Aku adalah Arthurian Merlin, pengkultivasi sihir iblis yang melampaui batas kemampuan manusia. Aku menolak kedewaan dan berkeliaran di Bumi sebagai Iblis Amarah. Seorang pria yang membuat sungai darah mengalir disetiap langkahnya.
Banyak perang terjadi dari langkahku, tetapi pemenangnya tetap sama. Aku adalah orang yang kejam dan Iblis di antara segala Iblis. Semua pembantaian itu semata-mata demi melampiaskan dendamku terhadap tujuh Dewa dan kuil penyokong mereka yang telah menghancurkan keluargaku.
Namun, apa ini? Mengapa penyihir Iblis tersohor sepertiku bangkit di tubuh pemuda yang lemah ini? Lalu, mereka tidak menggunakan sihir di sini?
Aku, Arthurian Merlin, sang Iblis Amarah yang mencatat sejarah dengan darah, bangkit kembali di dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackMail, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Barbarian Dari Timur
"Meskipun semua serangannya mengarah ke titik vital, itu tidak terlalu berdampak dengan tubuh Arkam yang dialiri Aura. Di sisi lain, karena terus didominasi, dia juga tidak bisa memasang benangnya dengan benar. Pertarungan ini menjadi layak untuk ditonton." Pionir Haynes memuji.
Daripada sebuah sparing untuk menguji kemampuan Arthur, pertarungan ini berubah menjadi penentuan peringkat. Rasanya seperti melihat pertarungan antara dua Naga di pertemuan tujuh Naga dan tujuh Phoenix.
Tidak, ini bahkan lebih baik dari itu. Karena keduanya bertarung dengan niat saling membunuh, menyandingkannya dengan Pertandingan Peringkat antar Pionir akan lebih tepat. Pionir Haynes menggenggam lengannya erat-erat, dia ingin melawan mereka berdua secara langsung. Namun, dia harus menahan diri.
Kontrol Eksternal Aura Arthur benar-benar menonjol, tetapi Arkam juga membuktikan dirinya dengan membuat Arthur yang seorang petarung genius kewalahan. Satu serangan sudah cukup untuk menumbangkannya, dia tidak punya pilihan selain menahan diri dan bersikap defensif sembari mencari celah. Masalahnya adalah Arkam adalah seorang 'Pahlawan', berlama-lama bertarung dengannya hanya akan membakar kemampuan asli Pahlawan dan membuatnya berkembang. Arthur harus mengerahkan segalanya sekarang.
Arnold di kursinya membaca kemampuan kedua cucunya dengan dada yang panas. Dia tidak bisa menyembunyikan kesenangannya sehingga tubuhnya sedikit terangkat dari kursi. "Yang satu adalah genius Internal Aura, dan yang lain genius Eksternal Aura. Legenda baru akan lahir di keluarga Mahesaku, hahaha!" Dia sangat menyukai pertarungan ini.
Arthur merubah strateginya. Dia menggandakan risiko dan mencoba melawan Arkam secara langsung. Namun, Arkam menurunkan dominasinya, dia berusaha menjadi tenang sehingga kemarahan di wajahnya ditundukkan. Suara baja berjatuhan. Sekarang Arkam bertangan kosong.
"Apa dia menyerah?"
Saat Arthur berpikir seperti itu. Serangan yang ganas menyambar ujung hidungnya. Arthur mengambil langkah mundur dan tidak bisa tidak menunjukkan keterkejutannya. "Dia terlihat jauh lebih berbahaya sekarang saat tanpa senjata. Apa ini karena Body Tempering itu? Aku harus hati-hat—"
Duak!
Serangan menusuk yang sangat keras menerjang Arthur. Meskipun dia sempat menghadangnya dengan kedua perisai, dampak kerusakannya masih terasa di tubuhnya.
Grandel El Gustav menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Cih, sungguh gaya bertarung yang kasar. Inilah mengapa meski kalian punya segunung emas, tetapi tetap berada di kasta bangsawan tingkat rendah. Barbarian dari Timur, nama itu sangat menggambarkan keluarga Mahesa."
Dasar dari seni bela diri keluarga Mahesa adalah penempaan tubuh dan setiap orang menempa bagian tubuh yang berbeda dan dengan cara yang berbeda-beda pula. Sama seperti Hans Al Mahesa yang menempa lengannya selayaknya sebuah palu, Arkam Al Mahesa menempa kedua lengannya untuk menjadikannya sebuah pedang.
Knife Hand Strike.
"Sial, pantas saja ada yang janggal. Cara dia menyerang dan jangkauan serangannya tampak tidak sesuai, rupanya itu karena dia petarung tangan kosong!?" Arthur kewalahan. Dia mengundurkan niat awalnya. Menyerang dari depan hanya akan membuatnya mati konyol. Dia dipaksa kembali memfokuskan sihirnya ke dalam strategi bertahan dan mencari celah untuk serangan balik.
Segala aspek dikalahkan dengan telak. Dampak serangan, kekuatan penghancur, kecepatan serangan, dan tekniknya sangat berbeda dari petarung lain yang selama ini pernah Arthur temui.
Liar, tanpa pola, tidak terbaca, dan mematikan. Jika begini terus dia hanya akan terjebak dalam arus dominasi Arkam. "Aku harus mencari jalan keluar dari situasi ini!"
Diana yang kini duduk di kursi penonton lagi-lagi dibuat tidak percaya. "Kakek, apa ini masuk akal? Anak laki-laki yang aku pikir hanyalah serangga, ternyata bisa memaksa Ksatria Aura bintang lima untuk serius."
Pionir Haynes menatap mata cucu perempuannya itu dengan perasaan hangat. Kini tatapan congkak itu sudah menghilang darinya. Mereka kemari untuk melihat bakat Arkam Al Mahesa, tetapi sepertinya mereka mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari itu. "Diana, perhatikan mereka dengan baik dan renungilah kesalahanmu." Pionir Haynes memberinya nasehat.
"Diana, apa yang kamu lihat sekarang bukanlah sebuah sparing antara dua orang genius, tetapi sebuah perang kecil di mana dua pihak mencoba saling membunuh untuk hidup."
Diana menganggukkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Pionir Haynes tersenyum untuknya.
"Oh? Apa anak itu menggunakan Internal burning? Yah, itu kemampuan paling cocok dengan gaya bertarung keluarga Mahesa yang kasar." Grandel semula bingung dengan kenaikan statistik Arkam yang terjadi secara tiba-tiba, tetapi kemudian dia tahu bahwa itu adalah Internal Burning. "Melihat dia mampu menggunakan Internal Burning dengan mudah, kata genius Internal Aura yang diucapkan oleh bajingan itu tidak dilebihkan."
Dia sangat tidak ingin mengakuinya, tetapi berdasarkan pertarungan ini saja, Grandel bisa menyebutkan bahwa keluarga Gustav di masa depan akan kalah telak oleh keluarga Mahesa. "Setelah aku kembali, aku akan tinggal sebentar untuk memeriksa keturunanku dengan benar."
Internal Burning, adalah kemampuan untuk memaksimalkan tubuh ke tingkat maksimal. Dengan menggunakan Aura, pejuang dapat membakar seluruh otot dan saraf mereka demi menyempurnakan gerakan seni beladiri yang mereka pelajari.
Namun, efek samping dari menggunakan kemampuan ini adalah mereka akan menjadi lebih pendiam. Hal ini disebabkan oleh insting tempur mereka yang sudah diperkuat bertindak lebih dulu daripada otak.
Satu serangan kuat datang beruntun saat napas panjang ditarik oleh Arkam. Arthur merasa seperti ada ribuan pedang sedang dihujamkan ke arahnya.
"Pahlawan macam apa kau ini?" Arthur tidak habis pikir, dia merasa bukan sedang melawan manusia. Gerakan acak yang tidak terduga dan cara dia menggerakkan tubuh untuk memaksimalkan serangan, rasanya seperti melawan sebuah mesin pembunuh daripada manusia.
"Sial, dia Monster. Aku tidak bisa mengalahkannya dengan mengandalkan kekuatan pukulan. Aku harus mencekik pembuluh darahnya. Aku akan coba menekan arteri karotidnya. Pertama-tama aku akan mencoba teknik... Eh!?"
Kilatan cahaya menyambar ke arah Arthur. Dia mencoba menahannya dengan perisainya. Namun, perisai itu hancur dan lengannya terluka cukup parah.
Dari kepulan asap dari debu kejatuhannya, Arthur melihat dua cahaya biru yang berpendar mendekat ke arahnya. Itu adalah Arkam dengan kedua tangannya yang diselimuti oleh Aura yang terwujud menjadi sebuah pedang. Dua buah Aura Sword. Lebih dari itu saja, dia mewujudkannya dengan tangan kosong.
"Apa-apaan itu? Itu jelas-jelas sihir tipe dasar belaka tanpa elemen perusak di dalamnya, bagaimana bisa memiliki daya hancur seberat ini? Selain itu, bagaimana bisa dia tidak melukai tangannya sendiri?" Isi kepala Arthur dipenuhi oleh pertanyaan.
Namun, satu hal yang pasti baginya, Aura jauh lebih baik daripada sihir. Sebuah fakta yang menyakiti harga dirinya.
Para penonton tidak bisa untuk tidak riuh. Dengan mewujudkan Aura Sword, Arkam sudah dipastikan berada di tingkatan Ahli Pedang tingkat tinggi berdasarkan konsentrasi Auranya. Wajah Nahel terangkat ke langit saat dia tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, tidak aku sangka kultivasi Aura putraku akan berkembang ketika melawan si bungsu. Dia benar-benar membuatku bangga!"
cerita yang menarik 😆😆😆
/Grin//Grin//Grin//Grin/