Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Kejutan dari Clarissa
"Boneka tetaplah boneka, meskipun mengenakan berlian." Senyum Clarissa tetap terpasang anggun setelah mengucapkan kalimat itu.
Sebaliknya, wajah Raline langsung berubah merah. "Apa katamu?"
"Seperti yang kau dengar," jawab Clarissa merapikan ujung blazer krem yang dikenakannya. Sikap wanita itu sangat tenang.
Mereka berdiri di pelataran depan Kediaman Rothmere. Angin sore mengibaskan rambut kedua wanita sosialita itu, tetapi suasana di antara mereka jauh dari sejuk.
"Kamu pikir aku takut padamu?" desis Raline.
Clarissa tertawa kecil. "Aku tidak pernah bilang begitu."
"Kalau begitu berhenti ikut campur urusanku," ucap Raline menghardik wanita di depannya.
"Urusanmu?" Clarissa mengangkat alis. "Kau berteriak-teriak tentang Kemala seolah seluruh dunia berputar mengelilingimu."
Raline mengepalkan tangan. "Kamu membantu gembel itu untuk apa?"
"Oh?" Clarissa memiringkan kepala. "Jadi sekarang membantu seseorang dianggap kejahatan?"
"Jangan berpura-pura suci." Raline kini sedikit menaikkan intonasinya.
"Aku tidak berpura-pura," ucap Clarissa yang masih memegang tasnya dengan santai.
"Kita sama-sama tahu tidak ada satu pun darah Rothmere yang benar-benar baik," ucap Raline yang tak menyukai ketenangan Clarissa.
Senyum Clarissa sedikit melebar. "Lucu."
"Apa yang lucu?" tanya Raline yang mencondongkan badannya ke arah Clarissa.
"Kau mengatakan itu seolah kau bagian dari Rothmere," jawab Clarissa dengan wajah yang sinis. Raline langsung terdiam.
Tatapan Clarissa menjadi tajam. "Kau lupa satu hal."
"Apa?" Raline menaikkan lagi intonasinya.
"Kau juga orang luar yang masuk ke keluarga ini," jawab Clarissa santai sambil menunjuk Raline.
Wajah Raline menegang. "Kau–"
"Sedangkan aku lahir dengan nama Rothmere," lanjut Clarissa memotong Raline sambil menaruh tangannya ke dadanya sendiri.
Raline menggertakkan gigi. "Kemala membuang waktunya. Bayi itu tidak akan pernah ditemukan."
Clarissa hanya memandang wanita yang masih menggunakan gaun mewah itu.
"Bahkan mungkin sudah mati," lanjut Raline membuang mukanya.
Masih tak ada reaksi dari Clarissa ketika Raline sedikit melirik wanita elegan itu. Hal itu justru membuat Raline semakin kesal.
"Bastian saja yang memiliki seluruh sumber daya Rothmere kesulitan mencarinya," lanjut Raline. "Kediaman utama Rothmere punya tim keamanan terbaik."
"Bastian punya koneksi ke mana-mana." Raline masih melanjutkan dengan nada yang sangat ketus. "Lalu kau pikir pengurus perusahaan cabang sepertimu bisa menemukan bayi itu?"
Clarissa akhirnya tertawa. Tawa ringan yang justru terdengar meremehkan.
"Raline ...."
Wanita elegan itu melangkah mendekat. "Memang kualitas berpikirmu selalu serendah ini?"
Raline membeku. "Jaga mulutmu!"
"Kenapa?" Clarissa tersenyum. "Aku hanya mengatakan fakta."
Tatapan Clarissa turun ke cincin berlian di jari Raline. "Kau terlalu sibuk menikmati status Nyonya Rothmere."
"Lalu?" tanya Raline tak bisa menyembunyikan amarahnya.
"Hingga tidak sadar bahwa selama ini kau hanya menjadi boneka Madam Eleanora." Clarissa mengucapkannya dengan senyum yang terlukis di wajahnya.
Raline menegang. "Kau tidak tahu apa-apa."
"Oh, aku tahu banyak." Clarissa menatapnya lurus. "Boneka yang bisa disimpan, dimainkan, atau dibuang kapan saja."
Tamparan kata-kata itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan sungguhan. Raline ingin membalas tetapi tak ada kata yang keluar. Karena di lubuk hati Raline yang paling dalam, wanita itu tahu Clarissa tak sepenuhnya salah.
Melihat wajah Raline yang membeku, Clarissa tersenyum puas. "Selamat sore."
Lalu wanita elegan itu berbalik meninggalkan Kediaman Rothmere tanpa menoleh lagi. Sedangkan Raline berdiri mematung dengan dada naik turun menahan amarah.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Nathan tumbuh semakin sehat. Tangis bayi itu sudah jauh berkurang dibandingkan saat pertama kali tiba di kediaman Rothmere. Kemala menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang bayi. Menggendong, menyusui, menidurkan, atau sekadar duduk memandangi wajah kecil Nathan yang mulai semakin ekspresif.
Sementara itu, Bastian semakin sering terlihat sibuk. Kadang Bastian berada di kantor, kadang menghadiri rapat proyek, atau kadang menghilang sejak pagi hingga malam. Meski begitu, hampir setiap hari pria itu tetap menyempatkan diri datang ke ruang Nathan. Sekadar melihat keadaan atau memastikan semuanya baik-baik saja.
Pagi itu, Nathan baru selesai menyusu. Kemala sedang mengganti pakaian Nathan ketika ponsel wanita sederhana itu bergetar. Nama Clarissa muncul di layar.
Kemala langsung menjawab. "Halo, Claris?"
Suara hangat Clarissa terdengar dari seberang. "Kemala."
"Iya?" tanya Kemala yang cukup heran menerima telepon dari Clarissa sepagi itu.
"Aku punya kejutan untukmu," ucap Clarissa di balik telepon.
Kemala berkedip bingung. "Kejutan?"
"Iya," jawab Clarissa singkat.
"Kejutan apa?" tanya Kemala semakin penasaran terhadap teman barunya itu.
"Nanti juga tahu," jawab Clarissa dengan tawa hangat.
"Claris ..." Kemala berusaha membujuk Clarissa untuk mengungkapkannya saja.
Clarissa tertawa. "Sabar … Lagi pula aku sedang dalam perjalanan."
Sambungan telepon terputus. Kemala masih memandang layar ponselnya dengan heran.
"Ada apa?" suara berat Bastian membuat Kemala menoleh.
Pria itu baru saja masuk ke ruang bayi, sudah mengenakan setelan kerja. Kemala tersenyum kecil.
"Nona Clarissa menelepon."
Tatapan Bastian langsung berubah. "Ada apa?"
"Katanya mau memberi kejutan," ucap Kemala tersenyum sambil meletakkan ponselnya.
Bastian terdiam beberapa detik. "Kejutan?"
"Iya," jawab Kemala singkat menatap Bastian.
Pria itu menghela napas pelan. "Kemala."
"Iya?" sahut Kemala yang melihat perubahan di wajah pria yang selalu datar itu.
"Jangan terlalu percaya pada siapa pun yang memiliki nama belakang Rothmere," jelas Bastian dengan wajah yang sangat serius.
Kemala terkekeh kecil. "Bu Clarissa baik."
Justru jawaban itu membuat Bastian semakin tak tenang. Karena pengalaman hidup dari seorang yang memiliki kedudukan di puncak Keluarga Rothmere mengajarkan satu hal. Orang yang paling berbahaya sering kali terlihat paling baik. Namun sebelum Bastian sempat mengatakan sesuatu lagi, ponselnya berdering.
Nama Reynard muncul. Begitu panggilan diangkat, suara sahabatnya terdengar cepat.
"Aku butuh keputusanmu sekarang."
Bastian langsung mengernyit. "Ada apa?"
"Masalah struktur desain … dewan proyek menolak revisi terakhir."
Bastian menutup mata sesaat. Masalah itu memang tak bisa ditunda. Pria dengan setelan jas lengkap itu menatap Kemala.
"Aku harus pergi."
Kemala mengangguk. "Silakan, Pak."
Bastian melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, pria itu kembali menoleh.
"Kalau terjadi sesuatu..."
"Saya tahu." Kemala tersenyum. "Saya akan menghubungi Bapak."
Baru setelah itu Bastian pergi. Meski di dalam diri pria itu perasaan tetap tak tenang.
Menjelang sore, mansion utama Rothmere relatif sepi. Madam Eleanora masih berada di luar. Raline juga belum pulang. Sebagian besar penghuni rumah sedang menjalankan aktivitas masing-masing. Kemala sedang menggendong Nathan ketika seorang pelayan datang.
"Nona Kemala."
"Iya?" tanya Kemala kepada pelayan itu.
"Nona Clarissa datang."
Wajah Kemala langsung cerah. "Persilakan masuk."
Beberapa menit kemudian. Clarissa muncul di depan ruang bayi. Mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda namun justru semakin memperlihatkan keanggunan wanita Rothmere itu. Clarissa terlihat mendorong sebuah stroller.
Kemala langsung terkejut. "Nona Clarissa?"
Clarissa tersenyum. "Halo."
Kemala memandang stroller itu. "Ini ...."
"Aku boleh masuk?" tanya Clarissa dengan wajah ramah.
"Tentu." Kemala mengangguk pelan.
Clarissa masuk ke dalam ruangan. Stroller itu ikut didorong masuk. Kemala mengira itu hadiah atau mungkin perlengkapan bayi baru untuk Nathan. Namun anehnya, Clarissa tak langsung menjelaskan apa pun. Sebaliknya, wanita itu justru duduk di sofa lalu memandang Kemala.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Clarissa dengan nada yang terdengar nyaman.
"Baik," jawab Kemala masih penasaran dengan Clarissa.
Nathan mengeluarkan suara kecil dari gendongan Kemala. Clarissa tersenyum melihat bayi itu. Kemudian wanita anggun itu kembali menatap Kemala.
"Kemala," panggil Clarissa tenang.
"Iya?" Kemala semakin penuh dengan pertanyaan.
"Kalau Arkana benar-benar ditemukan ..." Clarissa sengaja berhenti sejenak sebelum melanjutkan lagi. Tubuh Kemala langsung menegang.
"... apa yang akan kamu lakukan?" tanya Clarissa memastikan walaupun sudah mengetahui jawaban Kemala.
Clarissa sudah menanyakan pertanyaan ini sebelumnya.
Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak terasa sunyi. Kemala menunduk. Matanya perlahan memerah.
"Aku akan membawanya pulang," jawab Kemala dengan suara yang bergetar.
"Sekalipun kondisinya buruk?" tanya Clarissa yang memegang tangan Kemala.
"Iya." Kemala mengangguk
"Kalau dia sakit?" tanya Clarissa lagi seolah menguji setiap titik perasaan Kemala.
"Iya," jawab Kemala yang matanya semakin memerah.
"Kalau dia tidak mengenalmu?" pertanyaan Clarissa semakin mengenai titik hati Kemala yang masih terluka.
Air mata mulai menggenang di mata polos Kemala. "Aku tetap akan membawanya pulang."
Suara Kemala bergetar. "Dia anakku … Apa pun keadaannya."
Clarissa memperhatikan wanita itu cukup lama. Lalu perlahan berdiri. Senyum wanita anggun itu tampak sangat lembut. Clarissa berjalan menuju stroller lalu mendorongnya mendekati Kemala. Jantung Kemala mulai berdetak tak beraturan. Ada firasat aneh yang membuat tangan Kemala ikut gemetar.
Clarissa berhenti tepat di depannya. Kemudian membuka penutup stroller perlahan. Kemala membeku. Di dalam stroller itu, seorang bayi laki-laki sedang tertidur pulas. Tubuh kecil, pipi bulat, rambut tipis, dan usianya terlihat hampir sama dengan Nathan.
Napas Kemala langsung tercekat. Air mata jatuh begitu saja. Sementara Clarissa menatap wanita yang masih menggendong Nathan itu dengan senyum hangat.
"Aku sudah menemukannya, Kemala." Clarissa memandang Kemala dengan lembut.
Dunia seolah berhenti berputar. Kemala bahkan tak mampu berkedip. Tangan wanita desa itu gemetar hebat.
"Claris ..." suara Kemala nyaris tak keluar.
Clarissa menunduk dan memandang bayi yang tertidur itu. Lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh tubuh Kemala membeku.
"Ini Arkana."
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉