Kisah seorang gadis yang terjerat hubungan sangat rumit, dia menikahi seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Gadis itu mengambil keputusan dalam desakan yang tidak bisa dipungkiri. Keinginan, cinta pertama serta cita-citanya dia lupakan karena suatu tragedi yang menimpanya.
Di suatu ketika dia mengetahui rahasia besar, kenapa suaminya menikahinya? Dan rahasia itulah yang membuat gadis itu berubah 180°.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka dan Memori
Kursi dan meja sudah dikeluarkan, kerabat dan tetangga mulai berdatangan, begitupun awan gelap berkelabu pagi itu.iezza pikir dia hanya tersesat dalam mimpi yang menakutkan saat dia membuka mata di sebuah bilik UGD.
Namun, kenyataan menuntunnya untuk berada di sini. Bersandar pada dindin ruang tamu yang kini dipenuhi tangisan pilu. Tatapannya berlari kosong pada tubuh ayahnya yang terbujur kaku tidak jauh dari tempatnya.
Berbaring begitu tenang seperti tidak mendengar betapa banyak tangis yang terurai sebab kehilangannya. Di samping Azmi, Rahma terpekur dengan perasaan hancur.
Pagi ini, Rahma sudah tidak sadarkan diri tiga kali, jadi saat Rahma memutuskan untuk kembali bersandar pada dinding tidak jauh dari tempat Azmi terbaring tak bernyawa. Rahma seolah-olah turut mati bersamanya.
Kerabat-kerabat datang bersama segumpal kata tabah. Diusapnya pundak Rahma berulang-ulang kali. Kalimat permintaan untuk merelakan dan mengikhlaskan datang silih berganti, seolah-olah sedih ini memang harus cepat disudahi.
Namun, ibu Muezza menolak. Dia biarkan dirinya meratap begitu parah saat menyadari bahwa kepergian suaminya bukanlah sebuah mimpi belaka. Bayang-bayang kepergian ibunya bahkan belum sepenuhnya lenyap dari ingatan.
Masih tertinggal dengan jelas dalam bayangan Rahma ketika raga ibunya terbujur kaku di hadapannya. Kini, sang suami menempati tempat itu tanpa pemberitahuan, tanpa tanda-tanda. Tidak ada kata pamit, tidak ada peluk perpisahan yang lebih layak.
Semuanya terjadi selayaknya hujan yang jatuh membasahi bumi. Setelah bermenit-menit dalam kegamangan, Rahma menitikan air mata lagi.
"Ayah ...." Mati-matian Alif mengguncang tubuh ayahnya agar terbangun dari tidur panjangnya ini.
Maka dengan tubuh yang bergetar, diusapnya wajah sang ayah yang kini sudah pucat pasi. Dia nampak begitu tenang dalam tidur panjang, terpejam tanpa beban.
Di luar sana terlihat ada seorang gadis mengenakan kemeja putih berlari terseok-seok masuk ke dalam.
"Cepat sekali Om pergi. Baru saja Juwi merasa tenang memiliki Om sebagai pelindung Juwi." Juwita sesenggukan bukan main. Dadanya begitu sesak saat mengingat Azmi datang menyelamatkannya dalam dekap pembullyingan kakak kelasnya beberapa Minggu yang lalu.
"Sudah Juwi! Om akan lebih sedih kalau kamu seperti ini." Juwita merasakan bagaimana tangan Tantenya mendekap pundaknya kuat-kuat, tapi alih-alih tegap, dia lebih luluh lantak.
"Om berjanji akan menjaga Juwita, Tante. Tapi ... tapi kenapa Om menelantarkan Juwi lagi?"
"Ini sudah takdir Nak. Bukan kamu saja yang kehilangan, lihat mereka! Ikhlaskan."
"Tapi ... dada Juwi sakit Tante."
Muezza yang semula diam tanpa suara kini terisak, bahkan gadis itu sudah tidak mampu merasakan betapa derasnya air mata yang membanjiri kedua pipinya. Yang dia rasakan hanya kehancuran.
Sungguh tidak ada yang lebih hancur selain bertemu dengan sebuah kehilangan untuk kedua kalinya. Hingga Gina mulai menyerah, dia memutuskan untuk membiarkan Juwita larut dalam kesedihannya.
"Mue?"
"Aku ditinggalkan ayahku, Yas." Laras meneteskan air mata saat Muezza memeluknya.
Lalu temannya itu menarik napas dalam-dalam, "Padahal aku sudah ingin mewujudkan keinginannya."
Laras mungkin bisa merasakan kesedihan sahabatnya. Kepergian Azmi jelas, meninggalkan luka yang mendalam. Padahal baru kemarin dia duduk bersama sang ayah di depan rumah berbalut luka saat ini.
Kini ayahnya pergi untuk sebuah perjalanan yang lebih jauh dan tidak akan pernah kembali. Meski sesak, Laras mengusap wajah Muezza yang basah. Dipeluknya kembali tubuh sahabatnya itu dalam isak tangis yang tidak terdeskripsikan lagi bagaimana sakitnya.
Di belakang mereka ada Alun dengan sorot sedih melihat Muezza terpekur dalam dekapan adiknya. Baru kemarin dia bertemu dan duduk bersama Azmi. Kala itu dalam dekapan lunar yang menampakkan diri tanpa malu, Azmi memberi pesan untuk Alun.
"Tolong jangan kecewakan Mue! Dia anak gadis kesayanganku. Meski bibirmu tidak berkata, tapi aku tahu kalau kamu suka dengan anakku. Aku titipkan anakku padamu, jika memang kalian berjodoh Allah akan memberikan jalan tersendiri untuk kalian."
Kira-kira begitulah pesan Azmi pada sore itu, pria itu juga mewanti-wanti Alun agar tidak memberikan harapan palsu kepada anak gadisnya.
Alun mengedarkan pandangan sampai matanya tertuju pada seorang anak kecil dengan sorot mata berpendar muram. Mempertegas pada siapa saja bahwa separuh jiwanya turut mati bersama kematian sang ayah. Anak itu bahkan tidak peduli dengan Juwita yang memeluk tubuh ayahnya begitu erat, seakan-akan tidak membiarkan siapa saja membawa ayahnya pergi.
"Alif ... jangan kayak gini! Kasihan Om-mu." Meskipun Mulyadi berusaha untuk menariknya, Juwita tetap menggeleng.
Tetap dipeluknya raga Omnya yang semakin dingin, "Enggak mau habis ini Alif enggak bisa peluk ayah lagi, Om."
"Sudah Nak!'
"Alif tidur sama siapa Om? Yang nganter Alif sekolah siapa?" Anak itu menangis keras, mengundang iba berbagai pasang mata yang melihatnya begitu terluka.
Alif bukan kehilangan seorang ayah, tapi dia juga kehilangan seorang teman bermain. Maka tanpa mengatakan sepatah kata pun, laki-laki itu membawah tubuh Alif ke dalam pelukannya. Membiarkan sang keponakan menumpahkan semua kesedihannya di sana.
Mulyadi hanya bisa berbisik lirih, sementara matanya menatap lurus ke arah adik iparnya. Berharap sedikit keajaiban, barangkali sepasang mata Azmi mampu terbuka lagi. Maka Mulyadi akan berlari ke arahnya, memeluknya lebih erat dari biasanya.
Setelah bermenit-menit dalam hening bersama Gina di sampingnya, Rahma memilih untuk mendekat. Diusapnya rambut Azmi dengan mata yang memburam, tiada lagi aroma wangi khas Azmi saat Rahma mengecup keningnya untuk waktu yang cukup lama.
Sesak memburu dalam dada, tapi Rahma mati-matian menampilkan senyuman termanisnya. Dia nyaris tidak bisa bersuara, yang bisa dia lakukan hanya mengecup pipi Azmi untuk sekilas, lalu mengusapnya dengan derai air mata.
Kini tiada lagi bisik kata merayu janji dari laki-laki itu. Tiada lagi sebuah pertemuan penuh mesra, detik itu juga tangis Rahma pecah. Dia benamkan wajahnya pada pundak Azmi, meski dia tahu Azmi tidak mungkin balik memeluknya dan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah pergi.
Ini mungkin akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk bisa mendekap tubuh itu. Sebelum tanah memeluknya dalam kesepian yang abadi. Sebelum langkah-langkah mulai meninggalkannya seorang diri.
"Katakan padaku! Bahwa ini hanya mimpi buruk dan kamu tidak akan meninggalkanku sendirian ... katakan padaku bahwa kamu tidak pernah pergi dariku." bisik itu tersuarakan oleh rasa sakit.
Rahma jelas terbata menanti kenyataan bahwa dia akan terbangun dari sebuah mimpi.
"Dia sudah pergi, dia meninggalkan kita." Gina berbisik dengan isak tangis yang tertahan.
Perempuan itu juga berharap ini hanya bagian dari mimpi buruk, tapi raga tidak bernyawa Azmi betulan ada di hadapannya. Menyaksikan dalam kebisuan panjang, bagaimana orang-orang ini menangis meratapi kepergian
Rahma yang lemah kini berdiri sambil menuding jasad suaminya dan membentak sang kakak ipar.
"Bilang pada adikmu, Kak! Suruh dia bangun untuk memelukku!" Sesenggukannya membuat suaranya tercekat-cekat.
"Ayo, suruh dia bangun!"
Ketika semua orang menatap nanar istri Azmi, tiba-tiba seorang lelaki masuk dengan suara tangis yang menggelegar. Kedatangannya membuat Rahma murka dan matanya melotot menatap wajah itu, bahkan Gina juga ikut berdiri tidak terima akan langkah kaki laki-laki itu menginjak rumah adiknya ini.
"Pergi dari sini! Jangan sentuh tubuh suamiku!" jeritnya dengan suara yang tersendat-sendat.
Para tetangga berbisik membicarakan laki-laki yang baru sada tiba tersebut.
jangan jangan sudah firasat ini😑😑jangan bikin mereka kehilangan ayah 🥺
sabar yah mue , ingin kuliah tapi liat kondisi keuangan 😓😓😓😓😓😓