"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Suasana di dalam rumah terasa tebal dan berat, seolah udara pun sulit dihirup. Sudah tiga hari berlalu sejak mereka pulang dari rumah Siti, namun sikap Yusuf tak juga berubah. Ia selalu diam, banyak melamun, sering menatap kosong ke satu titik, dan menjawab setiap pertanyaan Nora hanya dengan satu atau dua kata pendek yang dingin dan tanpa perasaan.
Malam itu, saat makan malam, ketegangan itu akhirnya meledak. Piring dan sendok berbunyi beradu, memecah keheningan yang menyiksa. Nora meletakkan sendoknya dengan keras, menatap suaminya dengan pandangan yang penuh amarah dan sakit hati.
"Kamu kenapa, Mas? Sudah tiga hari ini kamu seperti orang yang tidak punya nyawa! Kalau aku bicara dijawab sekenanya, kalau aku tanya malah diam saja. Kamu pikir aku ini patung yang tidak punya perasaan? Kamu pikir aku tidak merasakan perubahan sikapmu yang drastis ini?" suaranya terdengar tinggi dan bergetar menahan emosi.
Yusuf hanya mengangkat wajah sejenak, menatap istrinya dengan tatapan yang lelah dan suram, lalu kembali menunduk. "Tidak apa-apa, Nora. Aku cuma lagi capek dan banyak pikiran saja."
"Capek? Banyak pikiran?" Nora tertawa sinis, matanya memerah menahan marah. "Jangan kira aku bodoh atau buta, Mas! Sejak kita pulang dari rumah Siti, sejak kamu menjatuhkan talak padanya, sikapmu berubah seratus delapan puluh derajat! Kamu pikir aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalamu? Kamu menyesal, kan? Kamu menyesal sudah menceraikannya! Kamu menyesal sudah menuruti kemauanku, kan?!"
Yusuf mendadak membeku. Wajahnya berubah pucat, lalu perlahan berubah merah padam menahan gejolak batin yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Ia tidak menjawab, namun diamnya itu justru menjadi jawaban yang paling nyata bagi Nora.
"Lihat kan! Kamu diam saja! Berarti benar dugaanku!" teriak Nora, air matanya mulai menetes. "Selama ini aku sudah sabar, aku sudah mengalah, aku sudah memberi jalan, dan aku sudah berkorban banyak hal demi rumah tangga kita! Tapi apa balasannya? Kamu malah memikirkannya, malah merasa bersalah padanya, malah seolah-olah akulah penjahat yang telah memisahkan kalian! Memang akulah penjahat di matamu, kan?!"
Yusuf menarik napas panjang, dadanya naik turun. Ia mencoba menahan diri seperti yang selalu ia lakukan selama bertahun-tahun, menjadi suami yang sabar, lembut, dan selalu mengalah. Namun malam itu, beban yang sudah terlalu lama ditanggungnya akhirnya melampaui batas kesabarannya. Rasa sesal, rasa bersalah, rasa sakit hati, dan rasa marah pada dirinya sendiri serta keadaan yang tidak adil itu akhirnya meledak tak terbendung.
"YA! BENAR!!" teriak Yusuf sekuat tenaga, suaranya menggelegar seisi rumah, membuat Nora seketika terdiam dan terkejut bukan main. Wajah Yusuf memerah, urat lehernya menonjol, matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah dilihat Nora sebelumnya.
"Aku menyesal! Aku sungguh-sungguh menyesal, Nora! Apa yang kamu duga itu semuanya benar! Aku menyesal sudah menceraikan Siti! Aku menyesal sudah tidak bisa memenuhi satu permintaan sederhana yang pernah dia minta seumur hidupnya! Aku menyesal sudah menjadi laki-laki yang begitu jahat dan kejam padanya!"
Yusuf berdiri dengan kasar, kursi yang didudukinya terdengar berbunyi keras terlempar ke belakang. Ia menatap Nora dengan pandangan yang tajam dan penuh amarah bercampur kepedihan yang mendalam.
"Kamu tahu apa permintaan dia padaku, Nora? Kamu tahu apa yang dia minta? Dia tidak minta harta, tidak minta kedudukan, tidak minta tempat di sampingku, bahkan tidak minta cintaku! Dia cuma minta satu hal saja! Biarkan dia tetap menyandang status sebagai istriku! Hanya itu! Hanya selembar kertas dan sebutan nama saja yang dia minta! Tapi apa? Aku bahkan tidak sanggup memberi satu hal yang sekecil dan sesederhana itu padanya! Aku terlalu penakut, aku terlalu takut melanggar janji padamu, aku terlalu ingin menjaga ketenanganmu dan ketenanganku sendiri, sampai aku mengorbankan perasaan dan harga diri wanita yang sudah berbuat begitu banyak hal baik padaku!"
Air mata Yusuf akhirnya tumpah juga, jatuh membasahi pipinya yang tegar selama ini. Suaranya terdengar parau dan pecah.
"Kamu tahu apa yang sudah dia berikan padaku? Dia menerima kesalahanku yang besar itu dengan dada yang lapang! Dia rela mengandung dan melahirkan anak dari hasil kesalahan dan kebodohanku! Dia rela menanggung malu, rela dikucilkan, rela dikatakan wanita murahan dan pelakor oleh orang banyak! Dia rela hidup terpisah, rela hidup jauh, dan rela tidak pernah menuntut apa pun selama hidupnya! Dia bahkan bersumpah tidak akan pernah menikah lagi, dan akan membawa namaku serta rasa cintanya sampai ke liang lahat! Tapi apa balasan yang aku berikan padanya? Hanya rasa sakit, air mata, kehancuran, dan talak yang memutuskan segalanya sampai ke akar-akarnya! Apa kamu pikir aku tidak merasa seperti manusia yang paling hina dan paling jahat di dunia ini?!"
Yusuf mengusap kasar air matanya, napasnya terengah-engah karena emosi yang memuncak. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan tangan gemetar.
"Selama ini aku selalu diam, selalu mengalah, selalu berusaha menjadi suami yang baik dan memegang janji yang sudah aku ucapkan padamu. Aku tahu kamu punya hak, aku tahu kamu punya rasa sakit hati dan ketakutanmu sendiri. Aku tidak pernah menyalahkan kamu, aku tidak pernah marah padamu. Tapi hati dan perasaanku ini bukan batu, Nora! Aku ini manusia biasa yang punya hati nurani dan perasaan! Bagaimana mungkin aku tidak menyesal? Bagaimana mungkin aku tidak merasa bersalah? Bagaimana mungkin aku bisa tenang dan tersenyum bahagia sementara aku tahu di sana ada wanita yang hancur lebur hanya karena keputusanku, hanya karena permintaanku, hanya karena keinginanmu?!"
Ia melangkah mundur, tertawa getir dan pahit.
"Kamu menuduhku masih mencintainya? Mungkin benar juga! Bagaimana mungkin aku tidak kagum dan tidak menghargai wanita yang sebaik, setulus, dan sesabar dia? Tapi bukan itu masalahnya, Nora! Masalahnya adalah aku merasa aku sudah melakukan ketidakadilan yang sangat besar! Aku sudah menyakiti orang yang bahkan tidak pernah berbuat salah sedikit pun padaku, orang yang hanya jatuh cinta pada orang yang salah dan akhirnya menderita karenanya! Dan aku sendirilah pelakunya! Akulah yang paling bersalah dalam hal ini!"
Yusuf menatap Nora yang kini sudah menangis tersedu-sedu, terpaku dan terkejut melihat sisi suaminya yang belum pernah ia ketahui selama ini.
"Kamu mau aku bagaimana, Nora? Kamu mau aku pura-pura tidak tahu apa-apa? Kamu mau aku pura-pura bahagia seolah tidak ada apa-apa yang terjadi? Kamu mau aku berjalan dengan kepala tegak sementara hatiku hancur berkeping-keping karena rasa bersalah yang tak terbayangkan? Aku tidak bisa, Nora! Aku manusia biasa yang punya batas kesabaran dan perasaan! Kalau kamu menuduhku, ya aku akui semuanya! Aku menyesal! Aku menyesal luar biasa! Dan rasa penyesalan ini akan terus membayangi dan menyiksaku sampai aku mati nanti!"
Suara Yusuf perlahan melemah, kemarahannya mereda namun rasa sakit dan kepedihannya masih terasa begitu nyata. Ia memalingkan wajah, tidak sanggup lagi menatap istrinya.
"Itulah yang ada di dalam hatiku, Nora. Itulah yang selama ini aku pendam dan aku sembunyikan sekuat tenaga. Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Kamu sudah tahu apa yang aku rasakan dan apa yang aku pikirkan. Sekarang terserah kamu mau menilai aku apa, mau menganggap aku siapa. Aku sudah tidak sanggup lagi berpura-pura kuat dan berpura-pura baik-baik saja."
Keheningan yang panjang dan menyakitkan pun menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara isak tangis keduanya yang bercampur menjadi satu—satu menangis karena merasa dikhianati dan tidak dihargai, satu lagi menangis karena rasa bersalah yang mendalam dan kesadaran bahwa ia telah menjadi laki-laki yang paling jahat bagi wanita yang paling tulus yang pernah ia temui.
Bersambung....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣