dosa di belakang kita, sebaiknya kita nikahkan mereka setelah Dinda tamat nanti." Ujar Mayang lagi.
"Saya setuju." Jawab Sarah.
Mengingat bagaimana kedekatan anaknya dan Daffa akhir-akhir ini, ia tidak ingin kecolongan kalau-kalau anaknya sampai hamil di luar nikah.
Dinda yang berada dalam tubuh Daffa segera mengeluarkan handphonenya dan mengirimkan pesan singkat kepada Daffa. Begitu terdengar notif pesan masuk, Daffa yang berada di tubuh Dinda pun melihat handphonenya dan membaca pesan yang dikirim oleh Dinda.
Dinda : Bang, lu harus hentikan para orang tua ini, Bang!
Hmm, balik lagi gue, elunya. Batin Daffa.
Daffa : Gue pikir, ada baiknya kita ikuti kata orang tua Cil.
Dinda : Lu manfaatin situasi ini kan, Bang?!
Daffa : Jujur, apa yang kita alami ini buat gue marasa bersalah. Pikirkan baik-baik Cil, kita sudah saling tahu luar dalam. Apa elu akan baik-baik aja kalau pasangan lu bukan gue? Karena itu, gue ingin bertanggung jawab atas elu.
Sesaat handphonenya Daffa kembali sunyi. Daffa dan Dinda saling pandang setelah berdebat sedikit lewat pesan singkat mereka.
"Jadi gimana Pa, Pak Bagas?" Tanya Mayang yang sedikit tidak sabar ingin tahu hasil keputusan akhir mereka.
"Tidak tanya anak-anak lagi Ma?" Tanya Rendra.
Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda menajamkan sorot matanya ke arah Dinda yang kini berada di dalam tubuhnya.
Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Dinda masih tampak ragu dengan semua yang sedang dibicarakan. Tatapan Daffa seolah memberi isyarat agar gadis itu tidak terburu-buru menolak, mengingat mereka belum mengetahui bagaimana keputusan ini akan memengaruhi keadaan mereka ke depannya.
Dinda yang menangkap tatapan tersebut hanya terdiam. Namun, bukannya merasa tenang, keraguan di dalam hatinya justru semakin besar.
Daffa pun kembali mengetikkan pesan singkat dan mengirimnya kepada Dinda.
Daffa : Yuk... nikah, Cil.
Pesan itu pun segera di baca oleh Dinda. Dan pada saat bersamaan, Daffa pun berkata...
"Dinda setuju."
Tentu jawaban Daffa itu membulatkan mata Dinda.
"Nah..., calon mantu yang cantik Mama sudah setuju. Kamu Daffa kok diem aja?!"
Pada akhirnya Dinda yang berada di tubuh Daffa memejamkan mata sesaat kemudian menjawab...
"Baiklah Ma, Daffa setuju."
Semua tampak lega dan tersenyum atas jawaban anak-anak mereka. Barulah suasana yang tadinya tegang kini mulai mencair perlahan. Obrolan santai dan hangat pun mulai tercipta. Baik keluarga Daffa maupun Dinda sepertinya tidak ada yang menolak menikahkan anak-anak mereka di usia muda.
"Om, Tante, karena Dinda masih muda, nggak apa-apa kan kalau Dinda menyelesaikan pendidikan sampai sarjana?" Tanya Daffa untuk menenangkan hati Dinda.
"Oh, harus itu! Biarpun kalian menikah muda, pendidikan tetap harus sampai ke jenjang yang kalian inginkan."
"Maksudnya Om, Tante, nggak ingin minta cucu di saat Dinda masih mengenyam pendidikan, kan?" Tanya Daffa lagi.
"Ehem. Kalau itu lihat situasi nanti. Ya kan Sarah?"
"Bener, Mbak Mayang."
Daffa hanya bisa bengong melihat Mamanya dan Tante Sarah yang ternyata kompak dalam situasi seperti ini. Ia tidak menyangka kedua perempuan itu justru begitu antusias membicarakan pernikahan mereka.
Daffa sempat ingin bertanya lagi, tetapi setelah melihat keduanya sudah satu suara, ia merasa percuma memperpanjang perdebatan.
Akhirnya, Daffa memilih diam. Ia menyandarkan tubuhnya dan kembali mendengarkan percakapan para orang tua, sambil sesekali melirik ke arah Dinda yang masih terlihat gelisah.
"Jadi, sudah di tetapkan ya, Sarah. Mereka akan menikah setelah Dinda tamat sekolah nanti."
"Ya, Mbak Mayang, sebaiknya begitu."
"Berarti sekitar kurang dari dua bulan lagi ya. Sebaiknya, kita mempersiapkannya dari sekarang sedikit demi sedikit."
"Saya setuju, Mbak Mayang."
Dinda hanya bisa melengos melihat ibunya yang seolah menyetujui begitu saja hampir semua pendapat Mayang. Rasanya tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah menghadapi pembicaraan kedua keluarga yang semakin mengarah pada satu keputusan.
Pada akhirnya, keputusan pun dibuat. Mereka tetap akan menikah.
Hingga hampir pukul sembilan malam, keluarga Daffa memutuskan untuk berpamitan pulang setelah pembicaraan mereka selesai.
Begitu suasana kembali sepi, Daffa dan Dinda pun masuk ke kamar masing-masing.
Daffa yang berada di tubuh Dinda langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Begitu pula Dinda yang berada di tubuh Daffa, juga merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih sulit menerima kenyataan.
Mereka masih tertukar tubuh. Masalah itu saja masih belum terselesaikan. Namun, sekarang muncul masalah yang jauh lebih besar. Mereka akan segera menikah.
Daffa mengembuskan napas panjang. Sementara di tempat lain, Dinda melakukan hal yang sama. Sepertinya, malam itu mereka berdua akan sulit memejamkan mata.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu