Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.
@KaryaSB026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
“Annya ?”
“Kenapa kalian membiarkannya pergi ?”
“Gue gak tau dari mana Annya tau kalau Bos bakal pergi temui Hera, saat kami lengah dia pergi diam-diam menggunakan motor.”
“Motor loe bilang ?”
“Emang gue bilang mobil,” kesal Dika.
“Koleksi Bos,” Raymond mengecek garasi.
“Kalian cepat pergi motor Bos !” perintah Raymond ke anak buahnya.
“Syukurlah Annya baik-baik saja.”
“Kenapa loe kaya yang kebingungan ?” tanya Dika.
“Tadi Hera memanggil Annya Kakak ipar.”
“APA ?”
“Gue gak habis pikir kenapa bisa.”
“Ceritakan apa yang tadi terjadi !”
“Begini …..” Raymond menceritakan segalanya yang tadi terjadi. Disisi lain ketika Shankara membawa Feli ke kamar berpapasan dengan nenek.
“Cucu menantuku … Apa yang terjadi ?” Shankara mengacuhkan pertanyaan Nenek.
Melihat Raymond, Dika dan Nina nenek segera menghampiri mereka untuk bertanya.
“Apa dia marah dari tadi tidak mengatakan apapun ?”
Shankara mengambil salep dan mengoleskan di kaki Feli “Lembut dikit napa.”
“Pergi diam-diam tampa pengawal mau bunuh diri atau apa ?” belum menoleh.
“Akuu uu hanya …”
“Begitu penasaran sampai membuntuti dan membahayakan diri sendiri.”
Feli yang tidak bisa mengelak lagi menjadi terdiam, dia sudah pasrah jika Shankara memarahi dan menghukumnya.
“Jika kamu terluka mereka harus mati.”
“Hah ?”
“Kamu tau betul bukan ?” mendekatkan wajahnya.
“Ko jadi deg degan yah,” batin Feli.
“Kamu harus di hukum,” mendengarnya membuat Feli menelan ludah.
“Kira-kira dengan cara apa dia akan menghukum ku ?”
Membuka laci yang didalamnya terdapat cambuk, pistol, pisau dan senjata tajam lainnya.
“Habis sudah,” Feli memejamkan mata.
Mengikat tangan Feli lalu menariknya ke atas “Eh …” menekan tangannya ke bantal.
Saat membuka matanya Shankara mengecup bibirnya dan menggigitnya “Heest itu menyakitkan.”
“Tidak se menyakitkan membuatku khawatir,” Shankara mengusap lembut darah yang mengalir dari bibirnya Feli.
“Aku harap kamu bisa menahannya, mungkin kali ini aku akan bermain kasar.”
“Tunggu !!”
“Aku tidak akan berhenti,” Shankara menghisap leher Feli.
“Kaki ku masih kram,” mencoba menghindar.
“Cukup diam aku yang akan melakukannya,” meraba paha halus Feli yang menjalar ke area sensitifnya.
Shankara menutupi mata Feli dengan kain putih tipis bercorak bunga, Feli yang merasakan setiap sentuhan dari Shankara tidak bisa memberontak.
“Ruangan ini kedap suara,” bisik lembut Shankara lalu menelusuri area belakang telinga Feli yang membuatnya bersuara perlahan.
“Sejak kapan ?” Feli menahannya.
“Setelah kita melakukan untuk yang pertama kali,” mencium brutal bibir Feli.
Desahan demi desahan terdengar semakin keras di ruangan itu, merasakan sensasi yang semakin panas Shankara merobek baju Feli lalu membuka bajunya. Mulut yang masih berciuman tapi tangan meraba seluruh tubuh Feli termasuk area sensitifnya sampai ke titik intim.
Merasakan sesuatu “Milikmu terlalu besar apa kali ini muat ?” polosnya Feli.
“Jangan khawatir pasti muat.”
“Baiklah aku serahkan padamu,” perlahan Shankara memasukannya.
“Emnn est …” menggigit bibirnya sendiri.
“Sudah aku katakan kamu bebas berteriak,” susana semakin panas Shankara tidak berhenti malah semakin bermain kasar. Desahan demi desahan begitu keras dan kuat mengelilingi ruangan itu.
Mereka berdiri di depan pintu kamar untuk menguping “Apa mereka baik-baik saja ?”
“Sudah lama tidak terdengar apapun.”
Nenek bolak-balik “Semoga Shankara tidak menyakiti Feli.”
“Dari matanya saja menjelaskan betapa Bos mencintai Annya tidak mungkin menghukumnya dengan berat kan ?” Nina risau.
“Seharusnya kita tidak lengah,” Dika memukul kecil tembok disampingnya.
“Kejadian tadi sudah membuatnya ketakutan,” Raymond semakin cemas.
“Nyonya besar sebaiknya anda tenang,” Ola meminta Nenek Shankara untuk duduk dari mondar mandirnya.
“Apa mereka akan tetap berdiri di sana,” pelayan mulai berkomentar.
“Nyonya Shanaya adalah kesayangan semua orang dan kini dia membuat kesalahan pasti Tuan Shan tidak akan mengampuninya.”
“Sudah tengah malam Nyonya sebaiknya kita istirahat, Tuan Shan dan Nyonya Annya pasti baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu akan terdengar oleh kita, sepertinya mereka sudah tidur.”
“Tapi cucu menantuku …”
“Yang dikatakan Ola benar Nek, kita sudah menunggu lama tapi tidak mendengar apapun atau bahkan melihat pergerakan mereka.”
“Kesehatan Anda adalah yang terpenting,” Dika membantu membujuknya.
“Besok pagi baru kita tanyakan,” Raymond pun ikut membujuk.
“Baiklah.”
Keesokan paginya mereka sudah bersiap sarapan.
“Kenapa mereka belum kesini ?”
Dikamar Shankara menunggu Feli terbangun “Kamu hanya milikku tidak ada siapapun yang bisa mengambilnya dariku,” mengusap pipinya Feli.
Terbangun “Kamu sudah terbangun ?”
“Masih mengantuk ?”
“Hemn.”
“Semalam aku terlalu keras maaf,” mencium keningnya Feli.
“Its okey Babe.”
“Barusan memanggilku dengan sebutan apa ?”
Tersenyum “Bisa aku tidur sebentar lagi ?”
“Katakan sekali lagi ?” meraba tubuh Feli dibalik selimut.
“Hentikan itu aku sudah lelah.”
“Tapi aku tidak.”
“Shankara …”
Shankara dan Feli melakukannya sekali lagi, dibalik itu semua orang menunggu dengan cemas. Tiga jam berlalu Feli perlahan menuruni tangga Nina yang melihatnya langsung menyebut namanya.
“Kenapa kamu begitu cemas ?”
Nina mengira Feli di siksa habis-habisan “Jalannya saja sampai begitu,” sedih.
“Annya kamu tidak apa-apa ?”
“Menantuku …”
“Bibirmu ?”
Feli panik “Oh ini tidak sengaja tergigit.”
“Apa Bos menghukum mu dengan berat ?”
“Eh tidak tidak …”
“Bagaimana menjelaskannya ? kalau aku dihukum tidak seperti yang mereka bayangkan,” ingatan malam dan pagi tadi terlintas di kepalanya.
“Sedang apa kalian ?”
“BOS ??”
“Kalian begitu ketakutan,” duduk di kursi makan.
Shankara mengisyaratkan Feli untuk duduk di sampingnya “Eh Bos …”
“Katakan !”
“Lakukan sesuatu,” Raymond meminta bantuan Dika.
Sorot mata Shankara kini tertuju pada Dika “Raymond dia ingin mengatakan sesuatu.”
“Loe …” memelototi Dika.
“Dia hampir saja tewas karena menolong gue,” batin Raymond.
“Bos jika ingin menghukum Annya hukum saja aku,” menunduk lalu berlutu.
“Ray ??”
“Aku tidak akan menghukum siapa pun,” mengambilkan lauk untuk Feli.
“Apa yang ???”
“Terus saja disana sampai kakimu ku potong !!!” Raymond berdiri seketika.
Seorang pelayan wanita datang “Tuan, Nyonya …” terhenti.
“Ada tamu.”
“Siapa ?”
“Nona Hera.”
“Dia disini ?”
“Layani tamu dengan baik,” ucap Shankara.
Semuanya heran “Gak salah ?” bisik Raymond ke Dika.
“Cepat selesaikan sarapannya !”
Hera menikmati sajian di mansion mawar hitam sendirian beberapa menit kemudian Shankara menemuinya.
“Ikut denganku,” menggandeng tangan Feli.
“Ooh …” berjalan bersama.
“Tidak disangka kamu datang kesini secara tiba-tiba.”
“Aku hanya ingin membayar yang kemarin terjadi untuk kakak ipar,” Hera melirik Feli.
“Dia memanggil Annya kakak ipar yang benar saja.”
“Loe gak salah dengar.”
“Gantungan yang cantik,” Hera memuji gantungan yang di buat Maya.
“Seseorang memberikannya untukku, walaupun dia sibuk menyempatkan datang dan membuatkan hadiah ini.”
“Malas sekali mengobrol dengannya tapi demi Shankara bisa aku lakukan,” batin Feli. Feli menggantung gantungan kucing di samping pengait celananya.
“Sebaiknya kalian mengobrol,” Shankara meninggalkan Feli dengan Hera.
“Nona Hera semakin cantik,” puji Nina.
“Kalah cantik dengan Annya,” bantah Raymond.
“Kalian berdua ikut denganku ! Nina awasi istriku,” melangkah pergi.
“Baik Bos.”
“Anak kurang ajar itu malah meninggalkan cucu menantuku dengan wanita berbulu.”
“Nenek …” Nina mengikuti Nenek Shankara.
“Sudah lama ?” duduk disamping Feli.
“Tidak, aku baru sampai.”
“Bawakan beberapa buah-buahan !”
“Nenek masih sama seperti dulu,” senyum Hera.
Pelayan datang membawa sepiring buah mangga “Coba ini Nenek baru membelinya dari petani,” mengacuhkan Feli.
“Apa ??”
“Dulu sebelum Shanaya menjadi kesayangan orang rumah Hera begitu di hargai sekarang diacuhkan,” batin Feli.
“Kita lihat sampai kapan kamu akan menjadi kesayangan Shan dan Nenek,” kesal Hera melihat Nenek memanjakan feli.
“Aku rasa kakak ipar tidak tau cara memakan buah itu dengan benar.”
“Ah benar seharusnya …” Hera senang Nenek akan memarahi Feli namun yang terjadi adalah Nenek mengambil buah mangga yang masih utuh lalu memberikannya kepada Feli.
“Buka !”
“Ah iya,” feli mengupas kulitnya dengan pisau buah.
“Kakak ipar caramu mengupas buah mangga itu tidak benar, kemari aku kan mencontohkannya.”
“Wah Hera masih saja pandai sama seperti dulu.”
“Nenek terlalu memuji.”
“Haruskah ada tata cara mengupas mangga ??” sinis Feli dalam hati.
“Sebentar,” Nenek meminta seseorang membawakan sekeranjang mangga.
“Tolong kupas untukku !”
“Tentu,” Hera sangat senang bisa mengambil hati Nenek Shankara.
“Hera benar-benar telaten dan cantik,” mengambil mangga yang sudah di potong.
Memberikannya ke Feli “Makan lebih banyak,” tersenyum.
“Nenek tua itu baru saja mempermainkan ku ?” batin Hera meremas mangga sampai hancur.
“Hera apa yang kamu lakukan ?”
“Ah maaf Nenek aku tidak sengaja,” pura-pura mengelap percikan air mangga yang terkena baju Nenek.
“Dasar bodoh,” memasang cip di gantungan kunci Feli
“Sudah biarkan saja aku akan ganti baju.”
“Bajuku juga terkena air dari mangga.”
“Tidak ada baju yang cocok untukmu.”
“Tua Bangka ini sengaja melakukannya padaku ?”
Mulai berakting “Tadinya aku ingin mengajak kakak ipar jalan jalan tapi bajuku jadi kotor.”
“Mungkin bukan waktunya,” ucap Feli.
“Haha iya, menyayangkan sekali.”
“Aku kira Nona Hera rindu dengan Bos jadi datang ternyata aku salah,” sindir Nina.
“Haha aku tidak berpikir seperti itu.”
“Maaf tidak sengaja,” Nina dengan sengaja menyenggol teh hitam dan tumpah mengenai baju putih yang dikenakan Hera.
“Awas saja aku bakal buat perhitungan untuk kalian.”
“Kakak ipar hari ini sepertinya tidak bisa mungkin lain kali,” pamit.
“Bos sengaja meninggalkan Annya sendirian untuk memperlihatkan kalau dia sekarang bukan hanya istrimu tapi juga kesayangan di mansion ini.”
“Benar.”
“Oh iya kakak ipar jangan menghabiskan mangga itu sendirian nanti terluka.”
“Apa maksudnya dia ? plot ceritanya berubah otomatis konflik dan musuhnya juga. Aku harus hati-hati dengan dia.”
“Melamun ?”
“Oh iya dari kemarin aku tidak melihat Kak Lisa, kemana dia ?”
“Aku disini,” datang membawa banyak tas belanjaan.
“Eh Kakak habis dari mana ?”
“Hari saat mendapat kabar kamu akan pulang aku ingin menunggu untuk menyambut kedatanganmu tapi tiba-tiba ada urusan mendadak jadi terpaksa pergi, meski begitu aku membawa banyak hadiah untuk menebusnya.”
“Sebanyak ini untukku ?”
“Lalu untuk siapa lagi ?”
“Terima kasih Kak.”
“Nenek bukannya wanita tadi itu ?””
“Teman masa kecil Shan.”
“Lalu dimana Shan sekarang ? dia meninggalkan adik ipar dengan wanita itu ?”
“Aku lebih baik dari pada seseorang yang pergi ketika adik iparnya pulang.”
“Shan ….”
“Annya kamu masih bisa santai begitu disaat suamimu didatangi kekasih masa kecilnya.”
“Hehe….”
“Saat itu dan saat ini berbeda,” menarik tangan Feli.
“Hey mau dibawa kemana adik ipar gue,” kesal Lisa.
“Sudah lah Lis biarkan saja mereka,” Nenek membujuknya.
“Menarik,” sebelumnya Hera memasang penyadap suara dan GPS di gantungan kunci.
“Haselin siapkan beberapa orang untuk menghibur kakak iparku itu,” senyum jahat.
“Dengan senang hati.”
“Dia mau membawaku kemana ?”
“Perhatikan jalan mu !”
“Ini ??”
“Area latihan Bos,” jawab Raymond.
“Kenapa membawaku kesini ?” melirik Shankara.
Mengambil busur lalu Feli diminta memegangnya “Arahkan anak panahnya ke sasaran, pastikan tidak ada angin yang berlainan arah setelah yakin lepaskan.”
Anak panah itu tepat sasaran “Hebat.”
“Pistol …” sama seperti panahan Shankara melakukan hal yang sama dengan pistolnya.
Berkali-kali Shankara mendampingi Feli menggunakan senjata yang diantaranya panahan, pistol, dan pedang.
“Selanjutnya lakukan sendiri !” Shankara melepaskan Feli tampa bimbingannya.
“Bos kenapa terlalu memaksakan dia ?” tanya Raymond.
“Aku tidak mungkin selalu bersamanya begitu pun kalian. Dimana pun dia berada orang-orang itu pasti mengincarnya.”
“Apa itu artinya Annya sekarang menjadi target mereka ?”
“Mereka tau kelemahanku.”
“Tidak ada yang berani berurusan denganmu tapi kali ini kenapa mereka mengambil resiko.”
“Itu yang mereka tunggu selama ini.”
“Sejak kapan Bos mengetahuinya ?”
“Dari kecelakaan yang menimpa dia. Semua yang terjadi pasti ada penyebabnya, terlebih lagi Hera tidak terima aku menikah dengan Shanaya.”
“Kemarin dia memanggilnya kakak ipar,” heran.
“Hemn wanita licik seperti dia bisa melakukan apa saja, tertipu sedikit saja bisa terjebak.”
“Waktu yang cukup lama berlatih membuatku lelah. Aha mangga itu sepertinya segar,” menargetkan mangga muda.
“Berhasil,” segera mengambil mangga yang jatuh.
Ruang latihan khusus milik Shankara berada di area belakang rumah tepat tengah-tengah hutan. Jarak ruang latihan dengan rumah kayu di pinggir danau tidak jauh hanya saja terhalang pepohonan besar. Tempat latihan itu di buat senyaman mungkin, selain itu Shankara sengaja memanipulasi tempatnya orang biasa tidak mungkin bisa hapal dalam satu kali ingatan.
“Loh bukannya tadi aku di tempat latihan kenapa sekarang di hutan ?”
Mengelap mangga dengan bajunya “Emn seger …”
Berjalan “Jalan ini terasa akrab,” mengunyah mangga.
“Benar saja jalan ini menuju rumah kayu Ibu.”
Membuka pintu “Ibu ?”
“Teman mau bermain ?”
“Suaranya seperti di balik tirai itu,” mengendap-endap.
Membuka gorden “Ketemu …”
“Hahaha kamu menemukan ku,” berlaga seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet.
“Bos, Annya menghilang ….”
“SIAL …” bergegas mencari Annya.
“Bos ini anak panah yang digunakan Annya tadi,” mengambilnya dari tanah.
“Dia keluar area latihan, siapapun tidak bisa kembali …”
“Pasti dia ada di suatu tempat.”
“Tempat …” mulai berpikir.
“Rumput-rumput itu seperti ada yang pernah melewatinya,” Raymond menunjuk jejak.
Tampa suara Shankara langsung tau ada di mana sekarang Feli.