Shakira membalas perbuatan Sam dengan hati sakit. Ngga disangka Sam hanya mempermainkan perasaannya. Padahal dia sudah menentang banyak orang demi bersama Sam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak
Shakira memijat kepalanya yang mendadak terasa pusing. Duduknya pun ngga bisa tenang, padahal sofa ini sangat empuk.
Kenapa bisa kebetulan sekali dia berada di perusahaan om yang baru saja dia kenal belum lama ini.
Lama Shakira memandang lukisan keluarga dalam ukuran besar yang ada di sana. Menempel di dinding di depan mata Shakira.
Ada Om Adhyswara yang merupakan kakak tertua papanya, wanita yang mungkin istrinya, dan juga laki laki muda tadi.
Rencananya Omanya akan mengenalkannya pada keluarga besarnya nanti, saat acara pertunangannya berlangsung
Mungkin di saat itu Shakira akan tau kalo dirinya ngga hanya hidup bertiga dengan mama dan papanya saja. Akan tetapi ada lagi om dan tantenya yang lain, bahkan saudara saudara sepupunya.
Membayangkan itu saja membuat perasaan Shakira merasa ngga nyaman.
Dia takut kalo mereka.yang ada hubungan darah dengannya saat bertemu nanti tidak menyukainya.
Lak laki tadi saja sempat menduganya macam macam.
Menyebalkan.
Shakira menghela nafas panjang.
Ngga lama kemudian pintu diketuk dan ngga lama kemudian dibuka perlahan.
Seorang office girl masuk setelah tersenyum. Di tangannya ada nampan yang berisi jus jeruk dan beberapa potong cake yang sangat indah dan sayang untuk dimakan.
"Silakan, nona muda," ucap office girl itu dengan sangat sopan setelah meletakkan hidangannya di atas meja.
Nona muda? Hati Shakira merasa aneh atas panggilan yang masih terasa asing di telinganya.
Setelah orang suruhan Sam, sekarang office girl di perusahaan omnya yang memanggilnya begitu.
"Terima kasih." Tapi Shakira ngga meralatnya, karena dia .masih bIngung dengan apa yang sudah terjadi.
Untuk menyingkirkan kebosanannya, Shakira pun segera meneguk jusnya dan terpaksa memakan cake yang indah itu.
Dia ngga berbakat menghias cake seindah ini. Jika dia yang melakukannya, pasti ngga ada lagi keinginan untuk menikmatinya.
Hatinya sebenarnya ngga tenang. Dia berharap, semoga hari ini ngga banyak pasien yang datang ke rumah sakit di tempatnya bekerja.
Dia pun membuka story reman teman perawatnya.
Do'anya terkabul karena teman teman perawatnya tidak ada ya g mengeluh.
Sampai kapan dia di sini?
Shakira menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam dia membuang waktu.
Setelah menghela nafas panjang, Shakira pun bangkit dari duduknya. Sudah dia putuskan akan pergi.
Bodohnya, harusnya dari tadi, Shakira mengumpat dalam hati.
*
*
*
Adhyswara sesekali memperhatikan Sam yang ngga berkonsentrasi di saat meeting berlangsung.
Dia pun ngga terlalu fokus. Kehadiran Sam bersama Shakira menimbulkan banyak tanya di hatinya. Sedikit banyak perhatiannya pun terbagi.
Setaunya Sam sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah.
Adhyswara ngga menyangka kalo keponakannya adalah teman Sam. Dan sekarang jadi perawat pribadinya.
Rasanya ngga sesederhana itu.
Setengah jam sudah berlalu. Sepertinya kliennya sudah puas dengan penjelasan putranya dan Sam.
Adhyswara juga yakin jus dan cake yang dia kirim untuk Shakira bisa sedikit menahan gadis itu jika ingin cepat cepat pergi.
Tapi kemudian dia meralat lagi pemikiran anehnya.
Kenapa Shakira harus pergi? Pasti dia menunggu Sam.
Setelah saling berjabat tangan, Sam menghampiri Adhyswara dan Arkan yang masih mengobrol dengan klien mereka.
"Om, aku pamit duluan," ucap Sam sambil mengangguk sopan pada Om Arsya dan On Bintoro
"Buru buru sekali? Gimana kalo kita ngopi dulu, Sam," sela Om Arsya sebelum Adhyswara membuka mulutnya.
Sam tersenyum sopan sebelum menjawab.
"Maaf, Om. Telanjur ada janji," tolaknya santun.
"Ya, ya. Om ngerti. Kesibukan menjelang nikah," kekeh Om Arsya salah paham. Karena undangan pernikahan Sam yang sudah diterimanya tadi pagi sebelum berangkat meeting, dia berpikir mungkin Sam akan menemui tunangannya.
"Begitulah, Om." Sam menjawab asal. Dia hanya ingin cepat pergi. Firasatnya mengatakan kalo Shakira akan kabur.
"Oke oke, Sam."
"Pergilah," ucap Adhyswara mengerti dengan hati tambah curiga. Sikap Sam yang terlalu cemas seolah mengidentifikasikan kalo hubungannya dengan keponakannya bukan hanya sebatas pasien dan perawat saja.
Rasanya lebih dari itu.
Ditambah lagi dia mengingat adiknya keukeh meminta mama mereka ngga mencampuri urusan jodoh putrinya
Tau putrinya berhubungan dengan Sam?
Rasanya ngga mungkin, tepisnya lagi dalam hati.
"Thank's, Om." Setelah menganggukkan kepalanya pada Arkan, dia pun berjalan cepat menuju tempat Shakira berada.
"Sam akhirnya akan menikah juga," komen Arsya.
"Undangannya sudah diterima sekretarisku," timpal Bintoro yang sedari tadi hanya tersenyun.
"Undangan?" Adhyswara bertatapan dengan putra tunggalnya.
"ya, dengan Zaleta," ucap Bintoro lagi.
"Kamu belum dapat undangannya? Mungkin bentar lagi," sambung Arsya mereka. Walau agak heran kenapa sahabatnya belum mendapatkannya.
"Ya-ya."
Dalam hatinya Adhyswara merasa kalo Sam ngga seperti laki laki yang akan segera menikah. Harusnya dia membawa sendiri undangannya dan langsung memberikan padanya.
Apa dia lupa?
Sementara langkah Sam terhenti di dekat pilar. Dia melihat Shakira yang kelihatan tertegun ketika melihat pintu lift yang terbuka, menampilkan sosok suami istri pemilik perusahaan El Pasha grup.
Langkah Sam tertahan dan kebingungan semakin memenuhi isi kepalanya mendengar suara sinis Oma Katrin, istrinya opa Ridwan.
"Perawat harusnya di rumah sakit. Kenapa ada di sini?"
Shakira ngga menjawab. Lututnya gemetar karens ngga menyangka bertemu dengan oma dan opanya sekarang. Sedikit menyesal, harusnya dia tetap menunggu Sam.
"Atau kamu mau pastikan jabatan kamu dengan saham dua puluh persen yang kamu punya?"
Shakira makin terdiam ngga mengerti.
Saham dua puluh persen?
Sementara keadaan makin sunyi. Para staf yang ada di kubikel masing masing seakan sedang menahan nafas.
"Sudah, ma," lerai Ridwan El Pasha kemudian tersenyum lembut pada cucunya.
"Shakira, ayo ke ruangan opa," ajaknya lembut.
Sebutan opa terasa menambah kekuatan hatinya yang tadinya menciut akibat sindiran omanya.
Kalo bukan karena hutang budi papanya, Shakira pasti akan balas menyindir omanya. Selain etika sopan santun tentu saja, walaupun dia merasa omanya ngga pantas mendapatkannya.
"Saya sedang menunggu teman."
"Teman? Jangan ngarang," tuduh Oma Ketrin cepat.
Alasan yang dibuat buat, decaknya dalam hati.
Mana mungkin dia bisa percaya. Dugaannya sudah pasti benar, mungkin anak bungsunya meminta putrinya memunculkan dirinya di sini agar dikenal sebagai salah satu pewarisnya.
"Saya ngga bohong." Shakira benci setengah mati, kenapa nenek sombong ini bisa melahirkan papanya yang sangat baik dan santun.
"Alasan," decak Oma Ketrin meremehkan dan sangat ngga percaya
"Saya juga ngga butuh dipercaya," tegas Shakira mulai ngga bisa menahan sabarnya lagi.
Ketika Ridwan akan membuka mulut untuk menyudahi pertengkaran ngga penting ini, dia terkejut mendengar suara bantahan dari sosok laki laki muda yang sedang berjalan mendekati cucunya.
Oma Ketrin menatap Sam penuh selidik karena cukup terkejut juga. Dia dan suaminya sangat mengenal Sam dan keluarganya.