NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mengubah Takdir
Popularitas:239.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.

Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

“Baiklah…” suara Bima menggema rendah namun tajam, menembus keheningan yang mencekam. “Siapa lagi yang ingin maju?!”

Kata-kata itu belum sepenuhnya mengendap ketika aura milik Bima, Kevin, dan Andri meledak bersamaan. Tekanan tak kasatmata menyapu ruangan seperti gelombang badai, menghantam para perwakilan dan Mordain tanpa ampun.

“Kugh!”

“Ugh!”

“Ti-tidak mungkin…!!”

Satu per satu wajah mereka memucat.

Tubuh Mordain dan para perwakilan bergetar hebat, lutut mereka nyaris tak mampu menopang beban aura yang menindih dari segala arah. Perbedaan kekuatan itu telanjang, terlalu jauh, terlalu kejam.

Para anak buah yang berdiri di belakang bahkan lebih parah. Beberapa ambruk seketika, yang lain tersungkur sambil terengah, tak sanggup bergerak sedikit pun. Lantai ruangan dipenuhi tubuh-tubuh yang tumbang, seolah ditindih tangan raksasa yang tak terlihat.

Namun di tengah kekacauan itu, ada satu sosok yang tetap tenang.

Dion.

Ia masih menyender di kursinya, satu kaki terlipat santai, menatap pemandangan di depan dengan sorot mata datar, hampir seperti sedang menilai kualitas sebuah pertunjukan. Tekanan aura yang membuat yang lain hampir pingsan tak menyentuhnya sedikit pun.

Berbeda dengan Barra.

“Ugh!” erangnya tertahan. Wajahnya menegang, napasnya tersendat, sebelum akhirnya tubuhnya ambruk ke lantai, tak mampu menahan tekanan yang semakin meluas.

Saat itulah Dion berdiri.

“Baiklah sudah cukup… kalian bertiga berhenti sekarang.”

Suara Dion tenang, dingin, namun cukup untuk memotong derasnya aura yang memenuhi ruangan. Ia melangkah maju dengan santai, langkahnya mantap, seolah udara berat itu tak pernah ada. Ia bergerak menuju pusat pertikaian, ke arah Andri, Kevin, dan Bima.

Ia tak ingin temannya, teman pertamanya, hancur oleh tekanan yang bahkan bukan ditujukan padanya.

Langkah Dion membuat semua mata yang masih terbuka terarah padanya.

Andri adalah yang pertama bereaksi.

“Bangsat! Siapa itu?!” bentaknya kasar, darah panasnya kembali mendidih.

Dion berhenti tepat di depan barisan perwakilan dan Mordain, lalu menatap Andri lurus-lurus.

“Apakah kau ingin dihajar lagi?” tanyanya dingin. “Atau kau sudah lupa?”

Ruangan seketika membeku.

Mordain dan para perwakilan membelalak. Pemuda itu, perwakilan baru, berdiri di sana tanpa goyah, tanpa tanda-tanda tertekan sedikit pun oleh aura tiga monster di hadapannya.

Di sisi lain, Andri, Kevin, dan Bima membeku.

Wajah mereka berubah.

“Ka-kau… Dion?!” Andri menunjuk dengan jari gemetar, suaranya nyaris pecah.

Kilatan ingatan menghantam kepalanya, satu pukulan, tubuhnya terlempar, rasa tak berdaya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tinju yang tak pernah sempat ia balas.

Tanpa mereka sadari, aura itu menghilang.

Bukan karena diperintah, melainkan karena ditarik kembali secara refleks.

Tekanan yang tadi menghimpit ruangan lenyap seketika. Udara kembali normal, namun ketegangan justru menebal, menggantung di antara napas yang tertahan dan tatapan yang saling mengunci.

Hening.

Sunyi yang lebih berbahaya dari teriakan, dan di tengahnya, Dion berdiri, tenang, tegak,

menjadi poros dari badai yang baru saja reda.

“Bangsat! A-apa yang kau lakukan di sini?!” suara Andri pecah, gemetar, sama sekali tak menyisakan kesan garang yang tadi memenuhi ruangan.

Bima dan Kevin ikut membeku, mata mereka membelalak, dada terasa sesak. Dari semua kemungkinan buruk yang terlintas di kepala, kehadiran Dion di tempat ini adalah yang paling tidak ingin mereka temui.

“Ka-kau…” Mordain akhirnya bersuara, tubuhnya kini bisa bergerak bebas setelah tekanan aura menghilang, tangannya reflek membenarkan kacamata. “Apakah kau saling mengenal dengan mereka bertiga?”

Pertanyaan itu membuat ruangan kembali hening. Para perwakilan lain, Raka, Kevin Halim, Nathan, Gilang, Zayn, ikut menahan napas. Anak buah mereka yang masih terduduk di lantai perlahan bangkit, namun sorot mata mereka tetap dipenuhi keterkejutan.

“Aku mengenal mereka secara tidak sengaja,” jawab Dion tenang. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. “Karena, salah satu dari mereka bertiga berani menyentuh temanku.”

Tatapan Dion bergeser.

Semua mata di ruangan itu mengikuti arah pandangnya, menuju satu sosok kurus berkacamata yang duduk kaku di tepi meja rapat.

Barra.

Barra merasakan jantungnya hampir meloncat keluar. Tatapan-tatapan itu menekan lebih kuat daripada aura barusan, bahunya mengecil, tangannya gemetar, naluri pertamanya ingin lenyap dari tempat itu.

“Ka-kau! Apakah kau bersama mereka?!” Andri menunjuk Dion dengan jari gemetar, suaranya meninggi karena panik.

“Bersama mereka?” Dion mengulang pelan, lalu menatap satu per satu wajah dibelakangnya, Mordain, para perwakilan, dan anak buah yang berdiri di belakang. “Aku disini karena penasaran saja, karena aku diundang.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air tenang.

Wajah para perwakilan langsung berubah. Mordain membeku, matanya membelalak di balik lensa kacamatanya. Dialah yang mengirim undangan itu, dialah yang mengira Dion datang untuk bergabung, atau setidaknya berpihak.

“Kau… Dion,” suara Mordain terdengar getir, ada ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan. “Bukankah kau kemari karena sudah tahu… akan bergabung?”

Dion menatapnya lurus. Tak ada senyum, tak ada ragu.

“Tidak,” jawabnya singkat. “Aku hanya penasaran. Bagaimana mungkin aku bergabung dengan kalian... Para Penindas.”

Ruangan seakan kehilangan udara.

“Bahkan,” Dion melanjutkan dengan nada lebih dingin, “aku ingin memberantas kalian.”

Beberapa orang menelan ludah keras-keras. Mordain merasakan tengkuknya dingin, jemarinya gemetar saat kembali membenarkan kacamata, kebiasaan kecil untuk menenangkan diri yang kini terasa sia-sia.

Para perwakilan saling pandang, mata mereka membesar, pikiran mereka berpacu mencari kemungkinan terburuk. Sosok di depan mereka bukan hanya kuat, ia jelas berdiri di sisi yang berlawanan.

Di sisi lain, Andri, Bima, dan Kevin justru menghela napas panjang. Bukan karena lega.

Melainkan karena mereka tahu, jika Dion benar-benar bergabung dengan para perwakilan itu, maka mereka bertiga tak akan punya pilihan selain melawan.

Dan bahkan sekarang, mereka tidak yakin

apakah itu pertarungan yang bisa mereka menangkan.

1
Kaisar surgawi
stats MC sudah 100/100 seharusnya itu udh melebihi pasukan elite tentara atau bahkan pembunuh bayaran, tpi kenapa lawan pelajar 2vs1 masih lama perlawanannya ? ini authornya ga bisa memahami kalkulasi kekuatan yg dia buat kah ? misal kekuatan orang dewasa saja 10/100 harusnya dengan kekuatan MC 100/100 apalagi semua statnya 100/100 udh sangat kuat dan ga perlu lama2 ngadepin semut2 kaya mereka
Dita Permana
duit ratusan milyar tapi brangkat skolah masih naik bis🤭
Dita Permana
lagi-lagi dapet novel yg dialog system nya gak pake tanda kurung, tapi yg ini mudah2han seru ceritanya dan tata bahasa nya bagus
pauzi aja
ceritanya makin kacau
pauzi aja
coba d naikan kekuatan mcnya sekil cma 1 musuh semakin gila.
pauzi aja
pondasi tapi masih lemah
pauzi aja
cnya babi terlalu lembek.
pauzi aja
babi sama alurnya yg d harar mcnya anak buahnya jga minta ampun.
pauzi aja
sdh babak belus baru datang dasar pokisi indonesia taunya d kasih duit baru datang.
pauzi aja
knpa kekuatan mcnya ega d tingkatkan,dan jga ega menambah bela dirinya.
pauzi aja
kn ada kasbek 50%.. jadi kembali 150m.
pauzi aja
wih murah betul 10juta..ap ega salah.membangun 1 lantai aja kalau harga normal 100juta lebih ini cerita tahun berapa sih ap ceritanya tahun 80
pauzi aja
coba kekuatanya d naikan k 5ribu.dan tampah sekil bertarungnya.
pauzi aja
mcnya goblok sdh tau kekuatan lawan meningkat ,knpa ega menambah kekuatan jga
pauzi aja
coba tambah sekil berkelahinya jangan boQking aja.
pauzi aja
tambah kehalian lagi taici.,
pauzi aja
coba tambah lagi kekuatannya
pauzi aja
ceritanya bagus.
pauzi aja
sepi
pauzi aja
coba langsung rak s
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!