Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perundingan Berdarah
Setelah pertemuan dengan wanita itu berakhir, mereka melesat menembus desis angin menuju tempat perbaruan. Namun, langkah mereka terhenti saat Liusan menangkap kilatan logam di kejauhan. Sebuah bendera panji kavaleri berkibar. Mata Simura menyipit, jantungnya berdegup tak beraturan saat mengenali lambang itu. Panji Naga Emas, simbol kekuasaan mutlak Negara Nesia.
Tanpa membuang waktu, Simura menarik lengan Liusan, menyeretnya bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Liusan mengernyit heran, ini bukan sikap Simura yang ia kenal. Biasanya, Simura adalah pribadi yang tenang dan penuh perhitungan, bukan seseorang yang memilih untuk bersembunyi.
Saat rombongan kavaleri itu melintas, wajah Simura berubah pucat, lalu mengeras penuh kecurigaan.
"Mengapa pasukan elit Negara Nesia bisa berada di wilayah Dinasti Yan?" ucap Simura dalam hatinya.
Begitu suara derap kaki kuda menjauh, Liusan hendak melontarkan protes atas tindakan pengecut Simura. Namun, Simura memotong dengan nada mendesak,
"Ikuti aku. Kita selidiki mengapa mereka ada di sini," ajak Simura.
Mereka membayangi rombongan kavaleri itu melewati rimbunan pepohonan hutan yang lebat. hingga rombongan kavaleri itu berhenti di kediaman megah milik wanita penggoda itu. Di sana, dari kereta paling megah, turunlah seorang pria muda dengan jubah sutra bersulam naga pakaian khas kekaisaran. Simura tertegun. Sosok itu adalah Sifeng, adik tirinya. Pangeran yang seharusnya berada di ibu kota, malah menemui seorang wanita di wilayah negara asing.
Dengan menyusup dan menyamar sebagai pengawal yang mereka lumpuhkan, Simura dan Liusan berhasil memasuki balai tamu. Di sana, mereka mendengar percakapan wanita itu dan Sifeng. ternyata wanita itu adalah Yan Daiyu, Putri Dinasti Yan. pemandangan di depan mereka mengiris nurani. Yan Daiyu, yang biasanya pongah, kini gemetar ketakutan di hadapan Sifeng.
"Dasar putri jalang!" bentak Sifeng, mencengkeram dagu Yan Daiyu kasar.
"Kau berani memulai perundingan damai dengan Dinasti Mei tanpa izin dariku? Apa kau lupa siapa yang membuatmu tetap duduk di takhta ini?"
"Hamba mohon ampun, Pangeran...hamba...," isak Yan Daiyu .
"Cukup! Untuk terakhir kalinya, aku memaafkanmu. Tuan Agung dari Dinasti Mei akan datang. Aku tidak mau perundingan itu berhasil. Bunuh dia, atau kepalamu yang akan menjadi persembahan bagi ayahku." Ancam Sifeng dingin.
Setelah Sifeng berlalu, Yan Daiyu terduduk lemas, dikelilingi para pelayan yang cemas. Liusan, yang menyaksikan semua itu dari balik pilar, mencengkeram gagang pedangnya hingga buku jarinya memutih. Kehancuran negerinya bukan karena takdir, melainkan permainan kotor di balik layar pihak ketiga.
Di saat itulah, Simura menatap Liusan dengan pandangan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Liusan, selama ini kau mengikutiku tanpa tahu siapa aku sebenarnya. Aku adalah Pangeran dari Negara Nesia. orang yang seharusnya menjadi sasaran kemarahanmu."
Liusan tertegun, dunianya seolah runtuh. Namun, di tengah keterkejutan itu, Simura melanjutkan dengan tatapan penuh tekad,
"Dinasti Yan hanyalah kambing hitam. Perang ini diciptakan untuk meruntuhkan Dinasti Mei. Bantu aku, Liusan. Kita akhiri omong kosong ini."
Strategi pun disusun. Bersama Jenderal Bai Shan, sebuah rencana gila dijalankan. Seorang panglima korup yang sudah lama masuk dalam daftar hitam Jenderal Bai Shan dikirim sebagai umpan menyamar sebagai Tuan Agung Dinasti Mei dalam kereta yang mewah.
Hari perundingan tiba. Di bawah terik matahari, kereta itu berhenti di kaki bukit. Simura dan Liusan, dalam penyamaran sebagai pengawal, berdiri tegak di samping Yan Shao, adik dari Yan Daiyu.
Tuan Agung gadungan itu turun dengan kesombongan yang menjijikkan, membiarkan dirinya ditandu menuju tempat perundingan. Liusan menahan amarah melihat perilaku panglima itu. panglima itu mempermalukan nama baik Negara Nesia dan juga nama junjungannya. Di paviliun perundingan, sang panglima mabuk oleh anggur dan pesona Yan Daiyu , matanya liar meraba sang putri.
"Apa Tuan Agung mengerti tujuanku mengundangmu?" bisik Yan Daiyu , suaranya mendesah menggoda.
"Aku tahu... kau menginginkanku..." jawab sang panglima, tangannya kian berani.
"Srak!"
Tanpa peringatan, sebilah pisau tertancap dalam di perut sang panglima. Keheningan pecah oleh teriakan kesakitan. Saat sang panglima memerintahkan pasukannya untuk menyerang, dengan cepat Yan Shao justru berbalik membantai mereka. Dengan memegang perutnya yang bersimbah darah, panglima korup itu mengancam Yan Shao. Jika berani macam macam dengannya, maka Dinasti Mei tidak tinggal diam. Namun Yan Shao tidak bergeming, Dengan satu tebasan bersih, kepala panglima korup itu jatuh ke tanah.
Liusan hendak menyerbu ke depan namun ditarik mundur oleh Simura.
"Lihatlah, Liusan. Satu gerakan, dua tujuan. Kita tidak hanya melumpuhkan rencana Sifeng, tetapi juga menumpas pengkhianat di negeri kita sendiri," bisik Simura lirih.
Liusan terdiam, menatap dingin pada kepala yang menggelinding di lantai. Sebuah politik tingkat tinggi telah dimainkan. Dinasti Mei kini terlepas dari ancaman, namun bagi Simura, ini hanyalah babak pembuka dari perang yang lebih besar melawan saudaranya sendiri.
(Bersambung)
semangat thor ✍️🤭😉🌹
kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭