NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008

Ilustrator Misterius

Gambar di tangan Kevin adalah gambarnya.

Kalimat itu berputar di kepala Seline sampai ia kembali ke kamar dengan napas yang belum stabil. Darren masih tidur di sofa, buku matematika menutupi setengah wajahnya. Kertas yang tadi dikejar Seline sudah lembap di bagian tepi, tapi tulisan rumus di dalamnya masih bisa dibaca.

Seline meletakkan kertas itu di meja, lalu duduk di depan koper birunya.

Tangannya bergerak otomatis membuka lapisan bawah koper. Di sana, di antara pakaian yang dilipat rapi, tersimpan sebuah map plastik tipis berisi beberapa sketsa lama, satu tablet gambar murah yang layarnya sudah retak kecil, dan buku catatan berisi daftar pesanan ilustrasi.

Ia tidak pernah menunjukkan benda-benda itu pada Tante Chen.

Di rumah ini, ia datang sebagai kerabat miskin dari Surabaya. Orang-orang sudah punya tempat untuknya sebelum ia sempat bicara. Kalau mereka tahu ia punya penghasilan sendiri, mungkin mereka akan bertanya dari mana. Kalau mereka tahu ia menjual ilustrasi dengan harga yang kadang lebih tinggi dari gaji bulanan pegawai kecil, Tante Chen bisa saja menganggapnya tidak perlu dibantu, atau lebih buruk, ingin mengatur uangnya.

Seline menyalakan tablet. Layarnya berkedip lama sebelum hidup.

Nama akunnya muncul di aplikasi galeri daring.

Tao.

Hanya tiga huruf.

Ia memilih nama itu sejak umur enam belas tahun. Bukan karena terdengar keren. Bukan juga karena ia ingin tampak misterius. Kata itu pernah muncul dalam mimpinya berkali-kali, suara samar yang memanggil dari keramaian lampion. Tao... Tao... Kadang ia terbangun dengan dada sesak, tetapi saat mencoba mengingat wajah orang yang memanggil, semuanya hilang seperti asap.

Maka ia memakai nama itu untuk gambar-gambarnya. Nama yang bukan Seline, bukan anak angkat dari gang sempit Surabaya, bukan kakak perempuan yang menghitung uang sekolah Darren.

Tao bisa menjual karya tanpa perlu menjelaskan asal-usulnya.

Dua tahun lalu, pesanan itu datang lewat perantara galeri online. Pembelinya tidak memakai nama jelas. Hanya kode kolektor dan alamat pengiriman melalui kurir khusus Jakarta. Permintaannya singkat.

Saya ingin gambar tentang cahaya yang hampir hilang, tapi masih membuat seseorang menoleh.

Seline masih ingat malam ia membaca kalimat itu. Di luar rumah kontrakan, tetangga memutar musik dangdut terlalu keras. Darren demam ringan dan tidur di lantai dengan kompres di dahi. Ibu angkatnya batuk di kamar sebelah. Seline duduk di meja lipat, menatap layar tablet retak, lalu menggambar seorang gadis di bawah lampion.

Gadis itu menoleh karena ada yang memanggil.

Atau karena ia takut kalau tidak menoleh, cahaya terakhir akan padam.

Pesanan itu dibayar lunas tanpa tawar-menawar. Bahkan setelah karya dikirim, pembeli itu memberi bonus melalui perantara.

Untuk pertama kalinya, Seline bisa membeli obat ibu angkatnya tanpa berutang pada tetangga.

Karena itulah ia mengingat gambar itu terlalu jelas. Setiap garisnya. Setiap warna merah lampion yang ia buat berlapis-lapis sampai terlihat hangat. Setiap bayangan di belakang gadis itu.

Dan karena itulah ia tahu gambar di tangan Kevin bukan cetakan biasa.

Itu karya asli.

Seline membuka catatan lama. Halaman tanggal dua tahun lalu masih ada, tulisannya miring karena ia mencatat sambil mengantuk.

Lampion Girl. Original. Buyer: private collector. Jakarta.

Ia menatap kata Jakarta sampai matanya perih.

"Kak?"

Darren terbangun dan duduk, rambutnya acak-acakan. "Kenapa belum tidur?"

Seline cepat menutup tablet. "Kakak cuma cek dokumen."

"Dokumen sekolahku?"

"Iya. Besok kita harus pastikan semuanya lengkap."

Darren menguap. "Aku mimpi tesnya pakai bahasa Inggris semua."

"Kalau begitu besok kita latihan bahasa Inggris juga."

"Sekarang?"

Seline akhirnya tertawa pelan. "Sekarang kamu tidur."

Darren menatap map plastik di pangkuannya. "Itu gambar Kakak?"

Seline membeku sesaat, lalu mengangguk. Dari semua orang di dunia, Darren satu-satunya yang tahu Tao adalah dirinya. Anak itu sering duduk di sampingnya saat ia menggambar, memegang kipas tangan kalau listrik padam, atau mengingatkan ia makan saat deadline.

"Kakak dapat pesanan baru?" tanyanya.

"Belum."

"Sayang. Kalau ada, uangnya bisa buat biaya sekolah."

Seline mengusap kepalanya. "Jangan pikirkan biaya. Tugasmu belajar."

"Tugas Kakak selalu terlalu banyak."

Ucapan itu membuat Seline terdiam. Darren bicara dengan mata setengah mengantuk, tetapi tepat mengenai bagian yang paling ia sembunyikan.

"Tidur," kata Seline akhirnya, lebih lembut. "Besok kalau bangun kesiangan, Ko Jason menertawakanmu."

Darren langsung merebahkan diri lagi. "Dia baik."

"Iya."

"Nggak seperti Ko Kevin."

Seline tidak menjawab.

Darren menarik selimut sampai ke dagu. "Ko Kevin serem. Tapi kemarin dia bukain gerbang."

"Dia tidak membuka gerbang. Dia hanya menyuruh satpam."

"Tetap saja."

Seline mematikan lampu kecil di dekat sofa. Darren kembali tertidur beberapa menit kemudian, meninggalkan Seline dengan tablet, map, dan rahasia yang semakin berat.

Ia membuka kembali aplikasi galeri, masuk ke halaman karya lama. Di sana, status karya lampion itu tertulis sold. Tidak ada nama pembeli. Tidak ada alamat lengkap. Semua transaksi melalui perantara, sesuai permintaan kolektor.

Seline menggulir percakapan lama dengan admin galeri. Pesan-pesan itu masih tersimpan.

Kolektor meminta karya asli, bukan cetakan. Tanda tangan cukup "Tao" di sudut bawah. Harap dikemas aman, tidak dilipat.

Ia bahkan masih ingat rasa takut saat menyerahkan tabung karton besar ke kurir. Waktu itu hujan juga turun di Surabaya. Ia berdiri di depan minimarket, memegang resi pengiriman dengan tangan basah, merasa seperti melepaskan bagian kecil dari dirinya ke kota yang tidak pernah ia kunjungi.

Tidak ada karya kedua. Tidak ada duplikat.

Namun sekarang ia tidak butuh nama.

Kevin Hartono memegang karya asli itu di ruang pribadinya.

Ia bukan sekadar melihat gambar itu. Ia menyimpannya, membuka amplopnya sendiri, bahkan menyentuh sudut kertasnya dengan hati-hati seperti benda berharga.

Seline menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi hampir ketahuan gemetar di depan Kevin. Tangan yang sama menggambar garis wajah gadis di bawah lampion dua tahun lalu.

Ada sesuatu yang aneh dalam dada Seline. Bukan hanya takut. Bukan hanya malu. Ada rasa panas kecil yang muncul tanpa izin, karena bagian paling sunyi dari dirinya ternyata pernah sampai ke tangan pria paling tidak tersentuh di rumah ini.

Namun panas itu cepat ia padamkan.

Kevin Hartono adalah pewaris keluarga besar. Ia punya ruang pribadi, koleksi pribadi, asisten pribadi, dan tatapan yang bisa membuat satu meja diam. Sementara Seline tinggal di kamar belakang dengan koper tua dan status menumpang.

Tao boleh membuatnya penasaran.

Seline tidak boleh.

Ia mematikan tablet dan menyembunyikannya kembali di bawah lipatan pakaian.

Kalau Kevin tahu Tao adalah gadis miskin yang sekarang tinggal di rumahnya sebagai kerabat jauh, entah tatapan seperti apa yang akan ia berikan padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!