Mia merupakan seorang gadis yang lahir dari keluarga berkecukupan. Mia menikahi seorang laki-laki mapan yang berakhir dengan perceraian. Mia memiliki 2 saudara laki-laki yang sangat nakal hingga membuat Mia selalu berurusan dengan kepolisian. Orang tua Mia jatuh miskin dan Mia harus banting tulang untuk menghidupinya sendiri dan membayar hutang mantan suaminya yang di bebankan kepada nya. Mia berkerja apa saja asalkan bisa menghasilkan uang. Hingga akhirnya Mia menemukan cara yang cepat dan mudah untuk mendapatkan uang yaitu menjadi simpanan suami orang.
Salah satu sepupu Mia mengetahui perbuatan Mia. Akankah Mia berubah menjadi wanita yang baik lagi atau malah sebaliknya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OdetteChan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat Lili
Tante sangat marah mengenai perbuatan Mia yang memacari suami orang. Tante juga memarahi Lili karena Lili tidak keras terhadap Mia. Lili merasa kesal pada Mia karena perbuatan Mia sudah membuat Tante memarahinya. Lili memendam rasa kesalnya hingga bertemu dengan Mia saat Papi Mia sudah sembuh dari sakitnya.
" Papi kamu sudah sembuh?" Lili menelfon Mia suatu malam.
" Besok sudah bisa pulang kak, belum sembuh total, cuma Papi sudah tidak betah lagi di rumah sakit" ujar Mia.
" Besok kalau tidak ada kegiatan, kamu ke rumah Kakak ya"
Lili menutup telfonnya dan tidak sabar menunggu hari esok.
*
Keesokan harinya Mia datang ke rumah Lili sendirian dengan menggunakan sepeda motornya. Mia masuk ke rumah Lili dan menunggu Lili sambil menonton TV di ruang Keluarga rumah Lili.
" Maaf ya, Kakak agak lama" ucap Lili kemudian duduk dekat Mia.
Mia yang sedang asik menonton hanya tersenyum saja melihat Lili duduk di dekatnya. Mia terus menonton hingga Lili memulai pembicaraannya.
" Kamu masih punya hubungan sama si Alan? " tanya Lili.
" Kenapa kak?" tanya Mia.
" Kapan hubungan kalian akan berakhir atau kamunya yang taubat?" ucap Mia dengan wajah kesalnya.
" Kwkwwk.... Memangnya aku sesat sampai harus taubat?" Mia tidak merasa berdosa dengan perbuatannya.
Lili merasa semakin kesal dan sikap Mia padanya. Lili ke dapur dan mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas. Lili meneguk air es tersebut untuk mendinginkan hatinya yang panas melihat sikap Mia yang acuh.
Lili kembali duduk di dekat Mia dengan membawa air minum juga untuk Mia. Lili meletakkan Air di meja dan melanjutkan lagi mengintrogasi sepupunya tersebut.
" Kamu tahu tidak kalau kamu sudah menghancurkan rumah tangga orang?, apa kamu betah hidup dalam bayang-bayang cinta tanpa status? apa kamu tidak ingin hidup bahagia dengan pasanganmu dan bisa memberitahukan pada dunia kalau itu pasangan sah kamu? " tanya Lili mulai terlihat marah.
Mia semakin acuh dan berpura-pura melihat HP nya seolah ada pesan masuk di media sosial miliknya.
" Udahlah Kak, emangnya Kakak tidak bosan menasehati aku terus? " tanya Mia balik.
Wajah Mia menunjukkan ekspresi marah dan kesal pada sepupunya tersebut. Lili yang juga marah membuat suasana menjadi semakin panas.
" Aku harus bagaimana kak? , punya suami seorang pemakai sekarang ada pengganti malah suami orang. Jika memang mereka pisah, itu bukan salah aku. Mungkin memang sudah takdir mereka harus pisah" Mia menunjukkan sikap Aslinya.
" Apa yang kamu lihat dari si Alan itu? kaya atau tampan? dua-duanya tidak ada. yang ada hanya sifat bejatnya yang tidak bisa setia sama satu pasangan" Lili semakin kasar berbicara dengan Mia.
Mia diam saat melihat dan mendengar kakaknya marah. Mia meneguh air yang di suguhkan Lili dan merasa sedikit dingin di hatinya.
" Tante sepertinya sudah tahu bahwa kamu pacaran sama suami orang." Lili melanjutkan dengan wajah sedihnya
" Biarkan saja Tante tahu, bukan dia yang biayai hidup aku. Aku cari sendiri semuanya, bayar hutang juga sendri. Persetan dengan siapapun, aku akan lakukan apapun agar bisa punya uang dan hidup enak"
Mia bicara seadanya seakan ingin memberitahukan pada Lili bahwa dia tidak peduli pada nasehat siapapun. Mia hanya fokus pada nasibnya ke depan. Mia akan menghancurkan siapapun jika di perlukan asal bisa membuat dirinya bahagia.
" Orang secantik aku tidak boleh hidup susah kak" Mia menimpali.
" wajah bisa tua, cantik bisa pudar, tapi sikap dan tingkah laku yang mulia akan selalu abadi"
Lili meninggalkan Mia yang sedang duduk di sofa depan TV. Lili mulai semakin gerah denagn sikap Mia yang sangat sombong dan sok cantik.
" Kak !! Aku mau pulang, Aku lelah mau istirhat." Mia meraih tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar.
Lili mengantar Mia sampai di depan pintu dan melihatnya berlalu. Lili masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kesal karena Mia tidak mau mendengar nasehatnya.
**
Dalam perjalan pulang dari rumah Lili, Mia mengupat sendiri dalam hatinya. Dia menjadi benci melihat Lili yang selalu berceramah di depannya. Dia juga benci sama Tante yang suka ikut campur dalam hidupnya.
" Aku tidak peduli sama nasehat kalian, kalian pikir kalian itu orang tua aku?" gumam Lili sambil terus mengendarai sepeda motornya.
Setibanya di rumah, Mia masuk ke kamar dan mambanting tasnya di kasur. Mia marah-marah sendiri dan mengupat-ngupat sendiri. Rasa kesal dalam hatinya belum hilang mengingat perkataan Lili tadi.
" Aku mau hubungi Mas Alan dulu biar hatiku menjadi tenang" gumam Mia.
Berkali-kali Mia menghubungi Alan tapi tidak di angkatnya. Mia semakin kesal saat pesan lewat WA juga tidak di balas oleh Alan.
" Mas Alan lagi apa sih? kenapa tidak dijawab telfonnya?"
Mia bosan sendiri menunggu Alan menghubunginya kembali. Mia menuju ke dapur dan melihat di bawah tudung saji dan berharap ada makanan yang bisa dia makan.
" Mami tidak masak?" ucap Mia pada Mami yang saat itu baru keluar dari kamarnya.
" Mami lagi rawat Papi sakit, gimana caranya Mami masak. Ini saja baru siap mandi Papi mu" Mami menuju ke kamar mandi untuk merapikan ember bekas tampungan air untuk memandikan Papi.
Mia sangat lapar dan hatinya juga semakin kesal. Mia masuk ke kamarnya dan mengenakan baju hendak keluar mencari makanan siap saji.
" Kamu mau kemana?" tanya Mami saat melihat Mia keluar.
" Cari makan" ucap Mia singkat.
" Baru saja pulang sudah pergi lagi, jangan telat sekali pulang. Mami mau kamu jaga Papi sore ini karena Mami ada acara dengan teman-teman Mami" Mami kembali masuk ke kamarnya.
Mia keluar dari rumahnya hendak membeli makanan siap saji yang tidak jauh dari rumahnya.
" Papi lagi sakit, Mami malah kumpul sama kawannya. Apa tidak mikir kalau Papi butuh Mami di rumah" pikir Mia.
***
Nasehat Lili tadi masih terngiang-ngiang di telinga Mia. Mia seakan di hantui oleh perasaan bersalah jika dia sampai membuat hubungan Alan dan Istrinya hancur. Mia terkadang juga berfikir bahwa dia akan meninggalkan Alan.
" Kalau aku tinggalkan Mas Alan, siapa lagi yang akan memberikan aku uang? ucap Mia sambil menikmati makan siangnya setibanya di rumah.
" Aku baru akan meninggalkan Mas Alan jika aku bisa mendapatkan pengganti Mas Alan." ucap Mia lagi pada diri sendiri.
Mia menghabiskan makan siangnya dengan cepat mengingat perutnya yang dari tadi sudah sangat kelaparan. Mia juga mengunyah cemilan kentang goreng dan minuman bersoda. Mia seakan di buat lupa dengan pola diet yang sedang di jalaninya.
****
Hallo reader,,, salam sayang buat kalian semua. Terima kasih sudah membaca novel Saya. Baca juga Novel baru Saya yang berjudul AKU BUKAN JULIET. Kisah novel baru Saya ini menceritakan tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Terima kasih sudah berkunjung.
Mampir juga je novelku ya
"Kekasih Sahabatku"
Terima Kasih
hallo kakak yang ganteng and cantik jangan lupa y buat mampir di karya aku yang judulnya " Bersama Denganmu menuju pelaminan "
1. Pinggir Dunia ( menceritakan tentang bentuk bumi dan banyak ilmu yang di dapat)
2. Diary perawan tua ( Menceritakan tentang seoran gadis yang terlalu pemilih hingga membuat dia tua tanpa pasangan)
3. Aku bukan juliet ( Menceritakan tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan)