Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerita
Jika keduanya memang sudah memiliki perasaan antara satu sama lain. Bahkan mereka hanya bisa saling diam dan menyelami perasaan mereka yang entah merasakan perasaan apa dalam diri mereka.
"Terimakasih, aku akan menenangkan diri dulu disini. Kamu boleh pergi jika kamu ingin pergi, jika tidak juga tidak apa-apa" ucap Clarissa yang menghela nafasnya dan dia memejamkan matanya menahan beban berat dalam dadanya.
"Sama-sama, tapi aku memang tidak ada urusan lain lagi selain bersama dengan kamu saja disini. Apa kamu keberatan jika aku berada disini dan menemani kamu?" tanya Varaz yang malah menggoda Clarissa.
"Terimakasih, tapi apa tidak merepotkan kamu dan kamu tidak sibuk dengan kekasih-kekasih mu itu?" tanya Clarissa yang juga menggoda Varaz.
"Tenang saja, aku ini free dan sedang sendiri juga. Jadi tidak masalah jika aku berdua dengan kamu, Eh. Tapi, kamu yang akan ada masalah. Kamu kan akan menerima perjodohan itu dengan pria pilihan kedua orang tua kamu itu" jawab Varaz yang menaik-turunkan alisnya menatap Clarissa.
"Iya juga, makanya aku minta kamu pulang saja. Lagian aku juga mau pergi dari sini dan akan menenangkan fikiran juga hati aku untuk sementara" ucap Clarissa yang menahan sesak didalam dadanya dibalik senyuman nya yang selalu indah.
"Baiklah, lebih baik kamu kembali ke rumah sakit saja dulu. Karena walau bagaimana juga mereka adalah orang tua kamu, jangan membuat mereka semakin marah dan akan mengatakan kata-kata yang akan kita sesali kemudian hari. Aku mengatakan ini karena aku juga pernah mengalami hal yang serupa. Saat kedua orang tuaku marah padaku" ucap Varaz yang menghela nafasnya sedikit kasar saat mengingat dimana Mimi Za sangat marah padanya.
"Eh, kenapa jadi malah mellow lagi. Intinya kita harus bisa mengambil hati kedua orang tua kita dengan baik. Jika sudah, akan lebih mudah berbicara dengan mereka dan mengutarakan apa keinginan kita sebagai anak. Kata-kata ku sudah mirip penasehat bukan sih?" tanya Varaz yang malah membuat Clarissa tersenyum akan ucapan Varaz yang malah mengatakan hal absurd.
"Sudah-sudah, aku tidak ingin tertawa lagi. Perut aku terasa sakit mendengar kata-kata kamu ini" ucap Clarissa yang tertawa terbahak-bahak saat Varaz membuatnya sedikit melupakan kesedihan hatinya.
'Teruslah tersenyum Cla, karena jika kamu selalu tersenyum akan sangat cantik dan tidak membuat aku ikutan sedih juga. Ah, gue ini kenapa sih? Jika bersama dengan nya pasti berasa nyaman dan adem banget bawahan nya. Hihihihi' gumam Varaz dalam hati sambil tersenyum sendiri tidak jelas.
"Baiklah, aku sudah bisa berhenti tertawa. Aku akan kembali ke rumah sakit saja sekarang, aku akan melakukan apa yang kamu sarankan padaku. Semoga saja memang apa yang kamu katakan itu memang menjadi kenyataan. Karena jika aku berbicara pada mereka, pasti aku tidak bisa mengontrol emosi dan cara bicara ku yang kasar" ucap Clarissa menghela nafasnya dan dia segera bangkit dari duduknya untuk segera pergi dari tempatnya menyendiri tadi.
"Itu lebih baik. Apa mau aku antarkan saja sekalian?" tanya Varaz yang mengajak Clarissa pergi bersama.
Tapi saat akan pergi tiba-tiba datang seseorang yang sangat Clarissa kenal. Siapa lagi jika bukan Adji yang menyusul Clarissa kesana. Membuat Varaz hanya bisa diam dan menampilkan wajah cool nya dihadapan Adji.
"Nona, anda diminta untuk kembali ke rumah sakit" ucap Adji pada Clarissa yang menampilkan wajah datarnya seperti biasa.
Clarissa hanya mengangguk dan dia pamit pada Varaz. Dengan mengangguk saja, Varaz yang sudah berjanji akan diam dan tidak mengatakan yang sebenarnya pada siapapun hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada Clarissa.
"Kami permisi Tuan Muda Tomlinson. Terimakasih sudah menemani dan membantu Nona kami, saya ucapkan terimakasih banyak pada anda. Mari" ucap Adji dengan sangat sopan pada Varaz dan dia mengiring Clarissa masuk kedalam mobil.
"Sama-sama, saya juga tidak sengaja bertemu dengan Nona Clarissa. Saya juga akan pergi juga" jawab Varaz yang masuk kedalam mobilnya lebih dulu lalu segera melajukan nya.
"Silahkan Nona" ucap Adji yang membukakan pintu mobil untuk Clarissa.
Sedangkan mobil Clarissa dibawa oleh supir yang sengaja Adji bawa untuk membantunya membawa mobil milik Clarissa pulang.
"Nona, apa anda baik-baik saja? Maaf, jika saya telat untuk menjemput anda. Karena saya mencari anda kemana-mana dan bisa menemukan anda lewat GPS yang ada diponsel anda" tanya Adji yang mengatakan nya sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
"Seperti yang kau lihat" jawab Clarissa yang menggunakan bahasa isyaratnya. Dia benar-benar tidak ingin memberitahukan kesembuhan nya pada siapa-siapa.
Adji hanya mengangguk dan dia tidak bertanya apa-apa lagi pada Clarissa. Dia masih sangat ingat isi perjanjian mereka yang tidak boleh ikut campur dalam masalah pribadi masing-masing. Dia tidak ingin jika Clarissa marah dan berakibat tidak baik pada kedua orang tuanya juga orang tua Clarissa.
.
Beberapa saat sebelum Adji menemui Clarissa. Dia sedang berada dirumah dan sedang mengerjakan tugasnya yang dia bawa kerumah kemarin.
"Nak, ada seseorang yang mencari kamu" ucap Ibu Nining pada Adji yang sedang fokus pada pekerjaan nya.
"Siapa Bu? Apa Ibu mengenalnya?" tanya Adji yang segera menghentikan pekerjaan nya dan menghampiri Ibunya.
"Ibu tidak kenal, katanya dia adalah suruhan Tuan Nadi. Segeralah temui dia, mungkin memang ada yang penting" jawab Ibu Nining pada putranya.
"Iya Bu, ini mau kesana. Terimakasih Ibu sayang" ucap Adji yang segera bangkit dari duduknya dan dia tersenyum pada Ibu Nining.
"Sana gih" ucap Ibu Nining yang juga tersusun lalu mengusap kepala Adji dengan lembut.
"Apa anda, Pak Burhan. Silahkan duduk Pak" ucap Adji yang ternyata sudah mengenal Pak Burhan.
"Terimakasih Tuan Muda" jawab Pak Burhan pada Adji.
"Tolong jangan anda panggil saya seperti itu. Saya ini bukan seorang Tuan Muda" ucap Adji belum tahu saja setatusnya yang sebenarnya.
"Saya kemari hanya ingin meminta tolong pada anda, karena ini perintah dari Tuan Nadi untuk mencarikan Nona Clarissa yang pergi entah kemana sejak pagi tadi. Apa anda mau untuk mencarinya?" tanya Pak Burhan yang menjelaskan tujuan nya datang menemui Adji.
"Saya akan mencarinya Pak. Kebetulan juga saya tidak terlalu sibuk saat ini" jawab Adji berbohong pada Pak Burhan, padahal yang sebenarnya dia sangat sibuk.
"Maaf lama, ini minum dan camilan nya Pak. Silahkan" ucap Ibu Nining yang membawakan makanan ringan dan juga secangkir teh hangat untuk tamu putranya juga Adji.
"Terimakasih Bu, tidak perlu repot-repot segala" ucap Pak Burhan yang merasa sungkan pada Ibu Nining.
"Sama-sama, sama sekali tidak repot. Silahkan Pak, saya permisi kedalam lagi" ucap Ibu Nining dan beliau segera masuk kembali bersama dengan Pak Budi yang sedang duduk juga diteras belakang rumah mereka.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu