NovelToon NovelToon
Jeritan Hati Arumi

Jeritan Hati Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“ Hidup itu harus di jalani saja ”


Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas


Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.



Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.





— Jeritan Hati Arumi —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 Aku tidak kuat Nek

Dengan langkah gontai gadis itu kembali ke rumahnya, rumah yang jauh dari rumah warga rumahnya sangat terpencil berada di dekat hutan yang di penuhi pohon jati.

Arumi menatap rumah yang berdiri kokoh dari sang mama masih hidup, hingga saat ini rumah yang terbilang sangat buruk untuk zaman sekarang rumah dari bambu sana-sini nya sudah reyot termakan waktu.

Arumi menyeka air matanya, ia dengan mantap mengetuk pintu yang sudah ogah-ogahan tertutup itu.

" Assalamu'alaikum nek! "

" Walaikumsalam Nduk " Seru sang nenek dari dalam rumah tidak lama kemudian, pintu tersebut terbuka menampilkan seorang wanita tua renta yang membuat hatinya teriris.

Ia langsung berlari ke pelukan sang nenek yang benar-benar tulus mencintai nya, tanpa pamrih sedikitpun nenek yang bagaikan ibu kedua baginya yang selalu ada untuknya.

Di usapnya punggung sang cucu, nek Yana menatap nanar cucunya ia tahu betapa berat beban yang di pikul cucu satu-satunya itu.

" Ada apa Nduk? " Tanya Nek Yana dengan suara penuh perhatian menusuk kalbu Arumi

" Nek, maafkan aku karena aku nenek tidak bisa meminum obat penyakit nenek akan semakin parah! " Isak Gadis itu penuh penyesalan

Nek Yana mengurai pelukan mereka, ia menatap wajah sang cucu yang memerah akibat menangis mata nya yang tidak setajam dulu menyelidiki gadis itu.

" Cerita dengan nenek! " Pinta sang nenek membawanya ke sebuah bale - bale yang ada di teras rumahnya.

Gadis itu tanpa semangat menaruh bobotnya di bale-bale terbuat dari anyaman bambu itu. Matanya berkaca-kaca berbalut luka yang sulit untuk di obati

" Ceritalah ke nenek! " Pinta Nek Yana tangannya mengelus punggung tangan Arumi memberikan ketenangan dan perlindungan gadis itu.

" Nek, maafkan aku! " Kata Arumi sembari memeluk sang nenek membuat Nek Yana berkaca-kaca

" Ada apa Nduk ceritalah! "

Dengan perasaan campur aduk Arumi menceritakan, kalau dirinya sudah membelikan obat namun di rusak oleh Siska nek Yana mangut-mangut sesekali ia menjawab tidak apa-apa.

" Maaf nek harusnya aku bisa menjaga obat itu, pasti penyakit nenek tidak akan buruk lagi aku tidak berguna! " Cicit Arumi rasa bersalah itu menusuk dadanya membuat Nek Yana menggeleng kan kepalanya

" Kamu tidak salah nduk " Sanggah Nek Yana tatapan nya penuh cinta membuat Arumi gadis yang tidak pernah melunak dan menangis, kini hancur pertahanan nya

" Maafkan aku nek! "

" Sudahlah, jangan pikirkan itu nenek sudah masak sayur singkong dengan ikan asin mari kita makan " Ajak Nek Yana membuat Arumi tersenyum getir neneknya selalu bisa membuat dirinya baik-baik saja,

Walaupun dunia memiliki cara untuk merundungnya dan membuatnya menyerah, namun neneknya selalu mempunyai cara agar dirinya bisa mengontrol segala emosi dan selalu menjadikan dirinya rumah atas segala luka.

Baru saja keduanya ingin beranjak. Seruan dari beberapa warga membuat keduanya menoleh ke belakang, tatapan kebencian lah yang mereka lihat dari lima warga yang mendatangi rumah mereka,

" Nek Yana, Arumi! " Pekik salah satu warga

" Ya ada apa? " Tanya nek Yana dengan wajah bijaksana nya menatap warga yang hendak menelan mereka hidup-hidup.

" Nenek, cucu anda itu begitu memalukan ia mencuri kalung milik Siska anak pak kepala desa " tuding salah satu warna bernama Budi matanya menatap tajam gadis itu.

" Maksud anda apa?, saya tidak pernah sekalipun mencuri jangan berbicara sembarangan kalian! " Sengit Arumi

Nek Yana menggeser tubuh gadis itu, ia berdiri di depan Arumi seolah tameng yang siap melindungi gadis itu.

" Maling ngaku penjara penuh! " Sindir Rubayan salah satu warga di desa Kembang Jaya.

" Nduk, saya percaya sekali kalau misalnya cucu saya tidak melakukan hal seperti itu. Lagipula siapa yang berani berkata yang tidak-tidak? " Sahut Nek Yana dengan suara tenang seolah masalah itu bukanlah masalah besar ia percaya 100% pada sang cucu.

" Saya yang bilang! " Suara lantang dari seorang wanita membuat semuanya menoleh, Arumi bergegas mendekati Siska yang menatap nya busung dada.

" Kamu!, aku ngga pernah memiliki salah sama kamu lalu kenapa kamu tetiba cari masalah? " Tanya Arumi menahan gejolak hati nya

" Kalau nenek tidak percaya padaku, silakan bongkar keranjang kuenya cucu suci nenek itu yang sok suci! " Kata Siska penuh sindiran

" Ayo siapa takut! " Arumi mengambil keranjang kue nya, lalu membukanya betapa terkejutnya ia saat mendapati benda asing yang harga nya bisa berjuta-jutaan.

Matanya membulat saat tangannya terangkat dengan sebuah benda berwarna kuning emas, berliontin berlian bibirnya bergetar ia menoleh ke sang nenek yang menatapnya kecewa antara tidak percaya.

" Kamu kalau udah ngga sanggup miskin, mending kamu jual diri jangan sukanya mencuri selain merugikan orang merugikan saya juga!. " Kata Siska dengan kasar ia mengambil kalung liontin berlian tersebut

" Huh! Pencuri! "

" Sok suci! "

Seruan itu membuat air mata Arumi mengalir, ia bergegas memeluk sang nenek yang masih tidak percaya. " Nek percaya padaku! "

" Nek Yana mending cucunya diajarkan, saya tahu cucu anda hanya tamatan Sekolah dasar jadinya dia tidak tahu apa artinya di izinkan dan tidak diizinkan! " Cemooh warga

" Ya gimana ya orang kere, " Seru yang lain

" Ngga sangka! " Hardik yang lainnya

" Maafkan cucu saya ya nduk! " Kata Nek Yana memegangi tangan Siska dengan air mata yang mengalir.

Senyuman miring Siska terbit" Cium kaki saya, baru saya maafkan! " Pinta Siska dengan tatapan merendahkan

Nek Yana berjongkok namun tangan Arumi menahannya. " Nenek tidak salah aku yang salah, tapi harus kalian tahu aku tidak pernah mencuri apapun! " Tekan Arumi

" Cium kaki ku atau kamu dan nenek pergi dari desa ini! " Ancaman itu membuat tubuh Arumi membeku. Ia berjongkok air mata mengalir dadanya terasa sesak sekali,

Ia sudah menghancurkan nama baik sang nenek membuat sang nenek kecewa. Rasa bersalah itu membelunggu nya membuatnya tidak kuasa

" Aku tidak kuat Nek " Tutur Arumi dengan air mata berlinang bagaikan hujan di siang hari. Sang nenek pun hanya bisa meratapi sang cucu yang harus mencium kaki bersepatu tersebut

" Ciumm! "

" Ciummm! "

1
Emily
lanjut thour
Emily
curiga samudra itu arwah
bidadari: 🙂🙂 baca terus ya ka
total 1 replies
Emily
laila pemuja syaiton
Emily
wah udah murtadkah keluarga adrian
Emily
Innalillahi wainnailaihi rojiun ya thour
Emily
kenapa obatnya gak disimpan di saku malah di tenteng tenteng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!