Kenzo adalah salah satu anak keluarga konglomerat Wijaya group, jajaran keluarga elit dan terpandang di Jakarta.
Umur Kenzo Wijaya sudah 28 tahun, pertanyaan dan segala tuntutan untuk menikah selalu di layangkan padanya. Baik Ibunya, Ayahnya, Saudara, dan Teman-temannya yang kini sudah punya anak.
Kenzo sendiri masih ingin berfokus pada karirnya dan tak mau menyentuh yang namanya percintaan, sakit hati di masa lalu membuatnya enggan jatuh cinta.
Hingga suatu hari, Ia tak sengaja bertemu seorang gadis SMA mungil yang merubah pandangannya tentang jatuh cinta.
Seperti apa fase-fase yang di lewati Kenzo menemukan cintanya, dan siapa nama gadis yang mampu meluluhkan bongkahan es yang sulit di cairkan.
Yuk simak perjalanan cinta antara CEO dan gadis SMA... Happy Reading ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mister Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama
Joe menarik menggenggam tangan Zahra, menariknya ke sebuah kursi nyaman di antara tamu-tamu.
Saat Zahra duduk, Joe pergi dan kembali membawa minuman.
"Mau minum?" tawarnya.
"Boleh," Zahra mengambil gelas yang isinya berwarna kuning alias jus jeruk. "Makasih ya Joe, dah repot-repot."
"Tak masalah, ngomong-ngomong, kamu hari ini terlihat sangat cantik," puji Joe tak ada habisnya.
Zahra cemberut,
"Beneran, gak bohong." Kata Joe lagi.
Joe menenggak minumnya, tak berkedip melihat Zahra yang makin salah tingkah.
"Jadi gimanaa dengan tawaran ku waktu itu?" tanya Joe.
"Em... gimana ya, aku gak tau apakah sama Mami diperbolehkan. Eh, maksudnya Nyonya." Zahra segera meralat panggilannya.
"Bagaimana kalau aku yang bilang sama Buk Ami, aku yang ijin." Joe mengangkat satu alisnya.
Zahra tersenyum, "Boleh deh, soalnya aku bosen di rumah. Pengen jalan-jalan keluar. Tadinya aku kira gak bakalan jadi karena aku harus ke sini, eh taunya kamu ternyata di sini juga."
Joe mengernyit, ingat sesuatu.
"Maaf ya, Ra soal waktu itu. Gara-gara aku kamu dimarahin Pak Bos." Joe menatap Zahra penuh penyesalan.
"Ah, itu sudah biasa sekarang. Aku sudah kebal."
"Sebenarnya aku penasaran kenapa kamu tiba-tiba kerja jadi Asisten Bos, padahal kamu bukan golongan orang kaya."
Zahra menghela nafas, teringat kejadian pahit waktu itu.
"Ceritanya panjang, kalau kita jadi Jalan-jalan bakal aku ceritain deh."
Zahra menenggak minumnya yang tinggal beberapa senti sampai kosong.
"Mau nambah?" tanya Joe peka.
"Gak usah, ntar kekenyangan lagi."
"Kalau gitu aku tinggal sebentar ya, mau ijin bawa kamu sama Buk Ami."
Zahra mengangguk penuh arti, "Semoga berhasil."
Zahra menatap punggung Joe menjauh, Ia merasa sangat beruntung mengenal Joe.
Ia kembali melamun, duduk sendirian, sampai sebuah tangan dengan kasar menarik bahunya.
"Awh... " rintihnya.
Saat akan marah dengan orang yang telah menariknya kasar, mulutnya seketika terkunci saat tahu yang menariknya adalah Bos Kenzo.
Ingin Ia protes, tapi diam jauh lebih baik.
"Heh, kamu!" bentak Kenzo galak, "Bukannya ikut Mama, atau aku. Malah pacaran!" katanya sewot.
"Siapa yang pacaran!" Zahra membela diri.
"Lalu apa?"
"Cuma ngobrol doang."
"Ah, sama aja. Ayo ikut aku, para kerabat ingin kenal sama kamu."
Zahra tak menyangka Bos Kenzo menarik dengan kasar tangannya,
"Awh... lepas!" Zahra mengibaskan tangannya, "Sakit tauk!" teriaknya marah, pasalnya Laki-laki itu seperti mau meremukkan jari-jarinya dengan sengaja.
Tanpa menggubris, Kenzo kembali menarik tangannya yang kali ini terasa biasa saja.
"Awas, kalau sampe malu-maluin, aku pecat kamu!"
"Iya, iya.. "
"Bawel banget sih!" Umpatnya dalam hati.
Kenzo terus menariknya menuju meja melingkar yang dikelilingi oleh Ibu-ibu sosialita dengan pasangannya masing-masing, kecuali Mama Ami yang suaminya masih di luar negeri.
"Selamat siang Tante," Ucap Zahra saat tubuhnya didorong paksa oleh Kenzo, seperti menyodorkan barang murah.
Zahra dengan sopan menyalami dan mencium satu persatu yang katanya adalah kerabat Kenzo, sampai yang terakhir Mama Ami sendiri.
"Jadi, ini pacar kamu Zo?" tanya seorang wanita dengan aksesoris super meriah, "Cantik dan sopan." pijinya.
"Silahkan duduk sayang," Kata wanita berpakaian serba seksi.
Zahra yang malu-malu duduk, sangat kikuk dan tidak enak dengan kebohongan yang mereka buat.
"Ini baru pas, cantik iya, ikut iya, yang terpenting tau adab. Sangat sopan dan menyenangkan." Celetuk salah seorang bapak-bapak yang memandang puas ke arah Zahra.
Mereka berbincang-bincang ringan, sampai sekitar lima belas menit kemudian Kenzo yang mulai jenuh dan menarik tangan Zahra berdiri.
"Kami mau jalan-jalan sebentar dulu ya om, tante," Kenzo pamit.
Semua nampak puas dengan Zahra, karena dia manis dan sopan sekali setiap menjawab pertanyaan yang diajukan. Malah Kenzo yang terlihat jengkel karena Zahra disukai para kerabatnya.
"Cepat dilamar Kenzo, nanti keduluan orang." Wanita dengan wajah tirus memberi saran.
"Iya, Tante." Jawab Kenzo sekenanya.
Kenzo segera menarik Zahra menjauh dari keluarga dan kerabat, menuju keramaian.
"Kenapa sih?" Protes Zahra, "Masih asyik ngobrol juga."
Kenzo diam, tak peduli atau menggubris Zahra.
"Ada yang mau aku tunjukkan sama kamu,"
Deg..
Perasaan tidak enak cepat menjalar membuatnya ingin segera pergi, ketika Kenzo mulai menarik ponselnya dari saku.
"Lihat, ini."
udah tau budhenya jahat kenapa g ngelawan aja.
anak SMa harusnya udah agak ngerty cara melawan orang jahat
giliran sama kenzo aja suka ngebantah dan ngomong kasar
Buat dialog tag, tanda baca, dan penggunaan huruf kapitalnya bisa diperbaiki lagi biar makin rapi.
Semangat lanjut ceritanya~