Dewi Anggraeni dipaksa menikahi seorang juragan kaya yang sudah beristri. Dengan bantuan temannya ia berhasil lari lalu bersembunyi. Masih berbalut pakaian pengantin, Dewi bersembunyi di dalam bagasi.
***
Devan Kusuma Wijaya begitu terkejut, saat mendapati seorang pengantin perempuan yang nyasar di dalam bagasi mobilnya. Namun, alih-alih mempermasalahkan, Devan malah menawarkan sandiwara pernikahan. Dewi pun terpaksa menerima karena mendapat ancaman.
Bak Dewi Fortuna yang dikirimkan oleh Tuhan, Dewi datang tepat saat dirinya hendak dijodohkan. Sebuah ide pernikahan palsu pun terbesit di pikiran Devan, agar dirinya terbebas dari perjodohan.
Apakah pernikahan palsu mereka akan berjalan lancar? Ikuti kisahnya ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Gusar
...****************...
Sekitar pukul 22.00 WIB, Devan, Dewi, dan Viona baru pulang dari pasar malam. Mereka pulang dengan berjalan kaki karena jarak Pasar malam itu tak jauh dari rumah mereka. Di perjalanan, tidak ada perbincangan yang berarti di antara mereka. Ketiganya sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama Devan yang merasa sedikit pusing. Kenyataan bahwa rahasianya telah terbongkar membuatnya tak bisa bergeming.
"Ingat, ya, Vio! Kamu jangan mengadu sama mama dan papa tentang masalah tadi." Devan menahan tangan Viona sebelum gadis itu mencapai pintu masuk rumah mereka.
Viona melepaskan tangannya dari cekalan Devan. Kedua matanya berotasi malas. Sebenarnya Viona tidak ingin berkata bohong, tetapi menjadikan Puput sebagai kakak iparnya juga tidak mungkin. Viona tidak mau menjadikan perempuan itu sebagai anggota baru di keluarganya. Dari awal dia juga tidak setuju dengan perjodohan itu, tetapi perbuatan Devan juga tidak bisa dibenarkan begitu saja. Viona jadi sedikit dilema.
"Iya, Vio inget. Tapi Mas Devan juga harus inget, mulai malam ini dan seterusnya Mbak Dewi akan tidur di kamar aku," kata Viona.
Devan terdiam sejenak. Entah kenapa dia merasa tidak rela jika hal tersebut terjadi. Namun, selain menerima, Devan bisa apa? Toh, Dewi juga bukan istri sahnya.
"Silakan. Tapi nanti kalau mama dan papa tanya kenapa Dewi selalu tidur di kamar kamu gimana? Mas harus jawab apa biar mereka nggak curiga," ujar Devan.
"Itu urusan belakangan. Nanti biar Vio yang cari alasan."
Dewi mengulas senyuman mendengar perbincangan Viona dan kakaknya tersebut. Ia merasa bahagia karena merasa dikhawatirkan oleh Viona. Setidaknya setiap malam Dewi akan aman dari bahaya. Tentu saja bahaya dari laki-laki buaya macam Devan.
...******...
Beberapa hari kemudian, Devan merasa ada yang hilang semenjak Dewi selalu tidur di kamar Viona. Sepertinya Devan sudah merasakan hal aneh dalam hatinya. Seorang Dewi sudah berhasil membuka gembok hatinya yang terkunci selama ini. Namun, Devan selalu ragu untuk mengakui.
Seperti hari ini, Dewi seperti biasa tengah sibuk meracik pupuk organik bersama para petani lain. Kebetulan di sana ada seorang pemuda desa yang tertarik dengan kegiatan tersebut. Semenjak ada Dewi di perkebunan milik Sam, banyak para pemuda yang belum bekerja jadi tertarik untuk menggarap lahan perkebunan. Yang tadinya mereka gengsi, kini mulai peduli.
Devan merasa ada asap yang mengepul di atas kepalanya kala ia melihat Dewi terlihat begitu akrab dengan salah satu pemuda tersebut. Dewi terlihat riang berbincang dengan pemuda tersebut. Sesekali perbincangan mereka diselipkan tawa yang renyah, membuat amarah Devan semakin membuncah.
Yogi namanya, pemuda yang usianya sebaya dengan Dewi itu memang terlihat mengagumi sosok Dewi. Bak bunga yang tengah mekar, Dewi kini menjadi sorotan setiap mata yang memandang. Jika saja dia tidak dicap sebagai istrinya Devan, mungkin para pemuda itu sudah mengejar Dewi secara terang-terangan.
"Mbak, udah lama nikah sama mas Devan?"
Dewi sejenak berpikir saat Yogi bertanya hal tersebut. "Belum lama. Baru mau sebulan," jawabnya. Sebenarnya Dewi merasa tidak nyaman dengan Yogi yang mulai membahas hal tersebut. Ia takut salah bicara dan akhirnya ketahuan juga.
"Tapi aku, kok, belum pernah denger juragan Sam pernah menggelar hajatan pernikahan, ya? Apa mungkin pernikahan kalian nggak pernah dirayakan tanpa mengundang banyak orang?" tanya Yogi lebih dalam lagi.
"Iya, aku dan mas Devan memang menikah secara sederhana di kota," jawab Dewi.
"Ih, kenapa harus sederhana tanpa mengundang banyak orang? Padahal mereka orang kaya, loh. Kenapa nggak mengadakan pesta meriah untuk menikahkan kalian? Jangan-jangan mas Devan itu cuma ...."
"Cuma apa?" Devan langsung menukas dari arah belakang mereka. Tentu saja membuat perhatian mereka teralihkan kepadanya.
"Eh, mas Devan ... sudah lama di situ?" tanya Yogi sedikit ketakutan. Langkahnya dibuat mundur untuk memberikan jarak yang sedikit jauh dengan Dewi.
"Kamu ngomong apa tadi?" Devan mengabaikan pertanyaan Yogi. Jelas dia mendengar semuanya karena cukup lama dia berdiri di belakang mereka.
"Hmmm ... nggak ngomong apa-apa, kok, Mas. Saya permisi dulu, ya. Saya lupa mau membawakan makan siang buat bapak yang lagi di ladang."
Yogi langsung kabur dari sana. Membuat Dewi terkekeh melihatnya.
"Kenapa kamu ketawa?" tanya Devan pada Dewi.
Dewi mengedikkan kedua bahunya lalu melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat tertunda. "Lucu aja, tadi dia mencoba memprovokasi aku tentang pesta pernikahan. Dia pikir aku peduli," kata Dewi lalu tertawa lagi. Kepalanya menggeleng tak habis pikir dengan tingkah pemuda tadi.
Devan tercenung. Apa memang tidak sepenting itu pesta pernikahan buat Dewi? Atau ... perempuan itu memang tidak peduli dengan pernikahan palsu mereka. Apa tidak ada sedikit rasa yang berbeda dalam hatinya setelah lama tinggal bersama?Entahlah.
Yang pasti, hati Devan jadi mendadak nyeri. Apalagi melihat Dewi bersikap biasa saja semenjak kedatangannya tadi. Bukan seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh di depan sang suami.
"Kenapa kamu nggak peduli dengan pesta pernikahan, Wi?" tanya Devan.
Dewi mengernyit kening. "Jelaslah. Bukannya pernikahan kita cuma pura-pura. Jadi, untuk apa mengadakan pesta pernikahan? Mas ini ada-ada saja mengajukan pertanyaan."
Devan menghela napas panjang lalu menghempaskannya kasar. Seperti hendak mengungkapkan sesuatu, tetapi ia masih ragu. Namun, beberapa saat mengumpulkan keberanian, Devan pun hendak berkata jujur kepada Dewi.
Namun sayang, belum sempat Devan melontarkan kalimatnya. Dewi izin pamit kepada Devan.
"Mas, aku ke kebun tomat dulu, ya. Tadi aku janji mau ngasih pupuk ini sama papa kamu yang lagi nunggu di sana."
"Tapi, Wi. Aku mau ngomong sesuatu," seru Devan sambil mencekal lengan Dewi.
Dewi menatap lengannya yang dicekal. Hanya sejenak lalu pandangannya beralih pada wajah Devan. "Nanti aja, lah. Aku buru-buru soalnya. Emang penting banget, ya?" tanyanya.
Devan meneguk salivanya dengan kelat sebelum menjawab pertanyaan itu. "Penting banget, Wi," jawabnya kemudian.
"Ehm ... ya udah. Mas Devan ngomong aja dulu. Aku dengerin sebentar kalau memang penting."
Devan mengusung senyuman pelik. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit. Namun, segenap hati ia mencoba untuk meredam semua ego yang selama ini merajai hatinya. Sudah waktunya Devan move on dan memulai hidup barunya dengan cinta pada hati yang berbeda.
"Wi, sebenarnya aku ...."
"Mbak Dewi ... ditungguin juragan Sam di kebun tomat. Katanya pupuknya mau dipake sekarang."
Seruan dari seorang petani kebun membuat perkataan Devan mengambang di udara. Dewi pun langsung menoleh dan berkata, "iya."
"Mas Devan ngomongnya nanti aja, ya. Pupuk ini udah ditunggu sama papa Sam. Nanti aku cari Mas Devan kalau udah selesai," ucap Dewi sembari berjalan pergi.
"Ck, sialan!" Devan berdecak sambil melayangkan pukulannya ke udara yang tidak akan merasakan apa-apa. Ia mengusap wajahnya kasar. Terlihat sekali jika lelaki itu begitu gusar.
...----------------...
...To Be Continued...
Maaf, semalam ketiduran. Jadi bisa up pagi 🙏
kasihan Devan sama Dewi belum sampai finish