“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”
“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."
genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY
tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE
[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?
"We get dirty so the world stays clean."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Old Friend
Pagi hari setelah pesta ulang tahun. Kabut menyerbu bukit tempat berdirinya Istana Timur. Abu-abu pucat adalah tema langit hari ini. Di depan tangga utama penghubung lantai, saat Obi baru saja menginjak undakan terbawah, dengan tatapan menilai, Zeze menjelajahi figur jangkung sahabatnya dari ujung ke ujung.
"Well?" Obi membentangkan kedua tangan, menunduk dan meneliti penampilannya sendiri. Seragam Exousia yang dikenakannya melekat pas di badan dan membuatnya merasa seperti menjadi bagian dari anggota pramuka.
Zeze bersedekap, masih menilai. Sedetik kemudian ia mengangguk, ujung bibirnya terangkat bangga. "Kau terlihat siap."
Pandangan Obi naik dan menetap beberapa detik di sahabatnya. "Kau juga." Ia menyeringai lebar, mempertontonkan gigi putihnya, lalu duduk di undakan. "Siapa yang menyangka akan ada saat dimana kita menjalani kehidupan normal," ia mendesah. "Benar, kan?"
"Apa yang kau katakan? Hidupku selalu normal. Mungkin kau membicarakan dirimu sendiri."
Obi memutar mata. Zeze selalu memiliki celah untuk meledek siapapun, sekalipun itu di situasi mengharukan.
Lima menit kemudian, saat sedang berbincang dengan Obi, lewat sudut mata Zeze menangkap kemunculan Kion dan antek-anteknya dari dalam lift di belakang tangga. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan Kion, sehingga ia memutuskan menjatuhkan pandangan, menghindari kontak mata.
Zeze berdeham dan menyikut pinggang Obi yang telah berdiri, "Ayo, murid baru," godanya.
Mereka berangkat ke Akademi Exousia dengan dua sedan berbeda. Zeze, Obi, Airo, dan Saga berada di satu mobil yang sama, sementara sisanya berada di mobil lain.
"Aku butuh bantuan," kata Obi yang duduk di sebelah Zeze. Nadanya ingin tahu tapi gelisah. "Apakah di sana kita akan disuruh membedah hewan, mengembangkan virus, melacak UFO—"
Zeze memutar bola matanya, "Kau tidak akan melakukan semua itu. Sejujurnya semua imajinasimu itu jauh lebih menyenangkan daripada apa yang akan kau alami nanti."
"Entahlah. Kupikir aku akan bersama Kaló sampai jam pulang. Dia mengajakku menaikkan level."
"Membolos di hari pertama sekolah, Anak Muda?" Zeze menepuk bahu Obi, menggeleng dengan lagak tidak setuju.
Obi menyeringai tak berdosa, "Aku akan mencarimu di waktu istirahat."
Begitu mesin mobil dimatikan dan Zeze telah meletakkan tangannya di gagang pintu, tiba-tiba saja pintu tersebut telah ditarik dari luar, dan sebuah tangan datang memberinya sambutan. Tatapan tak-bersahabat Zeze melekat di wajah kelewat sempurna yang muncul persis di hadapannya, sebelum ia menggapai tangan yang keras dan berurat itu sambil mendengus.
Aku sudah harus mulai terbiasa dengan ini.
Mulai hari ini, karena Zeze telah dikenal sebagai seorang keturunan Ankhatia sekaligus tunangan keturunan Raja, Kion mewajibkan Zeze untuk terus menempel dengan kelompoknya. Setidaknya selama di lingkungan akademi. Kata Kion untuk alasan keamanan. Dan Zeze harus kuat menahan geli di pinggang akibat lengan Kion yang selalu bersarang di sana apabila mereka berjalan bersama, seolah-olah Zeze bakal kabur darinya dan mengacaukan sandiwara mereka.
Selagi menunggu bunyi bel, Zeze dan geng borjuisnya menempati meja yang dikeramatkan di kantin indoor lantai satu. Dari tiga kantin di Akademi Exousia, meja tengah adalah markas mereka. Meski tidak ada peraturan tertulis, semua sudah sepakat akan hal itu sehingga tak ada yang berani mempermasalahkan. Dan mulai sekarang, Zeze adalah penghuni barunya.
Padahal aku berharap Obi mau menemaiku di sini dibanding nongkrong bersama Kai dan kawan-kawannya. Setidaknya kehadirannya bisa mengurangi kecanggungan.
Zeze dapat merasakannya kembali; perasaan yang sama dengan yang ia rasakan sewaktu menjadi murid baru di akademi. Semua mata menyorotnya tanpa terkecuali. Kejutan pada acara tadi malam masih membekas di ingatan semua orang. Tidak ada yang menyangka bahwa siswi baru yang sempat membuat heboh itu adalah anak dari Putri Vourtsa, sekaligus tunangan Kion, putra semata wayang raja terakhir mereka.
Zeze mengambil duduk di hadapan Kion yang sedang minum teh sembari membaca buku novel yang sebenarnya adalah biografi salah satu kakaknya yang telah tiada, dan harus berjuang keras menekan keinginan untuk merebut buku itu lalu membakarnya menjadi abu.
Orang yang dimaksud sama sekali tidak merasa terusik oleh pisau yang memancar dari sepasang mata biru di depannya; masih aktif membalik lembaran demi lembaran dengan wajah sok serius.
Menyerah karena peringatannya diabaikan, Zeze pun membuang muka sambil mendengus, dan di detik itulah Kion mengintipnya dari balik buku. Senyum iseng muncul di matanya.
Di meja itu terjadi berbagai model percakapan sederhana, namun tak ada satu pun yang diikuti oleh Zeze, Kion, dan Luna. Mereka bertiga sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing. Dugaan Volta dan yang lainnya benar, suasana hati Luna terjun bebas sejak kemarin malam.
Bel masuk menyudahi waktu santai singkat di pagi hari. Kedelapan orang itu bergegas menuju kelas masing-masing. Ketika Zeze hendak menaruh kakinya di lift, tangannya mendadak dicegat dari belakang.
"Yang Mulia, ke mana Anda akan pergi?" Tanya Volta, bingung.
"Ke kelasku, tentu saja," balas Zeze, tak kalah bingung.
"Err... kelas Anda sekarang berlokasi di lantai satu... saya kira Pangeran telah mengabari Anda."
Mulut Zeze terbuka, kemudian terkatup rapat lagi membentuk satu garis lurus. Itu benar-benar terjadi, bukan? Ia sudah harus memikirkan skenario yang bisa membuatnya terlihat masuk akal saat berada di dekat Glen. Berperan sebagai pahlawannya mungkin bukan ide yang buruk. Tapi, yang benar saja aku harus menunggu sampai Glen dianiaya dulu?
Zeze memperbaiki ekspresinya, "Hanya untuk hari ini." Ia berbalik dan menghilang di balik pintu lift yang menutup di depan wajah Volta, Froura, dan Luna.
Volta mendengar Luna berdecak. Sepertinya gadis itu merasa bahwa Zeze telah mempersulitnya. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Volta, menatap Luna dan Froura bergantian.
Luna berbalik memunggungi mereka, "Aku akan ke kelasku. Terserah dengan kalian."
Froura dan Volta saling pandang sebelum memutuskan menyusul Luna, di saat Zeze telah mengayunkan kedua kakinya di lorong lantai empat. Rambut peraknya mengalir bebas dengan ikal di ujung. Diabaikannya sejumlah mata yang terang-terangan mengiringi langkahnya menuju kelas. Zeze tahu beberapa dari mereka ada yang berusaha menyembunyikan wajah saat ia lewat, dan ia berasumsi bahwa mereka adalah bagian dari orang-orang yang pernah mengganggunya.
Sesampainya ia di ambang pintu kelas, riuh dan canda tawa yang biasa berkumandang sebelum pelajaran dimulai, tersapu bersih secara mendadak oleh keheningan. Mata setiap orang menancap di ambang pintu, pada sosok laksana dewi yang menginjakkan kakinya di sana.
Bahkan yang ini lebih parah dari hari pertama.
Dengan satu embusan napas, Zeze mengambil langkah percaya diri menuju mejanya. Ia melihat teman sebangkunya sedang menunduk di atas kertas. Tangan kanannya aktif menulis.
Zeze berhenti di samping meja Glen. Sejumlah helai rambutnya jatuh di pundak Glen saat ia menunduk. Tulisan itu tampak hidup dengan bentuk yang berbeda di setiap hurufnya. Soal lettering dan graffiti, atau apa pun yang berkaitan dengan seni, Glen memang tidak perlu diragukan lagi. Bakat yang dimilikinya tergolong langka di tengah situasi dunia dimana seni bisa instan diciptakan melalui teknologi. Walaupun satu huruf belum sempurna, Zeze sudah bisa menebak keseluruhan kata dalam bahasa Perancis itu.
Vieil Ami
Zeze berlutut dengan satu kaki dan meletakkan dagunya di pinggir meja Glen, menekuni dari dekat tiap gerakan yang diciptakan tangan yang sama dengan yang mengayunkan pedang ke arahnya.
Tangan Glen berhenti bergerak; mata Zeze terangkat ke wajahnya dan mendapatinya melakukan hal yang sama. Zeze ingin berpaling, tapi mata itu memerangkapnya seperti kutukan.
Beruntung bagi Zeze karena ketukan high heels Madam Heiss menyelamatkan sisa akal sehatnya dari sihir yang memabukkan. Ia pun bangkit dengan linglung menuju kursinya sendiri.
Madam Heiss mengedarkan pandangan dan melihat seseorang yang seharusnya tidak ada di kelasnya. "Yang Mulia, sedang apa Anda di sini?"
Bahkan guru galak itu pun juga!? "Aku masih harus melengkapi agenda terakhirku di kelas ini," jawab Zeze seadanya.
Madam Heiss mengangguk dan tak mengejar lebih. Padahal ia sangat terkejut sewaktu diberitahu bahwa salah satu murid bimbingannya adalah seorang keturunan kerajaan, terlebih seorang Ankhatia. Ia merasa tak enak hati lantaran pernah memberi sosok yang dimuliakan seisi Aplistia itu sebuah detensi, sekalipun ia tahu profesi guru terbebas dari hierarki.
Pelajaran pun berlanjut tanpa gangguan, kecuali bagi Zeze. Baginya, teman sebangkunya itu gangguan terbesar untuk dunianya.
"Glen," bisiknya dari sela jemari yang menutupi bibirnya di kala bertopang dagu.
Glen bergeming tanpa mencabut atensinya dari papan tulis.
Zeze mengerucutkan bibirnya. "Ayo bertaruh," tantangnya.
Akhirnya mata itu datang kepadanya. Sebatas lirikan.
"Jika aku bisa mengerjakan soal di depan dalam waktu satu menit, kau harus mengikuti ke mana pun aku pergi selama jam istirahat. Jika aku gagal, aku akan berhenti mengajakmu bicara."
Sama sekali tak ada tanda bahwa Glen akan merespons permainan kekanak-kanakannya itu. Bisa ditebak apa akibatnya, Zeze pun mengambil kesimpulan sepihak. "Diam artinya setuju."
Glen mendesah letih, beralih mencatat soal di papan tulis. Orang ini berkepribadian ganda atau apa?
Wajar bila Glen mempunyai prasangka seekstrem itu. Zeze bertingkah seakan tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka semenjak konfrontasi di pemakaman kemarin.
Tiba-tiba Glen mendengar gesekan kursi. Matanya tak perlu beranjak dari tablet untuk tahu bahwa itu adalah Zeze, yang langsung melesat berdiri begitu Madam Heiss bertanya siapa yang bersedia mencoba menjawab soal di papan tulis. Zeze berjalan ke depan kelas dengan percaya diri, menerima kapur elektrik yang diserahkan Madam Heiss kepadanya.
Sebelum memulai, Zeze menyempatkan diri menoleh ke belakang, melempar senyum miring mempesonanya kepada Glen, yang tertangkap basah tengah memperhatikannya.
Tangan kirinya meluncurkan kapur elektrik di sepanjang papan tulis hitam—yang aslinya adalah layar LED besar—mengukir jawaban dengan hasil yang akurat, tanpa jeda, dan bahkan lebih cepat dari menggunakan referensi.
Usai menggaris bawahi hasil akhirnya, Zeze menyerahkan kembali kapur kepada Madam Heiss yang sedang melongo, lantas melenggang kembali ke kursinya dengan membawa senyum manis berbumbu keangkuhan. Saat melewati Glen, bisikannya mengalun dengan nada yang sungguh menyebalkan bagi Glen. "Tepat satu menit, bukan?"
Glen mendesah tanpa menghentikan aksi mencatatnya. Tak ada pilihan lain selain mengikuti permainannya jika Glen ingin terbebas dari siksaannya.
Bahkan lima menit sebelum bel, Zeze telah selesai merapikan alat-alatnya yang seratus persen tidak dia gunakan, siaga kalau semisalnya Glen berniat mengecohnya lagi.
Glen mendesah dengan mata terpejam, "Aku tidak akan lari, jadi berhenti menatapku."
Zeze mengerjap, "Benarkah?"
Glen menoleh, sorot mata dan rahangnya keras, dan Zeze paham itu adalah tanda kesungguhannya. Zeze mengulum senyum.
Tibalah saat yang dinanti-nantikan. Zeze berdiri lebih awal dari penghuni kelas dan membisikkan sesuatu saat melewati Glen.
Zeze berjalan menuju suatu tempat dengan Glen yang mengikuti tiga meter di belakangnya. Glen mengira Zeze akan membawanya ke suatu tempat yang tidak ia kenal dan terpaksa membolos. Namun ternyata dia menuntunnya ke kebun mawar belakang sekolah. Zeze duduk dengan kaki terulur ke depan, menepuk-nepuk tanah berumput yang telah terselimuti salju di sampingnya, mengisyaratkan kepada Glen untuk menempatinya.
Glen ikuti apa maunya. Mereka pun duduk berdampingan dikelilingi bunga mawar yang agak layu.
"Aku minta maaf."
Itulah kata-kata pertama yang didengar Glen.
“Siapa pun itu, aku minta maaf,” sambungnya. “Aku tahu bagaimana sakitnya kehilangan seseorang. Aku tidak pernah mengharapkanmu untuk merasakan hal yang sama, tapi aku justru...” Ia menunduk. “Aku tidak berhak membuat alasan. Aku patut disalahkan. Tapi, tolong maafkan aku.”
Glen memandang langit saat berkata, "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Bukankah itu sudah menjadi tabiat kita, manusia?"
Zeze menoleh di saat Glen sedang menghela napas. Berat.
"Pernahkah kau mendengar teori satu ini? Aku mendapatkannya dari guru lukisku. Jauh di masa lalu, sejak leluhur kita masih menggantungkan nasib pada hasil perburuan... untuk membuktikan siapa yang terbaik, siapa yang benar, siapa yang pantas menjadi kepala suku, mereka berkompetisi. Hukum rimba bermain. Mereka bertarung satu sama lain—hasilnya dijadikan indikator untuk menentukan yang benar dengan yang salah. Tentu saja itu hanyalah interpretasi mereka sendiri... meyakini bahwa kebenaran sudah pasti berada di pihak yang menang, yang kuat. Sementara yang lemah menjadi sasaran empuk berbagai bentuk kemalangan. Berabad-abad hukum tersebut diterapkan, membentuk tabiat yang akhirnya mendarah-daging, tertanam di genetik mereka, gen yang kemudian diwariskan kepada anak-cucu mereka saat ini. Pada akhirnya kita hanya binatang yang mengikuti insting," Glen menghela napas, "Tidak bisakah kita hanya saling mendukung? Saling bahu-membahu? Pertarungan, konflik, kompetisi itu tidak artinya. Ini bukanlah dunia yang aku inginkan; memecah belah mimpi menjadi bagian-bagian terpisah. Setiap orang memiliki dahaga yang sama. Tidak bisakah kita hanya saling berbagi?"
Mungkin itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Zeze dengar dari Glen. Zeze tidak tahu harus bersikap seperti apa, prihatin atau senang karena akhirnya ia dapat mendengar pikirannya.
“Glen. Sesuatu yang mendasari kebencian itu padaku... tidak ada kaitannya dengan jalan yang kuambil ini.”
Itu bukan pertanyaan, dan Glen tidak membenarkan atau menyangkal, entah tidak mau atau tidak bisa, atau mungkin karena ia merasa tebakan itu tidak layak untuk dikonfirmasi. Pandangan Glen yang berkabut terjatuh, lehernya seolah tak bertulang. Sementara sudut mata Zeze berkerut-kerut terluka melihat sikapnya.
Lalu, apa tepatnya?
"Dunia yang kau lihat lain dengan dunia yang kulihat." Suara Zeze cukup terkendali, entah bagaimana dia mengubah sikapnya secepat itu. "Cara kita melihat dunia ini berbeda."
Glen menoleh ke Zeze, hendak membaca mata birunya yang malah lari memandang pucatnya langit.
"Tujuan kita, mungkin di satu titik sama, tapi metode yang kita gunakan dalam meraihnya berbeda. Aku tahu apa yang kami lakukan hanya akan menimbulkan kerusakan. Namun manusia berpikir keras jika mereka dicengkeram rasa takut, saat ada pisau yang mengancam leher mereka," tutur Zeze, kembali menatap Glen. "Anggap saja sekarang kita sedang berada dalam 'kompetisi' itu, Glen." Senyum miring mempesona itu kembali tercetak di bibirnya, "Mari lihat, siapa yang akan lebih dulu mencapai garis finis. Kau... atau aku."
Glen tertegun saat melihat kilatan di mata safirnya.
"Jangan parkir terlalu lama bila kau tidak ingin tertinggal." Zeze mengedipkan sebelah matanya ke arah Glen. "Dan aku sangat menyarankan padamu untuk mengganti mobilmu itu," ia menatap lurus ke depan, mengangkat bahu enteng, "Karena kurasa itu sudah terlalu jadul."
Di luar dugaan, bukan kalimat pedas, bukan lagi pengabaian, Zeze malah mendengar suara tawa. Ia buru-buru menoleh ke kiri untuk memastikan dan ternyata benar... suara tawa itu berasal dari Glen. Itu adalah pertama kalinya setelah sekian lama. Sudah terlalu lama hingga Zeze tak bisa lagi mengingatnya dengan benar. Sangat disayangkan ia lupa membawa ponsel, padahal ia ingin sekali mengabadikan momen langka itu lewat video atau foto.
"Siapa bilang aku akan menggunakan mobil?" Tanya Glen setelah tawanya pudar.
Zeze menaikkan sebelah alisnya.
Glen menyeringai saat memperjelas, "Motor lebih cepat, asal kau tahu."
Zeze terenyak, matanya melebar. Tiga detik berselang, ia membalas seringainya. Lumayan, batinnya, merasakan api bergelora di dalam dada.
"Ah, aku sudah terkubur." Zeze menyapu salju yang menimbun kakinya. Meski selalu memakai stocking sepanjang paha, salju tetap dapat membuatnya menggigil.
Zeze berdiri dan mengusap kepalanya, "Ayo pergi, aku lapar." Mata birunya menetap pada Glen yang telah berdiri, atau lebih tepatnya kepada rambut hitam yang ditaburi bulir salju. Pemandangan itu menyerupai mutiara di atas arang. Zeze tergoda untuk mengusapnya. Tangannya terangkat tanpa bisa ia cegah.
Akan tetapi, sepenggal suara milik seorang laki-laki menghentikannya di udara.
"Zeze...."
Laki-laki bertopi hitam itu kehilangan kata usai mengenali sosok yang berdiri di samping orang yang barusan dipanggilnya.
Orang itu, brengsek yang telah tega menghancurkan segalanya. Menghancurkan kepercayaannya. Menghancurkan hati orang yang berharga baginya, orang yang sangat dijaga dan disayanginya seperti saudari sendiri.
Kakinya secara naluriah membunuh jarak dengan sangat cepat. Tangannya yang telah gatal, bergerak meninju rahang Glen, menyalurkan segenap emosi yang memadati rongga dadanya.
Glen terjungkal ke belakang, gravitasi menariknya jatuh ke dalam dinginnya lautan salju.
"Glen!" Zeze bermaksud menolong Glen, namun begitu melihat lelaki itu hendak mendaratkan pukulannya lagi, lebih bijaksana baginya untuk menjadi pagar di antara mereka.
"Tenang, Obi," kata Zeze pelan. Kedua tangannya terjulur ke depan dengan telapak tangan terbuka.
"Sialan! Brengsek!" Kata-kata makian berceceran dari mulut Obi. "Bangun!" Bentaknya kepada Glen yang masih dalam keadaan tersungkur dengan napas tersengal-sengal.
Salju mulai menimbun wajah Glen dan menambah sensasi pening di kepala. Sadarlah ia bahwa darah telah tumpah dari hidung dan bibirnya. Dicobanya bangkit dengan memiringkan badan, menumpukan bobot tubuhnya di siku kanan, sementara telapak tangan kirinya menekan kuat tanah.
Di sisi lain, kewalahan dan khawatir, Zeze masih berjuang mendorong Obi menjauhi Glen. Namun Obi sepertinya masih berhasrat untuk memanjakan kepalan tangannya di tubuh Glen hingga membuatnya remuk.
Obi menepis tangan Zeze, "Kau bodoh atau idiot!? Kenapa... kenapa kau masih... dengan... brengsek itu..." Emosi yang memburu membuat napasnya cepat terkuras. Jarinya menunjuk-menunjuk Glen dengan ganas. "Sialan! Beraninya... beraninya kau muncul lagi di hadapan Zeze!" Obi sudah mengambil langkah lembar, namun berhasil kembali ke tempat semula berkat tarikan sekuat tenaga yang Zeze berikan.
"Kau yang bodoh! Lihat dimana kau berada sekarang!” Suara Zeze melejit. Walaupun tidak ada orang di luar berkat cuaca, ada kemungkinan mereka terpancing oleh kegaduhan.
Glen terbatuk lalu meludahkan darah. Diliputnya sosok Obi dengan pandangan berkunang-kunang. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia melihat lelaki itu.
Senyum samar Glen terbit di sela batuknya. Akhirnya ia berjumpa lagi dengannya.
Teman lamanya.
"Glen! Glen, bangun!" Seru Zeze yang masih berjuang menarik-narik tangan kiri Obi dengan kedua belah tangannya. Tenaganya sudah nyaris habis akibat permainan tarik-tambang itu. Tidak pernah ia membayangkan Obi menyimpan kekuatan sebesar itu, dan itu membuatnya kaget sekaligus kesal pada fakta bahwa selama ini Obi menahan diri saat berlatih beladiri bersamanya.
Percuma, Glen tak sanggup bergerak barang seinci pun. Jiwanya terperangkap di kedalaman sepasang mata hitam yang terus menghunjamnya dengan luapan kebencian.
Memergoki kebekuan Glen, Zeze berdecak kesal dan dengan kasar membuang tangan Obi; satu-satunya hal yang berhasil mengundang perhatian Obi kepadanya.
"Sudah cukup! Aku tidak peduli lagi!" Erang Zeze, frustrasi. Dikeluarkannya sesuatu dari dalam saku jaket, lalu dilemparkannya masing-masing satu ke tanah di dekat kaki kedua lelaki bodoh dan menyebakan itu. Benda itu memantul dan terbuka, memamerkan kegagahan logamnya.
Obi dan Glen mempelajari benda itu. Pisau lipat.
"Kalian sudah bukan anak-anak lagi, jadi berhenti memakai cara yang kekanak-kanakan."
Obi dan Glen saling pandang.
"Apa yang kalian tunggu? Tenang saja, aku cukup kaya untuk mengurus pemakaman kalian," ujar Zeze sarkastis. Tangannya terlipat di dada ketika kalimat itu terucap.
Keheningan menjerat ketiganya bak benang tak kasat mata, sebelum dirobek oleh Obi dengan satu dengusan keras. Ia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, membuka topi lalu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan kelima jari.
Perlahan, tanpa melonggarkan tatapan tajamnya dari Glen, Obi melangkah mundur. Kemudian memutar tubuh dan menjerat serta lengan Zeze bersamanya, meninggalkan Glen seorang diri di antara gugusan mawar.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo Semua 👋 Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu baik ya 😊
Bagi yang sudah baca sampai sini, aku minta tolong ke kalian untuk kasih rate-nya, ya. Kalau bisa bintang lima //uhuk 👀 😅 Terima kasih.
Dah yok, lanjut baca, scroll 👇
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
brasa bca novel trjemahan