Sebuah kecelakaan yang hampir menewaskan Aditya dan Lastri membuat keduanya semakin dekat dan terikat satu sama lain. Pernikahan pun terjadi antara keduanya akibat desakan kedua orang tua Aditya.
Kecelakaan yang membuat Aditya kehilangan ingatannya mampu mencintai Lastri yang selalu ada untuknya. Namun, kebahagiaan itu sirna ketika Aditya mengingat semuanya dan sebuah peristiwa dimasa lalu yang disembunyikan kedua orang tuanya membuat Lastri kecewa dengan keluarga yang menyayanginya karena sebuah alasan dimasa lalu, peristiwa dimana kedua orang tuanya tewas secara mengenaskan di depan matanya hingga meninggal trauma yang amat dalam untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 (Bagai Neraka)
...🍁 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
2 tahun kemudian...
Bagi Lastri kehidupannya dua tahun ini benar-benar bagaikan neraka, Aditya selalu menyiksanya hingga ia benar-benar ketakutan. Pria itu berubah menjadi iblis yang sangat menyeramkan akibat kehilangan jejak Aileen sampai sekarang. Lastri sebagai sahabat Aileen juga tidak bisa mengetahui dimana Aileen berada, sebab ia juga ganti nomor dan sengaja menghapus nomor Aileen agar Aditya tidak bisa mencari informasi Aileen melalui ponsel, ia sengaja menyimpan nomor yang tidak aktif dan ia beri nama Aileen di ponselnya agar Aditya tidak curiga. Namun, karena ia berusaha melindungi Aileen, dirinya lah yang menjadi amukan Aditya sampai sekarang.
Lastri menatap tubuhnya yang penuh lebam karena perbuatan Aditya yang menyiksanya, dua bulan ini tidak hanya kata-kata kasar yang Aditya ucapkan namun siksaan di tubuhnya menjadi saksi bagaimana kehidupannya akhir-akhir ini. Ingin sekali Lastri menyerah, namun akal sehatnya masih berjalan dengan baik. Biarlah ia mati perlahan di tangan Aditya, asal tidak di tangan dirinya sendiri.
"Aileen, semoga dimanapun kamu berada kamu selalu sehat! Disini aku akan melakukan apapun untuk melindungi kamu," gumam Lastri dengan mata yang begitu sendu. Hatinya jauh lebih sakit daripada luka yang ada di tubuhnya.
Rasanya ia ingin bercerita dengan Aileen, tetapi semua bebannya ia tanggung sendiri saat ini sampai dadanya begitu terasa sesak.
Lastri memakai pakaiannya dengan perlahan, remuk rasanya tubuhnya saat ini. Namun, ia berpura-pura kuat demi dirinya sendiri. Setelah selesai Lastri keluar dari kamarnya, ia akan membereskan kekacauan yang telah dibuat oleh Aditya.
Miris!
Itulah yang Lastri rasakan saat ini. Lastri menatap Aditya yang sudah teler di sofa, walaupun hatinya begitu takut untuk mendekati Aditya tetapi tetap ia lakukan karena rasa kekhawatirannya begitu besar daripada rasa takutnya saat ini.
"Mas, kenapa kamu bisa seperti ini sih? Aku sayang sama kamu," gumam Lastri menatap wajah damai Aditya.
Bau minuman keras membuat Lastri pusing, ia hanya bisa menahan semuanya. Satu persatu Lastri mulai membereskan kekacauan yang dibuat Aditya hingga apartemen yang tadinya berantakan kini sudah terlihat rapih kembali. Lastri membenarkan letak tidur Aditya, tak lupa ia juga mengambil selimut untuk Aditya.
Cup...
Diam-diam juga Lastri mengecup kening Aditya dengan perlahan, setelah itu Lastri berjalan ke dapur untuk memasak kesukaan Aditya. Meskipun hatinya lelah, ia akan membuatkan makanan untuk Aditya. Sebenci apapun Aditya kepadanya entah mengapa ia tidak bisa pergi begitu saja dari Aditya. Entahlah, ia sangat bodoh karena tetap bertahan disini. Namun, jika tidak disini kemana lagi ia akan pulang?
****
Aditya bangun dari tidurnya, ia begitu sangat merasa pusing pada kepalanya hingga ia meringis perlahan, lalu melihat sekelilingnya yang ternyata sudah sangat bersih dan selimut yang ia pakai sekarang pasti Lastri yang memberikannya. Aditya menghela napasnya dengan berat, lagi san lagi ia lepas kontrol terhadap Lastri dan menyakiti gadis itu kembali. Semuanya benar-benar membuat dirinya berat! Orang tuanya, tuntutan papanya, hilangnya Aileen, dan menjatuhkan Arsenio membuat kepalanya benar-benar terasa ingin pecah hingga ia melampiaskan semuanya terhadap gadis yang sama sekali tidak bersalah.
Dering ponselnya membuat Aditya langsung menatap benda pipih itu dengan serius.
"Ya!" jawab Aditya setelah anak buahnya memberikan sapaan.
"Awasi jangan sampai lengah!" perintah Aditya dengan bibir menyeringai.
Akhirnya setelah sekian lama ia akan bertemu kembali dengan Aileen. Wanita itu yang telah lama menghilang kini muncul di kota ini lagi, tak ingin kehilangan jejak Aditya langsung ingin menemui Aileen. Namun, suara Lastri yang sedang berada di dapur membuat hati Aditya tergerak untuk melihat gadis itu.
Lastri terkejut saat Aditya sudah berada di depannya. "T-tuan sudah bangun? S-saya buatkan makan malam untuk Tuan. Ini sudah siap, silahkan di makan Tuan!" ucap Lastri tak berani menatap Aditya yang begitu menatapnya dengan sangat intens.
"Ambilkan!" perintah Aditya dengan datar.
Lastri mengangguk dengan cepat. Ia mengambilkan makan untuk Aditya, tak ada kata yang terucap dari keduanya. Lastri terus menunduk, dan setelah siap Lastri langsung memberikannya kepada Aditya.
"Ini, Tuan. Saya permisi!" ujar Lastri dengan lirih.
Aditya menatap kepergian Lastri dengan tatapan yang begitu datar, ia tahu Lastri sangat takut sekali dengannya akhir-akhir ini bahkan gadis itu tidak berani menatapnya. Aditya mengusap wajahnya entah mengapa hatinya merasa sakit ketika Lastri ketakutan berada di dekatnya. Padahal semua itu juga karena perbuatannya yang telah menyiksa gadis itu hingga mungkin Lastri trauma dengan dirinya.
Lastri masuk ke dalam kamarnya dengan tangan yang bergetar, ia berusaha melawan rasa takutnya tetapi tubuhnya tidak bisa ia bohongi, ia begitu takut Aditya menyiksanya kembali yang menimbulkan trauma di dirinya saat ini.
"Tenang Lastri! Kamu gak perlu takut! Kamu sudah berjanji kan untuk bertahan sampai Aditya benar-benar berubah. Setelah itu kamu bisa pergi! Pergi sejauh mungkin yang kamu bisa," bisik Lastri pada dirinya sendiri.
Lastri menghembuskan napasnya dengan perlahan dan ia ulangi hingga benar-benar dirinya tenang kembali.
"Bunda, ayah. Seandainya mereka mau menolong bunda dan ayah, mungkin aku gak akan kehilangan kalian sekarang! Aku gak akan memaafkan mereka bunda, ayah! Maaf aku gak bisa memaafkan sampai sekarang. Aku berusaha untuk ikhlas tapi mimpi itu semakin membuatku tertekan hiks..."
lanjut lg dunk up nya