"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 23
"Kecuali kamu bersedia menceritakan kepadaku, rahasia apa yang baru saja disembunyikan oleh sepasang mata buta istriku di belakang punggungku tadi," ancam Arga dengan suara bariton yang menggema di setiap sudut ruang kerja yang terkunci itu.
Udara di dalam ruangan seketika terasa lenyap. Tasya menelan ludah dengan susah payah, punggungnya menekan daun pintu kayu yang kini telah menjadi dinding penjara baginya. Matanya bergerak liar, menatap kunci yang baru saja dimasukkan Arga ke dalam saku jasnya.
"R-rahasia apa yang kau maksudkan, Arga? Kirana sama sekali tidak melakukan apa pun. Dia hanya menoleh ke arahku karena terkejut mendengar isak tangisku," jawab Tasya dengan suara yang bergetar hebat. Ia meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau berbohong, Tasya," desis Arga, melangkah satu tindak lebih dekat. Tubuhnya yang tinggi tegap benar-benar menjulang mengintimidasi wanita di hadapannya. "Aku sangat mengenal istriku. Dan aku sangat mengenal makna dari ekspresi ketakutan yang terpampang jelas di wajahmu saat ini. Kau melihat sesuatu. Sesuatu yang membuatmu menyadari bahwa ada yang tidak beres di dalam ruangan ini."
"Satu-satunya hal yang tidak beres di ruangan ini adalah sikapmu, Arga! Kau mengunci seorang tamu di dalam ruang kerjamu sendiri! Buka pintu ini sekarang juga, atau aku akan berteriak meminta pertolongan!" ancam Tasya, memaksakan sedikit keberanian yang tersisa di dalam hatinya.
Arga justru tertawa. Sebuah tawa rendah yang terdengar sangat meremehkan. "Berteriaklah sekeras yang kau mampu, Tasya. Seluruh pekerja di rumah ini sedang tidak ada. Dinding ruangan ini kedap suara. Tidak akan ada satu pun pahlawan yang datang menyelamatkanmu sebelum kau membuka mulutmu dan menceritakan kebenaran kepadaku."
Di atas sofa, Kirana menyadari bahwa sahabatnya tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi di bawah tekanan psikologis seorang manipulatif ulung seperti Arga. Jika Tasya hancur dan membocorkan rahasianya, maka rencana pembalasan dendamnya akan gugur, dan nyawa mereka berdua akan berakhir di gudang bawah tanah itu hari ini juga.
Ia harus bertindak sekarang. Kirana harus menggunakan senjata yang baru saja Arga ciptakan untuknya: Sebuah ilusi kegilaan.
"Sayang... Suara apa itu?" potong Kirana tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat parau dan dipenuhi oleh getaran ketakutan yang teramat sangat.
Perhatian Arga sedikit teralihkan. Ia menoleh ke arah istrinya yang kini sedang meringkuk di sudut sofa sambil menutup kedua telinganya dengan rapat.
"Suara apa yang kau maksudkan, Istriku? Hanya ada suara perbincanganku dengan sahabatmu di ruangan ini," jawab Arga, matanya masih menyipit penuh kecurigaan.
"Bukan! Bukan suara kalian, Sayang! Ada suara lain... Suara langkah kaki yang menyeret sesuatu di atas lantai... Suaranya berasal dari balik punggung Tasya!" jerit Kirana secara histeris. Ia menunjuk ke arah ruang kosong tepat di sebelah Tasya dengan jari yang bergetar hebat.
Arga mengerutkan keningnya. "Kirana, tenangkan dirimu. Tidak ada siapa pun di sana. Ini hanyalah salah satu dari halusinasimu yang kembali muncul."
"Kau berbohong, Arga! Mataku memang buta, tetapi telingaku tidak tuli! Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas! Suara tangisan seorang wanita tua... Sayang, dia menangis meminta tolong! Wajahnya... wajahnya hancur berlumuran darah!"
Kirana mulai merancau tidak karuan. Ia menjambak rambutnya sendiri, membiarkan jepit rambutnya terlepas dan jatuh ke lantai. Ia memerankan sosok penderita skizofrenia yang sedang mengalami episode halusinasi akut dengan sangat sempurna.
Tasya, yang awalnya merasa kebingungan, mulai menyadari apa yang sedang dicoba lakukan oleh sahabatnya. Ia menangkap sinyal penyelamatan itu.
"Kirana?! Apa yang sedang kau bicarakan?! Ya Tuhan, Arga, apa yang telah kau lakukan kepada sahabatku?! Mengapa kondisi mentalnya menjadi sehancur ini?!" teriak Tasya, ikut menambah kekacauan di dalam ruangan tersebut.
"Diam kau, Tasya!" bentak Arga. Pria itu mulai terlihat panik. Ia bergegas menghampiri sofa dan mencoba meraih pundak Kirana. "Sayang, tatap wajahku! Ini aku, suamimu! Tidak ada wanita tua di ruangan ini! Kau sedang berhalusinasi!"
"Jangan sentuh aku!" jerit Kirana, menepis tangan suaminya dengan kekuatan penuh hingga tubuhnya sendiri terjatuh dari atas sofa.
Kirana merangkak mundur, menjauhi Arga, dan dengan sengaja menabrakkan tubuhnya ke meja kerja. Tangannya meraba-raba permukaan meja dengan liar, hingga jemarinya berhasil menggenggam sebuah pisau pembuka surat berbahan kuningan yang sangat tajam.
"Sayang! Letakkan benda itu sekarang juga!" seru Arga, matanya membelalak ngeri melihat istrinya menodongkan senjata tajam itu ke arah lehernya sendiri.
"Wanita tua itu terus berbisik kepadaku, Arga! Dia mengatakan bahwa Tasya adalah pembawa sial! Dia mengatakan bahwa Tasya bersekongkol dengan wanita yang ingin merebut hartaku!" Kirana berteriak seraya mengarahkan ujung pisau itu tepat ke pembuluh darah di lehernya. "Usir dia dari rumah ini, Sayang! Usir Tasya sekarang juga, atau aku akan mengakhiri hidupku detik ini juga!"
"Kirana, kumohon jangan lakukan hal sebodoh itu! Aku tidak bersekongkol dengan siapa pun!" tangis Tasya, benar-benar merasa ketakutan melihat aksi nekat sahabatnya, meskipun ia tahu ini semua adalah sebuah sandiwara.
Arga berada dalam posisi yang sangat terjepit. Rencana pengalihan seluruh aset dan harta kekayaan Kirana belum sepenuhnya selesai secara hukum. Jika istrinya bunuh diri hari ini, maka seluruh warisan itu akan jatuh ke tangan yayasan amal sesuai dengan surat wasiat mendiang ayah Kirana. Ia akan kehilangan segalanya.
"Baiklah! Baiklah, Sayang! Aku akan mengusirnya sekarang juga! Turunkan pisau itu, aku mohon padamu!" bujuk Arga, merentangkan kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
Pria itu membalikkan badannya dengan kasar ke arah Tasya. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kunci, dan membuka pintu ruang kerja itu dengan kasar.
"Keluar dari rumahku sekarang juga, Tasya! Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di hadapan istriku!" desis Arga seraya menarik lengan Tasya dengan kasar dan mendorong wanita itu keluar dari ruangan.
"Lepaskan aku, Arga! Kau telah merusak kewarasan sahabatku! Aku bersumpah akan melaporkan hal ini!" ancam Tasya sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang hampir terjatuh.
"Laporkan saja apa yang ingin kau laporkan! Polisi hanya akan melihat seorang suami yang sedang merawat istrinya yang mengalami gangguan jiwa berat! Keluar!"
Arga menutup pintu itu dengan bantingan yang luar biasa keras, lalu menguncinya kembali dari dalam. Ia berdiri dengan napas yang memburu, menatap Kirana yang masih memegang pisau kuningan itu di lehernya, terisak-isak di sudut ruangan.
"Tasya sudah pergi, Sayang. Rumah ini sudah kembali aman. Tidak ada wanita tua, tidak ada pengkhianat. Hanya ada kau dan aku," ucap Arga dengan nada yang kembali melembut secara drastis, mendekati istrinya dengan langkah yang sangat perlahan dan berhati-hati.
"Benarkah dia sudah pergi, Sayang? Suara tangisan itu... suara itu sudah mulai menghilang," isak Kirana, perlahan-lahan menurunkan tangannya yang memegang pisau.
Dengan sigap, Arga merebut pisau tersebut dan melemparkannya jauh ke sudut ruangan. Pria itu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat.
"Aku sudah mengatakan kepadamu, Sayang. Kondisi kejiwaanmu sedang sangat tidak stabil. Kau membutuhkan istirahat yang sangat panjang," bisik Arga, mengelus rambut istrinya yang berantakan.
'Kau benar-benar seorang monster manipulatif yang luar biasa, Arga. Namun kali ini, akulah yang berhasil memanipulasi,' batin Kirana tersenyum sinis di dalam pelukan pria pembunuh itu.
"Bawalah aku kembali ke kamar, Sayang. Kepalaku terasa ingin pecah. Aku membutuhkan obat penenangku," pinta Kirana dengan suara yang sangat lemah.
Arga membopong tubuh istrinya, membawanya keluar dari ruang kerja, dan meletakkannya dengan hati-hati di atas ranjang kamar mereka. Pria itu mengambil dua butir pil dari dalam botol obat yang diresepkan oleh Dokter Alibie, dan menyodorkannya ke bibir Kirana beserta segelas air putih.
Kirana menelan pil tersebut, namun dengan menggunakan trik yang telah ia latih berkali-kali, ia menyembunyikan pil itu di bawah lidahnya, hanya menelan air putihnya saja.
"Tidurlah, Istriku yang malang. Aku akan berjaga di sampingmu," ucap Arga seraya menarik selimut hingga menutupi dada Kirana.
Kirana perlahan memejamkan matanya. Ia mengatur ritme napasnya menjadi sangat teratur, memerankan seseorang yang telah jatuh ke dalam pengaruh obat penenang dosis tinggi. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya Kirana yakin bahwa Arga telah menurunkan kewaspadaannya.
Di sisi lain ranjang, Arga menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa sangat lelah. Sandiwara ini mulai menguras banyak energinya.
Tiba-tiba, keheningan kamar itu dipecahkan oleh suara getaran yang sangat keras dari dalam saku jas Arga.
Arga mengeluarkan ponsel pribadinya. Matanya menyipit saat melihat nama yang tertera di layar: Bapak Wijaya - Investor Utama Larasati Corp.
Dengan gerakan cepat agar tidak mengganggu tidur istrinya, Arga melangkah keluar menuju balkon kamar dan menutup pintu kaca di belakangnya. Kirana, yang masih berbaring, perlahan membuka sebelah matanya, mempertajam pendengarannya untuk menangkap pembicaraan suaminya.
"Selamat siang, Bapak Wijaya. Sungguh sebuah kehormatan menerima panggilan dari Anda di siang hari ini. Apakah ada hal yang bisa saya bantu?" sapa Arga dengan nada profesional yang dipalsukan.
Suara di seberang telepon terdengar sangat keras dan penuh dengan kemarahan, hingga menembus celah pintu balkon yang tertutup.
"Jangan berani-beraninya kau berbicara dengan nada manis seperti itu kepadaku, Arga! Penipuan macam apa yang sedang kau jalankan di dalam perusahaanku?!" bentak Wijaya.
"P-penipuan? Saya sama sekali tidak memahami maksud perkataan Anda, Bapak Wijaya. Perusahaan sedang berjalan dengan sangat stabil," jawab Arga, suaranya mulai memancarkan kepanikan.
"Stabil kau bilang?! Baru saja aku menerima sebuah laporan investigasi internal dari sumber yang sangat tepercaya! Laporan itu menyatakan bahwa direksi baru telah menggelapkan lebih dari setengah dana cadangan operasional ke sebuah rekening luar negeri secara ilegal! Apakah kau sedang berusaha untuk merampok kami secara terang-terangan?!"
"Bapak Wijaya, kumohon dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu! Itu adalah sebuah kesalahan sistem! Seseorang telah meretas sistem keamanan kami pagi ini. Sekretaris saya sedang mengurus segala kekacauan ini, saya berani menjamin bahwa dana Anda sangat aman!" kilah Arga, keringat dingin mulai mengalir membasahi pelipisnya.
"Aku tidak membutuhkan omong kosongmu, Arga! Fakta di lapangan menunjukkan bahwa nilai saham Larasati Corp sedang terjun bebas pada bursa saham siang ini! Seluruh vendor utama telah membatalkan kontrak kerja sama mereka!"
"Apa?! Membatalkan kontrak kerja sama?!" Arga berseru dengan suara tertahan, matanya membelalak lebar.
"Aku menarik seluruh dana investasiku hari ini juga, Arga! Dan aku pastikan, para investor lainnya akan melakukan hal yang sama! Bersiaplah menghadapi tuntutan hukum dari kami atas dasar penggelapan dana dan penipuan! Kau akan membusuk di penjara!"
Klik.
Sambungan telepon diputuskan secara sepihak.
Ponsel di tangan Arga merosot, hampir saja terjatuh ke atas lantai balkon. Wajah pria itu seketika berubah pucat seperti mayat.
Seluruh kekayaan, kekuasaan, dan perusahaan yang telah ia perjuangkan dengan darah dan kebohongan, tiba-tiba hancur berkeping-keping di depan matanya hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
Di dalam kamar, di atas ranjang yang empuk, Kirana membuka kedua matanya dengan sempurna. Ia memuntahkan pil penenang yang sedari tadi ia sembunyikan di bawah lidahnya ke atas selembar tisu.
Sebuah senyuman yang sangat elegan, berkelas, dan mematikan menghiasi wajah pewaris tunggal Larasati Corp tersebut.
'Rencana Eksekusi Tahap Kedua telah berjalan dengan sempurna. Selamat datang di nerakamu, Suamiku.'
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,