Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Seorang Gay
Tengah malam sudah mulai datang. Lampu-lampu gedung masih menyala di kejauhan, membentuk lautan cahaya yang seolah tidak pernah libur.
Di terrece penthouse, Regan duduk sendirian di sofa panjang area outdoor. Kemeja kerjanya sudah berganti menjadi kaos hitam sederhana. Satu kaki selonjoran, satu lagi menekuk di atas sofa.
Di atas meja kaca terdapat satu berkas yang Alvero berikan, ponsel, dan segelas whiski yang isinya mulai berkurang.
Tangannya meraih berkas itu, perlahan membukanya. Lalu membaca hanya dua baris.
"Kenapa harus dipelajari isi berkas ini? Aku pikir, berhadapan dengan klien bisa secara alamiah." Gumam Regan, ia kembali menutup berkas itu, dan menyimpannya ke atas meja.
Setelah itu, ia kembali memainkan ponselnya. Tapi tidak benar-benar fokus. Berpindah aplikasi ke aplikasi lain dalam waktu singkat.
Dari dalam penthouse terdengar pintu kaca geser dibuka. Angin malam ikut masuk ke ruang keluarga.
Regan tidak menoleh, ia bisa menebak siapa yang datang.
Raymond menaruh kopi hangat di atas meja. Kemudian melangkah ke sisi pagar, tangannya bertumpu di sana. Menatap kota Jakarta yang mulai tenang.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Raymond tanpa menoleh.
Regan menghela napas. "Karena belum ngantuk."
Raymond hanya terkekeh. Tubuhnya berbalik kemudian berdiri di dekat kaki Regan. Matanya mengintari sekeliling sebelum terpaku menatap Regan.
"Turunin kaki kamu," katanya pelan.
Regan menatapnya dengan alis bertaut. "Kenapa?"
"Mau duduk."
"Kenapa gak duduk di sofa lain? Atau di bawah saja?"
"Sepertinya hanya kamu yang mampu merendahkan Dady."
Regan akhirnya tertawa kecil. Ia menarik satu kakinya, mengubah posisi menjadi duduk tegak. Raymond duduk di sebelahnya.
Untuk beberapa detik mereka hanya diam, menatap meja di hadapan mereka.
"Kerjaan kamu, gimana?" Tanya Raymond akhirnya.
Regan menoleh sebentar, ia bersandar ke sofa. "Aku masih adaptasi."
"Pak Ardion sudah cerita sama Dady soal klien yang cabut kontraknya itu."
Regan kembali menatap wajah Raymond dari samping. Tapi ia tidak menjawab sepatah kata pun.
"Kenapa?" Suara Raymond pelan, namun terdengar penuh pertanyaan.
Regan masih diam. Raymond menoleh, tatapan keduanya bertemu lama. Sebelum Regan buang muka lebih dulu. Beralih menatap permukaan meja.
"Aku gak tahu, Dad. Mungkin aku memang ceroboh. Karena sebelumnya Alvero sudah tegasin buat gak otak-atik apapun di laptopnya."
"Terus, kenapa kamu gak dengerin dia?"
Regan tersenyum getir. Ia ingat betul pesan email klien yang masuk untuk Alvero. Dari permukaan meja, pesan itu seolah muncul.
''Saya minta proposalnya selesai hari ini tanpa menerima alasan apapun. Jangan mengecewakan, yang butuh kerja sama bareng kami bukan hanya perusahaan kalian!'
Regan membuang napas. "Dad, klien itu mendesak Alvero. Dia minta hari itu selesai. Padahal yang Alvero kerjakan bukan cuma proposal dia." Kalimatnya berhenti, ia menelan ludah.
"Aku bener-bener gak sengaja buka pesan itu. Aku kesal, Dad. Makanya aku kirim proposal yang sama. Aku pikir, semua proposal itu sudah selesai." Lanjut Regan. Matanya masih tertuju ke atas meja.
Setelah mendengar penjelasan dari putranya, Raymond paham. Regan memang tidak suka jika orang-orang terdekatnya merasa terancam atau dibuat tidak nyaman.
"Tapi kamu tetap salah. Kenapa kamu tidak menunggu Alvero kembali?"
Regan hanya menggeleng.
"Regan, Alvero benar-benar akan menerima niat baikmu. Salahnya, kamu bertindak sendiri. Tanpa bertanya kepada Alvero... apakah tindakanmu benar atau salah? Diperlukan atau tidak?"
Uacapan Raymond berhenti. Ia menyesap kopi pahit yang sudah hampir dingin.
"Situasi seperti itu, sudah sering Alvero hadapi. Hanya saja, dia menyelesaikan dengan caranya yang sudah berpengalaman. Bukan ingin selesai dalam waktu singkat." Lanjut Raymond.
Regan masih diam. Tidak menyela atau membantah. Sejauh ini dia sudah sadar, apa yang Raymond katakan memang benar. Ia terburu-buru dalam mengambil tindakan.
Regan meraih gelas berisi whiski, meneguknya sedikit. Lalu, kembali menyimpan gelas ke atas meja.
"Dad, apakah kalau aku tidak mengirim file itu, klien gak akan kecewa? Apakah kalau aku tidak datang ke perusahaannya, klien tidak akan mencabut kontraknya?" Suara Regan akhirnya keluar lirih.
"Semua itu gak akan terjadi," jawab Raymond cepat. Membuat Regan langsung menatapnya.
"Untuk Dady, kehilangan satu klien memang tidak menjadi masalah besar. Tapi untuk Alvero, itu adalah salah satu kegagalan dalam kerja kerasnya."
Mendengar semua ucapan dan jawaban yang Raymond berikan. Membuat dorongan Regan untuk belajar menarik investor semakin kuat. Alasannya hanya satu, untuk tanggung jawab kepada Alvero. Bukan untuk membuktikan kalau dia bisa.
Karena kalau hanya menarik investor, Regan bisa saja melakukannya dengan cara curang.
Keheningan malam jatuh sunyi diantara mereka. Raymond sesekali menatap lekat putranya yang tengah melamun. Ia merasa putranya sudah dewasa. Tapi masih perlu banyak belajar soal bisnis.
Mungkin Regan belum terlalu paham apa arti kerja keras untuk mencapai satu tujuan. Karena Regan, selalu memiliki apa yang dia inginkan.
"Regan, apa kamu nyaman kerja di sana?" Tanya Raymond.
Regan mengangguk ragu. "Nyaman, Dad."
"Karena kerjaannya? Atau karena ada Alvero?"
Regan langsung menatap Raymond dari samping. Ia terkekeh. "Ya... karena semuanya," jawab Regan.
Tapi perasaannya seolah menolak jawaban itu, karena Regan sendiri tahu. Kalau tidak ada Alvero, dia mana betah kerja di sana.
Regan bangun dari duduknya, untuk menghindari pertanyaan tentang Alvero lagi. Ia berbalik, melangkah menuju pembatas kaca. Regan berdiri di sana, satu tangan masuk ke saku celana pendeknya.
Tapi tak lama, Raymond mengikutinya. Ia berdiri di belakang Regan. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat dirinya geli sendiri. Dan berharap itu tidak terjadi.
Raymond akhirnya berdiri di sebelah Regan, tangannya mengusap hidung. Hanya untuk menutupi senyum kecil yang timbul.
Setelah cukup lama hening, Raymond kini memberanikan diri untuk bertanya.
"Regan, Dady curiga sama kamu?"
Regan mengernyit. "Curiga soal apa?"
"Soal Alvero," jawab Raymond.
"Apalagi sih Dad, udah gak usah bahas Alvero."
"Dady curiga kamu suka sama dia." Setelah kalimat itu terucap. Raymond langsung tertawa.
Regan menoleh cepat. Menatap tak percaya, mulutnya terbuka, matanya melotot.
"Dad, apa tidak salah pertanyaan? Apa selama ini Dady pikir aku Gay?" tanya Regan, suaranya naik satu oktaf.
Raymond tidak menjawab, tawanya pria paruh baya itu justru semakin menjadi.
"Apa yang lucu? Apa Dady memang berharap aku penyuka sesama jenis?"
"Tidak! Hanya saja, sikap kamu sama Alvero berbeda."
"Karena dia juga berbeda. Dia menerimaku tanpa banyak menghakimi. Apa salah kalau aku memperlakukan dia berbeda dari yang lain?"
"Semuanya tidak salah. Dady lupa kalau kamu seorang, Regan." Jawab Raymond sambil melangkah pergi dengan sisa tawa yang masih menggantung di wajahnya.
Tubuh Regan berbalik, menatap Raymond dengan ekspresi tak percaya. Ia bersandar ke pembatas kaca.
Setelah tubuh Raymond benar-benar masuk. Regan meremas rambutnya frustasi.
"Ya Tuhan! Apalah yang ada di pikiran bapak-bapak tua itu, bisa-bisanya menyangka anaknya seorang gay!" Gerutunya.
Situasi kini berubah drastis, sunyi yang tadi menguasai perasan Regan. Sekarang menjadi aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
"Apa selama ini aku terlalu mesra dengan Alvero? Jangan-jangan..." Matanya melotot. "Orang lain juga berpikir seperti, Dady?"
Regan kembali menatap lampu-lampu di bawah. Alisnya masih bertaut.
"Tidak! Aku harus buktikan kalau aku normal dan tidak menyukai Alvero." Ia mengangguk sendiri. "Ternyata berjaga jarak lebih baik."
Regan mengacak rambutnya. "Kenapa jadi konyol gini? Arghh!"
Regan memejamkan matanya, ia menggeleng beberapa kali. Lalu, kembali berbaring di sofa. Tapi perasaannya sudah tidak setenang tadi.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan