Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16 Air Mata Palsu
Anindya demam sepanjang malam.
Tubuhnya kadang panas, kadang menggigil begitu keras hingga Wulan harus mengganti kain hangat berulang kali. Tabib Kerajaan Suradi datang dua kali sebelum fajar. Setiap kali ia memeriksa nadi Anindya, Arjuna berdiri di samping ranjang tanpa bergerak, seperti bayangan yang menolak pergi.
"Yang Mulia juga harus beristirahat," kata Suradi akhirnya.
"Rawat dia."
"Hamba merawat Gusti Putri. Tetapi jika Yang Mulia jatuh sakit..."
Arjuna menoleh.
Suradi langsung menunduk. "Hamba lancang."
Di luar kamar, Puspa menunggu dengan mata merah. Ia memaksa ingin meminta maaf lagi, tetapi Wulan menahannya atas perintah Arjuna. Bima duduk di lantai koridor, memeluk lutut, wajahnya pucat oleh rasa bersalah.
Ketika Anindya sadar sebentar menjelang pagi, hal pertama yang ia tanyakan tetap Puspa.
"Dia baik," jawab Arjuna, menahan cangkir jamu di dekat bibirnya. "Minum dulu."
"Jangan marahi Bima."
"Aku tidak memarahinya."
"Jangan marahi Puspa."
"Aku juga tidak memarahinya."
Anindya mencoba membuka mata lebih lebar. "Yang Mulia marah pada siapa?"
Arjuna diam sejenak. Di bawah cahaya pelita, wajahnya tampak terlalu tenang.
"Pada orang yang membuat jembatan itu tidak lagi aman."
Anindya ingin bertanya lebih jauh, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Jamu pahit menyentuh lidahnya. Arjuna menahan cangkir dengan sabar sampai ia menelan semuanya.
***
Pagi itu, taman belakang Puri Timur ditutup.
Garuda memeriksa jembatan kayu bersama dua orangnya. Wulan berdiri di dekat kolam, wajahnya masih pucat. Di tempat Puspa tersandung, ada bekas licin yang tidak hilang meski semalam diguyur hujan.
Puspa datang dengan langkah pelan, masih dibalut selimut. Bima mengikuti di belakangnya, matanya sembap.
"Aku mengingat sesuatu," kata Puspa, suaranya bergetar. "Sebelum jatuh, selendangku tersangkut pada paku kecil di pagar. Kemarin pagi saat aku lewat, paku itu belum ada."
Bima cepat mengangguk. "Aku juga melihat papan jembatan itu agak terangkat. Aku kira karena hujan."
Garuda berjongkok, menyentuh pagar yang dimaksud. Di sela kayu, memang ada paku tipis baru, dipasang rendah dan miring, cukup untuk menangkap kain tetapi tidak mencolok dari jauh.
Wulan menutup mulut. "Jadi bukan hanya licin."
Arjuna menatap paku itu. "Ada orang yang ingin Puspa berhenti di titik ini."
"Minyak," kata Garuda setelah menyentuh ujung kayu dan menciumnya.
Adi mengerutkan kening. "Minyak apa?"
"Bukan minyak dapur. Ada aroma kenanga."
Wulan langsung menoleh. "Minyak kenanga?"
Arjuna yang sejak tadi diam memandangnya. "Kau tahu sesuatu?"
Wulan menelan ludah. "Saat Raden Ayu Anggraini datang beberapa hari lalu, ia membawa hadiah minyak kenanga. Kotaknya belum dibuka. Hamba menyimpannya di ruang luar."
"Ambil."
Tidak lama kemudian, kotak hadiah itu diletakkan di meja taman. Segelnya masih utuh, tetapi ketika Garuda memeriksa bagian bawah, ada bekas tipis seperti pernah dibuka dari sisi yang tidak terlihat.
Adi berbisik marah, "Berarti seseorang masuk ke ruang luar."
"Atau hadiah itu sejak awal bukan hadiah," ujar Arjuna.
Garuda membuka botol di dalam kotak. Aroma kenanga keluar, lembut dan manis. Ia membandingkannya dengan kain yang diusapkan dari jembatan. Sama.
Wulan menutup mulut. "Gusti Putri hampir mati karena ini."
Arjuna tidak berkata apa-apa. Justru diamnya membuat udara terasa lebih dingin.
"Siapa yang masuk taman kemarin sebelum Puspa datang?" tanyanya.
Adi menjawab cepat, "Dua dayang pembersih, satu tukang kebun, dan seorang dayang luar yang membawa pesan dari Puri Candra. Hamba masih memeriksa nama."
"Periksa lebih cepat."
Garuda menunduk. "Hamba juga mendapat kabar. Setelah Anggraini pulang dari Puri Timur waktu itu, dayangnya bertemu pelayan Puri Baskara."
Baskara lagi.
Arjuna menutup botol minyak dengan gerakan pelan. "Jangan tangkap siapa pun dulu."
Wulan terkejut. "Yang Mulia?"
"Jika ular baru keluar setengah badan, jangan potong ekornya. Tunggu kepalanya muncul."
***
Menjelang siang, Raden Ayu Anggraini datang membawa air mata.
Ia meminta izin menjenguk Anindya dengan alasan merasa bersalah karena beberapa hari sebelumnya sempat membuat suasana Puri Timur tidak nyaman. Wulan hampir menolak di gerbang, tetapi perintah Arjuna datang lebih dulu.
Biarkan ia masuk.
Anggraini diterima di pendopo luar, bukan kamar Anindya. Arjuna duduk di kursi utama. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Anggraini berlutut dengan mata basah. "Yang Mulia, hamba mendengar Gusti Putri jatuh sakit setelah menyelamatkan Nimas Ayu Puspa. Hamba sangat sedih. Hamba membawa doa dan sedikit jamu penghangat."
Adi mengambil wadah jamu itu sebelum mendekat ke meja. "Akan diperiksa dahulu."
Wajah Anggraini berubah sedetik. Lalu ia tersenyum sedih. "Tentu. Puri Timur harus berhati-hati."
"Kau datang cepat," kata Arjuna.
"Semua orang membicarakan kejadian itu, Yang Mulia. Hamba tidak bisa tinggal diam."
"Apa yang mereka bicarakan?"
Anggraini menunduk lebih dalam. "Hamba tidak berani mengulang kabar buruk."
"Ulangi."
Suara Arjuna tidak keras, tetapi cukup untuk membuat bahu Anggraini kaku.
"Ada yang berkata..." Ia berhenti, seolah berat. "Ada yang berkata tubuh Gusti Putri mungkin akan sulit memberi keturunan. Hamba tidak percaya, tentu saja. Hamba hanya sedih bila Puri Timur harus menanggung kabar sekejam itu."
Adi mengepalkan tangan.
Wulan yang berdiri di balik tirai hampir maju, tetapi Garuda memberi isyarat agar ia diam.
Arjuna menatap Anggraini lama. "Kabar dari kamar tabib Puri Timur bisa sampai ke telingamu sebelum matahari tinggi. Menarik."
Wajah Anggraini memucat.
"Hamba mendengar dari dayang luar."
"Dayang luar yang mana?"
"Hamba... tidak tahu namanya."
"Kau datang membawa jamu, membawa belas kasihan, dan membawa kabar yang bahkan belum diumumkan. Tapi kau tidak tahu dari siapa mendengarnya?"
Air mata Anggraini jatuh. Kali ini lebih cepat. "Yang Mulia mencurigai hamba?"
"Aku sedang mendengarmu."
Kalimat itu lebih menakutkan daripada tuduhan.
Anggraini menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lantai. "Hamba hanya ingin membantu. Jika kelak Gusti Putri membutuhkan perempuan lain untuk mendampingi Puri Timur, hamba..."
Ia berhenti terlalu lambat.
Seluruh pendopo sunyi.
Arjuna berdiri.
Anggraini sadar kesalahannya dan langsung menangis lebih keras. "Hamba tidak bermaksud begitu."
"Tentu kau bermaksud."
Wajahnya membeku.
Arjuna berjalan turun satu undakan. "Kau menunggu istriku lemah agar bisa menawarkan diri sebagai pengganti. Kau menyebarkan belas kasihan agar orang mengira Puri Timur membutuhkan wanita lain. Dan kau pikir air mata cukup untuk menutupi bau minyak kenanga di tanganmu."
Anggraini mengangkat kepala, matanya melebar.
Itu hanya sekejap, tetapi cukup. Kepanikan yang muncul di wajahnya bukan wajah orang tidak bersalah.
Garuda masuk dari samping dan berlutut. Di tangannya ada sepotong kain kecil.
"Yang Mulia, dayang Raden Ayu Anggraini tertangkap di dekat ruang luar. Ia membawa sisa minyak yang sama dengan bekas di jembatan."
Anggraini terhuyung meski masih berlutut.
Arjuna menatapnya tanpa belas kasihan.
"Sekarang," katanya dingin, "kita mulai bicara tentang siapa yang menyuruhmu."