Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 023: Kebangkitan Kekuatan dan Hilangnya Kabut Beku
Pertarungan Seraphina melawan Morrina semakin sengit. Keduanya mengerahkan kekuatan penuh, tak ada yang mau mengalah. Serangan saling bertabrakan, memecah udara dingin dan meledakkan pecahan es ke segala arah.
Seraphina sesekali melirik ke belakang; hatinya perih melihat Kaelan makin lemah. Wajahnya pucat, napas tersengal, dan bercak biru di lengannya terus merambat naik ke dada.
"Dia pasti menyembunyikan penawarnya. Harus aku dapatkan sekarang sebelum terlambat," batinnya, tekad membara di tengah kecemasan.
Seraphina menatap Morrina tajam. "Baiklah, jika kau tak mau memberi penawar, aku akan mengambilnya sendiri secara paksa."
Morrina tersenyum sinis. "Coba saja, gadis kecil, kalau kau mampu."
Seraphina tersenyum tipis, senyum yang seketika mencekam suasana. Perlahan ia melepas gelang di pergelangan tangannya, gelang yang selama ini menyegel kekuatan aslinya.
Saat gelang itu terlepas, aura merah menyala meledak dari tubuhnya. Seraphina memejamkan mata, memusatkan tenaga dalam hingga bayangan raksasa Srigala Merah Legendaris muncul di belakangnya, matanya menyala bagai api membara.
"Terima ini!"
Ia mengangkat tangan. Srigala itu meraung keras lalu melesat bagai kilat. Morrina segera membentangkan dinding es tebal puluhan jengkal, namun kekuatan Seraphina jauh melampaui dugaan. Dinding itu hancur seketika; Morrina terpental menghantam tebing dan terjatuh terluka parah.
Seraphina mendekat dengan tenang namun cepat. Ia meraba pakaian Morrina dan menemukan botol kecil berisi cairan putih berkilau, penawar racun yang dicarinya.
Seraphina segera berlari ke sisi Kaelan. "Minumlah ini, cepat!"
Kaelan meminumnya tanpa ragu. Tak lama tubuhnya tersentak hebat, ia memuntahkan darah hitam pekat ke tanah. Bercak biru di lengannya perlahan memudar, napas kembali teratur, dan wajah pucatnya berangsur pulih.
Seraphina menghela napas lega. "Bagaimana keadaanmu, Kae?"
Kaelan mencoba tersenyum. "Aku baik-baik saja, Tuan Putri. Terima kasih banyak."
Belum sempat beristirahat, tawa dingin tiba-tiba terdengar dari belakang. Morrina bangkit berdiri, meski terluka, matanya masih memancarkan kebencian. "Jangan merasa menang dulu! Aku belum kalah!"
Seraphina menoleh perlahan, tatapannya tajam. "Tetaplah di sini, Kaelan. Biar aku yang menyelesaikannya." Ia menatap lurus ke arah penyihir itu. "Karena kau sendiri yang menginginkannya, akan kukabulkan permintaanmu itu."
Pertarungan kembali berkecamuk, kali ini jauh lebih dahsyat. Morrina melemparkan rentetan sihir es mematikan, namun Seraphina menghindarinya dengan lincah dan tenang. Kekuatan penuh Srigala Merah yang kini terlepas tak tertandingi oleh siapa pun di sini.
“Cukup!” Seraphina melepaskan serangan pamungkas. Cahaya merah menyala menghantam Morrina; tubuhnya hancur perlahan lalu lenyap menjadi kepulan asap yang terbang terbawa angin.
Bersama hilangnya Morrina, kabut es yang menyelimuti hutan itu pun perlahan menghilang, digantikan oleh cahaya matahari yang mulai menembus celah dedaunan.
Seraphina berjalan kembali ke sisi Kaelan dan duduk di sampingnya. "Kau sudah benar-benar baik-baik saja?"
"Iya, Tuan. Aku sudah pulih," jawab Kaelan dengan nada rendah. "Maafkan aku... seharusnya akulah yang melindungimu, justru sebaliknya, Tuan Putri yang melindungiku."
Seraphina tersenyum lembut lalu menepuk pundak Kaelan pelan. "Tak apa. Sekarang giliranku untuk melindungimu. Dulu, saat aku masih kecil dan belum memiliki kekuatan sekuat sekarang, kaulah yang selalu melindungiku dari segala bahaya."
Kata-kata itu membuat Kaelan terdiam, hatinya terasa hangat. Di tengah perjalanan yang berbahaya ini, ikatan persaudaraan di antara mereka semakin kuat, dan mereka tahu, apa pun yang terjadi, mereka akan selalu saling menjaga.