NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 - Talenta Tersembunyi

Kertas kecil bertuliskan **Aku di sini** tidak Keiko buang.

Dia melipatnya rapi, menyelipkannya di halaman belakang buku matematika, tepat di antara daftar rumus trigonometri dan catatan Kelvin yang masih penuh coretan salah. Setiap kali membuka buku itu, ujung kertas kecil tersebut terlihat sedikit. Tidak mencolok. Tidak perlu dibaca orang lain.

Cukup Keiko yang tahu.

Selama tiga hari berikutnya, Kelvin tidak banyak bicara soal rumahnya, dan Keiko tidak banyak bicara soal rumah sakit. Mereka kembali menjadi dua orang yang duduk di bangku yang sama, saling menggeser buku, saling mengingatkan minum, saling berbohong dengan cara yang lebih pelan.

Ponsel Kelvin akhirnya diganti pada hari kedua.

Bukan ponsel bagus. Layarnya lebih kecil, casing belakangnya lecet, dan kamera depannya buram seperti selalu berkabut. Bagas tertawa begitu melihatnya.

"Bang Kel, ini HP apa? Warisan zaman batu?"

Kelvin menatapnya datar. "Mau gue lempar ke muka lu?"

"Nggak jadi. Bagus kok. Vintage."

Dimas menghela napas. "Jangan ganggu orang baru kehilangan HP."

Bagas langsung menoleh. "Nah, itu dia. Gue kan lagi empati."

"Empati lu berisik."

Keiko menunduk, pura-pura merapikan catatan. Sudut bibirnya bergerak sedikit. Di sebelahnya, Kelvin membuka ruang chat mereka, lalu mengirim satu pesan pendek.

**Kelvin**: Sudah bisa.

Ponsel Keiko bergetar di atas meja.

Keiko membalas tanpa melihatnya terlalu lama.

**Keiko**: Bagus. Jangan sering dibanting lagi.

Kelvin meliriknya.

Keiko menatap papan tulis dengan wajah sangat tenang.

Untuk pertama kalinya sejak malam rumah sakit itu, Kelvin benar-benar hampir tertawa.

Istirahat siang berubah menjadi lebih ramai ketika Pak Arif menempelkan pengumuman di papan kelas. SMA Bina Bangsa akan mengadakan pentas seni semester depan. Setiap kelas diminta mengirim minimal satu penampilan. Ada band, tari, monolog, drama pendek, atau bentuk lain yang disetujui panitia.

Tulisan `minimal satu penampilan` membuat anak-anak XI-IPA 4 langsung ribut.

"Band aja!" seru Fajar.

Putri menatapnya dari barisan depan. "Siapa yang nyanyi?"

Fajar menunjuk dirinya sendiri.

Hening satu detik.

Anisa bertepuk tangan pelan. "Aku dukung kamu percaya diri, Jar. Tapi aku juga sayang telinga orang satu sekolah."

Tawa langsung pecah.

Fajar memegangi dada. "Kejam banget kalian."

Bagas, yang merasa menemukan panggung baru, berdiri sambil mengangkat pulpen seperti mikrofon. "Kalau begitu, gue bisa rap."

Dimas menarik ujung seragamnya sampai Bagas duduk lagi. "Tidak."

"Belum juga denger."

"Justru karena belum, kita semua masih selamat."

Keiko ikut tertawa pelan. Di tengah suasana seperti itu, pengumuman pentas seni terdengar seperti hal biasa yang dimiliki anak sekolah biasa. Bukan hasil lab, bukan jadwal obat, bukan pesan Mama yang datang seperti perintah darurat.

Nadia, yang duduk di dekat jendela, melipat tangan. "Kalau nggak ada yang punya bakat, kelas kita kirim video Fajar gagal nyanyi. Komedi juga seni."

Fajar menunjuknya. "Nadia, gue pikir lu orang baik."

"Salah pikir."

Pak Arif membiarkan kelas ribut sebentar sebelum mengetuk papan. "Diskusi boleh, tapi daftar penampilan harus masuk minggu ini. Jangan sampai kelas kita tidak mengirim apa pun."

Setelah itu, bukan diskusi yang terjadi, melainkan kepanikan bertahap.

Saat pulang sekolah, Bagas mengajak mereka ke kantin dulu dengan alasan perlu `rapat kreatif`. Rapat itu berakhir dalam sepuluh menit karena Fajar terus menyarankan ide aneh, Putri menolak semua yang berpotensi memalukan, dan Anisa sibuk membuat daftar orang yang bisa dipaksa ikut.

Kelvin duduk di sudut meja, satu tangan memegang botol air mineral. Pipi kirinya sudah tidak terlalu merah, tetapi bekas di sudut bibir masih terlihat jika cahaya jatuh tepat.

Keiko pura-pura tidak melihat terlalu sering.

"Kelas kita buntu," kata Bagas akhirnya. "Sambil mikir, mabar dulu lah."

Dimas menatapnya. "Rapat kreatif berubah jadi Mobile Legends?"

"Otak butuh pemanasan, Dim."

"Otak lu butuh instal ulang."

Meski mengomel, Dimas tetap mengeluarkan ponsel. Fajar dan Anisa ikut. Putri menolak bermain tetapi mau menonton, sementara Nadia hanya mengangkat bahu dan membuka game di ponselnya dengan wajah tanpa dosa.

Bagas melirik Keiko. "Kei, lu main nggak?"

Keiko menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"

"Iya. Biar tim lengkap."

"Aku sudah lama tidak main."

Kelvin menoleh. "Kamu bisa main?"

Keiko tampak ragu sebentar. "Sedikit."

Kata `sedikit` dari Keiko ternyata berarti hal yang berbeda.

Lima menit kemudian, Bagas hampir menjatuhkan es tehnya karena hero Keiko masuk dari semak, memotong jalan lawan, lalu menyelamatkan Dimas yang tinggal sedikit darah. Nadia, yang sejak awal bermain dengan wajah malas, mengangkat alis untuk pertama kalinya.

"Kei," kata Bagas dengan suara pelan, "lu bilang sedikit?"

Keiko menggigit sedotan susu kotak, matanya tetap di layar. "Sudah lama."

"Kalau sudah lama aja begini, dulu lu apa? Atlet e-sport?"

"Nggak." Keiko menggeser jari dengan tenang. "Dulu sering sendirian di rumah."

Kalimat itu keluar ringan, tetapi meja kantin mendadak sedikit lebih sepi.

Kelvin melihat ke layar ponselnya. Di game, karakter Keiko bergerak rapi, tidak terburu-buru, menunggu timing yang tepat. Persis seperti caranya hidup. Tidak pernah berisik, tetapi saat bergerak, selalu tepat mengenai tempat yang penting.

"Kiri," kata Kelvin.

Keiko langsung menggeser arah.

"Tunggu."

Keiko berhenti.

"Sekarang."

Serangan mereka masuk bersamaan.

Di layar, tulisan kemenangan muncul.

Bagas berdiri sampai kursinya mundur. "Gila! Nona Guru ternyata barbar!"

Fajar ikut bersorak. Anisa tertawa sambil menepuk meja. Bahkan Nadia berkata pendek, "Lumayan."

Dimas menatap Bagas. "Itu pujian tertinggi dari Nadia."

Keiko menurunkan ponsel, pipinya sedikit hangat. "Itu hanya game."

Kelvin mengambil susu kotaknya yang hampir kosong, menggantinya dengan botol air hangat dari tas Keiko, lalu mendorongnya mendekat. "Minum."

Keiko menatap botol itu. "Aku baru menang."

"Menang nggak bikin lambungmu kebal."

Bagas langsung menunjuk mereka berdua. "Lihat, ini baru chemistry panggung. Kita daftarkan aja mereka buat tampil debat pernikahan."

Keiko tersedak sedikit.

Kelvin menatap Bagas. "Lu mau hidup sampai pensi nggak?"

Bagas duduk lagi dengan patuh. "Mau."

Sore itu Keiko pulang ke studio Kak Sari karena Bu Tuti harus kembali ke rumah sakit mengantar dokumen untuk Lilian. Studio di dekat Dago itu selalu punya bau khas, campuran kopi, kertas foto, dan parfum Kak Sari yang agak pedas. Di sudut ruangan, ada beberapa properti pemotretan, kain, kursi kayu, dan satu kotak sepatu lama.

Keiko berhenti di depan kotak itu.

Tutupnya sedikit terbuka. Di dalamnya ada sepatu tari kanvas berwarna krem dan selendang tipis ungu muda.

Kak Sari, yang sedang memilih foto di laptop, mengikuti arah pandang Keiko. "Masih inget?"

Keiko berjongkok, menyentuh ujung selendang. Kain itu dingin di jarinya.

"Aku kira Kak Sari sudah buang."

"Gila aja. Itu saksi mata gue pernah jadi sopir anak SMA kabur latihan tari."

Keiko tersenyum kecil. Dulu, sebelum tubuhnya sering menolak makanan dan sebelum jadwal dokter mengambil alih kalender, dia pernah mengikuti kelas tari kontemporer di sanggar kecil. Tidak lama. Tidak resmi. Hanya beberapa bulan, setiap kali Mama dan Papa sibuk, Kak Sari menjemputnya dengan motor dan berkata, `Ayo, Kei-kei, hari ini kita jadi manusia bebas.`

"Sekolah ada pentas seni," kata Keiko.

Tangan Kak Sari berhenti di atas touchpad.

"Jangan bilang kamu mau tampil."

Keiko tidak menjawab.

Kak Sari memutar kursi, menatapnya penuh. "Kei-kei."

"Cuma satu lagu."

"Tubuh kamu bukan tubuh dua tahun lalu."

"Aku tahu."

"Kalau pingsan di panggung?"

Keiko menggenggam selendang ungu itu. Dari jendela studio, langit Bandung mulai gelap, tetapi lampu-lampu kecil di jalan sudah menyala. Dia teringat kembang api kawat di kelas, susu hangat dari saku jaket, kertas kecil bertuliskan **Aku di sini**, dan suara teman-temannya tertawa saat dia menang game.

"Aku cuma ingin mereka melihat aku melakukan sesuatu yang aku suka," katanya pelan. "Bukan cuma melihat aku sebagai murid yang nilainya bagus."

Kak Sari menatapnya lama. Ketajaman di wajahnya perlahan retak menjadi sesuatu yang lebih lembut.

"Kalau kamu tetap mau, gue yang pilih lagu. Gue juga yang atur gerakan supaya nggak bikin kamu tumbang."

"Kak Sari."

"Apa? Itu syarat."

Keiko mengangguk. "Iya."

Keesokan paginya, ketika Anisa kembali berkeliling membawa kertas pendaftaran pentas seni dan semua orang masih saling menunjuk, Keiko mengangkat tangan.

Kelas langsung sepi.

Putri menoleh. "Keiko?"

Keiko menarik napas pelan. Di bawah meja, kertas kecil dari Kelvin terselip di buku matematikanya.

"Aku bisa menari sedikit," katanya.

Pulpen Kelvin berhenti di atas kertas.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!