Tujuh tahun lalu, Prasetyo— seorang idola kampus—meninggalkan Indah Naraya Prameswari, gadis bertubuh 80 kilogram yang diam-diam menjadi kekasihnya. Dengan ucapan menyakitkan, ia bilang hubungan itu cuma main-main, lalu pergi ke luar negeri tanpa pamit seolah tak pernah ada apa-apa.
Kini takdir mempertemukan mereka lagi.
Indah sudah berubah total. Kini ia dikenal sebagai Nayara, wanita cantik nan langsing, ibu dari Clara prameswari, panggilan Lala, anak perempuan yang mengidap penyakit jantung bawaan. Ironisnya, dokter yang menangani putrinya ternyata adalah Dr. Prasetyo, dokter spesialis bedah jantung pindahan dari Amerika.
Prasetyo sama sekali tidak mengenali wanita di hadapannya. Sementara Nayara, terpaksa menahan luka lama dan berpura-pura tak kenal, demi keselamatan dan masa depan anaknya.
Sampai kapan rahasia ini bisa disembunyikan? Yuk ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. AKU SUDAH GILA
...🌻HAPPY READING🌻...
...***...
Pagi perlahan menjelang. Aktivitas di Rumah Sakit Sentra Medica mulai terasa ramai. Para tenaga medis dan perawat mulai berdatangan, saling bertukar informasi dan mengganti shift kerja mereka. Langkah kaki mereka terdengar teratur di sepanjang koridor, menciptakan suasana sibuk namun tertib.
Di sebuah ruang rawat inap kelas 2, Bu Ratih duduk bersandar pada sandaran ranjang. Sebuah selang infus tertancap di punggung tangannya, namun wajahnya kini sudah terlihat jauh lebih segar, tidak lagi pucat dan lemas seperti saat baru saja tadi malam dibawa masuk ke IGD.
Tekanan darahnya yang sempat melonjak tinggi memang membuat kepalanya terasa berdenyut sakit, namun berkat penanganan cepat dan obat-obatan yang diberikan, kondisinya kini sudah jauh terkontrol.
Hari ini Nayara mengambil cuti khusus untuk merawat ibu mertuanya itu di rumah sakit. Beruntunglah ia memiliki rekan kerja seperti Mila yang begitu sigap mau mengambil alih pekerjaannya, belum lagi pimpinan tim desainnya yang dikenal sangat baik hati dan pengertian terhadap kondisi pribadi karyawannya.
Saat itu, Nayara sedang berada di dalam kamar mandi ruangan untuk membasuh wajah dan merapikan diri, ketika terdengar ketukan pelan di pintu.
Tok... Tok... Tok...
Tanpa menunggu jawaban, pintu pun terbuka perlahan. Sosok Prasetyo muncul di ambang pintu. Wajahnya tampak ceria dengan senyum hangat yang menghiasi bibirnya. Jas putih dokternya melekat rapi di tubuh tegapnya, menambah kesan berwibawa dan menawan. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak berisi hidangan penutup yang dibelinya khusus dari salah satu toko kue paling terkenal di kota ini.
"Selamat pagi, Bu," sapa Prasetyo ramah, suaranya terdengar lembut menyambut pagi.
"Pagi, Nak Dokter. Lho? Ada apa gerangan sampai Nak Dokter datang ke sini?" tanya Bu Ratih dengan wajah berbinar, sedikit terkejut namun senang sekali.
"Iya, Bu. Saya mampir sebentar saja sebelum jadwal praktik dan operasi saya dimulai. Bagaimana keadaan Ibu pagi ini? Masih terasa pusing?"
"Sudah jauh lebih baik, Nak. Terima kasih banyak ya atas pertolongan pertamanya tadi malam. Kalau bukan karena kamu, entah bagaimana jadinya Ibu dan anak menantu Ibu itu," jawab Bu Ratih tulus.
Prasetyo hanya tersenyum ramah sambil mengangguk. Namun pandangan matanya terus bergerak memindai seisi ruangan, seolah sedang mencari keberadaan seseorang yang sangat ingin ia temui.
"Naya sedang ada di dalam kamar mandi, Nak Dokter."
Bu Ratih seolah tau bahwa Prasetyo sedang mencari keberadaan menantunya.
Wajah tampan itu seketika bersemu merah. Ia sedikit kaget, tak menyangka rasa penasarannya sedemikian rupa hingga terlihat jelas oleh orang lain.
"Eh... iya, Bu. Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya dulu ya," jawabnya gugup.
"Terima kasih sudah mampir ya, Dokter Pras!" seru Bu Ratih di belakang punggungnya saat Prasetyo melangkah keluar.
Tak lama setelah kepergian laki-laki itu, pintu kamar mandi terbuka. Nayara keluar dengan wajah yang sudah lebih segar.
"Ibu tadi bicara sama siapa?" tanyanya santai.
"Tadi Dokter Pras datang, lho. Baru saja pergi," jawab Bu Ratih santai sambil tersenyum menggoda.
Nayara tidak menyahut. Ia hanya duduk di kursi samping ranjang, lalu mengambil mangkuk berisi bubur yang memang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk sarapan pasien.
"Eh, Nay... Dokter Pras itu ganteng banget ya? Lebih ganteng dari Ben," ucap Bu Ratih tiba-tiba, memecah keheningan dengan nada menggemaskan.
"Ya, memang ganteng lah, Bu. Kan dia laki-laki. Ayo, makan dulu buburnya, nanti dingin," jawab Nayara singkat sambil menyendokkan bubur ke arah mulut Bu Ratih, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Namun tangan Nayara ditahan oleh tangan keriput ibu mertuanya itu.
"Kalau kamu suka, tidak ada salahnya kok kalau mau coba pacaran," bisik Bu Ratih penuh arti.
Wajah Nayara seketika bersemu merah. Ia menunduk malu.
"Ibu ngomong apa sih... Memangnya kita ini masih remaja pake pacaran-pacaran?" elaknya dengan suara pelan.
"Kalaupun kamu mau mencoba menjalin hubungan lagi, setidaknya carilah yang kriteria dan parasnya sebagus dia, Nay. Ganteng, mapan lagi," goda Bu Ratih lagi.
"Ibu... Aku tidak suka dia. Sudah ya, jangan bicara begitu lagi," bantah Nayara sedikit tegas, meski hatinya berdebar tak karuan.
"Ibu bisa melihatnya kok. Matamu tidak bisa berbohong, Nay," kekeh Bu Ratih.
Apa sejelas itu?
"Ibu jangan aneh-aneh ya. Sudah, dimakan ya buburnya biar cepat sehat dan kita bisa cepat pulang," potong Nayara dengan nada yang tak mau dibantah lagi.
Saat hendak mengambilkan gelas untuk diminumkan, Nayara menyadari bahwa wadah minum di atas nakas itu sudah kosong.
"Bu, Nay keluar sebentar ya. Mau ambil air hangat dulu untuk diminum Ibu," pamitnya.
Nayara pun melangkah keluar menuju dapur umum atau pantry yang ada di dekat ruang rawat itu. Di sana, ia berniat mengambil air hangat dari pemanas air yang tersedia.
Namun, saat ia hendak menuangkan air panas ke dalam wadah kaca itu, tangannya sedikit terpeleset. Air panas itu tumpah dan jatuh tepat mengenai punggung tangan dan jari-jarinya.
"Ahh!!" teriaknya kecil karena kaget luar biasa.
Rasa panas yang menyengat langsung menjalar dengan cepat ke seluruh permukaan kulit yang terkena cairan itu.
Belum sempat Nayara meniup atau mendinginkannya, tiba-tiba sebuah tangan besar menariknya dengan cepat menuju wastafel. Keran air dingin pun dibuka dan dialirkan terus-menerus mengenai tangan yang terluka itu.
Aroma parfum yang sangat ia kenal, aroma yang maskulin dan menenangkan itu, tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Saat ia menoleh, benar saja. Itu adalah Prasetyo, wajahnya terlihat sangat khawatir dan gelisah.
"S... saya bisa sendiri, Dok. Tidak apa-apa," elak Nayara, berusaha menarik tangannya kembali, namun cengkeraman tangan laki-laki itu ternyata jauh lebih kuat dari perkiraannya.
"Diam" perintah Prasetyo tanpa menoleh sedikit pun.
Matanya fokus menatap tangan Nayara yang perlahan mulai tampak kemerahan dan sedikit melepuh akibat suhu panas yang tinggi.
Beberapa perawat dan pasien yang kebetulan sedang lewat di depan pantry itu sempat berhenti dan berbisik-bisik melihat pemandangan itu.
"Itu Dokter Pras sedang sama siapa ya? Tumben banget dia terlihat perhatian begitu pada perempuan," bisik seseorang.
"Iya benar. Biasanya dia sangat dingin dan tegas. Apa itu pacarnya?" sahut yang lain.
"Sepertinya itu keluarganya pasien ibu-ibu penderita tekanan darah tinggi yang di rawat di kamar 205 itu deh," jawab yang lain lagi.
Prasetyo sama sekali tidak memedulikan bisikan-bisikan itu. Dunianya seakan menyempit hanya pada tangan yang sedang dipegangnya dan wajah wanita di hadapannya.
Sesekali ia menatap wajah Nayara yang meringis menahan sakit, lalu ia diam termenung, seolah ada pertarungan hebat di dalam benaknya.
Dia sudah bersuami. Dia punya anak. Tapi kenapa aku malah semakin tertarik padanya? Dasar bodoh, Prasetyo. Kau ini benar-benar bodoh! umpatnya dalam hati, merasa frustrasi dengan perasaannya sendiri.
Nayara pun mulai tersadar. Ia bisa melihat kilatan mata yang tidak biasa di manik mata laki-laki itu—kilatan yang cukup dimengerti oleh wanita dewasa sepertinya. Dengan refleks, ia menepiskan tangannya secara paksa dari genggaman Prasetyo.
"Dokter Pras, sudah cukup," ucap Nayara tegas.
Saat ia hendak berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu, Prasetyo kembali menahan lengannya, lalu dengan cepat menariknya mendekat hingga tubuh Nayara terhimpit ke dinding keramik di sebelahnya. Ia mengikis jarak di antara mereka hingga tak tersisa celah sedikit pun.
"Jurusan Desain Busana, Angkatan 22, Universitas Gunadarma..." ucap Prasetyo tiba-tiba dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Wajah Nayara mengernyit bingung sekaligus waspada.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah mengecek daftar nama mahasiswa lulusan tahun itu, satu angkatan denganku. Tapi aku tidak menemukan namamu di sana. Jadi... siapakah kamu sebenarnya?" tanyanya tajam, sorot matanya seolah ingin menembus masuk ke dalam jiwa wanita itu.
Raut wajah Nayara seketika berubah menjadi marah bercampur tak percaya.
"Kamu... kamu menyelidikiku?" suaranya meninggi, bercampur rasa sakit hati yang mendalam.
"Dokter Pras, dengarkan saya. Kita bahkan tidak sedekat itu, kita tidak akrab. Tindakanmu ini sudah melampaui batas kewajaran dan batas profesionalitas seorang dokter terhadap keluarga pasien. Saya bisa melaporkanmu atas tindakan ini," ancamnya, berusaha melepaskan diri namun terhalang oleh tubuh tegap itu.
"Di lantai dasar ada kotak pengaduan. Kamu boleh melaporkanku di sana, atau..."
Prasetyo semakin mendekatkan wajahnya, tangannya menopang dinding di samping kepala Nayara, membuat wanita itu kian sulit bergerak.
"Atau mau aku antarkan sekalian ke kantor polisi untuk melaporkanku?"
"Jawab saja pertanyaanku. Siapa kamu sebenarnya?"
Napas Nayara memburu. Ia menatap tajam ke arah manik mata yang sedari tadi menatapnya penuh tuntutan.
"Aku Nayara Prameswari. Ibu dari Clara Prameswari, pasien yang sedang kamu tangani, Dokter Prasetyo," jawabnya tegas dan dingin, sekuat tenaga menyembunyikan kegugupan dan rasa sakitnya.
Seketika itu juga, tubuh Prasetyo menegang. Perlahan ia mundur, menjauhkan tubuhnya dari Nayara. Wajahnya yang tadi penuh percaya diri kini mengendur, digantikan oleh kekecewaan yang mendalam.
"Maafkan aku," ucapnya lirih, lalu membiarkan Nayara leluasa pergi dari hadapannya.
Nayara segera berlalu dari tempat itu dengan langkah cepat, meninggalkan laki-laki yang kini sedang terdiam mematung di tempatnya.
Prasetyo menatap punggung wanita itu yang menjauh, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Aku benar-benar gila. Kenapa aku masih terus saja berharap kalau dia adalah dia... Indah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...BERSAMBUNG...
*Ayo Pras. tetap semangat lanjutkan penyelidikan. Pasti ada yang terlewatkan.
Like dan komentar ya.
Eh, mumpung senin. Bagi vote nya ya. Maaciwww😍😍