NovelToon NovelToon
Sword Wanderer Live'S Stream

Sword Wanderer Live'S Stream

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Anak Genius
Popularitas:188
Nilai: 5
Nama Author: EAGLE EZ

Satu... dua... tiga..."

​Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.

​[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]

​"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32.logika labirin

"Dua belas menit tersisa," Ren melirik indikator waktu di sudut visinya. Layar holografis memancarkan warna merah yang semakin pekat, seirama dengan detak jantungnya yang kian memburu. ****.

Di depan mereka, jalur hutan ungu metalik itu bercabang menjadi tiga terowongan vegetasi yang gelap. Bau oli terbakar dan raungan *Cyber-Beasts* terdengar menggema dari ketiga arah tersebut, membuat ilusi suara yang mengacaukan arah pendengaran.

"Sial, monster-monster itu mengepung kita dari belakang!" teriak Aria. Jaket hitamnya kini sedikit tergores, dan napasnya memburu cepat. Pedang laser fuchsia di tangannya berdesing rendah, memantulkan keringat yang menetes dari dagunya. "Ren! Jalur mana yang harus kita ambil?! Cepat putuskan!"

Tyson, yang dipapah oleh Yuna, mengerang kesakitan. Luka cakar di dadanya telah dibalut dengan perban gel medis darurat oleh Yuna, tetapi wajah pria berotot itu sudah sepucat kertas. "Kita... kita akan mati di sini..." gumamnya frustrasi, kehilangan seluruh arogansinya.

"Luna," Ren mengabaikan kepanikan Tyson dan berbalik menatap gadis berkerudung di sampingnya. "Tadi kamu bilang kamu mengenali kode di menara ini saat kita pertama kali datang. Apa kamu bisa memindai struktur tiga jalur di depan?"

Luna tersentak. Dia menarik tudung *hoodie*-nya lebih rendah, menyembunyikan wajahnya yang merona karena perhatian mendadak dari Ren. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia memproyeksikan sebuah kibor virtual transparan dari pergelangan tangannya—sebuah fungsi bawaan sistem yang baru dia temukan.

"Aku... aku akan coba," jemari Luna bergerak dengan kecepatan luar biasa. Karakter-karakter kode *Sci-Fi* terpantul di pupil mata biru pucatnya. "Jalur kiri memiliki kepadatan energi termal paling tinggi... artinya ada terlalu banyak monster di sana. Jalur tengah... jalurnya bersih, tapi—"

"Tapi itu jebakan," potong Ren cepat.

"Eh?" Luna mendongak, terkejut.

"Ini adalah struktur *game design* tipe distopia," analisis Ren, matanya menyapu tajam ke arah langit-langit simulasi di mana puluhan *drone* kamera melayang. "Pikirkan dari sudut pandang *The Director* dan para penonton. Jalur yang terlihat paling aman di tengah situasi panik adalah umpan terbaik untuk menciptakan 'drama kematian' yang disukai penonton galaksi. Jika kita lewat tengah, kita pasti dihabisi oleh jebakan lingkungan."

* [Chrono-Trigger]: Wah, pemuda ini benar-benar membaca isi kepala kreator *game*!

* [Zeta-99]: Menarik. Kebanyakan manusia dari planet itu akan langsung berlari ke jalur tengah yang kosong karena ketakutan.

* **[System Notification]: Views stability high. Chat activity increasing!**

"Lalu kita harus lewat jalur kanan?" tanya Yuna tenang, meskipun tangannya yang memegang botol medis tampak menegang. "Jalur itu terlihat sangat sempit. Kalau kita terkepung di sana, kita tidak punya ruang untuk menghindar."

"Tepat sekali. Karena sempit, jumlah monster yang bisa menyerang kita secara bersamaan juga terbatas," Ren tersenyum tipis, sebuah senyuman taktis yang seketika memberikan rasa aman aneh pada ketiga gadis di dekatnya. "Aria, kamu adalah *speedrunner*. Kamu ahli dalam mengontrol *chokepoint* (titik sempit) bukan?"

Aria tertegun, lalu seringai percaya diri kembali muncul di wajah cantiknya. "Ah... jadi itu rencanamu? Memanfaatkan ruang sempit supaya mekanik seranganku bisa mengenai mereka semua sekaligus tanpa takut dikepung?"

"Benar. Aku dan Yuna akan menjaga bagian belakang sambil membawa Tyson. Luna, kamu tetap di dekatku dan terus pantau pergerakan data di depan kita. Ayo bergerak!"

Mereka langsung melesat masuk ke jalur kanan. Begitu mereka masuk, vegetasi logam di sekeliling mereka merapat, hanya menyisakan ruang selebar dua meter. Benar saja, dari arah depan, lima ekor *Cyber-Beasts* berwujud serigala mekanis melompat dengan taring baja yang menganga.

"Ini panggungku!" Aria melesat maju.

Dengan ruang yang sempit, serigala-serigala itu tidak bisa berpencar. Aria melakukan lompatan vertikal, menapak pada dinding pohon logam, lalu berputar di udara. Pedang lasernya menebas membentuk lingkaran fuchsia yang sempurna—*Sret! Sret! Sret!*—tiga kepala monster langsung terpisahkan dari tubuh mekanis mereka, hancur menjadi partikel piksel berkilauan.

"Hebat..." Luna berbisik spontan dari belakang Ren. Secara tidak sadar, dia mencengkeram ujung baju Ren dengan erat, mencari perlindungan sekaligus merasa takjub dengan bagaimana Ren bisa memprediksi segalanya dengan tepat.

"Jangan lengah, Aria! Dua lagi di bawahmu!" seru Ren memberi aba-aba.

Aria mendarat dengan mulus, menekuk lututnya, dan tepat saat matanya menangkap kedipan lampu sensor laser musuh yang meredup selama 1.5 detik—sesuai teori Ren sebelumnya—dia menusukkan pedangnya ke depan tanpa ragu. Dua ledakan siber kembali terdengar.

* [Gamer_Galaksi]: Sinergi yang gila! Gadis rambut merah itu bertarung seperti monster, tapi kendali informasi dari si rambut hitam itu yang membuatnya jadi tanpa celah!

* [WibuAkut]: Sial, aku mulai suka tim ini. *Subscribed*!

* **[System Notification]: Views reached 500.000! Halfway to safety threshold!**

"Kita hampir sampai! Aku bisa melihat cahaya *Safe Zone* di depan!" Yuna berteriak, menunjuk ke sebuah lingkaran cahaya hijau neon yang berada sekitar seratus meter di ujung terowongan.

Namun, kegembiraan mereka terputus ketika tanah di bawah kaki mereka berguncang sepuluh kali lebih hebat dari sebelumnya. Dari dinding vegetasi di depan *Safe Zone*, sebuah siluet raksasa setinggi lima meter merobek akar-akar logam.

Itu adalah *Glitched Cyber-Bear*—monster bos lantai satu dengan lengan kapak raksasa dan kode-kode kesalahan berwarna merah yang berkedip di sekujur tubuhnya yang rusak.

> **[BOSS ALERT: THE ELIMINATOR - LEVEL 1]**

> **Time Remaining:**

>

Monster itu mengaum, menciptakan gelombang kejut akustik yang membuat mereka semua terlempar beberapa langkah ke belakang. Akses menuju *Safe Zone* kini tertutup sepenuhnya oleh tubuh raksasa sang bos.

"Satu menit empat puluh lima detik..." Aria mengertakkan gigi, mencoba berdiri kembali namun kakinya mulai gemetar karena kehabisan stamina setelah terus menggunakan pedang laser. "Makhluk itu terlalu besar... ruang sempit ini sekarang justru berbalik merugikan kita!"

Ren berdiri di depan kelompok, menghalangi pandangan monster itu dari Luna dan Yuna. Matanya menatap tajam ke arah kode *glitch* yang berkedip di dada sang bos. Otak taktisnya berputar di kecepatan maksimal, menghitung setiap probabilitas.

"Tidak," Ren mengepalkan tangannya, kilatan tekad muncul di matanya. "Ruang sempit ini... adalah tempat terbaik untuk melakukan *Checkmate*."

1
EAGLE EZ
mungkin nanggung
Aegis
sama pembesar otong
Aegis
kek manhwa itu inimah
EAGLE EZ: benar cuman ide nya di ambil dari novel misal coverbook nya cuy
total 1 replies
Aegis
pinjol
Aegis
ya gak usah beli
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!