"Dia milik ku...Kau membunuh ku."
Suara itu yang setiap saat, Ratna dengar setelah ia menikah dengan Bram.
Bram punya istri bernama Nilam, Namun Nilam hanya anak orang tidak punya. Atas perintah dari Ibu nya, Bram memulang kan Nilam kerumah orang tua nya. Padahal Nilam sedang hamil besar.
Seminggu setelah Nilam pindah, Bram menikah dengan Ratna. Nilam frustasi karena cinta nya yang amat besar pada suami nya.
Hingga kehebohan terjadi, Nilam di temukan mati di dalam kamar oleh orang tua nya. Perut nya memburai keluar, Bayi nya juga ikut meninggal. Seolah perut nya meledak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23
Arsa terbangun dengan keadaan yang sudah terikat, Ia menatap kesana kemari karena sangking takut nya. Kini ia tengah di kelilingi wanita dengan cadar merah dan pakaian india.
Suara musik gamelan mengiringi tarian mereka, Berusaha keras agar bisa lepas dari lilitan tali yang membelenggu nya. Arsa kaget melihat banyak nya pria yang juga duduk terikat seperti diri nya.
Entah dari mana saja mereka mendapat kan pria sebanyak ini, Di lihat dari penampilan nya ada yang rapi dengan pakaian kantor. Seperti nya ada yang datang dari kota juga, Mereka gelagapan karena tidak mengenali tempat yang sangat menyeram kan ini. Tampak seseorang duduk di atas singgahsana emas di bawah pohon randu yang sangat besar.
"Malam ini kita akan menumpah kan darah untuk pencipta, Agar kita selalu cantik dan awet muda." Ketua berteriak.
"Siap ketua.."
Member cadar merah menjawab dengan serentak ucapan ketua nya, Ratna dan Arumi masih awam hanya mengikuti saja. Mereka belum tahu apa yang akan mereka lakukan.
Saat datang tadi, Ratna langsung menaruh Arsa di antara kerumunan pria lain nya yang sudah terikat. Mau mencari cadar merah yang menolong nya pun ia tidak tahu, Karena rupa mereka sama semua.
"Kemari lah kalian." Ketua memanggil Ratna dan Arumi yang belum memakai cadar.
Tangan kanan ketua segera membawa mereka, Ratna dan Arumi di berikan baju yang hanya seperti Br* dan berwarna merah juga. Mereka cepat memakai nya karena takut membuat ketua marah.
Ketua mengambil tangan mereka dan menusuk nya dengan jarum yang berwarna emas, Ratna meringis kesakitan karena tusukan tersebut. Arumi masih bingung dan tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan.
"Kau sudah resmi menjadi bagian kami, Kau sangat luar biasa karena bisa membawa anggota baru dan tumbal dalam waktu yang sangat dekat." Ujar Ketua.
"Terima kasih pujian nya." Angguk Ratna sambil membungkuk kan badan.
Kini ketua berganti menatap Arumi yang masih melongo, Seuntai kalung angsa bermata merah ia berikan kepada gadis ini. Arumi merasakan hawa dingin mengalir pada leher hingga kedada.
"Kami bisa membuat ku cantik dan di sukai banyak pria, Kau juga tidak akan menjadi tua." Janji ketua.
"Terima kasih atas berkah nya." Arumi juga senang.
"Setiap malam purnama penuh, Kau harus mencari tumbal seorang pria! Jika kau tidak bisa membawa tumbal sampai tiga kali, Maka kau akan menjadi ganjal singgah sana ku." Jelas ketua.
Bergidik Arumi mendengar ucapan ketua sekte ini, Namun untuk mundur pun tidak mungkin. Karena yang mereka janjikan sangat lah menggiur kan, Siapa wanita yang tidak mau canti serta awet muda.
Kini para member cadar merah membawa tumbal yang mereka dapat kan, Para pria ini berteriak agar di lepas kan. Hanya Arumi yang mematung menyaksikan perbuatan mereka, Karena dia anggota yang belum punya tumbal.
Ketua mengambil belati yang sangat tajam, Satu persatu menggorok leher pria yang sebagai tumbal. Mereka segera melumuri wajah dengan darah segar itu, Arsa yang melihat nya sangat ketakutan sekarang.
"Lepas kan aku, Ratna! Aku tidak punya salah padamu." Teriak Arsa pada Ratna yang mematung.
"Dia tetangga kita, Apa kau yakin akan menumbal kan dia?" Arumi berbisik.
"Sudah terlanjur di bawa, Jika kita lepas kan. Maka dia akan bercerita kepada warga lain." Sahut Ratna dingin.
"Tidak, Ratna! Aku berjanji akan diam saja." Arsa berusaha membujuk.
Namun Ratna memang berhati kejam dan sama sekali tidak peduli pada Arsa, Ketua datang di hadapan nya sambil menyeringai di balik cadar.
"Ku mohon, Jangan bunuh aku." Arsa sudah pucat.
"Darah mu sangat bagus, Kau lahir pada weton legi." Ujar Ketua.
"Ratna....Aku mohon kepadamu." Hiba Arsa.
Ratna malah tetap saja tidak menunjukan rasa bersalah, Ketua menoreh kan belati itu dan menarik kuat. Darah menyembur seperti ayam yang di sembelih, Arsa menggelepar kesakitan.
Mangkuk yang Ketua berikan, Segera Ratna tadah kan pada leher Arsa yang mengeluar kan darah segar. Sampai akhir nya darah itu habis dan Arsa harus meninggal.
Ratna dan anggota lain berdiri memegang darah pada mangkuk, Ketua di depan sana merapal mantera yang tidak Ratna ketahui. Tangan kanan Ketua mengambil sedikit darah dari para anggota. Setelah itu baru memberikan nya kepada Ketua.
"Dengan darah ini kita akan menjadi cantik dan awet muda, Mandi lah dengan darah segar ini." Ketua menyiram kan darah pada atas kepala hingga kewajah.
Yang lain juga mengikuti nya, Ratna pun tak ketinggalan. Arumi hanya diam menatap mereka yang kini sudah berlumuran darah pria yang mereka bawa tadi.
...****************...
Habib Amir datang dengan anak nya, Ustad Fikri. Untuk melamar Tisa, Mereka mencoba jika gadis itu mau. Ustad Fikri sudah ketar ketir bila sampai di tolak oleh gadis keras kepala ini.
"Maksud kedatangan kami adalah melamar nak Tisa, Untuk anak saya Fikri." Ujar Habib.
"Mohon maaf, Habib! Saya tidak bisa menerima nya." Tisa langsung menolak.
"Tisa!
Pak Malik tidak suka dengan Tisa yang sangat ketus kepada siapa pun, Seburuk apa pun kelakuan nya. Namun Pak Malik tetap ingin anak nya berada di jalan benar.
"Saya menerima pinangan anda, Habib." Pak Malik setuju.
"Bapak! Aku ndak mau nikah sekarang." Pekik Tisa.
"Jangan memaksa nya, Pak. Saya tidak mau jika Tisa menikah karena terpaksa." Ustad Fikri angkat bicara.
Tisa yang kesal langsung saja pergi, Ia begitu marah karena Ustad Fikri malah melamar nya. Padahal ia ingin sendiri selama nya saja.
"Tisa agak trauma dengan kejadian yang menimpa, Nilam. Berikan lah kami waktu, Supaya bisa membujuk nya." Pinta Pak Malik.
"Baik lah, Semoga saja Tisa bisa menerima Fikri." Angguk Habib Amir.
Setelah tamu yang melamar sudah pergi, Pak Malik dan Mak Lela menganjak Tisa untuk bicara. Tisa yang masih marah hanya diam saja sambil bersidekap dada.
"Nak Fikri itu orang baik, Tisa. Dia pasti bisa menjaga mu." Bujuk Mak Lela.
"Aku ndak mau, Mak! Lagi pula Kak Risa juga belum menikah." Kesal Tisa.
"Kalian hanya beda beberapa menit, Tidak akan masalah." Sanggah Pak Malik.
"Pokok nya aku ndak mau! Apaan malah aku tiba tiba di suruh nikah." Tisa sangat marah.
"Terus mau sampai kapan kau akan ikut kami, Menikah lah agar beban kami sedikit longgar." Mak Lela sengaja bicara demikian.
"Aku kan juga mencari uang, Mak! Malah aku bisa membantu kalian, Kalau sudah nikah maka susah aku memberi kalian uang." Tisa masih ada saja jawaban.
Mak Lela dan Pak Malik saling pandang karena Tisa yang sangat keras kepala, Entah bagai mana cara mencair kan pikiran gadis ini.
setahu aku Semar mesem 🤔🤔