Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab23
Anak buah Lucien langsung bergerak tanpa ragu.
“Baik, Nona Alyssa.”
Dua pria berbadan besar segera berjalan menuju kamar dan mulai mengeluarkan barang-barang milik Darius.
Brak! Suara lemari dibuka kasar terdengar memenuhi rumah.
“Apa kalian berani menyentuh barangku?!” bentak Darius marah.
Namun tidak ada satu pun yang peduli padanya.
Satu per satu koper, pakaian, hingga barang mahal miliknya dilempar keluar rumah begitu saja.
Bruk! Botol minuman mahal pecah di lantai.
“Berhenti!” Darius maju dengan mata merah. “Ini rumahku!”
Alyssa hanya menatapnya dingin. “Rumahmu?” ulangnya pelan. “Bukankah sekarang semua suratnya sudah atas namaku?”
Wajah Darius langsung menegang.
“Alyssa…” suaranya mulai melemah. “Apa kau benar-benar ingin menghancurkanku?”
Tatapan Alyssa tidak berubah sedikit pun. “Aku hanya mengembalikan semua penderitaan yang pernah kau berikan padaku. Lagi pula ini adalah hak milikku."
Darius mengepalkan tangan kuat-kuat sampai urat di lehernya menegang.
“Aku sudah jatuh sejauh ini!” bentaknya frustrasi. “Apa itu masih belum cukup untukmu? Kenapa kau dan pamanku harus membuatku seperti ini."
Alyssa melangkah mendekat perlahan. Tumit heels-nya berdetak pelan di lantai.
Tok… Tok… Tok…
Tatapannya turun menatap Darius dari atas ke bawah dengan penuh penghinaan.
“Belum,” jawabnya singkat." Aku ingin melihatmu tidak berdaya dan mengemis."
Ekspresi Darius langsung berubah gelap.
“Alyssa Liu, akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu,” ujar Darius dengan tatapan penuh kebencian. “Kau bahkan tidak pantas dibandingkan dengan Vanessa.”
Alyssa tersenyum tipis tanpa sedikit pun emosi.
“Kita lihat saja nanti,” jawabnya tenang. “Saat kau sudah kehilangan semuanya… apakah Vanessa masih akan bersikap baik padamu?”
Wanita itu melangkah perlahan mendekati Darius.
“Darius Fan, kau terlalu merasa dirimu berharga,” lanjutnya dingin. “Bagiku kau hanyalah suami dan ayah yang gagal.”
Tatapan Alyssa berubah penuh penghinaan.
“Dan bagi Vanessa?” sudut bibirnya terangkat tipis. “Kau hanya pria yang mampu memberinya kehidupan nyaman.”
Ia berhenti tepat di depan Darius.
“Tapi sayangnya…” bisiknya pelan, “dia belum tahu kalau sekarang kau sudah tidak punya apa-apa.”
Tatapan Alyssa turun menatap tubuh Darius.
“Tidak punya uang. Tidak punya kekuasaan.”
Senyumnya semakin tipis dan tajam.
“Dan kurasa… di atas ranjang pun sekarang kau sudah menjadi pria yang lemah dan tidak berguna.”
Wajah Darius langsung memerah karena amarah.
“Brengsek!”
Tanpa pikir panjang, ia langsung mencengkeram leher Alyssa kasar.
“Kau berani mengatakan itu padaku?!” bentaknya marah. “Kau hanyalah wanita yang pernah aku mainkan!”
Namun detik berikutnya..
Plak!
Salah satu anak buah Lucien langsung menampar wajah Darius keras hingga kepalanya terlempar ke samping.
“Jangan berani menyentuh Nona Alyssa,” ancam pria itu dingin.
Dua pria berbadan besar segera menarik tubuh Darius menjauh dengan kasar.
Darius menggertakkan gigi penuh kebencian.
“Apa yang sebenarnya kau berikan pada Paman Lucien sampai dia rela membantumu?”
tanyanya geram.
Alyssa merapikan leher coat-nya perlahan sebelum tersenyum kecil.
“Pamanmu hanya pria yang lebih mengerti situasi dibanding dirimu,” jawabnya tenang.
“Aku ingin memberitahumu satu rahasia lagi, Darius Fan,” bisiknya pelan.
Tatapan Darius langsung berubah tajam.
Alyssa mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu.
“Kondisimu sekarang…” ucapnya perlahan, “bukan kebetulan.”
Tubuh Darius langsung menegang.
“Apa maksudmu?” tanyanya cepat.
Senyum Alyssa perlahan melebar.
“Akulah yang memberimu obat itu,” bisiknya dingin. “Obat tanpa warna dan tanpa aroma.”
Mata Darius langsung membelalak.
“Kau—!”
“Orang yang mengkhianatiku tidak pantas hidup tenang,” lanjut Alyssa tanpa emosi. “Mulai sekarang… kau tidak lagi berguna sebagai pria.”
“ALYSSA LIU!” raung Darius marah sambil mencoba menerjangnya.
Namun kedua anak buah Lucien langsung menahan tubuhnya kuat-kuat.
“Aku bisa menuntutmu!” bentak Darius penuh amarah.
Alyssa justru tertawa kecil.
“Silakan saja kalau mampu,” jawabnya santai. “Tapi kau punya bukti?”
Tatapannya penuh penghinaan.
“Dokter saja tidak bisa memastikan apa pun. Jadi siapa yang akan mempercayaimu?”
Wajah Darius langsung menegang dipenuhi frustrasi.
Alyssa menatapnya dingin dari atas ke bawah.
“Kau sudah kehilangan uang. Pekerjaan. Dan harga dirimu.”
Suaranya terdengar semakin menusuk.
“Untuk apa kau tetap hidup?”
Darius mengepalkan tangan kuat-kuat sampai tubuhnya bergetar menahan amarah dan rasa malu.
“Lempar dia keluar,” perintah Alyysa. “Dan mulai hari ini… kalau dia berani menginjak halaman rumah ini lagi, patahkan kedua kakinya.”
“Baik, Nona Alyssa,” jawab mereka serempak.
Dua anak buah Lucien langsung mencengkeram kedua lengan Darius dengan kasar.
“Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan aku!” bentak Darius sambil memberontak.
Namun tenaga mereka jauh lebih kuat.
“Diam!” hardik salah satu pria sambil mendorong bahu Darius keras.
Bruk!
Tubuh Darius hampir terjatuh sebelum kembali diseret melewati ruang tamu mansion.
Kakinya bergesekan kasar dengan lantai marmer.
“Alyssa! Kau benar-benar ingin mempermalukanku seperti ini?!” raung Darius penuh amarah.
Namun Alyssa hanya berdiri tenang sambil menyilangkan tangan.
Tatapannya dingin tanpa sedikit pun rasa iba.
Langkah kaki para pengawal terus terdengar.
Sret… Sret…
Tubuh Darius benar-benar diseret keluar seperti sampah.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan gerbang utama mansion.
Brak!
Tubuh Darius dilempar begitu saja keluar pagar hingga jatuh keras di tanah.
“Ughh…!”
Koper dan barang-barangnya menyusul dilempar keluar secara kasar.
Pintu pagar besi perlahan tertutup di depannya.
Ceklek.
Suara kunci otomatis terdengar dingin.
Darius terduduk di tanah dengan napas kacau dan wajah penuh amarah. Ia bangkit dengan susah payah dari tanah.
Wajahnya kusut dan dipenuhi debu, namun tatapannya penuh kebencian saat menatap Alyssa di balik pagar mansion.
“Alyssa Liu!” raungnya marah. “Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!”
Napasnya memburu dipenuhi emosi.
“Aku akan merebut hak asuh Kael darimu!”
ayooooo