Lian shen ,seorang pemuda yatim yang mendapat kn sebuah pedang naga kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dwi97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Bisikan Jiwa
Lembah Bisikan Jiwa
Pintu batu raksasa terbuka perlahan dengan suara bergemuruh. Dari dalamnya keluar cahaya lembut berwarna perak, menyilaukan sesaat sebelum meredup. Shen dan Lin Feng melangkah masuk, dan tiba-tiba mereka mendapati diri mereka berdiri di sebuah lembah luas.
Lembah itu berbeda dari tempat mana pun yang pernah mereka lihat. Kabut tipis melayang di udara, dan dari setiap arah terdengar bisikan samar. Suara itu bukan suara biasa—melainkan bisikan yang langsung menusuk ke dalam hati, seakan berbicara dari lubuk terdalam jiwa.
Lin Feng terdiam, matanya melebar. “Aku... aku mendengar suara ayahku.”
Shen menoleh, sedikit waspada. “Ayahmu? Bukankah dia sudah lama—”
Lin Feng mengangguk cepat, wajahnya penuh kerinduan. “Ya... dia sudah tiada. Tapi aku jelas mendengar suaranya. Dia memanggilku... dia bilang dia bangga padaku.”
Shen juga tiba-tiba kaku. Dari balik kabut, ia mendengar suara lembut seorang perempuan. Hatinya bergetar kuat, karena itu adalah suara ibunya yang sudah lama hilang. “Shen... kau sudah tumbuh begitu kuat. Tapi apakah kau benar-benar siap menanggung beban darah naga di dalam tubuhmu?”
Bisikan-bisikan itu semakin jelas. Bukan hanya suara orang tua, tetapi juga suara sahabat lama, musuh yang telah mati, bahkan suara batin mereka sendiri. Lembah ini seolah menggali setiap kenangan, setiap kerinduan, dan setiap luka di dalam hati.
Lin Feng mulai melangkah tanpa sadar, mengejar suara ayahnya yang terdengar semakin nyata. “Ayah... tunggu... jangan pergi...”
“Feng!” Shen berteriak, berusaha mengejarnya. Namun begitu ia hendak menarik sahabatnya, tubuh Lin Feng menembus kabut dan menghilang.
Shen terperanjat. Lembah itu berubah. Kabut di sekelilingnya menutup rapat, memisahkan dirinya dari Lin Feng. Kini ia hanya sendirian, dikelilingi oleh bisikan yang semakin keras.
“Shen... kau tidak bisa melawan takdir. Kau hanyalah wadah naga yang suatu hari akan kehilangan kendali. Semua orang yang kau sayangi akan mati di tanganmu.”
“Shen, berhenti berjuang. Lepaskan pedangmu. Bukankah lebih baik menyerah saja?”
“Anak bodoh... kekuatanmu bukan milikmu. Kau hanya boneka dari darah naga.”
Shen menutup matanya rapat-rapat, tangannya bergetar memegang pedang. Bisikan-bisikan itu semakin menusuk, seperti ribuan jarum yang menusuk pikirannya. Ia mengingat kembali wajah ibunya, suara ayahnya, dan semua orang yang telah hilang. Hatinya hampir runtuh.
Namun tiba-tiba, ia mendengar suara lain. Suara yang jelas, lantang, berbeda dari semua bisikan. Itu suara Lin Feng.
“Shen! Kau bukan boneka! Kau adalah saudaraku! Ingat janjimu, kita akan berjalan bersama sampai akhir!”
Shen membuka mata dengan terkejut. Di kejauhan, kabut berguncang, dan ia melihat bayangan Lin Feng yang juga berjuang melawan bisikan yang membelenggunya.
Dengan seluruh kekuatan tekadnya, Shen menancapkan pedang ke tanah. Cahaya emas naga meledak dari tubuhnya, menyebar ke segala arah, mengusir sebagian kabut. Bisikan-bisikan itu berteriak, seolah terbakar oleh cahaya itu, sebelum perlahan menghilang.
Di sisi lain, Lin Feng juga mengeluarkan seluruh kekuatannya. Pedangnya memancarkan cahaya biru, membentuk lingkaran pelindung yang menghancurkan bayangan-bayangan semu yang berusaha menahannya.
Kabut akhirnya mulai menyingkir, memperlihatkan jalan yang menghubungkan mereka kembali. Shen berlari, begitu juga Lin Feng, hingga akhirnya mereka bertemu di tengah.
Keduanya saling menggenggam tangan, napas terengah-engah. Lin Feng tersenyum samar. “Aku hampir... hilang di dalam suara itu.”
Shen menepuk bahunya keras. “Aku juga hampir terjatuh. Tapi kau benar—selama kita bersama, tidak ada bisikan yang bisa menjatuhkan kita.”
Saat cahaya dari pedang mereka menyatu, lembah itu berubah. Kabut perlahan lenyap, digantikan pemandangan lembah hijau yang damai, dengan aliran sungai jernih yang berkilau seperti perak. Suara bisikan menghilang sepenuhnya, berganti dengan keheningan menenangkan.
Dari tengah lembah muncul sebuah batu monumen raksasa dengan tulisan kuno bercahaya. Shen dan Lin Feng mendekat, membaca ukiran itu.
“Lembah ini menguji hati. Hanya jiwa yang mampu menolak bayangan dan kerinduan yang bisa melangkah lebih jauh. Jangan biarkan masa lalu atau rasa takut mengikatmu.”
Shen menarik napas panjang, lalu menoleh pada Lin Feng. “Ujian ini bukan hanya soal kekuatan tubuh, tapi kekuatan hati. Aku rasa semakin ke dalam, semakin berat ujian yang akan kita hadapi.”
Lin Feng mengangguk dengan wajah serius. “Tapi kita sudah sepakat, kan? Tidak peduli apa yang terjadi, kita akan melangkah bersama.”
Dengan keyakinan baru, mereka berdua berjalan keluar dari Lembah Bisikan Jiwa, bersiap menghadapi misteri berikutnya.
---