"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 YANG TIDAK INGIN DILIHAT
Suasana semakin panik ketika mengetahui, adik laki - laki mereka belum pulang ke rumah.
Citra mencoba menenangkan mereka semua, "Ayah Ibu kan pasti paham, mungkin dia lagi nongkrong anak muda. Biasalah.."
"Tapi nggak seperti biasanya. Nggak izin sama sekali, Citra." jawab Ibu, hati seorang Ibu sangat tahu tentang anaknya.
Ana juga tidak berdiam diri, ia berusaha menelfon Raka berulang kali.
"Raka, angkat dong.."
"Pergi kemana anak itu?" tanya Ayah bingung, sambil menggaruk - garuk kepalanya.
Ketika semua berusaha menghubungi Raka, tiba - tiba Citra dapat telfon dari pekerjaan.
"Haish! Kenapa harus disaat - saat seperti ini, atasan menelfon?!" geram Citra sambil mengacak rambutnya.
"Yasudah, kamu pergi aja Nak. Kalau bertemu dengan Raka dijalan tolong minta dia untuk pulang." jelas Ayah.
"Ba-baiklah, Ayah. Ibu tenang aja aku juga ikut mencari Raka. Aku pergi dulu." sahut Citra, dengan terpaksa ia harus pergi ke kantor karena ada urusan mendesak.
Sekarang tersisa Ana yang masih berusaha mencari nomor ponsel teman - temannya Raka. Dan berusaha berpikir positif kalau adiknya itu mungkin sedang ada dirumah teman atau nongkrong biasa.
Tapi ditengah kekhawatiran itu, Raka ternyata seharian ini tidak pergi ke Sekolah dan ia bertekad untuk pergi menemui pacarnya.
"Aku harus menemui Herra. Bagaimana pun, aku harus memperbaiki hubunganku dengannya seperti dulu."
Jauh dari rumah dan badan sudah sangat lelah, Raka tak mengurungkan niatnya untuk bertemu Herra.
Tapi,,
Sedikit lagi akan sampai di depan rumahnya Herra, Raka memergoki Herra sedang dibonceng oleh seorang pria lain dan dihadapannya, pria tersebut tampak memperlakukan Herra layaknya sepasang kekasih.
Raka ingin menyusul pria bajingan itu.
Tapi terlambat.
Ia sudah pergi, terlihat sudah semakin menjauh.
Raka menghampiri Herra dan tampaknya gadis itu sangat terkejut dengan kedatangan Raka.
Wajahnya langsung berubah drastis. Ketahuan. Malu dan takut.
"Jadi,, ini alasan kamu berubah?" tanya Raka dengan suara parau, matanya merah.
Herra masih terdiam, lalu ia pun berusaha menjawab dengan nada yang tenang seolah tak merasa bersalah.
"Itu temanku."
"Teman? Teman se-romantis itu kah? Membelai mesra rambut teman wanitanya. Maksudnya apa, hah?!"
"Lalu? Aku harus menunggu seseorang yang tak pasti kapan dia akan datang dan kapan dia selalu ada disaat aku membutuhkannya? Menenangkanku? Bukan terus memintaku untuk sabar, sabar dan sabar." tepis Herra.
Raka terdiam, hatinya terasa begitu remuk.
"Lalu, kamu selingkuh? Karena kamu merasa kesepian dan nggak mau menunggu? Apa yang ada dipikiran kamu, Her!"
"Dimana letak perasaan kamu?!"
"Aku berjuang mati - Matian! Cuma demi kamu!"
"Kamu emang kekanak - Kanakan Her. Memang lebih baik dari awal aku nggak mengenal kamu." geram Raka, Lalau kembali menyalakan mesin motornya.
Hubungan yang mereka jalani selama setahun pun harus berakhir. Tanpa penjelasan yang jelas dari Herra dan yang tersisa hanya kenangannya saja.
Saat itu hujan turun mengguyur ditengah perjalanan. Dengan mencoba untuk tetap fokus mengendarai motornya, Raka sesekali berhenti untuk berteduh dan menenangkan dirinya.
Terlihat ada sebuah Cafe yang masih buka dan ramai dengan pasangan - pasangan muda. Raka pun mampir untuk menghangatkan badan dan menjernihkan kembali pikirannya yang kacau.
Raka duduk di meja paling ujung dekat dengan jendela Cafe tersebut.
Raka masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak habis pikir dengan Herra yang tega mengkhianati cinta mereka.
"Aku sadar sekarang.."
"Terkadang yang paling menyakitkan itu bukan tentang pengkhianatan aja tapi,, kenyataan kalau dirimu belum cukup baginya, cintamu nggak lagi berharga." sahut Raka, tersenyum pahit.
Ponselnya sengaja dimatikan, bukan semata - mata membuat semua orang khawatir tapi melainkan dia tidak ingin diganggu.
Memang salah.
Tapi,, posisinya saat ini adalah mencoba bertahan.
Pesanan datang dan Raka hanya memandang makanan yang ada di hadapannya.
Cafe yang dikunjungi pasangan - pasangan muda, mungkin tempat yang salah untuk Raka singgah.
Raka melihat pasangan yang sedang bahagia itu dan mengingatkannya kepada Herra.
"Semakin aku ingat dia, semakin aku membencinya." geram Raka.
Disisi lain, keluarga Ana masih terus mencoba menunggu kabar Raka. Begitupun Ana yang sedang menunggu hujan reda untuk mencari adiknya di sekitaran rumah dan tempat - tempat yang biasa jadi tempat nongkrong Raka.
"Hum,, kapan ya hujannya reda?" keluh Ana.
"Nak. Jangan lupa pakai kaos kaki ya... Udaranya dingin." sahut Ayah.
Ana mengangguk sambil tersenyum.
Ibunya menunggu telfon dari Citra, dan..
Dret.. Dret...
Ponsel Ibu bergetar, 'Panggilan dari Citra.'
"Halo, bagaimana? Adik kamu ketemu?"
"Apa? Belum juga ketemu?"
"Ba-baiklah, kita tunggu sebentar kalau belum ada kabar lagi. Kita harus bagaimana?"
"Lapor polisi? Baiklah, Nak. Kamu hati - hati diperjalanan pulang ya."
Setelah Ibu mengobrol dengan Citra di telfon, Ibu mulai lemas.
"Ada apa Ibu? Apa yang dibilang Kak Citra?" tanya Ana.
"Raka belum juga ketemu, ini sudah larut. Kalau belum juga ketemu, kita lapor polisi." jawabnya dengan nada bicara yang gemetar.
"Baiklah Ibu, Ibu harus tenang karena Raka pasti baik - baik aja." sahut Ana.
Ana sambil menunggu hujan reda, ia melihat layar ponselnya. 3 pesan sekaligus dari Kai.
[Matanya terbelalak.]
"Ada apa ya? Kok dia mengirimkan 3 pesan? Jangan - jangan dia mau menyalahkan aku karena bertengkar dengan Nathan." sahut Ana, takut tapi penasaran.
Menekan pesan, dan ternyata Kai memintanya untuk mulai belajar bersama besok.
Ana kembali bernafas dengan lega. "Fyuh... Aku kira ada apa hehe. Eh- hujannya reda."
Ana langsung pergi begitu saja keluar rumah untuk mencari Raka.
Dan,,
Karena buru - buru, ia tidak sadar keluar tanpa menggunakan makeup.
"Raka dimana sih? Bocah tengil itu bikin seisi rumah khawatir aja."gerutu Ana, sambil melirik ke sekeliling jalanan rumahnya yang sudah sangat sepi.
"Kalau bukan karena Raka, aku nggak mau keluar malam - malam seperti ini. Hish serem!" keluh Ana, merinding takut.
Sesampainya gadis itu di taman dengan lapangan basket yang luas, terdengar dari jauh suara pantulan bola basket.
"Hah?! Pasti Raka nih, akhirnya dia ternyata nggak pergi jauh - jauh dari rumah." Ana menghela nafas lega dan mendekati asal suara itu.
Terlihat seorang laki - laki sedang memainkan bola basket tapi menghadap ke belakang. Wajahnya tidak terlihat, Ana tidak bisa mengenalinya.
Karena tak bisa melihat wajahnya, Ana pun memberanikan diri untuk memanggil nama adiknya itu.
"Itu pasti si bocah nakal. CK."
"RAKA!! KITA SEMUA PANIK CARI KAMU KEMANA - MANA. RUPANYA SI BIANG KEROKNYA ADA DISINI!
"PULANG KAMU RAKA!"
Sudah puas memarahi adiknya, Ana pun melangkah ke arah laki - laki itu. Terlihat dia sudah berhenti memainkan bola basket dan bola itu menggelinding ke samping.
Berbalik melihat ke arah Ana,
"Raka dasar si-" ungkapan sarkas itu tiba - tiba terhenti, karena...
#Bersambung...